Bengong

Gwa seneng banget tuh nonton film komedi romantis. Udah tahu sih awal, tengah dan akhirnya, tapi gwa tetap suka. Soalnya semua tokoh di film itu witty banget. Kalo ngomong sambar-sambaran terus. Kalok pingpong dah ada suaranya tuh, tak tuk tak tuk tak tuk (lah jadi kek suara kaki kuda lari… ~.~). Beda banget tuh keadaannya dengan dunia nyata :p. Sirik banget deh sama orang yang bisa saling menyambar. Kalo ngobrol serius, gwa tuh suka diem dulu, ya kira-kira 10 hitungan lah. Terus udah gitu, orang yang lagi jadi lawan bicara pasti mikirnya, “Oh danz diem aja tuh, ganti topik.” Padahal gak begitu. Kadang-kadang gwa tuh bengong karena gwa tuh lagi mencerna omongan lawan bicara. Gwa kan punya logika yang membelit, jadi gwa suka bingung dengerin ide orang lain, terus gwa berpikir, “Apa gwa harus bilang gwa mah gak gitu?” Trus dah gitu ada buntut-buntutnya sampai gwa mencapai keputusan, “Ya gwa bilang apa yang gwa pikir tentang itu!” Ternyata pas mo bilang, momennya dah basi (kayak, seminggu kemudian misalnya).

Jadi gwa pengen minta tolong, karena gwa butuh bantuan kalian-kalian semua. Kalau gwa diem terlalu lama pas ngobrol ma kalian, tolong disela dengan, “Danz, cemmana menurut lu?” atau “Lagi mikir apa danz?” atau “Oi oi, bangun!”

Tolong ya…. Please….. gwa punya mimpi baru nih, namanya “mimpi bisa menyambar”! Cem kek di pelem-pelen komedi romantis. Cerdas banget boi kalok lagi ngobrol. Gwa juga ah kek gitu…. 

Advertisements

Filosofi Delman

Aku akan bercerita tentang delman. Semua orang berpikir bahwa hanya ada kusir, kuda, dan delman yang diseret-seret. Jadi biasanya kau akan berpikir, ada pemimpin, pegawai, dan sebuah impian. Ya, memang seperti itu, tapi banyak hal sederhana terdiri dari keruwetan. Oleh karena itu, mari kita memakai kacamata-kacamata kita dan melihat lebih dekat.

Pada kenyataannya, ada kusir, ada kuda, ada roda, ada pecut, ada pelana, ada kursi duduk, ada pengait kuda dan delman, ada penumpang, ada atap delman, ada penutup mata kuda, ada hiasan rambut kuda, ada topi kusir, ada bermaca-macam bagian sebuah delman!

Lalu di mana posisimu?

Move your ass, and find out now baby!

😀

STOP!

Sampai sekarang gwa belum pernah menemukan kalimat yang lebih gwa benci dari kalimat di bawah ini:

Kamu membuat saya kecewa.

GWA BENAR-BENAR BENCI KALIMAT INI. Ini adalah kalimat yang manipulatif, tidak mendidik, tidak solutif, dan entah atas alasan gila apa, lu akan menemukan kalimat itu diucapkan dari generasi ke generasi oleh orang-orang yang aktif di organisasi-organisasi. Terakhir kali seseorang mengatakan kalimat itu padaku, aku harus men-tidak-manusia-kan diriku. Aku harus bilang, “Lu ini yang kecewa.”

Gwa gak suka menyakiti dan mengacuhkan orang lain. LALU KENAPA KALIAN TETAP MEMAKAI KALIMAT DESTRUKTIF ITU!!!! DO YOU HAVE NO HEART?????

WHAT THE FUCK. WHERE DID YOUR HEART GONE MISSING? WHY DO YOU PUSH HEART ON SOMEBODY ELSE? WHO GIVES A DAMN ABOUT YOU? WHY DO I HAVE TO THINK OF YOU? WHAT IMPORTANCY SO YOU CAN SAY I DON’T HAVE A HEART? WHO ARE YOU JUDGING MY DO’S?

DO YOUR FUCKING SOME WHERE ELSE. Lu pikir gwa bego apa, bahwa gwa gak tau bahwa itu adalah sebuah kalimat pengendali? Gwa sudah berkomunikasi jauh lebih lama karena selama kalian berbicara dengan 1 mulut, aku mendengar dengan 2 telinga.

*I feel pissed and hateful*

*Gwa mohon jangan pernah gunakan kalimat itu pada siapapun. Bahkan pada orang gila yang tidak mengerti ucapan lu. Dengarkan gwa, dan lu akan menemukan bahwa bahkan Tuhan dan rasul-Nya tidak menggunakan kalimat itu. Kenapa menggunakannya? Kenapa mengatakan orang lain tidak memuaskan? Keperluan semendesak apa sampai mengharuskan kalimat itu keluar?*

*Be careful, kata-kata itu seperti pisau bermata dua. Seseorang harus tersayat.*

Kita akhiri kebencian ini dengan sebuah lagu yang antik:

“Stop, under the name of love… Before you break my heart….” -The Supremes-

Powerbaby

“Si danz mah aneh!”

Itu adalah sebuah pendapat yang dilontarkan oleh kenalanku di SMU. Sekarang laki-laki yang memberikan pendapatnya tentangku, sejurusan dengan MM. Bukankah dunia cukup gila! Ironisnya, aku selalu mengira dirinya lah yang aneh. Talking of irony… :lol:. Bagaimanapun, terimakasih atas pendapatnya, good job bro!

Saking good job-nya, atas dasar pendapat itu, aku mendapat sebuah ceramah panjang tentang ‘cewek-cewek doyan nge-net yang saking bukan powerbaby-nya  jadi mencari eksistensi di dunia maya’ oleh seorang teman yang gemar beranalisa. Memang sebuah percakapan yang terjadi lebih dari 1 tahun lalu, tapi boi, tidak ada yang bisa melupakan dengan mudah seseorang mengatakan bahwa kamu adalah seorang non-powerbaby. Karena itu membuatmu bertanya, berapa banyak orang yang diperlukan untuk membuatmu merasa tidak ok. Dalam kasusku, aku akan bilang tidak sedikit. Membuatku bertanya lagi, hello… kenapa banyak ya? Apakah aku begitu sulit berubah atau sebenarnya aku powerbaby tanpa menyadari. Kalau aku adalah seorang powerbaby, powerbaby macam apa dan apa yang harus aku lakukan.

Terlalu banyak pertanyaan dan aku memutuskan untuk tidak memikirkannya, atas dasar kasih sayang. Aku sayang otakku, oleh karena itu dia tidak perlu banyak berpikir. Nyahahahaha… 😆

Tapi sekarang aku tahu, aku jelas-jelas bukan powerbaby. Aku bukan Shana Fatina, sosok terkuat perempuan pertama KM-ITB. Aku bukan Asih Nurul Said Jenie, cumlaude-dobel kuliah-supel. Aku juga bukan Ratu Tisha, bersemangat dan tahu apa yang dia inginkan dan selalu mendapatkannya. Aku juga berharap kalian jangan pernah berpikir bahwa aku adalah laila hanya karena aku berteman akrab dengannya.

Aku akan menegaskan bahwa aku adalah danz. Lalu siapa dia? Dia adalah cewek yang suka menyahut di kuliahan tapi mendapat nilai yang tidak terlalu bagus di akhir semester. Dia suka makanan yang menggemukkan, dan mudah sekali tertidur, bahkan suka ngiler saking seneng tidurnya. Dia tidak pandai berorasi, jadi jangan terlalu memaksa dia untuk berbicara. Dia adalah orang yang akan berpikir “Wow akan hebat melukis itu, atau mencoba melakukan ini.” lalu tidak melakukannya karena bisa ‘dilakukan lain kali’. Dia suka menunda beberapa hal, tapi tidak sabaran soal keluarga, teman, dan orang-orang yang dikasihi. Dia juga suka bernyaw-nyaw, yaitu melakukan hal-hal biasa dan mendapatkan arti hebat darinya.

Tapi selalu ada konsekuensi dari bernyaw-nyaw. Kau harus membiarkan orang lain mengatakan APAPUN tentang dirimu. HARUS. Meskipun itu tidak benar, dan mungkin orang di hadapanmu bukan membuat penilaian tentang dirimu tapi tentang dirinya (percayalah, ada saja hal seperti ini), kau harus membiarkan orang itu berbicara. Kenapa tidak? Dia punya beberapa ide yang bagus, seperti temanku yang punya ide bahwa seorang powerbaby itu pasti eksis di dunia nyata.

Ironis,

karena semua perkataanmu akan berbalik padamu. Seperti pada kenalanku itu. Aku benar-benar berpikir dialah si aneh. Ternyata kita saling menuding keanehan masing-masing. Lalu aku berpikir, itu memang tidak penting ya. Tapi lalu ternyata menjadi penting karena berentet pada tudingan-tudingan lain.

Ini namanya butterfly effect bukan ya?

Click

“Tapi mereka berbeda click!!!”

Itu adalah kalimat yang diteriakkan temanku yang terkejut mendengar 2 kenalan kami di SMU menikah. Sepengetahuan kami, mereka berdua tidak berada dalam ‘click pergaulan’ yang sama. Aku akan selalu mengenang si lelaki sebagai anak DKM yang digosipkan punya pacara di kampung halamannya, dan si perempuan sebagai anak yang hip dan gaul. Baiklah, DKM…, hip. DKM yang hip? o_O

Mana nyambungnya? Entahlah. Pokoknya sekarang mereka sudah menikah loh. Tanpa mempedulikan bahwa rasa ‘greng’ di antara mereka cuma bisa bertahan antara 2-4 tahun (berdasarkan suatu kaji ilmiah). Mereka tetap menikah dengan pertimbangan segala perbedaan itu. Bukankan itu sangat ‘wew’!

Jangankan mereka yang merupakan pasangan ‘DKM-hip’, aku dan MM juga pasangan yang tidak berasal dari click sama. Ayolah, ‘penghuni himpi-nonhimpi’… Wow, sepertinya sangat cocok ya…. *garuk garuk bingung*

*Ah tapi kupikir, what the hell with it. Apa sih hal paling buruk yang bisa terjadi kalau mengobrol dengan penghuni himpi? Disuruh scotch jump dan keliling kampus 10 kali? Wekekekek, setidaknya aku akan menjadi kurus :lol:.*

Tapi menurut temanku yang lain *mengenai pasangan DKM-hip*, “Mungkin mereka punya lebih banyak kesamaan dari yang kita kira.”

Lalu kupikir, iya. Iya seperti itu. Kesamaan agama itu cukup. Kesamaan spesies itu cukup. Hal lain yang ternyata sama itu hanya bonus, dan selebihnya yang berbeda memang sudah terduga. Di luar dugaan, pasangan-pasangan yang berbeda click hanya orang-orang yang sederhana ya.

Just ordinary people.

Manusia

Aku tidak bisa tidur semalaman. Salahku sendiri, aku menonton film horror menyebalkan di HBO sih sebelumnya. Sepertinya film itu harusnya semacam horror seksi, tapi kau tahu, selera orang itu berbeda-beda. Ngomong-ngomong, darah bercipratan dan alat kelamin dipotong lalu dimakan anjing? Itu tidak seksi ok. Jangan coba meyakinkan aku.

Lalu selama aku berguling-guling semalaman karena tidak bisa tidur, aku memikirkan orang gila macam apa yang secara serius membuat film horror ‘seksi’ itu? Apa sih yang dia pikirkan? Apa dia tidak punya rasa jijik? Trauma di kepala macam apa yang bisa membuat ide bahwa, ‘Hore, ada cewek nih, ayo kita silet-silet wajahnya’ itu terdengar normal?

Hmmm….

Kau tahu, aku rasa aku akan berhenti menghakimi. Karena aku bukan orang yang terbaik dalam melakukan hal itu. Seperti misalnya, baru saja aku menonton acara siraman rohani Islam di TV7, lalu ustadz dalam acara itu mengutip surat “Waktu”. Surat luar biasa kau tahu, bisa menghubungkan waktu, kerugian, dan hal-hal yang perlu dilakukan hanya dengan beberapa kata dan kalimat tepat. Hanya dengan sangat memahami surat itu, kurasa itu sudah bisa mengantarkanmu ke surga. Lalu itulah luarbiasanya surat itu. Ada sedikit misteri di dalamnya. Tidak ada deskripsi yang sangat mendalam seperti apa ‘sabar’ yang sebenarnya, dan apa itu ‘kebaikan’ yang benar-benar baik. Ditinggalkan cukup misteri di sana untuk kita berusaha sendiri.

Aku rasa, kalau kita tidak sepenuhnya percaya diri, kebenaran itu agak bias dan pekerjaan menghakimi, sebaiknya kita berikan pada ‘Yang Lebih Kompeten’. Seperti pada film itu, seseorang yang stress dan bingung bisa saja membenarkan apa yang ditayangkan film itu. Bisa saja dia berpikir, “Ah iya, sepertinya begitu mencintai seseorang, kita menggantung dia terbalik dan mencabik-cabik tubuhnya, ya ya ya….” karena dulu ayahnya memukuli ibunya tapi mengaku mencintai ibunya (?). Lalu kita bilang bahwa dia tidak tahu kebenara padahal persepsi dia tentang kebenaran berbeda jauh dengan kita. Lalu lagi, atas dasar ilmu pengetahuan, kita mengecek profil MRI otaknya untuk melihat bagian mana pada otaknya yang menyala saat berpikir untuk menyiksa orang. Lalu lalu lagi kita akan terkejut bahwa hasil MRI menunjukkan bahwa dia berada dalam keadaan kalem saat melakukannya sama seperti saat kita makan dan minum. Kalem aja…. dan JDER!!! Ntah siapa lagi yang mati karena persepsi bengkok itu.

Begitulah kebenaran, dia begitu lemah di dunia yang fana ini. Dia berubah-ubah tiap saat begitu yang menyampaikannya tidak mengerti apa yang dia sampaikan. Lalu persepsi yang salah akan diteruskan dari generasi ke generasi ke generasi. Lalu pada akhirnya kita bertanya,

Apa yang salah?

Apa yang benar?

Siapa yang harus disalahkan dan dibenarkan?

?

Wew. Itu adalah pertanyaan-pertanyaan sulit. Itu terdengar seperti sebuah medan perang. Should give humans some credit ei? Should be more grateful to God for lots of help.

Lumayan, lumayan…. Lumayan seru….

Kecewa

Kemarin lusa aku mengalami keberuntungan yang luar biasa. Keberuntungan itu terjadi pada hari Rabu sore setelah percakapan yang panjang dengan riechan dan laila. Pada percakapan itu, aku menemukan salah satu kelemahanku. Ternyata aku takut mengecewakan orang-orang dekat. Makanya akan keluar sebagai diam panjang tidak berkesudahan, kebingungan sendiri, dan lagi-lagi diam yang tidak berujung. Aku tidak mau salah, dan tidak mau mengecewakan.

Oh no! Itu kan cemen banget >_<. Masa bisa dimanipulasi ketakutan mengecewakan orang lain? Ck ck….

Aku gak bisa percaya bahwa aku sudah mengecewakan diri sendiri dengan keengganan mengecewakan <_<.

No no…, no fear baby! ~.~

Yang lebih gak bisa dipercaya, adalah keberuntunganku. Coba deh, berapa banyak orang di luar sana yang bisa mengetahui kelemahannya? Tidak banyak kurasa. Tidak banyak orang yang cukup beruntung untuk punya keluarga hebat atau pengalaman-pengalaman yang aneh. Atau sedikit sekali yang menyadari bahwa dirinya sudah mendapatkan hal-hal itu.

Sungguh tidak bisa dipercaya betapa dimanjanya aku ini *kya kya…, senang ^^*

Alhamdulillah 😀