Topeng Monyet

Kadang saya pikir semua orang itu bahagia. Tapi pengertian bahagia orang-orang berbeda. Dan perbedaan itulah yang sering membuat kaget. Lalu karena tidak paham, ada kemungkinan kita akan mengatai orang lain itu gila dan tidak dapat membedakan derita dan bahagia.

Ya sering sih saya pikir begitu.

Tapi beberapa kali saya pikir, kemungkinan besar aku salah memandang apa-apa yang ada di luar saya. Dan kesalahan itu adalah karena aku tidak dapat memandang diri saya sendiri dengan obyektif.

Kupikir itu masalah. Tadinya kupikir begitu. Tapi aku berpikir lagi, dan mungkin memang seharusnya seperti itu. Karena ini adalah dunia. Yang serba abu-abu. Dan kalau Bu Mariska Lubis bilang, “Seperti koin”. Ya aku setuju. Dunia yang serba bipolar.

Yang bipolar itu katanya mirip saya. Jadi sebenarnya saya ini adalah orang yang lumayan seiring semesta. Karena dapat berbalik dengan cepat.

Oleh karena itu tiba-tiba saya teringat “Topeng Monyet”. Melalui tulisan ini aku mencari arti rasaku pada Topeng Monyet. Kasihan tapi kok tertawa. Mungkin itu adalah bagian hati yang hitam.

Tapi meskipun hati ini hitam, bukan berarti saya setuju pada perbudakan. Ah tidak. Saya percaya tidak seorang makhluk pun dibuat agar dapat terbiasa pada perbudakan. Apapun bentuknya!

Jadi selamat membaca dan mungkin selamat berpikir ulang.

-nyaw, jungkir balik-

***

Topeng Monyet

hidung belang resize

Sebuah artikel mengenai perbudakan monyet sedang menjadi sorotan utama akhir-akhir ini. Saat membuka situs sosial media apapun, orang-orang akan membagikan artikel yang dimuat pada sebuah koran berbahasa Inggris itu. Dengan bahasa jurnalistik yang berapi-api dan begitu yakin pada kebenaran, sipenulis artikel menguraikan secara rinci mekanisme perbudakan monyet di Indonesia. Bagaimana naasnya monyet itu dirantai dengan temali di leher dan tidak diberikan makanan yang layak. Bagaimana menjijikkannya kandang si monyet dan juga rumah si pemelihara monyet yang tinggal di pinggir-pinggir selokan bau. Dan bagaimana mengerikannya intaian penyakit rabies yang berdiam di dalam liur monyet-monyet tidak terurus itu.

Menurut si penulis, sementara si pemelihara monyet ongkang-ongkang kaki, monyet-monyet ini diperbudak dan disuruh melakukan trik-trik. Entah mengapa trik-trik itu menarik hati orang Indonesia, bagi orang-orang bule semua yang dilakukan oleh si monyet begitu mengerikan. Apa lucunya menonton monyet menaiki sepeda sambil membawa keranjang dan memakai topeng yang terbuat dari bekas boneka bayi plastik. Menakutkan. Humor rendahan. Tapi orang-orang Indonesia tertawa. Tergelitik oleh semacam rasa lucu yang gelap dari sajian Topeng Monyet.

Pagi hari itu aku menyaksikan Topeng Monyet yang ramai diperbincangkan itu. Dalam hati aku berusaha untuk memalingkan muka. Malu karena semua kawan telah mencemooh dan mencerca kebiasaan menonton Topeng Monyet. Juga malu karena bersikap biadab. Setidaknya menurut ukuran-ukuran orang bule itu. Lagian memang kasihan monyet itu. Ngapain juga makhluk yang seharusnya sedang berayun dari pohon-pohon, berjungkiran di atas aspal panas karena si pemelihara monyet mendesis galak.

Tapi mau tidak mau, aku menonton sajian Topeng Monyet itu. Habisnya lampu merah jalan di bawah jembatan layang itu lama sekali. Ada mungkin sekitar lebih dari 180 detik. Dan selama 180 detik itu, si monyet sudah “ke pasar”, “pakai bedak” dan “ngudud”. Atraksi-atraksi biasanya dari pengamen Topeng Monyet. Dan selama melakukan itu, si monyet memakai topeng boneka bayi plastik yang sudah rongsokan. Di tempat yang seharusnya terlukis mata, malah terdapat dua bolong. Seakan-akan itu akan bedanya bagi si monyet. Mereka kan sudah rutin melakukan semua atraksi. Sekian desisan dan sekian tarikan rantai artinya menggaruk atau membungkuk. Mungkin sebuah sentakan artinya si monyet perlu jungkir balik. Hal-hal yang rutin. Hal-hal yang biasa saja.

Jadi untuk 180 detik aku menonton Topeng Monyet. Dan aku mulai melupakan rasa malu dan cerca massa. Hanya ada aku dan atraksi si monyet. Lalu anehnya aku tertawa. Entah apa yang lucu dari atraksi si monyet. Aku sendiri tidak mengerti. Andaikan saja aku dapat melihat wajah si monyet yang bekerja begitu kerasnya, mungkin aku akan mengerti mengapa aku mengeluarkan sebuah tawa. Mungkin.

Tapi 180 detik itu keburu berakhir. Ternyata 180 detik tidak selama yang kubayangkan. Dan aku terpaksa menginjak gas dan meninggalkan perempatan di bawah jembatan layang itu. Menyetir dengan sedikit ugal-ugalan. Karena sebenarnya aku berangkat terlambat pagi itu. Jadi aku harus bergegas kalau tidak mau dipotong gaji.

Sembari menyetir, aku teringat pada Topeng Monyet. Pada jungkir baliknya. Pada absurditas topeng yang seharusnya membuat monyet itu manis dan imut. Sebuah topeng untuk menyembunyikan seringai liar alami si monyet. Atau mungkin beberapa belek karena terlalu banyak terpapar asap knalpot. Atau mungkin agar anak-anak tidak takut pada tetes liur monyet yang dehidrasi dan hampir rabies. Topeng absurd yang seharusnya menyembunyikan semua laku dan mimik muka. Memberikan sebuah wajah palsu. Padahal yang di baliknya adalah getir dan nestapa. Mungkin banyaknya rasa rindu pada pohon dan panggilan kawan-kawan sesama monyet.

Kasihan monyet itu. Masa binatang juga pakai topeng?

Aku tiba di kantor 15 menit terlambat. Gajiku akan dipotong sejam. Pegawai HRD yang ingin terlihat banyak kerja mengomel dan mencemberutiku di depan semua orang. Padahal banyaknya orang-orang yang menonton itu adalah bawahan-bawahanku. Tapi karena dia lebih senior, aku relakan diri untuk dimarahi. Dan pegawai HRD itu senang melakukan semua itu. Ia ingin menunjukkan bahwa ia bekerja keras dari siapapun di tempat itu dan aku adalah si orang gila yang terlambat 15 menit. Bajingan yang perlu dibasmi karena tidak memiliki etos kerja dan perlu dihilangkan dari muka bumi.

Dan aku menunduk dan membiarkan pegawai HRD itu memarahiku habis-habisan. Saking sudah terbiasanya mendengar omelan dan amarah. Dan pikiranku kembali kepada Topeng Monyet dan si monyet yang berjungkir balik di bawah sentakan rantai si pemelihara monyet. Dan aku terkenang pada topeng boneka bayi plastik busuk yang mengerikan. Dengan mata kosong menatap ruang di mana dua kilat liar berusaha menatap. Tapi kemudian hanya padam terkena sentak dan sengat rantai. Menjadi lubang kosong sementara si monyet kembali berjungkir. Karena pemelihara monyet menghendakinya bergerak demikian. Harus seperti itu. Karena benar monyet itu adalah budak.

Lalu mengapa aku menertawakan seorang budak?

Setelah pegawai HRD itu puas mempermalukanku di hadapan semua orang, aku melangkahkan kaki menuju meja kerjaku. Atasanku dan beberapa rekan kerjaku telah menunggu kedatanganku. Mereka tampak cemas sekaligus lega melihat kedatanganku. Dengan segera aku dikerubuti dan ditumpahi oleh berbagai masalah. Semua masalah yang sama pentingnya. Tidak satu pun dapat menunggu temannya. Sebenarnya aku merasa jengah. Merasa tidak suka pada mereka yang selalu saja memberi tanya tanpa berusaha berdiskusi. Hatiku dongkol karena lagi-lagi aku dianggap dapat melakukan magic. Menyelesaikan semua masalah secara dadakan dan cepat. Padahal kupikir bukan seperti itu cara yang baik untuk menghadapi masalah. Tidak baik mengandalkan magic.

Tapi meskipun hatiku cemberut, wajahku netral dan malah tersenyum.

Seperti topeng boneka bayi plastik yang dikenakan oleh si monyet.

Mungkin itu yang membuat orang Indonesia tertawa saat menonton Topeng Monyet. Di dalam sudut hati yang dalam, mungkin monyet yang bersembunyi di balik topeng mengingatkannya pada dirinya sendiri. Keharusan untuk tertawa ketika menangis. Tekanan untuk bersyukur pada saat hati masih kufur. Kekangan berekspresi karena mengikuti budaya yang dianggap lebih global dan membumi. Mungkin bule tidak mengerti hal semacam itu. Tidak mengerti gelitik lucu di dalam kehidupan yang kelam.

Asal tahu. Kami Indonesia menyebutnya “bahagia”.

2 thoughts on “Topeng Monyet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s