Ciuman Cengkih

Kemarin aku membaca Saman.Aku yakin bahwa aku membaca buku itu dengan cara yang salah. Yakin seyakin-yakinnya. Atau mungkin aku membaca edisi yang sudah disunting habis-habisan. Sampai bagian-bagian yang dikatakan seronok dan frontal itu tidak tersisa. Ya aku sampai mencari bagian mana sih dari Saman yang disebut-sebut vulgar itu. Kok aku tidak menemukannya? Aku merasa percuma saja selama bertahun-tahun ini aku tidak membaca buku itu karena ibu melarangnya. Ah tidak ada hal aneh di dalamnya! Malah lebih aneh buku harlequin! Hah. Aku merasa dibodohi resensi!

Anehnya aku malah merasa Saman itu ditulis oleh spiritualis. Sebenarnya itu buku yang bersih! Kata-kata frontal di sana tidak menutupi maksud spiritual di dalam buku. Jadi kupikir, kalau usiamu di atas 17, itu buku yang harus dibaca. Untuk direnungkan maksud di balik kejadian-kejadiannya. Untuk dimengerti tingkah laku tokoh-tokohnya. Karena buku yang menarik itu membuat seseorang bertanya dan berpikir.

Di dalam Saman ada seorang tokoh bernama Sihar. Tokoh ini mengingatkanku pada rokok kretek. Rokok kretek mengingatkanku pada 234 dan aroma cengkih. Oleh karenanya aku menulis tentang cengkih. Sekalian olahraga dan mengatur rasa sehabis membaca karya orang dan bersiap menulis karya sendiri. Cengkih itu menarik karena cengkih berbau legit dan sejuk. Tapi cengkih membikin sesak bagi perempuan-perempuan yang menyukai hal-hal macho.

Ya kadang aku merasa sesak dan sedih saat mencium bau 234. Tapi kesedihan yang biasa saja.

Jadi selamat berhari Selasa. Selamat menikmati udara sejuk cerah (bagi yang tinggal di Bandung). Aku memang menuliskan kekaguman pada rokok kretek 234, tapi bukan berarti mereka perlu disesap terus! Ya sesekali bergabunglah dengan bau dan aroma hiruk pikuk yang berada di sekitar. Dan mungkin sesekali ganti dengan permen. Kawan-kawan lelakiku melakukan substitusi semacam itu!

-nyaw, sesak oleh cengkih-

***

Ciuman Cengkih

perempuan biru

Lelaki Indonesia memiliki dewanya sendiri. Ia langsing, putih, singset. Kadang dia pakai bando warna kuning coklat. Tapi ada juga yang hanya bergelang perak. Jenis yang jarang ditemui tapi cukup legit manis berwarna coklat tebu. Di saat-saat lelaki sedang berduit, mereka akan menikmati saudari mereka yang lebih gemuk dan gempal. Karena mereka adalah dewa-dewa mungil seukuran telapak tangan yang genit-genit. Mereka senang dihisap ujungnya dan mengeluarkan wewangian tropis. Tembakau dan cengkih. Di dalam harum dan asap, mereka akan bertutur cerita-cerita indah dan menyesat pikiran kalut. Tentang lelaki macho yang hanya menyesap mereka. Tentang lelaki yang kuat bermain perempuan karena menghembus napas bersama mereka. Ah itu semuanya kabut asap ilusi. Dewa-dewa putih singset yang pandai membual para rokok kretek itu! Entah kenapa lelaki Indonesia sangat mencintai dan memuja mereka.

Apa itu karena nikotin? Pahit dan lengket seperti tar. Membentuk plak-plak pada langit-langit mulut dan rongga paru. Ataukah karena lelaki Indonesia senang petai dan jengkol? Jadi digunakanlah parfum para dewa singset ini untuk menutupi bau busuk kedua sayur legit itu? Ah entahlah. Yang pastinya lelaki Indonesia menyukai dewa-dewa mereka. Meskipun bungkus para dewa langsing putih itu sudah dihiasi oleh gambar-gambar horor serupa daging setengah buruk akibat kanker dan tumor yang diakibatkan oleh buangan para dewa penyesat ini, lelaki tetap saja menghisap mereka hingga ke sudut-sudutnya. Hingga tinggal gelang atau bando saja.

Dan dewa-dewa ini. Mereka justru menjadi hidup setelah dihisap. Mereka malah bernyawa setelah menghilangkan nyawa. Ah anehnya lelaki Indonesia tukang sesap rokok kretek! Mengapa berkorban nyawa untuk sesuatu yang hanya seukuran beberapa senti? Apa karena hidup tropis Indonesia itu begitu membuai? Hingga dibutuhkan suatu hiburan yang sedikit memacu adrenalin? Ataukah karena sebenarnya lelaki Indonesia senang melamun. Membiarkan jiwa terayun-ayun dalam lantunan lagu dan goyang dendang lenggok asap dewa rokok?

Mungkin seperti itu yang berada dalam benak lelaki Indonesia penggemar rokok kretek. Setidaknya itulah yang dipikirkan Nira mengenai para lelaki penyuka rokok kretek. Dan bagi gadis yang sepenuhnya tampak bersih, putih dan ngota, ia terpesona pada lelaki Indonesia semacam ini. Pada saat perempuan-perempuan berkerut memandang lelaki yang sedang mengepul, Nira akan mengamati bungkus rokok lelaki itu penuh dengan minat. Kalau baunya seperti kertas terbakar, itu pasti rokok biasa. Itu tidak menarik minat. Tapi kalau ada aroma manis dan sedikit eksotis di dalamnya, pasti itu rokok kretek. Dan Nira akan melihat bungkusnya.

Karena merek rokok itu sangat penting. Nira suka lelaki yang menghisap rokok kretek yang mereknya terdiri dari 3 buah angka. Yang bungkusnya kertas kuyu. Gambarnya hanya seliweran merah tua dan hijau lumut. Iklan tivinya adalah yang dipenuhi oleh lelaki mendayung perahu sambil meneriakkan, “Dji Sam Soe!”

Ya. Aroma kretek itulah yang Nira sukai dan anggap seksi. Hanya 234 saja yang menurutnya layak dihisap lelaki yang senang mempertaruhkan nyawa. Mungkin karena bentuk rokoknya agak penyok-penyok seperti dilinting sedikit asal. Agak mengingatkan cerita tentang cerutu Kuba yang dilinting di atas paha-paha perawan. Sedikit romantis seperti itu. Atau mungkin Nira menggemari aroma 234 karena bau tersembunyi di dalamnya. Suatu aroma wangi segar yang mengingatkannya pada suatu masa lampau. Sebuah aroma yang menjadi not di dalam parfum Old spice.

Cengkih.

Entah ada kenangan apa Nira dengan cengkih. Tapi itu membuatnya tenang dan terayun dan mengalun. Seperti para lelaki yang menyesap bokong dewa rokok kretek itu. Ya terasa sebuah samar mimpi di dalamnya. Tapi Nira tidak tahu apa bayang mimpi itu sebenarnya. Mungkin itu adalah sebuah reaksi kimia yang khusus bagi syaraf-syarafnya. Mungkin juga ia hanya gemar berfantasi. Atau mungkin ia memiliki kenangan masa lalu manis bersama cengkih yang hanya seukuran upil.

Entah.

Nira tidak peduli dan tidak ambil pusing. Ia memilih terbenam di dalam rasa kagum dan terbuai oleh asap rokok kretek berbau cengkih. Alangkah bahagianya seandainya ada lelaki penyuka 234 yang menjadi memilih dirinya untuk menjadi miliknya. Jadi Nira akan menghisap aroma cengkih tiap hari. Manis, sejuk, sekaligus sesak. Seperti cinta. Seperti hasrat. Lalu mungkin sesekali mereka tentu akan bertukar ciuman. Karena Nira telah menjadi kepemilikannya. Dan lidah mereka akan berputar dan bergulat. Penuh hasrat. Penuh gairah. Dan Nira akan merasakan aroma cengkih di dalam rongga bibir sang lelaki Indonesia itu. Dan mereka akan berciuman hingga aroma cengkih menghilang dan mulai menyesap ke dalam langit-langit mulut Nira. Sehingga gadis itu tidak lagi putih, bersih, ngota. Ia akan menjadi wanita. Liar, angkuh dan berbahaya. Seperti para lelaki pemuja dewa rokok kretek. Acuh, tidak peduli bahaya, lihai menghadapi kemelut hidup.

Karena lelaki seperti itu indah. Berbahaya dan meminta dijinakkan. Oleh wanita. Nira ingin menjadi wanita yang bisa menjinakkan dan menaklukkan lelaki liar penyuka dewa rokok kretek. Ingin ia berbagi kuasa dalam aroma cengkih yang lengket bersama tembakau. Bergulir dan berguling saling menarik sari di dalam jiwa diri. Bergantian lelaki-perempuan, lelaki-perempuan. Dengan dihiasi asap mengepul tembakau. Dan legitnya cengkih. Tentu saja harus ada cengkih.

Di dalam asap. Di dalam cium. Di dalam manis pertukaran sari pati.

Lelaki liar penyuka 234. Liar, acuh dan berbahaya. Bermata ceruk dalam dengan kilat pada matanya. Berkulit gelap seperti bayang pohon jati atau mahoni. Berambut acak-acakan dan sedikit ikal. Karena angin senang memainkan rambutnya itu. Saat ia meminta berpacaran dengan gunung dan hutan. Lelaki 234. Liar, acuh, dan berbahaya.

Berbahaya karena tentu tidak peduli. Pada perempuan putih, bersih, dan ngota semacam Nira. Lelaki penyuka kretek tentu memilih untuk bergulung di dalam lekuk-lekuk perempuan yang seperti aliran air. Memainkan, menarik dan menjambak rambut panjang mereka. Sambil menyesap sari perempuan mereka. Dan mengalahkan aroma feminin itu dengan cengkih. Cengkih yang sejuk dan menyesak. Dibuatnya perempuan-perempuan itu menyesak hingga menyesat.

Hanya perempuan seperti itu.

Bukan perempuan seperti Nira. Yang putih, bersih dan ngota. Karena sekadar memegangnya saja sudah seperti memasuki tokoh pecah belah. Di dalamnya banyak barang dari keramik dan kaca. Tersenggol sedikit tentu barang itu akan pecah berkeping-keping. Kalau sudah pecah, tentu barang itu perlu dibeli. Karena “merusak berarti membeli”.

Nira seperti keramik. Lelaki Indonesia penggemar rokok kretek tentu akan memilih perempuan yang lebih seperti mutiara. Yang bersinar tetapi tidak gampang retak. Yang tampak rapuh tapi sebenarnya keras. Mana mungkin memilih Nira yang keramik. Karena itu menyusahkan. Karena itu kebodohan. Karena lelaki penyesap 234 ingin kebebasan menyakiti. Sesekali. Karena ia liar. Ia acuh. Ia berbahaya. Ia akan menyakiti hati bila dirasanya perlu.

Dan Nira. Perempuan semacam Nira akan rusak begitu tersakiti.

Ah masih ada iba di dalam diri lelaki. Sekalipun mereka menyesap rokok kretek. Sekalipun jiwa mereka menghitam bersama tar. Karena asap itu melenggok dan menari. Seperti pinggul perempuan. Kadang seperti pinggul Nira. Agak putih, agak lembut, agak mengingatkan pada perempuan semacam Nira. Yang menginginkan lelaki yang liar, lincah dan lihai. Padahal lelaki seperti itu tidak menginginkan dirinya. Karena ia tidak ingin mengototri perempuan-perempuan yang putih, bersih dan ngota. Cukup dirinya saja yang menggelap dan menyesat. Tidak perlu libatkan Nira. Biarkan ia hidup di dalam dunia yang bersih. Dunia yang putih. Jauh dari lelaki yang menghitam dan memberikan nyawa pada dewa rokok kretek. Biar dia saja yang menyesap dan mencumbu dewa putih singset itu. Jangan sampai Nira bertukar ciuman cengkih. Karena ia putih dan bersih. Tidak seperti dewa rokok kretek yang putih di luar saja tetapi menawarkan jiwa hitam di dalam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s