Terpapar

Menjadikan diri sendiri terpapar terhadap keadaan di luar sendiri adalah hal yang menyakitkan. Emosi tidak diperkenankan melonjak dan wajah harus senantiasa santun. Tingkah laku yang sekecil mana pun tentunya akan menuai komentar dan penghakiman.

Sulit.

Tapi menurutku itu bukanlah masalah terbesar. Tentu ada waktu-waktu untuk menjadi cuek. Sesekali. Toh Ahok pun sering mendumel dan tetap didewakan, mengapa rakyat biasa tidak boleh melakukan itu sesekali? Tentu saja boleh. Dihakimi pun resiko.

Tapi.

Selalu ada tapi.

Hal paling sulit dicegah adalah menjadi diri sendiri yang tukang menghakimi. Saat perasaan mengambang dan meluap keluar permukaan. Radang seluruh tubuh muncul. Pikiran-pikiran buruk mulai mengambil alih. Pikiran dan perasaan busuk itu begitu kuatnya. Paling sulit adalah tidak berpikir, “Coba ada yang ke sana dan menyentil orang itu sampai demam.” atau “Coba deh orang itu dijewer sampai panas kuping.”

Oh itu yang paling dan sangat sulit!

Karena bisa jadi ada yang benar-benar mengerjakan itu. Bisa dan pernah jadi. Padahal pikiran dan perasaan yang terpendam saja. Padahal hanya ingin disimpan untuk diri sendiri saja. Tapi bisa jadi ada yang mendengarnya. Karena banyak orang yang memedulikan diriku ini. Terkadang yang paling iseng sekalipun.

Oleh karenanya. Lebih baik diriku saja yang memaki dengan kasar dan tak karuan. Biarlah orang-orang menghakimi diri ini. Daripada aku sendiri yang menjadi hakim. Karena aku adalah hakim yang buruk. Buruk sekali.

Saking buruknya, tak baiklah aku memendam perasaan dan pikiran sendiri. Karena bukan hanya seorang diri sendiri saja yang mendengarnya. Bisa dan pernah jadi ada yang mendengarnya. Bahkan melaksanakannya.

Sulit. Sulit sulit sulit.

Menjadi terpapar itu adalah bersiap menjadi rapuh. Bersedia untuk dikritik. Adakah orang tahu maksud seseorang membiarkan perasaan dan pikirannya terpapar? Apakah itu selalu hanya karena perhatian? Bagaimana dengan orang yang cukup perhatian dan malah berlebih? Apakah masih karena itu seseorang memaparkan diri?

Tentu ada alasan yang lebih gawat dan mendesak.

Daripada nanti ada yang pergi ke sana. Daripada ada yang menyambangi alam pikiran bawah sadar yang ada di sana. Mending kupaparkan yang ada pada diri ini. Karena yang di sana tentu berpura-pura tuli dan tidak peduli. Maka biarkan kubunyikan pada semesta. Redamlah perasaan itu seperti setitik embun di dalam samudera.

Tentu anda-anda yang memerhatikan embun sangatlah jeli. Jadi bersyukurlah. Aku pun bersyukur pada kejelian anda yang memerhatikan perasaan dan pikiranku yang seperti titik embun kecil itu. Terlebih lagi aku bersyukur pada anda yang datang dan menyambangiku. Bukan karena aku memang meminta perhatian. Tidak. Perhatian yang tersorot pada diriku ini sudah jelas berlebih dalam kadar yang luarbiasa. Tidak. Ada bagusnya menyambangiku. Agar aku tidak berpikir buruk. Agar aku tidak merasa buruk. Agar aku dapat memberikan perspektif pada kedua keburukan itu. Agar yang turut mendengarkan pikiran dan perasaanku mengerti bahwa sesuatu tak selalu perlu didengarkan dan dilaksanakan.

Beberapa perasaan dan pikiran biarkanlah terpendam. Kalau kata seorang teman baik, “Nikmati perasaan buruk sekalipun.” Iya. Benar sekali teman. Aku pun ingin menikmatinya sendiri seperti seorang ayu yang sendiri.

Tapi,

Selalu ada tapi!

Tapi tak bisakah mereka bersikap cuek? Dan tentunya baik sekali bila yang turut mendengarkan mengabaikan beberapa seruan.

Karena apakah itu baik untuk diri mereka? Bukankah melaksanakan yang buruk meskipun dengan niatan baik akan dihitung? Kalian-kalian pun akan bertemu akhirat! Kalian disebutkan dalam buku besar itu!

Maka janganlah pergi ke sana. Meskipun pikiran dan perasaanku meronta. Mungkin bahkan merintih. Karena itu adalah pribadiku sendiri. Tidak semua dapat diredam oleh kata. Tidak semua siap dilayukan oleh doa. Ini tentu adalah pergumulanku pribadiku sendiri. Maka biarkanlah aku berperang. Abaikan saja ronta dan rintih itu. Meskipun berisik tentunya bagi keberadaanmu yang peka.

Ya lebih baik dirimu itu membiarkan diriku terpapar. Biarkan aku belajar. Dan dirimu. Mungkin lebih baik terpapar juga. Pada teman-temanmu sendiri. Biar kalian bisa mengobrol dalam bahasa yang sama.

Dan jangan. Jangan pergi ke sana.

Meskipun secara selintas aku memintanya.

Wah jangan lakukan. Jangan.

Karena tentunya aku pun tak menginginkan keburukan. Bahkan bagi kalian yang mendengarkan perasaan dan pikiran ini.

Biarkan perasaan dan pikiran ini berendam dalam semesta. Hingga luruhlah dan menghilanglah dia. Dan dirimu. Hiduplah layaknya dirimu yang seperti angin. Bersama teman-teman anginmu. Aku pun akan hidup seperti layak adanya. Bersama dengan teman-teman yang seperti diriku. Yang terkadang bertanya mengapa aku terkadang pengecut dan tidak santun.

Karena aku begini adanya. Berteman kata. Beriang kalimat.

Tidak semua indah. Tidak semua baik. Tidak selalu senyum. Tidak melulu tawa.

Tapi itu tidak mengapa bukan? Karena kita adalah teman. Kalau teman tentulah kamu tahu apa yang kumaksud. Dan tentulah kamu tahu betapa sulitnya untuk tidak mengendalikan pikiran dan perasaan yang dapat didengar oleh mereka yang seperti angin.

Mereka bisa terbang. Bisa dan pernah mereka terbang.

Tentulah mudah bagiku agar mereka tidak pergi. Cukuplah aku menjadi tidak terpapar. Cukuplah aku diam di kamar sendiri dan bermunajat setiap detik. Tapi aku cukup nekad. Ralat. Aku sangat nekad. Aku ingin terpapar. Aku pun ingin hidup.

Bukankah begitu keinginan jiwaku ketika diturunkan ke bumi?

Maka kupikir cobaan yang paling berat itu adalah dengan menjadi manusia yang terpapar.

Sulit bukan untuk tidak merasa takut pada hal-hal yang ada di luar diri? Ah sulit!

Tapi untuk apa hidup kalau terus takut? Hanya karena beberapa orang tidak mengerti dan paham, lalu haruskan aku bersembunyi? Tidak akan ada yang aku dapatkan di dalam persembunyian!

Sulit cukup sulit.

Tapi biarlah. Manusia memang dirangkai untuk mengalami kesulitan dunia. Yang mudah-mudah tentu ada di akhirat.

Bagi yang percaya maupun tidak.

Bagi anda yang terlihat maupun tidak.

Advertisements

Wanitaku

Alam semesta sedang mengajari aku menjadi seorang wanita. Keluwesan di dalam gerakan daun yang menari diterbangkan angin. Siulan indah gemerisik debu terjatuh. Kehangatan intipan cahaya matahari yang jatuh dari pelupuk-pelupuk awan. Dan hujan. Sejuk dan menenangkan. Kuat dan lembut pada saat yang sama.

Alam Semesta sedang mengajari aku menjadi seorang wanita. Seorang perayu dan pencinta ulung. Perayu yang meleburkan dirinya di dalam suara harmoni alam dan lantunan sayu sedan kata-kata indah. Pencinta yang memberikan segala yang ada pada dirinya dan malah menambah kekayaan hatinya. Hingga ia bermassa dan menarik segala rupa semesta ke dekatnya.

Wanita yang sejati.

Tentunya wanita yang sejati tidak pelak jauh dari ujian. Pada saat satuan-satuan ajaran kewanitaan semesta menjangkau jauh ke dalam relung hatinya, mulailah ujian itu. Apa aku tahu bahwa aku adalah seorang wanita? Apakah aku tahu rasanya menjadi seorang wanita? Kenalkah aku pada sis-sisi wanitaku?

Ya sisi-sisi itu.

Lembut dan hangat dalam mengayomi setiap hati. Sakit dan nyeri ketika merasakan empati. Tetapi kuat dan mantap menghadapi deraan sehingga cantiklah setiap lekuk liatnya. Ia menggemakan keindahan sehingga bergetarlah sebuah gelombang tak berujung. Banggalah tiap sendi alam semesta karena ia telah bersatu sepenuhnya denganku yang menuju kewanitaan sejati.

Indah memang seorang wanita sejati, tapi ingat ia tak pelak dari ujian.

Karena keindahan tak hanya membangkitkan sisi-sisi indah semesta, sisi-sisi buruk pun ingin menjamahnya. Merenggut kemurniannya. Sebuah upaya sakit untuk menyatu dengan keindahan. Sisi lain cinta. Rasa ingin menjaga dan melindungi pun dapat membangkitkan rasa ingin mengganyang dan menghabisi.

“Aku tidak bisa menghadapi ini Semesta! Aku belum menjadi wanita yang utuh!” seruku pada inti sari alam.

“Kamu telah siap sayang! Rengkuhlah pecinta dan perayumu. Berdoalah perlindungan dari musuh-musuh yang ingin mencuri feminitasmu!” Semesta menjawab tanpa ragu.

Ditiupkanlah senandung seorang perempuan ke dalam angin. Menarilah dedaunan. Menari seperti pinggul seorang penari. Berputar dan lentik menyapu tanah. Melompat dan meloncat lincah. Akan kemanakah perempuan dalam angin itu? Apa ia sedang mengabarkan kabar pada dunia bahwa telah terbit seorang wanita di dalam diriku?

Ujian seorang wanita sejati. Sanggupkah aku melewatinya?

“Mari kita lihat. Mari kita lihat,” bisik alam semesta.

“Semesta, kalau musuhnya dalam bentuk kegamblangan maskulin, mungkin aku akan kalah,” kataku.

“Ah,” alam semesta terpekur. “Kau telah memanggil ujianmu sendiri sayang.”

Aku tidak terlalu mengerti apa maksud alam semesta pada saat itu. Tapi tak lama untuk bagi diriku untuk menyadari maksud kata-katanya. Dan tentu bukan suatu yang menherankan. Karena kewanitaan akan menarik laki-laki dalam diri orang-orang. Laki-laki itu bisa kuat, pemberani, ksatria. Mengagumkan. Atau mungkin kasar, dingin, dan penuh berahi. Seekor banteng. Banteng yang liar.

Ah benci aku. Benci pada sisi lain lelaki. Takut sekali. Bisa habislah diriku ini dicincang oleh kekuatan tanpa tedeng aling itu. Aku ini lembut dan halus karena alam semesta telah mengajariku untuk menjadi seorang wanita.

“Tapi kamu belumlah menjadi wanita sejati. Luweslah seperti angin. Ambillah kekuatan dari sapuan ombak. Jadilah perayu dan pecinta ulung yang tersembunyi di dalam kewanitaan itu.”

Meringislah aku. Kutatap medan perang di hadapanku. Terhampar ladang yang dipenuhi banteng-banteng bermata nanar. Merah dan tidak fokus. Tubuh, pikiran dan jiwa-jiwa yang tidak tersinkronisasi. Aku telah menyebutkan nama musuhku, dan mereka semua mencariku. Hendak menundukkan kekuatan feminin di dalam diriku. Hendak mencacatkannya ke dalam sudut terjauh. Sekali lagi, sekali lagi dan sekali lagi.

Mereka mabuk. Mabuk dalam fantasi liar dan buas mereka. Tempat wanita-wanita hanya tergolek ketika disentuh. Atau mengatakan kata-kata yang memutar kata tidak menjadi iya. Suatu surgawi para binatang liar yang menginginkan feminitas sesuai ingin mereka.

Adakah mereka berkaca ke dalam kewanitaanku? Mencoba mencari pemenuhan fantasi itu? Bisa jadi. Lalu akankah aku bersembunyi? Haruskah aku bersembunyi karena takut. Ataukah perlu aku maju dan berperang. Mengkomando dan melasso banteng-banteng itu.

Dengan apa?

Aku ini punya kemampuan apa?

“Kata. Aku akan menggunakan kata,” gumamku sendiri.

Jadi para banteng, bolehlah mereka berfantasi ketika aku hadir di antara mereka. Di dalam kepala mabuk nanar mereka, para perempuan bercumbu dan bercengkrama memenuhi hasrat permukaan mereka. Tapi aku menggali lebih dalam dari perempuan-perempuan dalam kepala mereka. Merengkuh dan menggenggam inti keliaran dan kebuasan yang menyebabkan rasa mabuk itu. Kuguncangkan inti hitam padat itu hingga gentarlah dia. Kuajari inti itu untuk menghormati diriku. Karena ia sedang berhadapan dengan seorang wanita sejati. Wanita sejati itu aku. Tegas-tegas kukatakan padanya untuk tersadar dan bangun ketika ia seruangan dengan seorang wanita.

Banyak dari banteng ini yang meleos. Takut pada kewanitaanku. Takut pada wajah inti diri mereka yang buruk. Malu karena maskulinitas mereka bukanlah seorang ksatria. Tapi ada juga banteng yang menyadari mabuk dalam kepalanya. Maka tersadarlah mereka. Menunduklah mereka dengan hormat hingga ksatria yang tersembunyi pun berdiri

Tersenyumlah aku pada ksatria-ksatria itu. Betapa memesonanya mereka. Indah sekali kekuatan mereka. Alam semesta pasti gembira menyambut penyatuan dengan mereka. Si perayu dan pecinta di dalam kewanitaanku pun bergetar menghadapi para ksatria.

Merona, memerah. Manusiawi. Senangnya menjadi wanita!

“Alam semesta, aku telah menjadi wanita sejati!” seruku.

“Belum sayang. Tidak sampai perayu dan pecintamu berhasil mencumbu seorang ksatria. Tidak sampai perayu dan pecintamu menjadi seorang ibu yang elok,” jawab alam semesta lembut.

“Kapankah itu?”

“Doakan saja sayang. Doakan. Untuk saat ini jadilah wanitaku. Wanita milik alam semesta.”

Aku tersenyum. Menjadi wanitaku sendiri? Menarik.

-nyaw, terbuai dalam nuansa wanita dan bertanya-tanya apa ada baiknya dia mencari nuansa maskulin yang “kering” sekarang ini (?)-

Tatapan Jeli

Selagi eling dan sebelum terbit edan-nya, aku mau menulis lagi.

Catatan: Jeli bukan Jelly. Jelly itu donat.

Noni berambut kiwil itu bertanya-tanya tentang kebosanan. Dia sedikit memaksa. Padahal aku kan sudah membuat tulisan setoran ya untuk hari ini. Ya noni itu ingin sebuah jawaban mengenai “bosan”. Karena ia cepat sekali bosan dan itu membuatnya tidak fokus dan ingin mengerjakan banyak hal sekaligus. Ia pikir kalau ada suatu alasan besar untuk menjalani hidup ini, maka sepertinya ia akan berkompromi dengan kebosanan itu.

Ah klasik.

Kebosanan ya. Kadang aku sendiri pun sangat iri dengan orang-orang yang memiliki kehidupan yang sudah stuck di dalam kebosanan. Bagiku itu seperti pencapaian. Karena pada saat bosan, mentok, manusia disuruh untuk mengambil keputusan yang berat. Mau berpindah fokuskah? Mencoba menggali potensi-potensi yang terdalam? Atau bagaimana dengan sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak lumrah. Sesuatu yang disebut dengan melatih “tatapan jeli”.

Sekali lagi aku ingin menekankan bahwa “jeli” bukan “jelly”.

Tatapan jeli adalah inovasi luar biasa. Itu adalah tahap selanjutnya bagi manusia yang telah melaksanakan segalanya pada piramida hingga keluarlah klise: lahir, sekolah, kerja, nikah, mati masuk surga. Ah kau pikir apa semudah itu? Apa saat menjalani semua itu niatmu terentang panjang sampai akhirat? Ah hebat lah kalau memang begitu. Tapi rasanya tidak mungkin seperti itu. Makanya pada saat memiliki suatu stagnansi, itu artinya saatnya “tatapan jeli” dipekerjakan. Tatapan jeli adalah alat untuk bersyukur lebih dalam dari sebelumnya. Pahalanya besar.

Itu menjelaskan bukan.

Mengapa segala hal yang berbau agama itu berbentuk rutinitas.

Ya karena itu melatih tatapan jeli-mu. Untuk menyadari bahwa setiap tindakan yang dilakukan meskipun dari luar terlihat sama, sebenarnya tidak pernah sama. Karena manusia berevolusi dan berubah sehingga doa-doa yang disalurkannya dalam karya-karya tak pernah terlihat sama. Seorang jeli tentu tidak akan luput pada perbedaan semacam ini! Apalagi Tuhan yang menciptakan “kejelian”.

Makanya kukatakan pada si noni kiwil,

“Noni, kalau kamu tidak bersabar pada sesuatu, ya apapun itu tidak akan terlihat berubah. Waktu kan tidak lari sana kemari seperti kamu. Jadi bersyukurlah bahwa kamu sedang mendapatkan ujian ‘kebosanan’ artinya ‘tatapan jeli’mu sedang dilatih.”

Si noni kiwil menundukkan kepala sambil menggoyang-goyangkan sebelah kaki dengan kolokan. Ia pun berkata,

“Lalu bagaimana dengan donat jelly itu? Kamu nggak bagi aku?”

Rasanya aku ingin menjedotkan kepala ke tembok. Bagaimana sih si noni ini! Kurasa aku telah menjelaskan panjang lebar dengan percuma. Pada akhirnya aku hanya dapat menghela napas panjang dan menjelaskan bahwa tidak pernah ada donat jelly dari awal pun. Si noni pun pergi dengan sedikit mencibir dan cepat-cepat kabur. Rambut kiwil terikatnya bergoyang melambai-lambai.

Sungguh tidak sopan!

-nyaw, berlatih tatapan jeli-

Kafir dalam Pink

Kupikir mood semesta sedang pink saat ini. Soalnya rasanya semua orang berbicara mengenai romansa dan budaya romansa mereka. Aku bertemu dan mengobrol dengan beberapa teman, dan sepertinya nuansa pinknya itu kentara sekali. Apalagi salah satu di antara mereka akan menikah. Wah, sepertinya seluruh ruangan itu menjadi pink rosa saking kentaranya perasaan cintanya pada calon suaminya.

Tapi di lain pihak, aku merasa budaya romansa yang kukenali secara pribadi menjadi semakin payah saja. Apalagi secara tidak sengaja aku berhadapan kembali dengan perasaan tidak nyaman pada satu titik dalam bidang pink itu. Dan karena perasaan tidak nyaman itu cukup kuat. ia bergulir dan pergi mengajak teman-teman canggungnya hingga membuatku jengkel. Getir pun kembali ke dalam hati.

Padahal sebelumnya aku sudah cukup damai tanpa warna pink, lalu kenapa warna pink itu malah melambai-lambai dari berbagai arah? Ada banyak warna di dunia ini, kenapa pink begitu egois dan ingin ikut sedikit-sedikit mewarnai duniaku?

Sungguh mengesalkan. Pink yang mengesalkan.

Jadi aku merengut. Bersamaan dengan merengutnya wajahku, temanku yang memiliki pengalaman-pengalaman pink yang lebih menyebalkan dan mengesalkan bercerita mengenai nuansa pink di tempat kerjanya. Ia bercerita tentang perselingkuhan dan perempuan yang mengalah untuk memenuhi rasa sepi si laki-laki. Makin-makin saja wajahku merengut. Karena meskipun usiaku hendak menginjak 28 tahun, aku tetaplah seorang gadis kecil di dalam bidang pink. Aku tidak senang pada pengkhianatan karena alasan sesepele “ranjang yang dingin”.

Ya lalu kalau tidak mau “ranjang dingin”, ya bukankah laki-laki perlu berinvestasi dalam menghangatkannya? Menikah aja daripada berperilaku memalukan seperti itu!

Tapi penyelesaiannya tidak semudah itu rupanya bagi dunia fana ini. Ada ekonomi, ada kecocokan keluarga, ada komitmen, dan kawan-kawan lain dengan nama-nama yang rumit. Astaga, begitu membingungkan hal-hal yang terlibat dalam warna pink yang manis itu. Ya untunglah warna pink itu begitu imut sehingga orang-orang bersedia terlibat dengan sukarela. Coba romansa itu diwarnai hitam atau merah. Sepertinya itu adalah warna yang agak tidak komprimistis.

Jadi aku yang merengut mulai merasa semakin tidak suka pada si nuansa pink dalam semesta. Dia seperti anak kucing unyu yang menunggu-nunggu untuk mencakarmu dan mencuri ikan asin dari piringmu. Ditambah pelaku-pelaku di dalam bidang ini benar-benar orang yang lepas dan ringan seakan-akan beromansa pink adalah pekara yang tidak serius.

Iya memang begitu. Pink itu ringan dan tidak serius, tapi kamulah yang harusnya mengambil alih komando ketegasan pada si pink!

Ah jengkel, jengkel, dan jengkel.

Malamnya aku berangkat tidur dalam jengkel. Herannya aku tertidur cukup pulas. Cukup pulas hingga rasanya ada yang meneriakiku agar cepat-cepat bangun. Kupikir sudah subuh. Tapi ternyata itu jam 02.30. Astaga aneh sekali.

Ya sudah saja aku bangun akibat teriakan itu. Lagian teriakan itu bersikeras agar melihat footnote 1042 di buku SOP. Kubuka SOP untuk melihat apa sih yang begitu pentingnya dilihat malam-malam buta seperti itu.

Saat melihat footnote 1042, membekulah diriku yang sebelumnya setengah linglung. Ini yang kubaca:

20141105_064423Hah? Pembicaraan tentang kafir? Di tengah-tengah nuansa semesta yang pink? Apa pula!

Merengut-rengut, aku shalat malam saja sekalian dengan tidak khusyuk. Kembali tidur pun aku masih bertanya-tanya apa hubungannya bidang pink dengan kafir? Bukankah saat seseorang berbicara tentang “kafir”, hal itu akan berhubungan dengan “iman”. Ya lalu apa hubungannya? Adakah manusia yang “kafir” ketika berurusan dengan bidang pink?

Aku mencari-cari image seorang kafir dalam otakku. Dia adalah seseorang yang tidak/belum memiliki kepercayaan pada Tuhan. Itu membuat dirinya bingung, kadang malah getir dan sedikit terlalu keras pada dirinya sendiri. Orang yang melukai dan menghukum dirinya sendiri karena merasa bahwa dirinya berjalan di atas bumi dengan kekuatan sendiri. Itu tidak menguatkan. Itu melemahkan. Karena manusia mengetahui ia lemah, jadi bayangkan berjalan dengan lemah. Oh mengerikan. Kubayangkan hati seorang getir. Tidak percaya akan penyelamatan dan bantuan. Perih sekali!

Lalu kuingat-ingat. Ah benar. Banyak sekali kafir dalam pink! Mereka yang hatinya menjadi keras karena pengkhianatan. Mereka yang takut pada tanggapan manusia lain. Mereka yang memasang muka masam karena tidak paham pada keriangan warna pink. Mereka yang menahan diri dengan dalih-dalih norma dan agama padahal sesungguhnya tidak dapat mengungkapkan perasaan dengan kreatif. Ah kafir! Kafir dalam pink!

Dan aku salah satunya!

Maka aku memanggil si orang beriman di dalam hatiku. Ia pemberani dan jenaka. Ia tidak takut pada hal lain selain Tuhan. Ia percaya pada kekuatan Tuhan dan berpasrah dalam kekuasaan-Nya. Cita-citanya adalah menjadi pion Tuhan dan bersekutu dalam perwujudan rencana-Nya. Biarlah itu menjadi apapun juga. Mungkin itu adalah pelaku semua warna-warna pelangi. Ya mungkin saja pink sekalipun!

Si orang beriman dan kafir dalam pink. Mereka berdiskusi dan berdebat secara periodik. Aku bersorak dan menjagokan si orang beriman tentunya!

Aku pun bertanya-tanya,

kalau orang lain menyoraki siapa ya?

Saranku sih, soraki pihak yang telah berkali-kali menang!

-nyaw in pink-

Rute

Secara impulsif aku memutuskan untuk mengambil rute lari pagi yang berlawanan arah dengan biasanya. Akibatnya aku berlari dengan menantang matahari. Kedua mata rasanya jadi segaris tipis saja. Agaknya aku berlari dengan “setengah buta” dan menunduk secara konstan karena rasa sepet melihat cahaya terus-terusan. Tiba-tiba aku mendapatkan suatu kesadaran yang agak-agak genius atau bahkan gila.

“Lari yang seperti ini kayak keimanan,” kataku pada diri sendiri.

Ikh, merindinglah aku kalau keluar sisi sok tahunya itu. Berani-beraninya aku sok-sokan mengumpamakan keimanan. Parah kan? Tapi biarlah, aku ingin mengungkapkannya. Untuk lucu-lucuan dan sebagai bahan ngalor-ngidul.

(Efek membaca essay-essayan ini akan lengkap kalau sambil mendengar “To You I Belong”-B*Witched)

Jadi aku berpikir seperti ini. Keadaan keimanan manusia itu seperti jalanan yang berbentuk lingkaran. Satu ujung lingkaran gelap karena tidak ada cahaya keimanan. Seorang manusia akan terlahir pada titik-titik yang berbeda pada jalanan itu. Ada yang spotnya gelap sekali, ada terang sekali, ada juga yang sedang antara gelap dan terang.

20141102_131949

Yang berada di spot gelap tentu dapat tersesat selamanya di dalam gelap karena seperti tidak memiliki indera. Tapi tentu saja dia memiliki opsi untuk menuju daerah terang seandainya mendapatkan inspirasi itu. Juga ia pun tidak lepas dari kemungkinan bahwa ia akan kembali ke daerah gelap. Ya apa boleh buat kan, jalanannya bulat!

Sedangkan untuk orang yang berada di daerah setengah terang dan setengah gelap, mereka akan berjalan menuju gelap total atau terang total. Tergantung inspirasi macam apakah yang didapat. Makanya orang bilang sih, berhati-hatilah dengan pengetahuan dan informasi yang didapatkan, karena itu akan menggerakkan diri sendiri ke arah yang entah baik atau buruk. Tapi istimewanya orang yang berada di daerah antara terang dan gelap, indera-inderanya terbuka sehingga itu memungkinkan dirinya berada dalam keadaan terping-pong antara “gelap” dan “terang”.

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang terlahir di titik yang dekat sekali dengan terang murni? Bukankah itu terang yang sempurna dan gelap sempurna akan sama-sama mematikan indera-indera? Ya benar sekali. Oleh karenanya kadang dapat dilihat orang-orang yang sangat religius dapat berbalik sama sekali menjadi penjahat-penjahat (bukan penjahat cinta, eh bisa juga dink, okay saya mulai meloncat nih). Mungkin karena kegelapan itu menarik bagi mereka yang berada dalam terang (?) Sepertinya begitu.

Tapi ini menarik. Aku menemukan solusi untuk keadaan semacam ini.

Aku akan kembali kepada pengetahuan dan informasi. Pada saat indera-indera mati semua, lalu apakah yang diandalkan? Pengetahuan dan informasi. Oleh karenanya berdoalah dan berharaplah bahwa pengetahuan dan informasi yang didapatkan adalah yang dapat menyelamatkan diri dari kegelapan murni. Itu tentu saja adalah bagaimana inginnya Tuhan. Tapi kita boleh mendoakan yang baik-baik bukan?

Ya itulah untungnya.

Pada saat menjalani jalan yang penuh cahaya, akan timbul rasa takut. Indera-indera mati. Ah menakutkan sekali! Kubayangkan seseorang hanya bisa berpasrah diri pada Tuhan. Sambil menunduk. Merendahkan diri, merendahkan hati. Sambil sesekali menantang silaunya cahaya. Sesekali indera mengacau balau. Sambil berdoa bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan diri orang itu.

Ah wow.

Ya makanya penting juga untuk cek rute sesekali untuk memastikan diri sendiri berada dalam posisi apa. Perlu juga sesekali mempertanyakan pengetahuan dan informasi yang dimiliki karena itu cukup krusial untuk langkah-langkah ke depannya. Dan terutama penting sekali untuk memiliki keyakinan bahwa Tuhan akan senantiasa menuntun dan mengarahkan hamba-hamba-Nya.

Aduh aku sering malu kalau mengetik kata “Tuhan”. Tapi memang demikian adanya pemikiran njelimet yang muncul di suatu lari pagi dengan rute di luar normal.

-nyaw, cek rute-

Almost 30 (Mengembang)

Pada akhirnya aku berhasil membaca habis buku yang ditulis oleh Stephen Hawking yang berjudul “A Brief History of Time”. Apa aku mengerti isi buku itu? Tentu saja tidak. Tapi aku kagum dengan pemikiran-pemikiran berani yang berhasil menghasilkan teori-teori yang mengubah dunia. Kupikir ide mengenai semesta yang mengembang dan merengkuh itu keren sekali. Bukankah secara filosofis, itu seperti manusia ya? Manusia akan mengembang, mengembang, mengembang, lalu badannya mengkerut kisut mengecil lagi. Kurasa untuk inspirasi mengenai alam semesta, terkadang manusia tidak perlu melihat jauh-jauh. Cukup berkaca dan memikirkan segalanya secara mendalam dan serius.

Lady Expanding

Ngomong-ngomong tentang mengembang dan merengkuh, seringkali aku dan teman-temanku yang seusia sangat khawatir pada perut yang begitu mudah membucit. Karena aku selalu gemuk, aku terlalu memikirkannya, tapi kupikir banyak di antara mereka yang berumur 25-30an, khawatir dengan perut yang hanya bisa membengkak. Well, kalau ini bisa menjadi semacam penghiburan, anggaplah perut yang menggendut itu sebagai tanda kita-kita ini “in sync” dengan alam semesta.

Sudden realization:

“Sama seperti alam semesta, perut mengembang”

!!!

Ah mari kembali pada renungan serius tentang alam semesta; Karena manusia adalah bagian dari alam semesta, jadi pengamatan manusia itu seperti alam semesta yang mengamati dirinya sendiri.

Terkadang alam semesta bercermin!

-nyaw, berekspansi seperti alam semesta-

Almost 30 (Path Inside)

Pertama-tama saya harus meminta maaf karena lagi-lagi tidak menyajikan comic strip. Beneran udah bikin kolom-kolomnya tapi rasanya momennya tidak pas dan lagi-lagi saya dalam proses menulis sebuah novel (meskipun mungkin akan ditolak lagi – ya jangan heran, karena saya adalah orang yang ngotot seperti itu). Meskipun diselaputi dengan berbagai ide tumpang tindih dan menyadari bahwa ide perlu diselesaikan satu per satu, saya ingin menyampaikan satu hal penting.

 Hal yang penting itu adalah, seperti komputer yang memiliki “intel inside”, jalan kehidupan manusia pun mirip-mirip yaitu:

“path inside”

path in me

Apa sih pentingnya mengetahui “path inside”? Sangat penting karena bisa membuatmu hemat beberapa ratus ribu yang biasanya dikeluarkan untuk mengikuti seminar motivasi, membeli buku motivasi, membeli buku otobiografi untuk membanding-banding jalan hidup, dan sebagainya. Ya kau bisa menghemat uang dan tenaga dengan mengetahui bahwa tidak pernah sedetik pun dalam hidup ini dirimu tersesat. Semuanya memang sudah dirancangkan di dalam diri sendiri dan jalan kehidupan tiap orang unik.

Ah saya tahu, mungkin terbersit omongan seperti ini:

“Kamu sendiri apa sih, pengangguran, ijazah gak dipakai, juga gak nikah-nikah. Orang yang tidak berprestasi seperti kamu tahu apa sih?”

Ya benar juga, saya ini tahu apa sih? Kamu juga tahu apa sih? Keadaan semua orang itu sama saja sebenarnya. Trik sebenarnya adalah menghimpun informasi sebanyak mungkin dan memilah-milah informasi yang dipertimbangkan benar. Jadi apapun informasi yang diterima, jangan langsung menampik, tapi pikirkan, kembalikan pada kebenaran mutlak, dan renungkan.

Oleh karena itu, saya menyampaikan rahasia mengenai “path inside”. Yang disebut mencari jalan kehidupan itu tidak pernah ada. Bagaimana bisa seseorang mencari jalan ketika dirinya sendirilah si “jalan” itu? Yang perlu dilakukan adalah mendoakan jalan itu memang jalan yang terbaik dunia dan akhirat.

Sebenarnya sederhana. Tapi semua orang tahu, justru hal-hal yang sederhana itulah sulit. Seperti semakin pendek sebuah rumus, semakin luas cakupannya.

-nyaw, “nyaw inside”-