Luas Menghampar Hingga Tidak Berbayang

Hari ini karib saya menikah. Sebenarnya saya ingin menuliskan suatu cerita cinta pastel, tapi saya sedikit tidak mood untuk itu. Karena satu dua hal yang bersifat pribadi dan agaknya tidak bisa saya jabarkan dengan jelas. Oleh karenanya saya buat cerita lain saja. Meskipun tidak jelas fiksi atau apa. Tidak ada plot dan lebih seperti monolog. Tapi saya senang membuatnya. Karena malam sebelumnya saya membaca kumpulan cerpen berjudul “Numi” yang ditulis Yetti Aka. Jarang-jarang saya terpengaruh tulisan orang, tapi rasanya saya terpengaruh. Mungkin karena saya niatkan untuk terpengaruh. Atau mungkin karena gaya setengah bermimpinya itu saya sangat kenal. Jadai saya menulis cerita ini. Juga karena saya suka hal-hal yang berkaitan dengan semesta, ruang hampa dan dualisme sifat cahaya. Jadi ada sedikit rasa science fiction. Tapi dalam bahasa perempuan yang susah dimengerti dan benar-benar surrealis. Tidak masalah sih. Sekadar rekreasi.

Selamat membaca dan jangan memerhatikan hal-hal teknis. Karena rugi memikirkan hal-hal serius dan aturan-aturan yang sebenarnya berubah-ubah seenak jidat.

-nyaw, dual-

***

Luas Menghampar Hingga Tidak Berbayang

rumput basah resize

Ketika saya tahu perkataan buruk yang dikatakan perempuan itu, saya marah. Saya marah dan memanas. Biasanya saya tenang dan semilir seperti sepoi yang malas. Tapi setelah mendengar kata-kata buruk itu terlontar, saya marah. Maka saya yang biasa santai dan tak banyak komentar, berubah menjadi ribut dan penuh teriak.

Saya bisa merasakan bahwa bobot tubuh saya yang sangat banyak berpisah dan menjadi petak-petak yang berlari ke segala arah. Petak-petak itu kuat dan mereka melolong menuntut balas. Mereka berderap dengan rambut berurai panjang dan alis mengernyit. Mata mereka adalah kilau permata biru dan ungu dengan sedikit emas. Mereka berlari berderap maju menuntut balas dan mengguncangkan segala yang berada di depan mereka. Lalu mereka berkata,

“Diam perempuan kecil! Diam! Kamu pikir kamu tahu artinya jadi wanita tapi kamu berpura-pura! Kamulah penipunya! Kamulah yang culas! Kamu menjebak lelaki itu untuk menikahi seorang elegan padahal kamu masih kecil dan kamu masih tidak tahu apa-apa.”

Dan mereka yang berderap kecil, yang melolong menuntut balas tidak hanya dua atau tiga. Mereka ada tujuh, sepuluh dan kadang tiga belas. Mereka serupa peri-peri kecil yang lepas ketika hati saya tidak terima dengan keadaan dan ingin memberikan balas. Mereka berlarian dengan beringas ketika jiwa saya tidak tenang dan terpenjara dalam raga yang saya tahan agar tidak bersikap keras. Mereka adalah peri-peri kecil yang tidak dapat saya tahan berpisah dari tubuh saya yang bobotnya sangat banyak. Dan mereka tidak hanya dua, tiga atau lima. Mungkin tujuh, sepuluh dan bahkan berbelas-belas.

Lalu mereka berlari dengan ribut. Seperti angin yang gemuruh dan tak kenal kasih. Mereka berteriak dan melolongkan hal-hal yang mereka benci. Mereka terbang ke langit luas dan membuat ribut. Lalu awan-awan akan terganggu lalu menggelap dan langit menjadi kelabu. Dan mereka, peri-peri kecil, pecahan dan retakan dari jiwa yang tidak tenang ini, menggemuruh dan terus berlari. Berderap dan mencari arti. Tapi dengan ribut, dengan tidak jernih.

Langkah-langkah mereka kecil, tapi tiap langkah adalah sebuah tapak angin ribut. Hentakannya dapat merubuhkan segala yang berada di situ. Dan hentakan itu tidak akan berhenti hingga mereka memperoleh jawab. Mengapa perempuan itu berpikir dia berhak mengaku wanita dan mengapa lelaki itu membiarkan dirinya menjadi seperti itu.

Tidak banyak yang memberi jawab, lebih banyak yang ingin ikut. Ikut ribut. Ikut riuh. Ikut mencari balas pada perbuatan yang tidak teduh. Dan yang ingin ikut itu akan berkata,

“Biar saya buat perempuan itu menggigil kedinginan hingga demam.”

“Biar saya buat perempuan itu gamang hingga hatinya tak lagi lengang.”

“Biar saya buat perempuan itu bingung hingga ia tidak lagi tahu apa yang ada di hatinya yang paling dalam.”

Sebenarnya saya sangat marah hingga ingin bilang,

“Pergi, pergi kalian. Bersama pecahan-pecahan diri saya yang tidak sedikit. Pergilah kalian dalam bilangan lima, tujuh, atau mungkin berbelas-belas.”

Mata saya berkilat-kilat. Menimbang kemarahan dan keinginan saya untuk mengirimkan pecahan-pecahan jiwa saya bersama mereka yang mengerti caranya menuntut balas. Tapi kemudian saya akan mengaca, dan terlihat kilat emas yang berburu biru dan ungu seperti lebam. Lebam seperti hati saya yang terluka dan ingin menuntut balas. Geram dan getir karena tidak terima pada perkataan tidak baik pada seorang teman.

“Tapi itu namanya cinta. Temanmu cinta dia dan tentu kamu perlu terima.”

“Saya terima dari sejak semula. Saya malah sangat bahagia. Tapi saya marah ketika tahu perkataan perempuan itu padahal temanku tidak sedikit pun seperti itu.”

“Tapi dia cinta, dia sabar, dan dia memaafkan.”

“Dari jaman sebelum waktu ini. Ketika saya dan dia tidak berupa seperti ini, dia selalu begitu. Dia cinta lalu dia menghamba. Bahkan dia membunuhku berkali-kali demi perempuan-perempuannya!”

“Maka sebenarnya kamu bukan tidak terima perempuan itu, tapi kamu takut. Takut bahwa kamu akan dikhianati sekali lagi seperti dulu dulu dan dulu. Lalu kamu akan mati lagi lagi dan lagi. Padahal kamu selalu hidup kembali. Berkali-kali. Dan kamu, setiap waktu jiwamu dijaga. Seakan-akan ia tidak pernah ternoda. Lalu untuk kali ini, yang tampak seperti kali itu, lalu mengapa kamu takut dan mengapa kamu hanya memikirkan jiwamu secara kerdil. Padahal jiwamu luas. Luas membentang hingga ke ujung semesta. Hingga cahaya tidak lagi membuat bayang. Dan kamu dan dia dan perempuan-perempuan itu adalah satu. Pecahan-pecahan semesta yang bercerita dan suatu saat akan kembali. Dan pada saat ia melakukan apapun untuk perempuan-perempuannya, ia melakukan segala-galanya untuk dirinya dan dirimu dan seakan-akan dirimu adalah dirinya yang berbuat semuanya untuk diri kalian sendiri. Lalu mengapa kamu ribut, seakan-akan jiwamu kerdil.”

“Tapi ini berulang. Dan dia akan menghilang dan mati. Lalu hanya tersisa anak-anaknya dan mereka akan seperti itu lagi. Dan saya akan menjadi saksi lalu juga mati dan merasa sedih akan peristiwa-peristiwa yang berulang dan selalu terjadi.”

“Biarlah. Biarlah seperti itu. Untukmu sendiri, kau hanya pikirkan apa jiwamu bisa luas. Keperluanmu hanya sampai di situ.”

Sebuah titik air mata kemudian menetes. Geram dan getir tetap mengaduk hati. Tapi perlahan-lahan aku memanggil mereka, para peri, yang mendesak keluar dan memecah. Kupanggil mereka dan kuceritakan mengenai hal-hal yang indah. Hal-hal yang membuat senang. Dan kuceritakan mereka mengenai luasnya hati dan jiwa kebutuhannya untuk menjadi tenang. Dan kukatakan pada mereka kalau mereka tidak dapat menjadi semilir yang menenangkan setidaknya mereka perlu diam. Kalau mereka tidak dapat menyampaikan pikiran yang baik, maka mereka sebaiknya tidak perlu membentuk tangan menjadi kepalan.

Tentu saja mereka pada awal resah dan meremang. Tapi mereka tahu bahwa tugas mereka adalah mencari arti dan mendongeng mengenai hal-hal yang sebenarnya bisa terjadi. Hal-hal indah dan hal-hal yang baik. Hal-hal yang menenangkan dan menyenangkan seperti doa. Daripada menjadi angin yang ribut, lebih baik menjadi sepoi semilir yang menyejukkan. Meskipun bisa, tidak berarti harus dan tidak berarti itu tepat.

Maka satu per satu, tiga, lima dan berbelas-belas kembali mengisi retak di dalam jiwa dan hati. Berdiam diri dan sudut dan relung. Tidak suka pada ketidakadilan apalagi bila itu dekat sekali. Tapi semuanya saling bergumul dan terkadang berdiskusi. Bahwa mungkin ini memang harus terjadi. Mungkin memang maunya Tuhan begini. Lalu mengapa perlu kesal hanya karena kata-kata yang belum tentu memiliki arti. Mungkin itu tidak sengaja. Mungkin itu bukan kata-kata untuk menyakiti hati. Cinta mungkin berarti memaafkan berkali-kali.

Mereka, peri-peri kecil itu berbisik dan bertepuk tangan kecil. Katanya,

“Iya iya iya! Cinta adalah memaafkan berkali-kali!”

“Dan lalu jiwa akan luas dan membentang hingga tidak memiliki bayang?”

“Iya iya iya! Kadang cinta sehebat itu!”

Dan satu per satu mereka bersepakat untuk berdiam. Beberapa mencoba-coba untuk berpisah. Bukan untuk ribut dan melolong membuat semuanya terganggu. Tapi mereka berpisah, dengan sebuah langkah lompat kecil yang lucu. Dan mereka ikut kemana anak-anak angin berhembus. Lalu singgah di dalam mimpi-mimpi orang-orang terkasih sambil berkata,

“Yuk main yuk. Karena akhir-akhir ini kamu susah ditemui.”

Dan mereka mengajak main hingga orang-orang yang saya kasihi merasa bingung. Besoknya mereka bilang, “Saya bermimpi tentang kamu.” Dan saya akan menjawab sedikit lidah kelu, “Ha iya, biarkan saja seperti itu. Mungkin saya memikirkan kamu.” Lalu mereka akan menjawab, “Berarti kamu rindu.” Saya tentu tertawa dan berkata,

“Ya saya rindu dan saya cinta semua kamu. Karena kamu dan aku berasal dari hal yang sama. Dan bila kamu berbahagia, maka sebenarnya sebuah bagian jiwa saya ikut bergembira. Dan bila kamu merasa terserak, sebenarnya tanpa sadar sedikit jiwa saya akan merasa rendah. Jadi sebenarnya memang benar saya pasti cinta dan saya rindu hingga saya datang dalam mimpi-mimpimu. Karena saya dan kamu memiliki jiwa yang luas dan membentang hingga cahaya tidak lagi membayang. Dan pada batas yang seperti itu, kita jadi tahu bahwa banyak sekali kemungkinan untuk berbahagia. Dan keinginan untuk merasa utuh adalah angan-angan. Karena sebenarnya seharusnya semua orang merasa sedikit retak agar dapat saling butuh. Juga setelah tidak sampai keutuhan itu maka kita akan mencari Dia yang tidak membutuhkan apa-apa.”

Jadi tentu. Tentu saya rindu dan cinta kalian. Sampai jiwa saya terserak bercerita macam-macam. Baru-baru ini saya ingin bercerita tentang kemarahan saya pada perempuan yang menghina teman saya. Sampai-sampai saya sangat geram. Tapi lalu kemarahan itu teredam. Karena saya sadari bahwa apapun yang dibutuhkan suatu bagian kecil akan baik bagi jiwa saya sendiri bertumbuh. Maka saya memutuskan untuk mengambil pesan dari kejadian ini. Bahwa cinta adalah memaafkan berkali. Lagi lagi dan lagi. Dan hidup adalah berani untuk menjalani peran. Berkali-kali hingga nanti. Dan hidup adalah memberi tanpa perlu merasa teriris. Selalu selalu dan selalu.

Hanya melakukan melakukan dan melakukan.

Selebihnya adalah kembali pada Tuhan.

Bisikan di Dalam Semilir

Aduh saya makin jarang menulis. Menulis fiksi maksudnya. Sebenarnya saya kembali kerja di bidang yang dulu, kosmetika. Tapi bidangnya sedikit beda. Agak seperti semi marketing, branding dan sedikit menyentuh konsep produk. Belum sepenuhnya jelas, karena saya baru seminggu. Meskipun baru seminggu, saya sudah mengerjakan sesuatu yang mini-mini imut. Saya menuliskan beberapa tulisan nonfiksi. Mungkin ini memendekkan napas fiksi saya, karena tulisan nonfiksi memiliki struktur yang lugas dan biasanya saya menulis dengan mengalun.

Tapi tidak masalah buatku, fiksi maupun nonfiksi. Dua-duanya saya suka. Karena dua-duanya sebenarnya cerita dari hati. Ya! Bahkan artikel mini sekalipun! Dan kata-kata hyper dalam tulisan nonfiksi tidak hanya untuk memboost omzet. Itu tidak benar. Sebenarnya kata-kata “keren” itu hanya untuk mengetuk pintu rasa calon pembeli, bahwa,

“Iya loh, produk ini memang benar-benar dirancang dengan serius dan kamu yang beli pasti merasa bahagia dan nyaman.”

Bukankah semua karya, bukan hanya kosmetika, tapi makanan, minuman kemas, pakaian, dll, semuanya berprinsip demikian? Bahwa ini adalah sebuah sajian dari hati, coba kamu rasakan?

Sebenarnya begitu pekerjaan saya sekarang. Tidak lagi menjadi peramu, tapi menyampaikan perasaan para peramu di dalam kata-kata yang tidak terucap dalam produk yang nggak bisa nyanyi. Pekerjaan yang seru ya. Mungkin di masa depan krim-krim itu bisa ngomong. nah kalau sudah begini saya mungkin nganggur lagi. Tapi itu gak masalah, karena manusia perlu hidup dengan ridha.

Meskipun saya banyak nulis nonfiksi, saya sempatkan menulis fiksi hari ini. Empat halaman saja. Napas saya berkurang drastis. Tapi secara pribadi, saya merasa lebih memikirkan kata-kata yang tepat dalam menggambarkan apa yang saya rasakan dan pikirkan. Jadi empat halaman ini lumayan. Meskipun gak hebat, tapi saya menikmati ketelitian saat menulisnya.

Selamat menikmati dan seperti biasa, jangan pikirkan hal-hal teknis dan semacamnya dan semacamnya. Enjoy!

-nyaw, kembali ke abu-

***

Bisikan di Dalam Semilir

hati nyaw resize

Bisikan di dalam semilir terdengar lirih. Halus tuturnya mengajak Nira pergi. Katanya,

“Ayo pergi, ayo kita pergi.”

Nira diam dan tertegun. Dia sudah enak duduk bergeming di guanya yang hening. Tidak ada riuh, tidak ada ribut. Hanya ada Nira dan gema santun irama batu. Dan sesekali terdengar gemiricik aliran air di sela-sela pori batu. Tapi selebihnya hanya ada Nira dan lowongnya gua batu. Dan damai. Damai sunyi dalam tenangnya jiwa yang menyendiri.

“Tapi jiwamu terbuat dari angin, kamu sebenarnya tidak seperti ini.”

Nira merengut. Dia tahu bahwa semilir tidak berbohong hari ini. Tapi dia terlanjur senang pada lowong guanya yang hening. Di sana hanya ada Nira. Dan hati Nira. Dan pemikiran Nira. Dan mungkin Tuhan. Dan mungkin malaikat-malaikat. Dan mungkin beberapa demit. Tapi selebihnya hanya ada jiwa raga Nira dan beberapa kawan. Tak kurang, tak lebih.

“Tapi jiwamu dari angin, kamu perlu berhembus dan bernapas.”

Maka Nira menuruti bujuk di dalam semilir. Karena jiwanya tidak diperuntukkan untuk menjadi lembam seperti batu. Juga bukan untuk menjadi lentur seperti ombak laut. Ia juga tidak membara hangat seperti unggun. Ia adalah angin yang harus berhembus. Mengantarkan napas ke dalam paru-paru. Napas yang hidup dari nyala jiwa di dalam dada.

Jadi Nira beranjak dan berdiri. Menuruti paksa esensi dalam hati. Meskipun terasa berat meninggalkan sejuk gema gua batu. Dan berat meninggalkan suara gemiricik air di dalam sela-sela liat itu. Tapi Nira perlu pergi. Seperti angin yang selalu bergerak. Mengurai diri menjadi napas dalam diri sesama manusia seperti Nira.

Lalu Nira berjalan, sedikit tertatih-tatih. Ia pegal terlalu lama mengurung diri. Perlahan-lahan ia berjalan mengikuti ke mana semilir pergi. Nira tidak pernah bertanya pada semilir ke mana akan dibawanya kaki-kaki ini. Seperti pengalaman-pengalaman yang dahulu, ia belajar pentingnya untuk tidak bertanya. Tapi dari pengalaman yang dahulu, Nira tahu pentingnya untuk menjadi jeli. Ketika seni menjawab “Iya” dan “Tidak” adalah sesuatu yang mesti. Dan terkadang diperlukan sebuah jawaban “Mungkin”.

Jadi Nira tertatih tapi ia tetap berjalan dengan kecepatan yang membuatnya tidak banyak berhenti tapi cukup membuatnya nikmat melihat keluar jendela tatap. Dilihatnya di luar sana orang-orang yang berlari kencang atau teronggok sama sekali. Dilihatnya di luar sana orang-orang yang begitu sibuk untuk berlari ke satu arah hingga ditabraknya orang di depannya dengan kencang.

Nira menggelengkan kepala. Tiga tahun ia berada di dalam gua, dan orang-orang masih saja seperti itu. Seperti tidak ada besok dan hanya kemarin. Seperti sedang menahan pipis empat liter di dalam ginjal berkapasita tiga koma sembilan. Lalu pipis itu tidak tertahan, maka orang itu berlari dengan bergegas hanya untuk sekedar membuang kotoran.

“Aduh semilir, kamu kok mengajakku ke dunia seperti ini lagi?”

Semilir terkekeh dan bersalto riang. Tidak diindahkannya Nira yang merasa heran. Malahan ia merasakan sebuah rasa jenaka. Dengan nada senandung yang halus penuh sayang, dikatakannya,

“Aduh Nira, kamu kok nanya? Dunia ya masih begini saja. Dunia ini lama. Tapi kamu yang hari ini selalu baru. Sudah, mendingan kamu terus jalan. Karena angin itu perlu berhembus dan tidak boleh diam.”

Nira mengangguk mengerti dan terus berjalan. Dengan tertatih dan lamban. Seperti semilir angin di sela dedaunan. Hanya sebuah gerak ringkih atau gemetar yang menunjukkan ia ada dan tidak pernah diam. Seperti itulah Nira kini berjalan.

Dan berjalan seperti itu adalah tidak masalah. Yang penting senantiasa bergerak dan menghembuskan napas. Juga memasang jeli mata agar tidak melewati hal-hal yang dapat memperdalam dan memperkaya jiwanya. Karena suatu hari itu jiwa itu kembali kepada yang empunya. Dan semua yang ia dapatkan di dunia ini akan diceritakannya kembali.

Maka cerita-cerita yang akan disampaikan kembali ke langit itu perlu disampaikan dengan halus. Dengan bahasa yang indah dan bersih. Bersih jujur menurut tutur hati. Bercerita semuanya padahal semuanya itu sudah diketahui. Tapi cerita dari para pendongeng selalu baru. Selalu baru.

Setiap dongeng selalu baru, meskipun hanya itu-itu saja. Setiap sejarah itu tidak pernah tua, meskipun hanya mengulang-ngulang saja. Dan setiap jalanan tidak pernah sama, meskipun yang itu-itu saja. Nira tahu itu. Dia tahu. Jadi dia ikuti saja hembus semilir membawa kaki-kakinya ini. Entah ke mana, tapi sepertinya ke sana. Tempat yang ia kenal sudah lama.

Semilir membawa Nira kembali ke kota yang sudah seperti sebuah tungku. Apinya besar dan membakar. Air bergolak dan mengantarkan didih uap ke dalam udara. Dan langit yang seharusnya berwarna biru, berwarna serupa abu. Kelabu dari jelaga tungku. Kelabu dari manusia-manusia pencari emas yang dijadikan arang kayu karena lupa pada asalnya dulu.

“Kembali ke dunia abu?”

“Iya, kembali abu.”

“Sanggupkah saya?”

“Selalu.”

Maka Nira kembali melangkah. Kaki-kakinya beranjak maju, menginjak kembali tanah dunia yang berwarna abu . Kakinya menjejak dan terbanglah abu itu menjadi kepulan-kepulan debu. Debu itu menghambur dan melebur lalu berputar membentuk bola. Dijadikan ajang bermain sepak oleh semilir yang tidak tahu menahu dari mana kelabu itu berasal.

Tapi Nira tersenyum. Biarkan semilir bermain dan tak perlu tahu menahu mengenai kisah asal mula kelabu. Nira sendiri yang tahu pun juga tak perlu ragu. Karena abu pun sebenarnya dapat menjadi kehidupan. Bukankah semua tanah berasal mula dari debu abu yang memunculkan urat-urat hijau serupa sulur?

Jadi Nira melangkah maju. Tertatih-tatih tapi tetap maju. Dia kembali ke dunia abu. Dulu ia akan bertanya apa yang bisa ditawarkan dunia ini kepadanya. Tapi itu dulu. Sekarang ia tahu bahwa tak bisa lagi ia mengharapkan sebuah pemberian dari dunia abu, ia hanya bisa mengharap dari jejak-jejaknya muncul sulur dan bayarannya dari yang Punya. Hanya dari yang Punya.

Tidak ada pemberian yang lebih baik dari itu.

Jadi jiwa Nira bergerak dan menari. Tidak selincah dulu. Tapi tetap bergerak seperti riak yang mengalun. Perlahan, perlahan saja. Asal tetap laju.

Sunyi Senyap Sendiri

Belakangan saya menulis dengan sedikit jarang. Itu menimbulkan sedikit rasa berdosa. Karena sebenarnya banyak sekali yang mau saya ceritakan. Banyak dan banyak sekali. Tapi bersamaan dengan banyaknya cerita, saya terserang penyakit radang tenggorokan dan saya sudah meminum obat macam-macam tapi malah terus saja batuk itu hebat. Baru belakangan ini radang itu mengempis, setelah ke dokter THT dan meminum obat yang membuat sedikit maag. Tapi itu tidak masalah. Yang penting sembuh dan bisa berkonsentrasi. Pasti pasti bisa. Tapi untuk sementara ini saya perlu menikmati seni dalam bersantai dengan tidak melakukan apa-apa. Percayalah, itu susah! Sangat susah! Selalu saja timbul rasa perlu menulis dan membaca beberapa buku yang “mencerdaskan”. Tapi sakit selalu menjadi cara terbaik untuk memaksaku tiarap dan memikirkan beberapa hal.

Dan aku mulai memikirkan mengenai kesendirian, kesepian. Rasa yang aneh. Kadang saat perasaan itu datang, rasanya badan sendiri pun asing. Lalu kau bercermin, “Siapa itu? Siapa yang ada di sana?”

Perasaan yang membuat banyak orang merinding dan meremang. Perasaan yang konon dapat membunuh dalam jangka lama. Katanya begitu. Ada penelitiannya. Tapi maaf saya lupa artikelnya. Pokoknya ada penelitian semacam itu.

Padahal sebenarnya mengatasi kesendirian dan kesepian itu gampang. Pada saat perasaan itu datang, bercerminlah dan berkenalanlah dengan dia yang ada di sana. Wawancarai dia habis-habisan. Dan jangan menampik apa-apa dirinya yang di sana itu. Jangan tampik karena itu adalah diri kita saat ini! Kenali dia dan terima baik-baik.

Tapi tentu saja semuanya gampang kalau kau ingat. Aku akan memberikan sebuah nasihat yang alim. Saat merasa lupa, selalu bukalah buku SOP. Di sana ada semua-semua yang butuh ditemukan. Itulah guna buku itu sebenarnya!

Sepertinya saya mulai melantur, padahal saya hanya bermaksud memasang sebuah cerpen. Sedikit banyak bercerita tentang rasa kesendirian. Perasaan yang mengerikan tapi dapat digunakan untuk hal-hal berguna. Kalau kau cerdik!

Seperti biasa, jangan pedulikan hal-hal teknis atau semacam itu. Nikmati saja. Semoga senang dan selamat menikmati!

-nyaw, menggunakan saat sunyi senyap sendiri-

***

Sunyi Senyap Sendiri

ilustrasi kumcer 1 - 02 monster

Belakangan ini temaram tidak pernah sepenuhnya kelam. Seperti hitam tidak pernah sepenuhnya gelap. Di dalam hitam selalu ada semburat merah. Sebuah warna yang timbul tenggelam tapi tidak pernah sepenuhnya hilang. Seperti warna langit malam ini. Merah yang hitam. Merah yang hitam seperti darah yang menjelma pekat. Seperti tinta yang merembes lekat menembus pori-pori sepersekian per mili. Seperti beban yang dibawa Satya semenjak ingatannya lahir bersamaan dengan masa-masa yang dianggap telah hilang.

Bila hitam dianggap sebagai simbol kejujuran, maka Satya berani bilang itu kebohongan dan tipuan. Satya tahu apa itu hitam. Hitam adalah warna bagi mereka yang ingin menutupi kejujuran. Menutupi warna-warna yang lain dengan dominasinya yang redup redam. Di dalam hitam seseorang dapat menyelam, berpikir akan menemukan kebenaran warna di dalamnya. Tapi di dalamnya hanya ada kolam yang menenggelamkan. Semakin pekat dan semakin redup redam. Orang yang bijaksana tahu bahwa hitam tidak pernah terurai. Semua yang setua jaman akan tahu kebijaksanaan itu.

Maka Satya tidak pernah membiarkan dirinya hitam. Karena dia tahu warna itu akan menenggelamkannya. Menyeretnya ke dalam kolam yang dalam. Dan Satya tidak akan pernah keluar. Dia tidak punya kekuatan. Dan Satya ragu, apa Tuhan akan ada untuknya seandainya ia terseret ke dalam palung yang dalam. Akankah Kuasa itu menyelamatkannya, atau menyuruhnya tenggelam? Satya tak tahu dan Satya tak mau tahu. Lebih baik tidak menjadi hitam.

Oleh karenanya ia memilih putih. Putih itu baru benar. Putih lentur dan dapat diurai menjadi warna-warna. Putih akan selalu lebur di mana pun ia berada. Satya ingin putih. Satya memilih putih. Maka Satya harus putih. Maka Satya menjadi putih.

Tapi bagaimanapun jiwa Satya tua. Berasal dari masa-masa yang telah dilupakan. Dan hampir melebihi tuanya jaman itu sendiri. Dan semua bijaksana tahu, jiwa yang tua tidak pernah lengkang dalam putih. Selalu ada setitik hitam. Selalu ada noda hitam. Karena kehidupan akan selalu menorehkan luka dan meninggalkan sebuah tanda pengalaman. Jadi di dalam jiwa Satya ada noda hitam. Setitik noda hitam.

Andaikan Satya tahu bahwa noda itu adalah yang menjadikan seorang manusia manusia, maka ia tidak akan kelimpungan. Dan ia tidak akan pernah menyesali noda di dalam hatinya itu. Ia malah akan menggunakan noda itu berdoa dan bertobat. Seperti sebuah switch on. Saat kau sibuk merindu Tuhan, pijitlah noda itu. Semburatkan pada hati agar sedikit hitam dan katakan,

“Tuhan, Tuhan, saya bernoda! Maka jangan tinggalkan saya. Bersihkan saya, bersihkan saya!”

Berkali-kali, berkali-kali seperti seorang manja. Dan itu tidak mengapa, karena kau menyatakannya pada Tuhan. Dan biar saja orang-orang mendelik dengan tidak suka, karena itu urusanmu dengan Tuhan. Dan tidak perlu merasakan sesal dalam sumpah serapah. Karena noda telah menjadikan seorang manusia manusia. Selamat dan sukses!

Andaikan Satya dapat merasakan riang dan gembira yang sedemikian. Tapi tidak. Hatinya tetap resah. Ia memikirkan sebuah noda hitam di dalam jiwanya yang menempel seperti seekor lintah yang menyebalkan. Noda itu tidak akan lepas sampai ia kenyang. Kenyang mengganyang jiwa Satya yang bersusah payah agar tidak terserap dalam hitam. Lintah serakah yang seakan menjadikan Satya seorang tawanan.

Padahal Satya bukan tawanan lintah hitam. Dan tidak ada hal semacam noda yang bisa menyerang. Karena dirinya dan diri noda adalah satu. Satya adalah manusia yang bernoda. Sama seperti semua orang.

Tapi ia belum tahu. Seandainya ia tahu hal itu, maka ia tidak akan menjadi gamang menghadapi tolakan dan cobaan. Ia tidak akan sakit hati ketika teman-teman memalingkan muka seraya menertawakan,

“Lihat Satya. Lihat lelaki yang tidak pernah berbuat benar seumur hidupnya.”

Kalau ia tahu kebenaran, maka Satya tidak akan pernah sakit hati ketika keluarganya meludah dan mencemooh di depan mukanya seraya berkacak pinggang berkata,

“Lihat Satya. Lihat lelaki yang tidak pernah melakukan apapun untuk darah dagingnya sendiri.”

Dan jika ia menyadari kebenaran, maka Satya tidak akan pernah sakit hati ketika orang-orang terkasihnya menjadi sedih dan tertekan, melengkungkan badan perih sambil berkata,

“Lihat Satya. Lihat lelaki yang tidak pernah memerhatikanku sepertiku ini.”

Seandainya Satya tahu kebenaran, maka ia akan tahu bahwa itu bukanlah tentang dia, tapi tentang mereka. Tentang mereka yang hanya dapat melihat sepercik noda hitam pada lembaran kertas putih. Begitu kontras terang. Hanya hitam saja yang terlihat, padahal hitam itu hanya sebuah di antara putih. Mereka kadang lupa kalau hitam itu terlihat karena latar pucatnya putih.

Tapi Satya tidak tahu kebenaran. Maka hatinya sakit dan ada sedikit dendam. Dendam yang bukan untuk mereka, tapi untuk dirinya sendiri. Mengapa dia harus terlahir dengan noda hitam yang sebegitu terang? Satya tidak tahu dan sudah lelah mencari tahu. Ia hanya tahu bahwa dirinya memang bernoda hitam dan ia terkadang benci dan menyesalinya.

Benci dan sesal adalah sebuah perasaan yang cukup merah. Oleh karenanya noda hitam dalam jiwa Satya berwarna sedikit rekah merah. Seperti darah yang mengering dan berubah pekat seperti tinta. Dan dengan tinta hitam yang sebenarnya merah itu, Satya torehkan beberapa pengingat bagi dirinya yang hendak berhenti di tengah jalan karena lelah. Ia katakan pada dirinya yang sudah hendak menyerah,

“Mereka salah. Sudah barang tentu mereka salah. Saya bukan hanya noda, tapi saya juga sebuah lembaran. Sebenarnya saya sebuah lembaran!”

Lalu sebuah bisikan yang lirih dan kejam akan bersiul,

“Tapi kamu lembaran yang bernoda! Kamu lelaki yang akan menjadi dingin dan kejam. Kamu akan menyakiti semua orang. Teman-teman, keluarga, dan perempuan. Terutama perempuan.”

Tapi Satya keras kepala. Ditepisnya bisikan itu dan ia terus berjalan. Untungnya seperti itu. Untungnya dia terinspirasi untuk melakukan seperti itu. Kalau tidak ia akan tenggelam dalam bisikan yang kelam. Dan noda itu akan menyebar seperti bercak tinta basah. Merembes, menembus tiap pori dalam lembar jiwanya yang pucat pasi. Lalu akan hitamlah putih jiwanya. Dan sepenuhnya ia tenggelam. Dan tidak lagi ia lihat apa yang di depannya. Memangnya ada apa di depannya?

Satya tidak tahu apa yang ada di depannya. Entah apa yang ada di sana. Tapi ia melangkah dan terus meniti jalan. Lalu hanya kecewa dan kecewa lagi. Hanya segumpalan penolakan dan seabrek luka sabetan. Ia mulai merasa payah, tapi ia harus terus berjalan. Sementara masa lalunya terus menggerogot dan menuntut,

“Satya! Kau harusnya bersikap seperti kami agar kami ingat untuk menyayangi.”

“Satya! Kau harusnya menuruti turut orantua agar kami menjadi bangga.”

“Satya! Kau harusnya melakukan apa yang mereka lakukan agar kami tidak pernah pergi.”

Masa lalu seperti sebuah besi pemberat dan Satya ingin lepas. Satya ingin bebas. Tapi itu terlalu mudah bukan? Itu terlalu cetek. Tentunya kalau Tuhan membiarkan Satya lepas, maka Tuhan sedang menertawakan kegigihan jiwanya yang tua hampir setua jaman. Jadi tentu saja Satya belum lepas dan belum bebas. Tidak sekarang ini.

Padahal Satya merasa payah dan lelah. Dan ia letih. Dan ia hendak berhenti. Tapi tidak. Itu hanya sebuah rasa dalam hati. Sebenarnya di sana masih ada kekuatan dan ketahanan. Geliat dan berontak dari jiwa tua yang mungkin saja lebih tua dari jaman.

Yang harus dilakukan oleh Satya adalah memencet noda hitamnya yang serupa switch on. Dan berdoalah yang lama, lama sekali. Seperti seorang alim yang tidak pernah luput bersujud dan menyila. Dan dalam doa itu katakan,

“Tuhan, Tuhan, saya bernoda! Maka jangan tinggalkan saya! Jangan pernah tinggalkan saya!”

Seperti seorang manja. Seperti seorang yang mengerang seakan-akan hanya dirinya saja yang kesakitan. Seakan-akan dunia itu hanya ada dia dan Tuhan. Dan seluruhnya senyap. Hanya ada sebuah siulan sunyi. Dan Satya akan tahu bahwa dirinya memang benar-benar sendiri. Benar-benar sendiri. Dan itu tidak mengapa. Itu tidak mengapa.

Di dalam sendiri ada berani. Keberanian untuk unjuk gigi. Dan itu tidak mengapa. Itu tidak mengapa. Tuhan ingin jiwa-jiwa yang dimilikinya untuk mengunjukkan diri. Karena itu adalah sebuah doa. Sebuah persembahan kepada yang Maha Kuasa.

Hanya dalam sunyi senyap sendiri, seseorang memang dapat berdoa. Dan terkadang rasa senyap itu membuat gamang. Terlebih-lebih siulan sunyi itu membuat resah. Seluruh tulang gemeletuk gelisah. Tapi itu adalah konsekuensi menjadi sendiri. Dan itu tidak mengapa. Tentu itu tidak mengapa. Kadang sendiri memang butuh. Untuk menjadi berani. Untuk timbul rasa ingin unjuk gigi. Lalu katakan dengan lantang,

“Tuhan! Tuhan! Lihat saya!”

Maka sesekali sunyi senyap sendiri itu memang akan datang. Terutama bagi Satya yang berjiwa tua, mungkin hampir setua jaman. Saat-saat yang memaksanya untuk memasuki waktu sunyi senyap sendiri mungkin akan kerap datang. Mungkin malah akan rapat. Tapi itu tidak mengapa. Tentu itu tidak mengapa. Karena Satya tahu saat-saat seperti tidak akan selalu datang. Hanya sesekali. Mungkin rapat. Mungkin padat. Tapi hanya sesekali. Hanya sesekali.

Tentu kalau ia cukup kuat dan tangguh, ia tahu bahwa saat senyap sunyi sendiri itu tidak pernah benar-benar akan menetap. Ia hanya sesekali datang dalam wajah yang membuat ngeri. Serupa teman-teman yang pergi meninggalkan. Atau keluarga yang mungkin mencemooh dan meludah. Bahkan mungkin dalam bentuk kekasih yang merasa bingung dan gamang.

Tapi itu tidak apa-apa. Artinya saat sunyi senyap sendiri ingin datang dan merayap. Ingin Satya unjuk gigi dan unjuk “kabisa”. Perlihatkan pada Tuhan bahwa lembaran yang mengingat-Nya tak selalu putih. Kadang bernoda. Malah selalu bernoda. Dan noda itulah yang menjadikan manusia manusia.

Maka semuanya tidak mengapa. Sunyi senyap sendiri akan pergi dengan merambat pelan seakan malu dan tidak mau ketahuan. Bahwa sebenarnya ia hanya seekor binatang yang sedikit ingin bersenang-senang. Dan ia tidak pernah benar-benar serius ingin menenggelamkan seorang pun. Termasuk Satya. Ia hanya ingin menunjuk bahwa ia adalah sebuah switch on. Dan saat ia menyala maka ia terhubung pada Tuhan pemilik semesta. Kemudian semua penolakan dan cemoohan akan berubah menjadi,

“Itu Satya. Dia teman saya.”

“Itu Satya. Dia sanak saya.”

Itu Satya. Dia kekasih saya.”

Kalimat-kalimat itu akan diucapkan dengan bangga. Pendek saja tapi membuat Satya berpikir,

“Tuhan. Terimakasih atas saat-saat sunyi senyap sendiri. Terimakasih atas saat-saat saya menjadi seorang sendiri. Hanya sebuah lembaran bernoda tapi Kau tidak pernah luput. Tidak pernah sepersekian mili detik pun. Dan orang-orang ini. Orang-orang yang bersama saya. Maka berkati mereka. Karena mereka pun bernoda seperti saya.”

Jadi begitulah Satya akan mengingat akan saat sunyi senyap sendiri. Dan begitulah Satya akan berharap untuk semua orang. Dan tidak terasa itu adalah sebuah harap untuk dirinya sendiri. Agar diberkati. Agar dirahmati. Agar disayang.

Tanpa peduli hitam. Tanpa peduli noda. Dan tanpa takut tenggelam dalam larutan sunyi senyap sendiri. Sebuah larutan yang tidak akan pernah membuatnya terasing seorang diri.

Warna Seorang Tsundere

Aku berbuat kebodohan. Kemarin aku meminum creamer basi dan kini aku keracunan. Tapi begitulah, kadang ada kesialan yang perlu terjadi. Mungkin juga ini agar aku memberikan istirahat pada perut yang jarang berpuasa. Aku akan berpuasa agar perutku bersih.

Akibat keracunan itu, lagi-lagi aku menyabotase diriku dalam menulis. Padahal harusnya saat ini aku membuat sebuah tulisan yang hebat. Sesuatu yang akan masuk media. Mungkin sesuatu yang serius, yang ada riset. Atau mungkin menyebut mengenai 65 atau semacamnya.

Tapi aku keracunan. Dan saat aku sakit, aku menjadi praktis dan kelampau sederhana. Sambil bolak-balik ke toilet dan mengambil istirahat sambil membaca, aku mulai berpikir untuk menulis tentang sesuatu yang manis dan sederhana. Tapi apa?

Aku ingin menuliskan sesuatu yang mengalir dan begitu mudahnya. Seperti Il Postino yang plotnya tidak menjelimet. Memang tidak mungkin sih menyamai hebatnya buku tepat sasar yang dibikin dalam tempo 14 tahun, tapi seseorang boleh berusaha. Jadi aku berpikir-pikir mengenai cerita yang sederhana. Yang mudah. Suatu cerita yang aku sendiri senang mendengarnya.

Dan aku teringat pada dua kawanku yang akan menikah. Aku teringat pada cerita mereka dan aku berpikir bahwa aku senang mendengar cerita seperti. Sebuah cerita “meet cute” seperti di manga (komik jepang). Kayaknya asyik saja. Ringan juga untuk perut penulis yang sedang melilit hingga membuat otaknya praktis.

Jadi aku membuat sebuat cerita yang terinspirasi dari dua kawanku ini. Ceritanya tidak akurat, karena aku mengubah sana-sini untuk memberikan rasa lebih manis yang muat dalam halaman yang kurang dari 7. Seperti biasa jangan perhatikan kesalahan teknis dan semacamnya dan semacamnya. Itu terlalu njelimet, dan saat ini aku sedang praktis-praktis manis

Selamat menikmati manis!

-nyaw, melilit praktis-

***

Warna Seorang Tsundere

lavender

Ana duduk gelisah di atas kursi rias, sambil mematut-matut kain lembut yang menjadi jilbabnya. Sesekali ia merengut, mengerucutkan bibir dan mendecak. Ia bahkan melebarkan cuping hidung, wanti-wanti ada upil kering atau bulu hidung mencuat. Kemungkinan hal itu terjadi pada perempuan sangat kecil, tapi Ana tidak mau mengambil resiko. Banyak kesialan yang dapat terjadi di hari sepenting ini. Hari ketika tsundere seperti dirinya akhirnya dilamar nikah.

Kata orang-orang di sekitarnya, Ana adalah tsundere. Tsundere, sebutan Jepang untuk perempuan sok kuat tapi berhati lembut. Versi Jepang untuk istilah, “Tampang Rambo, hati Rinto.” Agak seperti crème brulle; berkerak di luar, lumer di dalam. Katanya Ana adalah perempuan yang semacam itu. Dan Ana tidak terlalu mengerti mengapa mereka memberikannya julukan begitu.

Mungkin julukan tsundere disandang Ana karena ia adalah perempuan yang tomboy dan tidak berpakaian seperti perempuan kebanyakan. Ia senang mendaki gunung. Pacaran dengan track panjang atau menukik. Nanti kalau sudah di puncak, ia akan bermain dengan angin dan awan-awan. Tentunya untuk hobi yang seperti itu, tidak ada cocok-cocoknya untuk memakai gaun panjang. Ia harus pakai flanel, celana banyak kantong dan sepatu gunung. Kalau tracknya biasa saja, sepatu gunung berubah wujud menjadi sandal gunung. Praktis dan wajar saja bukan berpakaian seperti itu?

“Tapi kan itu kalau naik gunung Na. Kalau lagi di daratan, sekali-kali pakai rok dan sepatu cewek donk!”

Begitu komentar teman-teman Ana mengenai cara berpakaiannya sehari-hari yang tak ubah berbeda dengan saat ia akan mendaki gunung. Ana mengerti sih kejengahan orang-orang saat melihat perempuan berpakaian tomboy, tapi itu rasanya nyaman sekali. Semua pakaian serba longgar dan tidak menimbulkan risih.

Coba Ana pakai baju yang dijual-jual di rak perempuan yang pas badan dan berwarna pastel, mana pantas? Bahunya lebar dan pinggulnya kecil. Kulitnya gelap dan tidak ceria. Tampilannya tomboy, tidak feminin. Tidak pantas tubuhnya memakai baju yang dirancang bagi tubuh berlekuk dan bergelombang. Apalagi warna pastel perempuan. Mana cocok untuk warna kulitnya yang selintas bayang tidak lumrah untuk perempuan.

“Masa sih Na? Gaya gaun Victorian itu bakal bagus untukmu. Dan warna lavender ini bagus untukmu.”

Mata Ana membulat dengan risih. Seorang teman perempuan menunjuk kain berwarna lavender pucat padanya. Ia ngeri membayangkannya dalam balutan warna selembut itu. Dan bagaimana dengan gaun Victorian? Ana kan bukan putri dari negri dongeng!

“Ikh Kak! Gak akan cocok dengan bahuku yang lebar. Dan warna ini…. Aku gak yakin…. Bukannya warna kayak gini bagus untuk yang kulitnya putih kayak Kakak?”

Teman perempuan Ana mengangkat alis lalu menyampirkan kain di atas tubuhnya. Ia gemuk dan putih seperti marshmallow. Ia segala yang terbalik dari Ana, sehingga Ana menjadi semakin yakin bahwa ia akan tidak akan pernah cocok memakai warna lavender. Karena baginya, perempuan berkulit putih cocok dengan warna apa saja, beda dengan nuansanya yang lebih gelap.

Tapi teman perempuan Ana mengerutkan alis tidak puas. Seakan-akan ada sesuatu yang salah dan tidak pantas. Kain itu dibolak-baliknya dan ia berputar-putar beberapa kali gelisah di depan cermin. Tetap saja ia tidak puas. Lalu ia berkata,

“Enggak Na, warna ini untukmu. Lihat, aku kayak peri, enggak manusiawi. Aneh. Tidak membumi. Warna lavender semacam ini dibuat untuk orang-orang dengan kulit gelap serupa bebatuan tenang. Karena ini warna lavender sekaligus kecubung. Pasti Akangmu senang kau memakai warna ini.”

Kain yang disebutkan berwarna lavender sekaligus kecubung itu kemudian berpindah tangan kepada Ana. Perempuan itu diam dan menimbang-nimbang. Ia mengakui bahwa warna itu sangat cantik. Dan sebenarnya ia bukannya tidak mau pakai baju bermodel Victorian, ia hanya merasa tidak pantas. Tapi bukankah hari lamaran itu adalah hari yang spesial? Hari di mana tsundere pun boleh berpenampilan perempuan? Penampilan perempuan cantik, sajian sesekali bagi lelaki yang akan melamarnya dalam dua pekan.

Lelaki yang akan melamar Ana tidak seperti yang orang-orang bayangkan. Karena Ana sering mendaki gunung, banyak yang memperkirakannya akan berjodoh dengan lelaki yang kokoh, tegap dan stabil seperti gunung batu. Sebaliknya, Ana mendapat lelaki yang cungkring, putih, dan bermata sayu. Sedikit gunung, tapi gunung es yang pucat. Padahal ia lelaki. Lelaki kenapa kok putih dan pucat?

Tapi bagaimanapun lelaki itu jatuh hati pada Ana. Dan Ana pun merasakan hal yang sama. Alasan keduanya saling jatuh hati sederhana saja. Lelaki itu punya refleks yang bagus dan Ana kagum pada satu hal itu.

Refleks lelaki yang bagus itu diperlihatkan pada suatu hari ketika mereka menjadi pengajar-pengajar muda. Pada sebuh program mengajar ke daerah pelosok, keduanya dan beberapa kawan dikirim ke Tanjung Balai untuk seminggu. Mereka menaiki pesawat dan membawa koper sebuah tas ransel pribadi. Saat itu semuanya baru berumur 20-an yang manis dan optimis. Bagi mereka, tidak akan terjadi hal yang akan berakhir miris.

Tapi mereka salah. Ternyata saat mendarat dan turun dari pesawat, lalu menunggu di depan ban berjalan pengambilan bagasi, terjadi hal-hal yang tidak disangka-sangka. Mereka, para pengajar muda, harus menunggu selama 3 jam lebih. Dan alasannya satu. Karena koper Ana yang berisi keperluannya seminggu tidak muncul-muncul dari pintu pengambilan kargo. Seketika Ana lemas dan merasa nasibnya sedikit miris.

Teman-teman sesama pengajar menjadi gelisah dan sedikit panik. Ada yang menawarkan diri untuk melaporkan kehilangan bagasi. Beberapa berjaga di berbagai titik ban berjalan, siapa tahu koper itu terlewat. Tapi semua kehebohan ini tidak berguna. Tetap saja koper Ana entah di mana. Mungkin aja raib.

Lalu di tengah-tengah semua hiruk pikuk panik itu, seorang lelaki berjalan mendekat. Di tangannya terdapat semacam gumpalan yang tidak terlalu jelas. Ia datang dari belakang Ana dan menempelkan kemeja itu ke punggungnya. Ana tidak mendengar langkah-langkahnya dan sedikit tersentak karena tiba-tiba ada sesuatu yang ditempelkan pada punggungnya. Ternyata yang ditempelkan pada punggungnya adalah sebuah kemeja lusuh dan banyak lipatan. Ana kaget dan mengernyit memandang lelaki yang menempelkan baju itu sambil berkomentar,

“Kayaknya cukup.”

Lalu lelaki aneh itu melipatkan kemeja itu kembali dan berjalan menjauh. Ana tidak mengerti dan mengernyit semakin dalam. Kenapa lelaki itu menempelkan kemeja lusuh di punggungnya? Teman-temannya yang panik pun ikutan mematung. Akhirnya seakan-akan sadar dari sebuah hipnotis, Ana bertanya,

“Itu siapa?”

“Satya,” jawab seorang dari mereka.

Tak lama terdengar sebuah desing. Ban berjalan kargo dinyalakan kembali. Dari lubang tempat dilemparkan koper-koper, terdengar sebuah ribut sebuah gedebuk. Lalu muncullah koper Ana yang sedari tadi membuat panik dan riuh. Teman-teman Ana menunjuk koper itu dan memekik senang. Mereka menemani Ana mengangkat koper yang sebenarnya tak seberapa berat. Saat mengangkat koper, Ana melirik diam-diam ke sebelah kanan. Dilihatnya sosok Satya dengan sebuah kemeja lusuh di tangan. Ana bertanya-tanya apa Satya akan tetap meminjamkan kemeja setelah kopernya datang.

Semenjak saat itu Ana sering penasaran dengan Satya. Lalu terdapat berbagai gosip macam-macam. Bahwa ia lelaki nakal dan senang tebar pesona. Juga bahwa Satya punya banyak cerita miring berhubungan dengan mematahkan hati perempuan-perempuan alim. Hati Ana meleos ke dalam dada. Tapi ia tetap penasaran pada Satya. Juga pada kemeja lusuh yang pada akhirnya tidak pernah dipinjamkan. Penasaran Ana pada kemeja itu seakan-akan semacam perumpamaan yang radikal. Seperti, apa mungkin ia dan dia adalah satu ukuran yang cocok?

Ana tidak pernah tahu jawaban dari tanya itu. Kemeja itu pun tak pernah dipinjamkan padanya. Tahu-tahu saja semuanya berjalan dengan begitu cepat. Satya menanyakan kesediaan ayah Ana untuk meridhai niat baik untuk melamarnya dan tiba-tiba saja hari lamaran itu akan tiba. Ana tidak pernah tahu apa ia dan dia adalah saku ukuran yang cocok. Tahu-tahu saja ia sedang berdiri di toko kain, dengan seorang teman, menimbang-nimbang apa warna lavender cocok untuknya.

“Iya Kak ini cocok? Tapi Akang kayaknya enggak akan perhatian. Kayaknya dia senang aku pakai baju-baju yang tomboy.”

Teman perempuan Ana itu mendecak tidak sabaran lalu merebut kain berwarna lembut itu dari tangannya. Diserahkannya kain itu pada pelayan toko untuk diukur panjangnya berikut nego harga penghabisannya. Pelayan toko itu tertawa kecil menghadapi kecerewetan teman perempuan Anna yang serupa marshmallow kepanasan. Ana terdiam dengan perasaan sedikit malu. Kini tanya dalam hatinya bukan lagi tentang kemeja berukuran pas. Ia bertanya-tanya apa Satya akan menyukai dirinya dalam balutan gaun berwarna lavender lembut dan bukan dalam kemeja flanel lusuh bekas terlipat-lipat. Tsundere Ana ingin cantik pada hari spesialnya. Hari lamarannya.

Hari spesial itu pun tiba dan Ana memakai gaun victorian berwarna lavender lembut seperti yang direncanakan. Sanak keluarga Ana tersenyum lembut memandang dirinya yang berpenampilan tidak biasa. Banyak yang memujinya dan berkata bahwa hari itu ia tampak sangat perempuan. Ana memberikan cengiran salah tingkah sambil sedikit memlintir-mlintir ujung jilbab dengan gelisah. Ia harap Satya akan berkata yang sama.

Dengan menggunakan APV, keluarga Satya tiba dengan membawa sedikit oleh-oleh. Terjadi sedikit ribut ketika keluarga Ana dan Satya bertukar salam. Terdengar kalimat pertukaran basa-basi mengenai kemacetan dan tidak perlunya keluarga Satya membawa seserahan. Kedua keluarga tahu, seserahan yang penting bukan berbentuk barang seukuran tangan. Seserahan yang penting berbentuk dua cincin emas beberapa gram.

Satya merogoh saku, memastikan cincin itu masih ada dalam saku celana. Ia mengeluarkan napas lega ketika merasakan kotak berisi cincin sepasang itu masih utuh. Karena kegelisahannya, Satya sedikit lupa untuk mengamati penampilan Ana. Apalagi saat itu sedang ada silau yang mengintip lewat pepohonan dan menusuk menuju ke dalam rumah. Akhirnya Satya menyadari Ana untuk pertama kali semenjak ia memasuki ambang pintu. Sempat ia menyipit karena silau, tapi setelah terbiasa, matanya melebar dan ia berkata,

“Ana, kamu cocok sekali dengan lavender.”

Dan Ana terdiam. Diam dalam sipu malu berwarna cocok dengan lavender.

Haru Biru

Sebelum ada Putri Mujair dan Ujang, ada Asep. Sepupu Ujang yang ugal-ugalan dan senang merokok samsoe. Dia adalah tokoh yang diciptakan karena aku senang dengan Ajo Kawirnya Eka Kurniawan. Dia juga muncul karena ibuku menunjukkan foto seorang lelaki penuh haru setelah kemenangan Persib 5-3 pada ISL 2014. Aku mengkhayalkan seandainya foto Asep dimuat di koran. Apakah itu akan tentang Persib? Atau mungkinkah karena hal lain?

Oleh karenanya tercipta Haru Biru. Aku menunda-nunda menuliskan cerita ini karena asyik menuliskan novel pribadi. Tapi kemudian di halaman 75, aku kehilangan greget berkata-kata. Muncul gamang mengenai kemampuan sendiri. Sedikit tersentak oleh kritik dan kejadian yang tidak mengenakkan. Bisa dibilang saya impoten berkata-kata. Selama 1 minggu.

Tapi hari ini aku memaksakan diri untuk mengeluarkan kata, merangkai kalimat. Aku mulai saja dari hal yang paling kusukai. Tentang lelaki legam yang merokok samsoe. Aku senang tokoh seperti ini. Boleh saja kan?

Untungnya impoten itu tidak lama-lama. Seminggu saja. Impotennya mungkin terlihat di awal cerita yang ragu dan tersendat. Juga mungkin terlihat dari perspektif yang melompat seenak jidat. Seperti biasa, yang semacam itu jangan dipikirkan. Ikuti saja alur. Nikmati romansa dari lelaki bernama Asep ini. Juga Euis yang kontradiktif.

Selamat menikmati!

-nyaw, bangkit dari impotensi-

***

Haru Biru Sorakan Gempita

siapa ya resize crop

Di antara sela-sela rambut puncak kepala lelaki itu muncul butiran-butiran cairan yang bersinar-sinar seperti embun. Tapi sebenarnya itu adalah keringat, dan sedikit sebum. Ada sedikit anyir dan lengket. Campuran oksidasi dan hormon testosteron. Mungkin juga hormon lainnya. Tapi hormon lain yang berbau lelaki. Bau menyengat tapi menyentak. Bau lelaki patah hati dan hanya dapat duduk di bawah sinar matahari. Menyender tanpa daya pada mobil Carry hitam. Lesu dan memandang masa depan yang tampak bolong. Nestapa. Asep, seorang pria malang.

Panas matahari boleh menyentak dan menghentak, membuatnya berkeringat dan dehidrasi. Tapi apa peduli dia. Dengan sedikit keberuntungan dia akan mati hari itu. Mati di tengah bolong terang. Di samping Carry kesayangan yang dibelinya dengan susah payah penuh perjuangan. Mungkin dengan sebatang samsoe yang masih menyala. Dan mungkin mayatnya cukup cantik dan membuat kebat-kebit beberapa perawan Sunda. Dan mereka akan merona, padahal sebelumnya mereka tidak memberi perhatian. Setidaknya itu akan menjadi prestasi bagi Asep, pria malang yang nestapa patah hati.

Tapi selama apapun Asep dijemur di samping Carry yang mulai berbau amis ikan pengangkutan bercampur busuk dari air waduk Cirata, ia tak kunjung merenggang nyawa ataupun pingsan. Ia hanya ada dan bertambah legam. Sementara sebatang samsoe yang sedari tadi dihisapnya bertambah pendek. Sulutnya mulai mendekati ujung bibirnya yang kehitam-hitaman. Asep tidak memedulikan sulut pendek itu. Biar saja bibirnya terbakar. Mungkin itu akan terasa enak. Mungkin rasanya akan hangat tajam. Seperti sebuah ciuman.

Mengingat ciuman membuat emosi Asep tersulut kembali. Ia mengaduh mengerang dan mendecak kesal. Lalu kembali dihisapnya samsoe yang memendek itu, menyebabkan terjadinya asap yang beraroma tembakau, cengkih dan keringat. Juga amis dan manis. Amis ikan dan manis Sunda Cirata. Manis yang membikin Asep kembali senewen. Karena ia adalah lelaki malang. Patah hati dan nestapa oleh seorang perempuan manis. Manis dengan dua cara itu. Sunda dan Cirata. Jadi Asep sebal dan setengah ingin menyudahi nasib bujang bapuknya. Tapi ia tidak ingin melakukannya sendiri. Karena tangannya sendiri sudah cukup amis oleh ikan. Tidak perlu bantuan darah untuk menambah amis. Cukup saja ikan. Dan pada saatnya, Tuhan.

“Astaga. Apa orang patah hati itu menjadi alim? Aku memikirkan Tuhan. Tapi sambil mikirin amis ikan. Astaga. Mungkin orang patah hati masuk neraka.”

Begitu batin Asep. Tapi kemudian ia tidak peduli sendiri. Karena baginya sendiri, patah hati ini sudah neraka. Sekalian saja bakar tubuhnya yang kerempeng hitam legam. Mungkin itu akan berguna bagi para penghuni surga. Sebagai pemanas saat di sana musim dingin. Dan mungkin perempuan Sunda Ciratanya tidak akan pernah menjadi dingin di surga sana. Karena dia bidadari. Sedangkan Asep setan. Setan keparat pembakar neraka. Biarlah dia menghangatkan surga dari neraka. Mungkin perempuan itu akan mengingatnya. Seperti ia yang tidak akan pernah lupa rima nama perempuan itu di telinganya. Euis.

“Euis, Euis, teganya kamu sama Akang,”

Begitu batin hati Asep dengan sedikit terlalu manis yang segera berganti pahit. Hilang dalam asap samsoe yang hampir mencium ujung bibir. Dan Asep biarkan saja. Antipati pada sakit. Juga acuh pada apapun di sekelilingnya. Termasuk acuh pada sosok yang berlari tergopoh-gopoh menuju dirinya sambil membawa koran terlipat di tangan.

“Asep! Asep! Tingali ieu!”

Asep! Asep! Lihat ini! Kata sosok itu dengan bersemangat dan nada riang. Pada saat mengatakannya pipinya bergoyang, seperti dada dan perut gemuk wanitanya dari balik daster goyor kembang-kembang. Sebuah sosok yang begitu penuh dengan kewanitaan berumur. Cocok bagi ibu seorang Asep yang nestapa patah hati.

Menyambut keceriaan ibunya, Asep hanya mengangkat alis dengan enggan. Ibunya menyodorkan koran itu ke depan mukanya dan Asep melihat sebuah foto raksasa terpampang. Seorang lelaki dalam pakaian biru tua. Lelaki itu berkaca-kaca dan bibirnya tampak menampakkan sebuah manyun yang bergoyang. Pipinya basah oleh uraian air mata. Tajuk di bawah foto itu berbunyi, “Persib Juara”.

Sebelah mata Asep berkedut. Sebal, kesal. Ada rasa ingin membanting barang. Tapi Asep adalah lelaki sabar. Jadi dia hanya melakukan satu hal. Tidak brutal maupun frontal, tapi cukup untuk membuat ibunya yang tambun melompat terkejut dan melompat. Asep melakukan satu hal kecil itu. Ia menyundut foto itu pas di tengah muka. Seperti sebuah peluru yang melewati kepala. Padahal lelaki di dalam foto itu adalah dirinya.

“Kenapa disundut segala! Kan bisa dipasang di dinding ari kamu! Dasar budak koplok!”

Ibu Asep memukulkan gulungan koran yang sedikit mengeluarkan abu pada kepala Asep dan meninggalkannya sambil mengomel. Tapi Asep tidak terpengaruh. Karena saat ini Asep adalah lelaki patah hati yang nestapa. Ditinggalkan perempuan manis. Manis Sunda dan sekaligus Cirata. Dan Persib yang juara tidak akan mengerti sakitnya semua itu. Sekalipun seragam Persib itu biru. Biru lebam seperti rasa di dalam dadanya. Terpukul dan tertonjok oleh perempuan bernama Euis.

Sudah lama Asep mengejar ujung rok Euis. Semenjak ia mendapat mimpi basah pertama. Wajah perempuan dalam mimpinya adalah Euis. Tapi badannya lain. Badannya perempuan di belakang buku TTS. Tapi itu keren. Bagi Asep, bayang itu membuatnya bersemangat. Karena mungkin Euis akan menjadi sensual seperti perempuan TTS.

Jadi Asep mengejar ujung rok Euis. Dari warna merah hingga berganti biru lalu abu. Pada saat itu, Asep juga memakai seragam. Tapi ia hanya sampai warna biru. Warna celana Asep tidak pernah abu. Karena ia adalah lelaki yang memikirkan masa depan. Di masa depannya ia hanya akan tinggal dan mati di Cirata. Dan semua yang tinggal dan mati di Cirata paling melakukan hal-hal yang berhubungan dengan waduk dan tambak. Paling hebat pun menjadi kenek. Dan di usianya yang 12 ia memutuskan untuk menjadi kenek agar dapat duit. Kalau ditanya kenapa. Ia jawab dengan ringan,

“Untuk kawin. Kawin dengan Euis.”

Ini membuat ibunya berang. Mencak-mencak dan kesal. Dikiranya ia akan punya anak lelaki yang sedikit maju. Tahunya lagi-lagi nasibnya sama seperti lelaki Cirata yang lain. Pendek dan malah kelampau sederhana. Tapi ya sudah. Ibu itu pasrah. Ia biarkan anaknya menjadi kenek dan mencari duit. Meskipun dalam hati ia tahu anaknya cerdas dan teliti. Tapi semuanya tertutup oleh syahwat dan obsesi. Pada ujung rok perempuan yang kelak menjadi seseksi perempuan TTS. Perempuan bernama Euis.

Dari semenjak rok Euis berwarna merah, ia sudah banyak digemari. Kulitnya kuning langsat dan rambutnya panjang lurus. Pada saat perempuan lain belum menstruasi, ia sudah. Jadi dadanya sudah montok sebelum yang lain-lain. Dan para lelaki mengenal dada montok. Jadi mereka mengejar dan ingin menyentilnya. Euis biarkan saja asalkan ia dapat jajan. Perempuan berdada montok perlu banyak makan. Kalau tidak nanti dadanya rata. Kalau sudah begitu Euis hanya akan menjadi datar. Seperti teman-teman perempuan Ciratanya yang iri pada montoknya.

Jadi Euis memelihara montoknya. Dan ia biarkan lelaki itu menyentil, asal memberi jajan. Dan di antara lelaki itu ada Asep. Kerempeng, hitam legam. Pada usia muda sudah tahu pemantik dan rokok. Dari usia kecil dan pipis masih mencong, sudah tahu meracap. Tapi ia berbeda dengan lelaki-lelaki lain yang tengil. Ia hanya membelikan jajan dan mengajak ngomong. Dan di dalam omongan itu, Asep akan bilang,

“Euis, saya akan kawini kamu.”

Lalu Euis akan bertanya,

“Apa nanti saya dapat jajan kalau kawin dengan kamu?”

Jawab Asep pendek,

“Iya.”

Sebagai jawaban Euis akan mengangkat bahu. Berpura-pura tidak acuh. Ia tidak memikirkan banyak-banyak mengenai janji-janji semacam itu. Karena lelaki sering hanya bermulut manis, tapi niatnya pahit. Paling-paling Asep menunggu-nunggu saat yang lebih asyik agar dapat menoel atau menyentil. Mungkin saat dadanya cukup digenggam. Atau mungkin nanti kalau ia sudah berani. Dan pipisnya tidak lagi mencong.

Jadi Euis tidak ambil hati. Ia hanya memikirkan jajan dan cara mendapatkan lebih banyak untuk dari lelaki yang dikendalikan selangkangan. Jadi ia belajar berdandan dan memakai wewangian. Ia juga belajar memakai baju yang ketat. Juga sedikit menerawang. Di balik seragamnya ia selalu memakai beha yang berwarna mencrang. Jaga-jaga seandainya ada mata lelaki yang kurang keparat. Euis memberikan contekan sebelum waktunya kancing-kancing itu terbuka.

Dan benar saja, lelaki yang menjajani bertambah banyak. Sebagian karena merasa menjajani perempuan berdada montak itu keren. Sebagian lagi karena senang melihat dada itu bergoyang. Mana saja sama bagi Euis. Yang penting lelaki-lelaki itu memberi jajan. Dan di antara lelaki-lelaki itu tetap ada Asep. Masih juga ia hanya memberi jajan dan omong. Ia selalu berkata,

“Euis, saya akan kawini kamu.”

Lalu Euis akan bertanya,

“Oh ya? Mengapa? Pipismu pun pasti masih mencong.”

Asep menjawab,

“Agar kamu tidak perlu meminta jajan pada lelaki berhidung belang. Dan pipis saya sudah tidak mencong.”

Mendengar jawab Asep yang kali ini, Euis merasa terkejut. Muncul sedikit kebat-kebit dalam hatinya. Dan tiba-tiba saja otaknya tidak melulu dipenuhi pikiran ingin jajan. Ia mulai memikirkan Asep. Omongannya yang ringan sekaligus pendek. Tapi tepat dan menghunjam. Sama seperti kulitnya yang lugas legam dan keriting bibirnya yang menghitam. Tak terasa, terdapat sebuah desir teratur di dalam dada montok Euis. Ia mulai bertanya-tanya apa Asep serius mengenai mengawininya.

Niat Asep untuk mengawininya mulai membuat Euis berpikir. Selama ini ia hanya dikelilingi oleh lelaki yang menikmati goyang dadanya yang montok. Dan ia biarkan saja mereka mengejar ujung roknya. Biar saja para lelaki seperti itu. Mereka hidung belang. Dompet mereka perlu dikuras. Biar saja biar mampus. Kalau miskin, Euis akan mencari yang lain.

Tapi Asep berbeda dengan para lelaki hidung belang itu. Dia hanya memberi jajan. Dan dia mengajak ngomong. Dan dia menjanjikan kawin. Kawin pada perempuan yang tidak keberatan disentil dan ditoel oleh lelaki hidung belang. Perempuan yang hanya memikirkan jajan dan mengandalkan goyang dada montok.

Tiba-tiba saja Euis menjadi malu. Euis juga merasa takut. Terutamanya ia merasa takut. Ia takut menyambut rasa Asep yang tulus. Lalu mereka benar-benar kawin. Dan setelah kawin, Euis akan minta jajan. Jajan hingga membuat dompet Asep kurus. Kalau sudah begini mungkin Euis akan mencari jajan di tempat lain. Dan Asep akan terluka. Asep yang sabar akan terluka.

Jadi lain kali ketika Asep menyebut-nyebut mengenai mengawininya, Euis akan berdalih bahwa Asep adalah lelaki yang miskin nelangsa. Perempuan berdada montok seperti dirinya hanya mengawini lelaki dengan kantong yang tebal. Asep tidak berkutik mendengar kata-kata menyakitkan itu. Ia hanya menghilang selama beberapa bulan. Dan Euis menjadi tentram. Kemudian ia menghilangkan bayang Asep dengan jajan dari lelaki-lelaki hidung belang.

Tapi tak lama kemudian Asep muncul lagi. Kali ini ia bawa mobil Carry baru. Hitam dan mengkilat. Usianya saat itu baru 19. Tapi ia hebat. Ia punya carry sendiri. Dan mobil itu dibawanya ke hadapan Euis yang hanya bisa melongo dan tercengang. Dalam pikiran sederhana Cirata, lelaki yang bawa Carry itu sudah pasti tajir habis. Dan sudah pasti dompetnya tebal. Menjajani berkali-kali pun tidak akan pernah tipis. Jadi dengan kepercayaan diri akibat mendapatkan Carry, Asep berkata pada Euis,

“Euis, ayo kita kawin.”

Pada awal mendengar ajakan itu Euis hanya diam. Hatinya ingin menjerit dan menjawab, “Iya!” Euis pun sadar bahwa ini yang dinamakan jatuh cinta. Tapi kemudian ia ingat seperti apa dirinya. Dan seperti Asep. Ia adalah perempuan berdada montok yang bisa ditoel oleh siapapun. Sedangkan Asep adalah lelaki yang sabar dan keren. Ia punya Carry. Jadi Euis pun menjawab dengan kalut. Ia menjawab dengan sekenanya saja,

“Nanti, kalau Persib jadi juara.”

Entah bagaimana Euis tiba-tiba mengeluarkan jawaban seperti itu. Di saat-saat sepenting itu ia teringat pada celotehan salah seorang lelaki yang senang menoel dadanya. Lelaki itu selalu memakai jersey kesebelasan yang berwarna biru. Dan sembari menoel-noel ia sering menyebutkan Persib. Idolanya yang tak kunjung juara. Sudah 19 tahun seperti itu dan itu membuatnya stress. Oleh karenanya ia perlu bermain pentil dan dada. Euis tidak masalah, asal ada jajan. Dan tak diduga-duga omongan 19 tahun Persib yang tidak juara itu menjadi dalihnya untuk menolak Asep yang dicintainya.

Asep diam mendengar jawaban Euis yang seperti itu. Ia hanya mengambil sebatang samsoe, menyulutnya, membuka pintu mobil carry dan menyentir sekencang-kencangnya. Debu jalan yang tersepak oleh raungan ban Carry yang berputar cukup dahsyat. Gatal dan menusuk ujung-ujung mata Euis. Ia menggosok kedua matanya. Keduanya merah dan keluar air mata. Air mata yang entah karena pedih oleh debu atau oleh kepergian Asep. Yang pasti air mata itu mengalir di pipi Euis yang putih. Meninggalkan jejak basah yang kemudian coreng-moreng oleh debu. Euis merasa itu akan menjadi kali terakhirnya melihat legam Asep. Karena tidak mungkin Persib juara. Sudah lama seperti itu.

Tapi ternyata Asep mengambil serius jawaban Euis. Ia tahu saat itu Persib sedang mengikuti laga. Sampai saat ini sepak terjangnya lumayan menendang. Sudah menunjukkan kehidupan. Sudah mulai keluar taring dan cakar maung parahyangan. Sudah akan terdengar aum yang menggetarkan itu. Asep cukup yakin bahwa Persib bisa menjadi juara. Tapi ia perlu menyaksikan permainan kesebelasan biru itu sendiri. Menyaksikan sendiri kesebelasan yang menentukan nasib akhirnya bersama Euis.

Jadi saat Persib akhirnya masuk final dan harus tanding di Palembang, Asep bela-belain untuk menyebrang pulau. Ia yang tadinya terlalu sibuk untuk ambil peduli, hanya sesekali menonton di saat senggang, tiba-tiba menjadi fans Persib nomer wahid. Tiba-tiba ia memiliki semua atribut seorang viking. Asep yang legam kini tak hanya hitam, ia juga menjadi biru. Biru parahyangan.

Dan di Palembang berlangsung pertarungan antara Persib dan tim yang tidak ingin Asep berkawin dengan Euis. Setidaknya begitu menurut Asep. Setiap kali bola menyentuh wilayah parahyangan, Asep menjadi kebat-kebit dan ngeri. Ia membayangkan Euis melambai dan berlari menjauh. Di ujung sana ada lelaki-lelaki berhidung belang. Mereka tidak peduli pada perempuan Sunda dan Cirata itu. Mereka hanya pada tubuhnya. Apa masih menggemaskan untuk diremas.

Asep bergidik. Ia tidak konsentrasi. Ia hanya memikirkan ia dan Euis. Sementara itu semuanya berteriak dengan lantang sambil menyumpah-nyumpah wasit. Ramai. Sedikit mengembalikan Asep ke dunia nyata. Hingga ia tahu bahwa nasibnya berada di ujung tanduk. Di ujung hasil penalti. Menegangkan. Semua penonton mengepalkan tangan. Asep pun. Meskipun untuk alasan yang sedikit melenceng.

Gol demi gol silih berganti memasuki gawang Persib dan lawan. Semuanya mengaduh, frustasi saat gawang kebobolan. Tapi semuanya kemudian girang dan berjingkrak ketika Persib membobol gawang lawan. Benar-benar sebuah rollercoaster emosi yang hebat. Mengaduk perasaan Asep hingga ke ujung tanduk. Lebih rasanya dari saat ia membawa Carry nya ngebut di tol untuk pertama kali. Lebih hebat karena adu penalti itu menentukan nasibnya. Apa Asep akan berhasil memboyong Euis yang bertubuh aduhai.

Lalu adu penalti itu berakhir. Berakhir dengan sebuah tukikan bola yang menegangkan. Dan kemenangan pun dibawa oleh Persib. Bilangannya lima-tiga. Tiba-tiba stadion tenggelam dalam khidmat haru biru sorakan gempita. Banyak yang mengucap alhamdulillah. Sujud syukur pada wilayah seadanya. Sedangkan Asep mengeluarkan hape. Dan diketikkan sebuah SMS pada Euis,

Neng, besok kita kawin. Persib juara.

Dikirimkannya SMS itu dengan gemetar penuh haru dan tak sabar ingin pulang ke Cirata. Tak lama kemudian hape itu bergetar. Sebuah pesan balasan masuk. Dari Euis yang berkata,

Nggak bisa. Aku hamil. Bukan anakmu.

Asep tertegun dan terdiam. Tentu saja bukan anaknya! Ia tidak pernah menyentuh seujung rambut pun dari Euis! Dasar perempuan sundal tukang menggoyangkan dada montok. Mengapa ia biarkan dirinya tidak hanya ditoel tapi juga ditusuk! Mengapa Euis tidak menyimpan dirinya. Padahal Asep bilang berkali-kali akan mengawininya. Suatu hari ia akan menjemputnya. Tentu ia akan menjemputnya. Karena Euis adalah perempuan yang dilihatnya dalam mimpi basahnya. Dan ia sudah jatuh cinta sebelum para lelaki hidung belang itu mengejar goyang dada montoknya.

“Taik anjing goblok koplok!”

Asep berteriak. Lalu ia berdiri. Teriakannya yang berisi sumpah serapah tidak terdengar karena tenggelam dalam haru biru viking. Orang-orang hanya melihat air mata yang mengalir deras di pipinya. Punggungnya ditepuk oleh penonton lain yang juga mengalirkan air mata terharu bahwa akhirnya Persib bisa juara. Ditepuk-tepuk seperti itu, Asep hanya bergeming dalam sebuah posisi khidmat. Seakan-akan sangat haru oleh kemenangan Persib juara hingga hanya dapat menangis dengan biru.

Pose tangis haru biru Asep inilah yang kemudian ditangkap oleh lensa seorang wartawan. Wajahnya menjadi wajah depan koran nasional yang meliput habis-habisan kemenangan Persib juara. Dikatakan dalam artikel-artikel itu bahwa wajah Asep yang menangis adalah tangisan viking yang terharu akan kemenangan Persib yang tertunda selama 19 tahun. Mereka tidak tahu bahwa tangis itu bukan milik Persib, tapi milik Euis. Seorang perempuan manis. Sunda dan Cirata. Juga punya dada yang bergoyang. Tapi terutama perempuan itu begitu hebatnya karena dapat membuat Asep yang sabar patah hati, malang dan nestapa. Padahal Asep sudah punya Carry dan banyak uang jajan.

Jadi lelaki malang bernama Asep ini hanya dapat mengulirkan buliran minyak dan keringat berbau nyegrak. Bau itu bercampur dengan amis ikan dan bau tembakau cengkih. Campuran bau lelaki patah hati yang malang. Pekat dan lebam. Meninggalkan rasa yang haru dan membuat hati biru.

Jiwa yang Tua Bangsat Keparat

Saya butuh menulis ini. Untuk melampiaskan rasa yang tidak berhubungan dengan novel yang sedang saya tulis. Benar-benar tulisan yang emosional. Mungkin membingungkan. Biarlah. Sekali-kali saya membuat karya yang tidak berjarak. Sekalipun dibuat dari POV orang ketiga. Boleh saja lah.

Seperti biasa. Jangan pikirkan teknis. Jangan pikirkan EYD. Jangan pikirkan hal-hal yang logis. Ikuti saja. Kemungkinan besar kalian akan macet membaca tulisan yang kali ini. Wajar. Karena ini bukan tulisan yang smooth. Bukan karena saat menulisnya tersendat, tapi karena perasaan yang menjadi dasar tulisan ini semacam geram. Jadi wajar kalau sedikit mengganggu.

Selamat menikmati rasa terganggu!

-nyaw, melepas gangguan agar dirinya sendiri tidak terganggu-

***

Jiwa yang Tua Bangsat Keparat

Mother earth

Jiwa Nira sudah tua. Tua bangsat dan keparat. Dia turun dari langit dengan cedera pada kepala. Dia lupa nama Tuhan. Jadi dia berkelana. Mencari tanda. Mencari petunjuk. Mencari ceceran-ceceran nama Tuhan. Dengan kepala. Dengan tangan. Dengan raga. Dengan hati. Lalu ketika ia tidak menemukan kata. Kata yang merupakan asal dari Tuhan. Ia mendumel dan mengomel. Juga menjadi sarkastis dan skeptis. Memandang dan menghakimi siapa-siapa yang memberinya keterangan yang palsu dan sampah. Katanya pada mereka,

“Buat apa kalian diturunkan Tuhan, kalau kerja kalian membuat kebohongan dan tidak mencari nama Tuhan? Lebih baik kalian enyah. Lebih baik kalian minggat. Lebih baik kalian kembali ke neraka.”

Begitu kata jiwa Nira yang sudah tua bangsat dan keparat. Dia sudah keriput. Dia sudah kisut. Dia sudah penuh kerut-kerut. Jiwa yang tua bangka berasal dari hari-hari ketika dunia masih tua. Ketika hutan masih rapat dan gunung-gunung masih menjulang ke langit. Ketika angin masih bersiul dan bernyanyi. Membisik kabar-kabar kepada makhluk bumi. Hari ketika asap berbicara. Membicarakan kabar-kabar setengah bohon dari bara.

Dari sanalah jiwa Nira yang tua bangka bangsat keparat. Jiwa yang anehnya tidak kenal lelah. Mencari nama Sang Perkasa. Di dalam angin. Di dalam hembusan di antara jemari dedaunan. Masih saja penasaran. Mencari dan mencari. Dan berkali-kali luput atau tidak ditemukan kalam itu. Tapi ia terus menyelisik mencari. Dan ketika bertemu kalam itu, ia merasa belum usai.

“Masih banyak tanda itu. Masih banyak kata itu. Masih banyak nama Tuhan.”

Jiwa Nira yang tua bangka tetap mencari. Tak kenal lelah. Tak kenal susah. Tak kenal jaman. Padahal jaman sudah berubah. Jaman sekarang nama Tuhan sudah diketemukan di semua tempat. Bertebaran dan berkeliaran. Bahkan hampir seperti obral. Orang-orang yang mencari untung pun menggunakan kalam Tuhan. Seperti tukang obat pinggir jalan.

Tapi bagaimanapun nama Tuhan sudah ditemukan. Dan harusnya jiwa Nira beristirahat dengan tenang. Beradaptasi dan berubah. Mengikuti jaman. Meskipun baginya semuanya keliatan agak-agak edan. Dengan semua standar dan penyeragaman. Tapi bagaimana pun jiwa Nira masih saja tergelitik. Dia berkata,

“Dengan semua kesamaan itu, apa kalian masih mencari nama Tuhan?”

Jiwa Nira sedikit menyebalkan seperti itu. Andaikan dia bisa bungkam. Andai dia bisa mati. Atau setidaknya andaikan dia bisa mengerti. Kalau dia tidak baik merasa benar sendiri. Kebenaran jaman sekarang adalah kesepakatan. Tidak penting apakah itu dari langit atau berasal dari kalam Tuhan sekalipun. Berkonformasilah maka kau akan selamat. Maka kau akan menjadi satu dengan masyrakat.

Tapi tidak. Jiwa Nira yang tua masih perlu bangsat keparat. Ia teguh pada pendirian. Dia selalu mempertanyakan hal-hal di sekitarnya. Dia selalu mencari kebenaran yang benar-benar merupakan kebenaran. Dan dalam proses itu ia bersikap bangsat dan keparat. Ia tidak peduli adat dan kesopanan. Ia tidak mau berkompromi dengan penyeragaman sikap.

Dan jadilah Nira seorang musuh masyarakat. Akibat jiwanya yang tua bangsat dan keparat. Untunglah ia masih memiliki karya. Jadi orang segan membunuh dirinya di tempat. Tapi selebihnya ia hanya dibiarkan. Dengan perasaan enggan. Dan selebihnya ia dibiarkan kelaparan. Agar binasa dan mati.

Tapi Tuhan menyayangi semua makhluknya. Yang tua dan bangsat keparat sekalipun. Jadi Nira tidak pernah kelaparan. Sekalipun seluruh dunia menginginkan dirinya begitu. Karena ia adalah sebuah gangguan. Enyahkan enyahkan enyahkan. Orang yang berbeda perlu dienyahkan. Atau setidaknya perlu dirusak. Perbedaan perlu dirusak dan dipatahkan.

Jadi suatu hari. Ketika Nira merasa sedikit ringan. Sedikit bahagia melihat karyanya lumayan berkembang. Keluarganya menghubunginya. Katanya pada Nira,

“Atasanmu memberitahu kau gila. Apa yang terjadi?”

Nira terdiam. Matanya mengosong. Ia hanya dapat tercenung. Jiwa tua bangkanya pun tak berkutik. Terkejut dan tertohok. Sebegitunyakah orang perlu keseragaman? Tidak adakah ruang untuk satu pun perbedaan. Satu pun?

Nira tersentak dan sedikit mengomel. Lebih baik begitu. Lebih baik dia mengomel dan bersumpah serapah. Ketimbang dia memendam rasa dan menikami hatinya sendiri. Ia memilih mengeluarkan senjata. Mengarahkannya pada seluruh dunia. Hanya ada Nira, melawan seluruh dunia. Melawan mereka. Mereka yang sedarah sekalipun.

Nira sadar ia tidak diterima. Ia tidak akan pernah diterima. Sekali gila, ia akan seterusnya dicap sakit jiwa. Maka ia melarikan diri. Minggat. Menjauh. Pergi dari semuanya. Karena kalau tidak, ia pasti akan bunuh diri. Bukan raga, tapi jiwa yang mati. Jadi Nira minggat, melarikan diri. Mengungsi di dalam gua. Hanya ada dia dan pikirnya yang mengelana. Mencari Tuhan. Mencari makna.

Lalu Nira menulis. Mengulang cerita dari semesta. Mengenai kebenaran dalam dirinya. Mengenai keyakinan di dalam hatinya. Mengenai pandangannya pada seluruh dunia. Sebagian kelam. Sebagian terang. Seperti Nira. Seperti kehidupan. Sebuah koin dengan bidang saling bersisian.

Nira yakin semua karyanya akan ke surga. Terbang melintas dimensi. Terbang melintas tanpa perlu berpegang pada hukum-hukum fisika. Terbang dan bertengger pada rak. Perpustakaan Cordoba yang terbakar habis. Perpustakaan megah yang kini hanya dapat ditemukan pada akhirat, akhir jaman. Karya-karya Nira akan bertengger dan memenuhi satu rak tersendiri. Letaknya di dekat jendela yang terang. Dan sebagian akan berada pada sisi yang membelakangi terang jendela. Mungkin bersebelahan dengan karya-karya dystophia semacam 1984. Karena itu seperti Nira. Sebagian terang. Sebagian gelap.

Jadi Nira berkarya. Seakan-akan ia gila. Ralat. Memang benar sekarang ia gila. Karena ia bekerja tidak kenal raga. Tidak kenal perut. Tidak kenal malu. Ikut pada uang keluarga. Harga yang tidak pantas pada seorang gila seperti Nira.

Tapi ia perlu lakukan semua itu. Nira perlu gila. Nira perlu terus berkarya. Tidak kenal adat. Tidak kenal aturan. Tidak kenal seragam. Telanjang telanjang telanjang. Berikan rasa. Berikan rasa. Katakan lantang pada dunia. Tidak perlu sabetkan senjata. Hanya perlu katakan makna yang tersembunyi dalam kata. Katakan dengan nyata semua rasa.

Karena dunia perlu tahu apa yang dicari Nira. Kata Tuhan. Kata yang hanya dapat ditemukan dengan rasa. Kata yang hanya dapat dimengerti dan dipahami dengan hati yang hidup dan tidak seragam. Kata yang hanya dapat ditemukan dengan cara yang khas.

Karena itu Nira perlu menulis. Apa yang jiwa tua bangkanya cari dan telisik. Dan semua orang tahu perlu tahu bahayanya menjadi tidak diri sendiri. Karena kata itu mungkin tidak akan pernah sampai pada orang yang tidak tahu namanya sendiri.

Jadi Nira terus menulis. Dari gua yang gelap. Hanya seorang diri. Meskipun ia dikatai seperti Kartini. Ia tidak peduli. Semuanya perlu tahu apa yang perlu dicari. Dan itu bukan harta. Itu bukan hal-hal yang dapat dilihat dan digenggam. Hal yang dicari hanya dapat ditemukan dengan hati. Sebuah makna dalam mengenai Tuhan.

Dan ketika Nira asyik menulis. Mengenai semua hal. Membangun rasa. Membangkitkan minat jiwa yang hampir padam. Mereka yang mengatakan Nira gila, mengajaknya untuk kembali. Mengajaknya berkarya dalam dunia mereka lagi. Karena mereka bilang bahwa mereka sudah berubah. Karena mereka bilang mereka mengerti keindahan di dalam ragam.

Jadi Nira pun setuju. Karena jiwanya yang tua bangsat keparat memiliki sisi yang baik. Ia pemaaf dan melihat keindahan di dalam masa depan. Yang sudah lalu ya sudah. Bila kesemuanya berniat baik maka kemungkinan terjadi yang baik.

Tapi lalu mereka yang mengajak Nira untuk kembali pada dunia mereka bertanya,

“Coba ceritakan apa yang sudah berubah? Perubahan apa yang ada pada dirimu hingga kami dapat menerima kamu kembali?”

Nira terdiam. Jiwa tuanya kembali menjadi bangsat dan keparat. Ia berkata dengan lidah tajam tanpa sedikit pun sumpah serapah,

“Kalian bilang sudah berubah. Kalian bilang kalian paham. Tapi kalian ingin saya berubah.”

Nira bingung. Mengapa ia harus kembali kalau mereka terus saja ingin ia berubah? Bukankah ia sudah melakukan itu berkali-kali? Bukankah mereka yang masih sama?

Jiwa tua bangsat keparat Nira mendengus. Badannya yang bungkuk terlihat tirus. Rambutnya yang abu hingga ke pinggang terlihat kusam di dalam remang-remang. Sebuah tangan diletakkannya pada pinggang. Sebelah lagi memegang tongkat tua dari kayu hutan. Kalungnya tergantung panjang. Terbuat dari biji-bijian dan belulang. Jiwanya yang tua bangsat keparat hanya mengomel dan mengomel. Berbicara pada asap yang membumbung tinggi. Katanya pada asap,

“Sudah kubilang. Sudah kubilang. Sudah kubilang. Dunia enggan berubah. Lalu mengapa kita harus berbuat hal yang sama?”

Asap yang seharusnya bergerak menuju langit, sepenuhnya diam. Seperti udara yang tiba-tiba membeku. Angin yang enggan bergerak. Marah dan kesal pada hukum-hukum fisika. Asap itu tidak mau bergerak. Geram pada dunia yang seperti itu-itu saja. Semenjak dari hutan masih rapat hingga menjadi renggang.

Maka ia menjadi angin yang tidak alami. Diam dan enggan bergerak. Ketika angin seharusnya berlari, ia memendam diri.

Diam hingga waktunya butuh berlari. Dari semuanya. Dari dunia ini. Dunia bangsat keparat yang dibuat oleh manusia lupa diri. Lupa diri dan lupa misi. Misi mencari nama Tuhan.

Topeng Monyet

Kadang saya pikir semua orang itu bahagia. Tapi pengertian bahagia orang-orang berbeda. Dan perbedaan itulah yang sering membuat kaget. Lalu karena tidak paham, ada kemungkinan kita akan mengatai orang lain itu gila dan tidak dapat membedakan derita dan bahagia.

Ya sering sih saya pikir begitu.

Tapi beberapa kali saya pikir, kemungkinan besar aku salah memandang apa-apa yang ada di luar saya. Dan kesalahan itu adalah karena aku tidak dapat memandang diri saya sendiri dengan obyektif.

Kupikir itu masalah. Tadinya kupikir begitu. Tapi aku berpikir lagi, dan mungkin memang seharusnya seperti itu. Karena ini adalah dunia. Yang serba abu-abu. Dan kalau Bu Mariska Lubis bilang, “Seperti koin”. Ya aku setuju. Dunia yang serba bipolar.

Yang bipolar itu katanya mirip saya. Jadi sebenarnya saya ini adalah orang yang lumayan seiring semesta. Karena dapat berbalik dengan cepat.

Oleh karena itu tiba-tiba saya teringat “Topeng Monyet”. Melalui tulisan ini aku mencari arti rasaku pada Topeng Monyet. Kasihan tapi kok tertawa. Mungkin itu adalah bagian hati yang hitam.

Tapi meskipun hati ini hitam, bukan berarti saya setuju pada perbudakan. Ah tidak. Saya percaya tidak seorang makhluk pun dibuat agar dapat terbiasa pada perbudakan. Apapun bentuknya!

Jadi selamat membaca dan mungkin selamat berpikir ulang.

-nyaw, jungkir balik-

***

Topeng Monyet

hidung belang resize

Sebuah artikel mengenai perbudakan monyet sedang menjadi sorotan utama akhir-akhir ini. Saat membuka situs sosial media apapun, orang-orang akan membagikan artikel yang dimuat pada sebuah koran berbahasa Inggris itu. Dengan bahasa jurnalistik yang berapi-api dan begitu yakin pada kebenaran, sipenulis artikel menguraikan secara rinci mekanisme perbudakan monyet di Indonesia. Bagaimana naasnya monyet itu dirantai dengan temali di leher dan tidak diberikan makanan yang layak. Bagaimana menjijikkannya kandang si monyet dan juga rumah si pemelihara monyet yang tinggal di pinggir-pinggir selokan bau. Dan bagaimana mengerikannya intaian penyakit rabies yang berdiam di dalam liur monyet-monyet tidak terurus itu.

Menurut si penulis, sementara si pemelihara monyet ongkang-ongkang kaki, monyet-monyet ini diperbudak dan disuruh melakukan trik-trik. Entah mengapa trik-trik itu menarik hati orang Indonesia, bagi orang-orang bule semua yang dilakukan oleh si monyet begitu mengerikan. Apa lucunya menonton monyet menaiki sepeda sambil membawa keranjang dan memakai topeng yang terbuat dari bekas boneka bayi plastik. Menakutkan. Humor rendahan. Tapi orang-orang Indonesia tertawa. Tergelitik oleh semacam rasa lucu yang gelap dari sajian Topeng Monyet.

Pagi hari itu aku menyaksikan Topeng Monyet yang ramai diperbincangkan itu. Dalam hati aku berusaha untuk memalingkan muka. Malu karena semua kawan telah mencemooh dan mencerca kebiasaan menonton Topeng Monyet. Juga malu karena bersikap biadab. Setidaknya menurut ukuran-ukuran orang bule itu. Lagian memang kasihan monyet itu. Ngapain juga makhluk yang seharusnya sedang berayun dari pohon-pohon, berjungkiran di atas aspal panas karena si pemelihara monyet mendesis galak.

Tapi mau tidak mau, aku menonton sajian Topeng Monyet itu. Habisnya lampu merah jalan di bawah jembatan layang itu lama sekali. Ada mungkin sekitar lebih dari 180 detik. Dan selama 180 detik itu, si monyet sudah “ke pasar”, “pakai bedak” dan “ngudud”. Atraksi-atraksi biasanya dari pengamen Topeng Monyet. Dan selama melakukan itu, si monyet memakai topeng boneka bayi plastik yang sudah rongsokan. Di tempat yang seharusnya terlukis mata, malah terdapat dua bolong. Seakan-akan itu akan bedanya bagi si monyet. Mereka kan sudah rutin melakukan semua atraksi. Sekian desisan dan sekian tarikan rantai artinya menggaruk atau membungkuk. Mungkin sebuah sentakan artinya si monyet perlu jungkir balik. Hal-hal yang rutin. Hal-hal yang biasa saja.

Jadi untuk 180 detik aku menonton Topeng Monyet. Dan aku mulai melupakan rasa malu dan cerca massa. Hanya ada aku dan atraksi si monyet. Lalu anehnya aku tertawa. Entah apa yang lucu dari atraksi si monyet. Aku sendiri tidak mengerti. Andaikan saja aku dapat melihat wajah si monyet yang bekerja begitu kerasnya, mungkin aku akan mengerti mengapa aku mengeluarkan sebuah tawa. Mungkin.

Tapi 180 detik itu keburu berakhir. Ternyata 180 detik tidak selama yang kubayangkan. Dan aku terpaksa menginjak gas dan meninggalkan perempatan di bawah jembatan layang itu. Menyetir dengan sedikit ugal-ugalan. Karena sebenarnya aku berangkat terlambat pagi itu. Jadi aku harus bergegas kalau tidak mau dipotong gaji.

Sembari menyetir, aku teringat pada Topeng Monyet. Pada jungkir baliknya. Pada absurditas topeng yang seharusnya membuat monyet itu manis dan imut. Sebuah topeng untuk menyembunyikan seringai liar alami si monyet. Atau mungkin beberapa belek karena terlalu banyak terpapar asap knalpot. Atau mungkin agar anak-anak tidak takut pada tetes liur monyet yang dehidrasi dan hampir rabies. Topeng absurd yang seharusnya menyembunyikan semua laku dan mimik muka. Memberikan sebuah wajah palsu. Padahal yang di baliknya adalah getir dan nestapa. Mungkin banyaknya rasa rindu pada pohon dan panggilan kawan-kawan sesama monyet.

Kasihan monyet itu. Masa binatang juga pakai topeng?

Aku tiba di kantor 15 menit terlambat. Gajiku akan dipotong sejam. Pegawai HRD yang ingin terlihat banyak kerja mengomel dan mencemberutiku di depan semua orang. Padahal banyaknya orang-orang yang menonton itu adalah bawahan-bawahanku. Tapi karena dia lebih senior, aku relakan diri untuk dimarahi. Dan pegawai HRD itu senang melakukan semua itu. Ia ingin menunjukkan bahwa ia bekerja keras dari siapapun di tempat itu dan aku adalah si orang gila yang terlambat 15 menit. Bajingan yang perlu dibasmi karena tidak memiliki etos kerja dan perlu dihilangkan dari muka bumi.

Dan aku menunduk dan membiarkan pegawai HRD itu memarahiku habis-habisan. Saking sudah terbiasanya mendengar omelan dan amarah. Dan pikiranku kembali kepada Topeng Monyet dan si monyet yang berjungkir balik di bawah sentakan rantai si pemelihara monyet. Dan aku terkenang pada topeng boneka bayi plastik busuk yang mengerikan. Dengan mata kosong menatap ruang di mana dua kilat liar berusaha menatap. Tapi kemudian hanya padam terkena sentak dan sengat rantai. Menjadi lubang kosong sementara si monyet kembali berjungkir. Karena pemelihara monyet menghendakinya bergerak demikian. Harus seperti itu. Karena benar monyet itu adalah budak.

Lalu mengapa aku menertawakan seorang budak?

Setelah pegawai HRD itu puas mempermalukanku di hadapan semua orang, aku melangkahkan kaki menuju meja kerjaku. Atasanku dan beberapa rekan kerjaku telah menunggu kedatanganku. Mereka tampak cemas sekaligus lega melihat kedatanganku. Dengan segera aku dikerubuti dan ditumpahi oleh berbagai masalah. Semua masalah yang sama pentingnya. Tidak satu pun dapat menunggu temannya. Sebenarnya aku merasa jengah. Merasa tidak suka pada mereka yang selalu saja memberi tanya tanpa berusaha berdiskusi. Hatiku dongkol karena lagi-lagi aku dianggap dapat melakukan magic. Menyelesaikan semua masalah secara dadakan dan cepat. Padahal kupikir bukan seperti itu cara yang baik untuk menghadapi masalah. Tidak baik mengandalkan magic.

Tapi meskipun hatiku cemberut, wajahku netral dan malah tersenyum.

Seperti topeng boneka bayi plastik yang dikenakan oleh si monyet.

Mungkin itu yang membuat orang Indonesia tertawa saat menonton Topeng Monyet. Di dalam sudut hati yang dalam, mungkin monyet yang bersembunyi di balik topeng mengingatkannya pada dirinya sendiri. Keharusan untuk tertawa ketika menangis. Tekanan untuk bersyukur pada saat hati masih kufur. Kekangan berekspresi karena mengikuti budaya yang dianggap lebih global dan membumi. Mungkin bule tidak mengerti hal semacam itu. Tidak mengerti gelitik lucu di dalam kehidupan yang kelam.

Asal tahu. Kami Indonesia menyebutnya “bahagia”.