Virus Ide

Tumben sekali jarangnya mengisi blog ini bukan karena sedang ada masalah dalam hidup. Tidak, tidak, tidak kali ini… Tapi alasannya adalah karena aku sedang sibuk menyukai hal-hal lain. Hal-hal lain itu adalah musik, joget, mengumpulkan foto-foto menarik dari majalah dan menulis journal pribadi (pribadi karena terlalu banyak informasi randomn dalam satu waktu). Di tengah kegiatan yang begitu randomnnya, hari ini aku membuka majalah Dewi dan melihat iklan Hermes. Ternyata iklan itu mirip sekali dengan sebuah ide yang pernah aku dapatkan sekitar tahun 2006.

Butterflies Concept(kiri: iklan Hermes-majalah Dewi ed bulan Februari 2014, kanan: sketsa pribadi sekitar tahun 2006)

Tidak, tidak… tidak ada unsur plagiarisme di dalam 2 karya ini. Ini adalah sebuah bukti bahwa ide itu virus. Tau kan, virus itu “hidup” kalau berada dalam inangnya lalu akan berduplikasi dsb. Nah, ide itu seperti itu, mereka seperti sinyal-sinyal yang melewati otak seseorang atau beberapa orang lalu akan mewujud bila orang itu mengolah ide itu. Aku sudah sedikit meng-google tentang hal itu, dan katanya itu adalah “multiple discovery” atau “simultaneous invention” (sesuatu seperti itu).

Karena ide adalah virus, biarkan diri Anda menjadi sakit, sangat sakit hingga ide itu terwujud! Tapi tentu saja jangan lupa berdoa agar ide itu akan memperbaiki kehidupan dan menambahkan kedamaian….

-nyaw, terjangkit virus!-

Advertisements

Tembus Cahaya

Buat yang sering baca buku, pasti mengerti rasa sebalnya saat buku yang dibeli tidak menyertakan pembatas buku di dalamnya. Akhir-akhirnya kalau sudah begini pasti apapun akan dijadikan pembatas buku. Mulai dari bon sampai kertas bungkus makanan bekas suka digunakan di saat kepepet.

Kebetulan sekali, kemarin saat membaca The Silver Dream-karya Neil Gaiman, tidak ada pembatas buku di dalamnya.

Oh the horror!

Oleh karena itu, aku pertama-tama menggunakan memo bekas. Lalu karena sebal dengan betapa lembeknya si memo bekas sebagai pembatas buku, aku dengan reaktifnya membuat pembatas buku dari potongan tracing paper yang tidak terpakai. Lalu 1 pembatas buku menjadi 10 pembatas buku.

Itulah, aku memang sering terbawa keasyikan baru.

20140121_162722(depan)

20140121_162737(belakang)

Tapi aku menyukai pembatas buku yang dari tracing paper itu. Karena saat pembatas buku itu ditaruh menghadap cahaya, bagian belakangnya jadi terlihat. Agak filosofis kan, seperti: untuk melihat dua sisi suatu cerita kau harus memberikan “cahaya” pada cerita itu.

-nyaw, serahkan saja padaku, aku bisa membuat suatu pembenaran filosofis di balik tindakan obsesif membuat 1 pembatas buku menjadi 10 pembatas buku-

Almost 30 (Seni Festival)

Akhir-akhir hujan tidak mau berhenti turun dan beberapa daerah di Indonesia sedang terkan bencana banjir. Di saat hujan, beberapa orang akan ingat banjir, tapi yang kuingat adalah pengalaman saat berjualan di festival. Saat hujan dirasakan sebagai hal yang gawat oleh pedagang yang hanya mengandalkan terpal. Di saat hujan, kalau badan basah sudah tidak peduli, yang penting dagangannya gak ikutan basah.

Ngomong-ngomong tentang hujan, aku jadi ingat dengan mentor berjualanku. Beliau sudah pernah bekerja kantoran dan saat pensiun memutuskan untuk berjualan baju muslim. Beliau berkata dia merasa sangat bahagia menjadi pedangang karena dengan berdagang, beliau tidak akan tahu apakah hari itu dia untung atau rugi. Hal itu membuat perasaan menjadi lebih dekat dengan Tuhan.

Jadi saat hujan, aku ingat dengan pedagang-pedagang yang begitu pasrahnya itu. Setiap hari mereka memaparkan diri dengan harapan mendapatkan nafkah yang tidak pasti jumlahnya. Tapi tanpa menyerah mereka muncul keesokan harinya.

Aku juga teringat dengan seorang Mbak-mbak yang tidak waras yang selalu meramaikan pameran-pameran. Karena dia pintar berjoget dan bernyanyi, dia sering diajak naik panggung. Aku selalu menyesal tidak memberikan salah satu barang daganganku karena meskipun dia kurang waras, dia dengan bersungguh-sungguh berkomentar bahwa barang daganganku bagus-bagus.

Festival-nyaw, semoga masalah berkaitan banjir bisa diselesaikan-

Almost 30 (Olahraga)

-Tolong baca tulisan ini dengan memutar lagu soundtrack Rocky yang “Eye of The Tiger” di dalam otak-

Sepertinya sulit ya untuk percaya bahwa akhirnya gwa berolahraga. Demikianlah, gwa kadang berolahraga. Targetnya adalah menurunkan berat badan agar lebih cocok berpenampilan tomboy, tapi sampai sekarang baru bisa mengurangi 10 pon saja (ditulis dalam bentuk pon agar terdengar lebih banyak :p ).

Kegiatan olahraga yang saat ini sedang gwa suka adalah berlari (baca: jalan cepat), angkat beban dan ber-yoga. Saat berolahraga, entah kenapa harus pakai setelan “Bruce Lee warna biru dongker tua”. Setelan ini begitu menempelnya sampai-sampai dipakai kalau sedang membuat sketsa comic strip. Saat aku memakai setelan olahraga ala Bruce Lee aku merasa lebih kuat. Seakan-akan Bruce Lee sedang dekat denganku untuk memberi semangat!

Tapi tentu saja kadang ada kendala dalam berolahraga. Karena aku merasa malu untuk berlari keliling kompleks, aku berlari di atas threadmill. Kalau sedang menyalakan pompa air, aliran listrik jadi naik turun. Hal ini menyebabkan aku tidak bisa berlari di atas threadmill. Oleh karena itu aku mengganti lari dengan lompat tali. Aku terinspirasi program saat aku kecil di US di mana anak-anak harus membawa tali lompat dan melakukan lompat tali di sela-sela pelajaran dan jam istirahat.

Ternyata lari dan lompat tali itu tidak sama ya…. Lompat tali lebih melelahkan….

Lebih baik lari setengah jam ketimbang lompat tali 200x. Ugh.

Anak-anak itu begitu kuat bermain lompat tali ya….

Olah Raga-nyaw, berkeringat dan bersemangat-

Almost 30 (Kentut)

Salah satu teman laki-lakiku pernah berkata padaku, “Padahal kan gampang tuh kalau mau lupain kecengan atau pacar. Bayangin aja dia lagi poop atau kentut. Pasti il-feel.”

Sangat bertentangan dengan guyon-guyonan yang pernah aku tonton di TV di mana si laki-laki yang mabuk kepayang oleh seorang cewek bilang, “Ya ampun… kentutnya juga cantik dan harum….”

Nah loh?

Kesimpulan akhir: Kentut adalah hak setiap manusia, termasuk buat para lady!

Kentut-nyaw, kentutlah agar lega!-

Almost 30 (Jangan Lakukan!)

Ini adalah tema yang setua dinosaurus yang sekarang telah menjadi minyak bumi. Yaitu tema: “Kenapa tanya-tanya hal personal sembarangan sih?” Menulis sebuah rant mengenai pertanyaan-pertanyaan personal sudah pernah dituliskan berkali-kali sepertinya, dan ini adalah salah satu tulisanku.

Lalu mengapa masih membuat comic stripnya?

Aku membuat comic strip ini untuk mengungkapkan rasa kesal dalam bentuk yang konyol dengan memberikan penyelesaian yang “cukup bisa diterima”. Kalau kekesalan digambarkan dalam bentuk komik, sepertinya masalah itu cetek sekali.

Jadi daripada memikirkannya atau memikirkan apakah itu pantas dipikirkan, mendingan juga dibuat jadi lucu-lucuan!

Jangan Tanya-Jawab-nyaw, apapun!-