Menua

Aku mulai berpikir untuk membeli krim anti keriput yang buat di sekitar mata. Tiba-tiba saja menua dengan tiba-tiba. Mungkin tiba-tiba sudah terbangun dengan keriput mata yang aneh (maksudnya, keriputnya cuman sebelah, tidak simetris, atau semacamnya). Jadi kurasa aku harus membeli krim itu.

Pikiran tentang mulai menua terjadi sejak pembicaraan terakhir dengan seorang kenalan yang baru putus. Dia menceritakan garis besar kejadiannya lalu mengakhiri pembicaraan dengan, “Dia sih dah ada fans kok, gak masalah putus juga.” Aku manggut-manggut sambil berpikir, “Hum hum, iya ya memang seperti itu pikiran perempuan saat putus….”

Lalu aku menyadarinya.

Bahwa apa semua perempuan seperti itu ya. Saat putus, atau cerai, atau sejenisnya, malah lebih memikirkan kebahagiaan yang di pihak sana? Seperti misalnya apa dia akan bahagia? Apa dia masih bisa ketawa? Atau apa dia masih… (isi dengan hobi paling menjijikkan)?

Atau mungkin laki-laki juga seperti itu?

Mungkin saja semua orang yang jatuh cinta itu seperti itu ya! >.<

Bukannya itu luar biasa sekali. Untuk sekali waktunya dalam hidup yang narsistik dan egois ini, kita memikirkan orang lain tanpa benar mempertimbangkan apapun.

Hebat hebat…. >.<

*Pantas temanku ada yang suka sekali patah hati dan tampak seolah-olah selalu menjadikannya sebuah bentuk perayaan.*

Tapi alih-alih berpikir apa itu karena “laki-laki” atau “perempuan” atau “sedang jatuh cinta” yang menyebabkan pemikiran seperti itu. Jangan-jangan alasan yang sebenarnya adalah karena “penuaan”.

Tiba-tiba saja ingin berbagi dengan orang lain karena “penuaan”.

Humm…

*sedang mempertimbangkan krim keriput mata*

Bertanya-tanya

Berkat laila dan MM, beberapa bulan yang lalu jadi anggota deviantart. Karena aku punya beberapa karya lama aku menguploadnya dan menikmati karya-karya orang lain juga. Aku perhatikan banyak sekali fotografi “nude”. Aku jadi bertanya-tanya, darimana ya asalnya mendapatkan perempuan secantik ini yang mau bugil? Untuk dapat yang cantik berbaju saja sulit apalagi yang bugil yak? 😆

Dan terutama sekali, kalau modelnya diganti dengan orang biasa yang tidak terlalu bohay apa masih disebut artistik ya? Mungkin tidak ya, mungkin kalau modelnya tidak cantik dan bohay jadinya foto anatomi (?)

Entahlah, banyak pikiran bersliweran di otakku ketika memikirkan fotografi “nude”.

Seperti misalnya, kapan kita tahu bahwa foto itu bagus karena kita yang mengambil gambarnya atau jangan-jangan karena kebohayan si model jadi apapun pasti bagus dan mempermainkan emosi.

(?)

Humm… pertanyaan-pertanyaan yang seperti itu membuat sesuatu lebih menarik.

Semakin kontroversial, semakin bombastis.

Tidak perlu ada artinya. Cukup menjadi bombastis saja.

Makan Pagi

Sambil makan pagi, tadi berpikir-pikir kapan saatnya aku akan menyantap “stress” sebagai makan pagi bergizi setiap hari. Mau bagaimanapun, aku tidak pernah menyukai stress, apalagi harus dimakan tiap pagi…. Aku merasa sangat jauh dari orang-orang hebat yang tercatat dalam sejarah. Dari cerita-cerita keseharian mereka, sepertinya tiap pagi mereka makan stress dan mereka menyukainya.

Ya benar, sepertinya mereka suka stress. Dan kalau tidak ada yang menyediakan stress dalam menu hari itu, mereka akan mencari stress. Mereka menginginkan dan membutuhkan stress!

Hebat betul!

Kapan saatnya aku akan menyukai stress dan memakannya dengan senang hati yak?

Meskipun demikian, kadang-kadang aku merasa bahwa orang-orang berkata bahwa aku adalah orang paling tidak cocok untuk stress. Karena kalau aku stress, mereka merasakan suasana sumpeknya.

Makanya… aku juga harus suka stress! Yuk kita mulai menyukai stress dan berteriak dengan lantang: “I am stressed out and I am totally loving it!”

–> wkwkwk :p

Putra dan Putri

Orang dulu bilang “Punya anak perempuan itu rugi.”

mereka lupa menambahkan,

“karena suatu saat mereka akan meninggalkan keluarga yang sekarang untuk memiliki keluarganya sendiri.”

lalu, mereka memaksa mereka memakai sepatu sempit agar tidak bisa melangkah. Atau menyembunyikan mereka, menunggu suatu penawaran yang menarik, sepadan dengan pelepasan. Atau mengurung mereka ketika haid, karena itu adalah siklus setan.

Kenyataannya adalah,

“Punya anak perempuan atau laki-laki semuanya menguntungkan.”

“mereka akan meneruskan gen-genmu”

Sekonyong-konyong

Dari dulu aku merasa kata “sekonyong-konyong” itu kata yang lucu dan menggelikan. Maksudku, tiap mendengar kata itu, aku membayangkan suatu bentuk spiral seperti yang sering muncul di gambar komik jepang untuk menyatakan suatu lensa kacamata itu tebal seperti tutup botol. Lagipula, saat mengucapkan “sekonyong-konyong”, setiap bibir harus dimoncongkan sedemikian rupa sehingga sangat seksi.

Aku ingin melihat seseorang mengucapkan “sekonyong-konyong” dan tetap terlihat seksi!

😆

Ngomong-ngomong tentang sekonyong-konyong, aku heran dengan orang-orang yang berpikir bahwa laki-laki itu “sekonyong-konyong” menjadi siap untuk menikah dan dewasa. Kurasa, aku pernah menuliskan tentang topik yang sama seperti ini, tapi aku tetap tidak terlalu mengerti apa-apa yang sedang terjadi. Mereka pikir karena umurku hampir 23, jadi sekonyong-konyong aku jadi mengerti berbagai hal. Tidak, tidak. Dan salah-satunya adalah aku tidak mengerti dengan pernyataan, “Karena laki-laki itu sudah lulus, sudah punya pekerjaan, punya gaji tetap. Sekonyong-konyong dia menjadi siap beristri dan berkeluarga.”

Well tahu pendapatku?

Sekonyong-konyong aku berpikir itu salah.

Ya betul, ampek lu monyong-monyong meyakinkan bahwa sekonyong-konyong pernyataan itu betul, aku tetap berpikir itu salah dan tidak berkolerasi.

Percayalah, aku berusaha sepakat dengan pernyataan itu. Tapi lalu aku melihat ke samping, dan di sana ada kenalanku yang akan menikah. Dia tidak tampak antusias dengan pernikahannya yang akan datang, tapi mungkin itu perkiraanku saja. Tapi lalu dia mengatakan malam pertama sebagai “nasty” dan merencanakan memfoto-foto cewek-cewek cantik beberapa minggu ke depan, aku langsung bahwa pernyataan itu sekonyong-konyong tidak betul.

Kau tahu, dia itu orang yang finansialnya mapan. Tapi ternyata dia tidak menjadi sekonyong-konyong siap untuk menjadi double kan?

Jadi, kurasa semua orang menyalahartikan “sederhana” dengan “mudah”.

Kita harus berpikir “sederhana”. Sederhana itu tidak selalu mudah malah lebih sering susah.

Sebagai contoh:

Seorang laki-laki. Tiba-tiba dia merasa tidak bersemangat dalam hidup. Semuanya menjadi kacau. Garam pun jadi tidak berasa. Sekonyong-konyong dia merasa bahwa kemungkinan besar semuanya akan lebih baik kalau bisa berbagi dengan seorang perempuan yang bisa bilang, “garam itu asin” kalau-kalau dia lupa. Lalu dia berusaha keras agar dapat menemukan, menghidupi dan menjaga si perempuan “entah itu”. Tapi meskipun demikian, dia belum mendapatkan hasil yang maksimal karena dari saat ke saat dia lupa kalau “garam itu asin”. Meskipun demikian, dia bukan orang yang mudah menyerah, sekonyong-konyong dia terus berusaha untuk menyatakan dirinya “siap”.

Nah loh percaya atau tidak, ada juga cerita seperti itu. Aku sering mendengarnya, dan mereka bukanlah orang yang “sekonyong-konyong” bisa melakukan pekerjaan suami tradisional. Percaya atau tidak, mungkin maharnya bisa disebut sebagai “keringat dan usaha”. Apa boleh buat, hal sederhana seperti “ingin mengingat kalau garam itu asin” manjadi hal yang susah.

Tapi memang akan sangat menyenangkan kalau semuanya mengikuti skenario yang seperti ini:

Seorang laki-laki. Mapan, tampan, dan lulus semua psikotes perusahaan, memutuskan ingin bekerja untuk memiliki dompet yang gendut. Alasan dia memerlukan dompet yang gendut, bahkan dia sendiri tidak tahu. Yang pasti, dia tahu dia ingin dompet yang gendut. Lalu dia bekerja siang dan malam, tanpa lelah. Dompet dia menggendut dengan sangat, bahkan sudah obesitas, tapi dia mempunyai penyakit BDD (body dysmorphic disorder) dan selalu merasa si dompet tidak gendut-gendut, jadi dia bekerja lagi lagi dan lagi. Lalu, sekonyong-konyong, dia merasa rasa kekurangan di dompetnya adalah karena dia harusnya membaginya dengan seseorang sehingga dengan begitu dia bisa merasakan kapan dompet itu mengurus dan harus dikembungkan lagi. Dia tidak sadar bahwa dompet dia sudah obesitas karena dia sudah terlalu sibuk.

dan apa boleh buat, yang seperti itulah yang sekonyong-konyong laki-laki yang siap menikah.

Ternyata kalau terlalu banyak makanan instan, pikiran kita pun akan dipenuhi oleh ide-ide instan.

-_-

Terseret Marathon

Akhir-akhir ini hidup sepertinya sedang berlari-lari dengan kencangnya. Agaknya hidup merasa kagum dengan kuda hingga dia berpikir, “harus seperti kuda!”

Pada kenyataannya dia hidup, bukan kuda. Dan hidup? Dia berjalan dengan santai tapi pasti.

Mungkin kira-kira begitulah perasaanku. Perasaan yang ingin berteriak pada dunia bahwa, SAYA BUKAN KUDA!!!

Jadi, seperti yang kita semua ketahui, aku sudah lulus jadi apoteker dan sekarang sudah menganggur selama 1 bulan lebih. Perihal menganggur ini sangat memusingkan karena meskipun ingin bersantai, tapi kalau memikirkan kalau “santai” itu memakai “uang orangtua” dan orangtua ingin kita “mapan” dalam versi mereka, mau tidak mau bagian “santai itu dicoret dan bagian “UANG ORANGTUA” itu mendapat highlight besar.

Jadi pada intinya, aku hidup dalam kubah “hutang raksasa” dan belum bisa melihat celah keluarnya.

Sementara itu, karena aku tidak bisa melepaskan diri dari merasa terpesona dengan hal-hal aneh, aku jadi mengirimkan lamaran ke berbagai macam perusahaan yang membutuhkan tenaga farmasi. Hal yang paling aku inginkan adalah “ditelpon”. Aku berpikir bahwa ditelpon orang asing untuk psikotes dengan tenangnya itu hal aneh. Aku menjadi kagum dengan orang di seberang telpon. Kok bisa-bisanya dia begitu tenang?

Tapi kukira, aku harusnya lebih fokus pada “mendapatkan pekerjaan” itu dibanding bermain-main.

Tapi lalu lagi, aku tidak dapat menahan perasaan lucu saat membaca berbagai lowongan kerja. Ternyata ada semacam sandi rahasia di dalam setiap lowongan kerja. Misalnya:

1. Sedang berkembang pesat –> perusahaan yang bersangkutan masih baru. Ya, sejujurnya dia tidak tahu pasti apa dia berkembang pesat atau tidak, tapi diharapkan para pelamar adalah orang yang berkembang pesat.

2. Terdepan = well established –> perusahaan yang udah lama berdiri dan kata-kata berikutnya biasanya “IPK 3.00” atau “pengalaman minimal…”

3. Menyukai tantangan –> posisi membutuhkan tanggung jawab (Kadang aku resah membacanya, kenapa tidak menulis: bertanggung jawab? Mungkin tanggung jawab itu adalah hal yang menantang. Tapi masalah dengan tantangan adalah kau bisa menjawabnya atau cuek aja, sedangkan kalau tanggung jawab itu mau tidak mau diambil juga)

Nanti kalau baca lowongan kerja di koran, yang bagian kecil-kecil, akan lebih terpesona lagi karena persyaratan apapun bisa muncul. Seperti pernah ada persyaratan, “gemuk” atau “setia” atau “jujur” atau “kerja keras”, “ideal” dan kata-kata sifat lain yang lucu dan mengingatkan pada ajang cari jodoh.

Hmmm… menarik

-nyaw. Dia telah berevolusi menjadi pemerhati*) lowongan kerja yang aktif.-

*) memerhatikan bukan berarti mendapatkan

Pada Suatu Hari

Konon katanya, penilaian test masuk FSRD (Fakultas Seni Rupa dan Desain) ITB melibatkan penginjakan karya peserta. Jadi katanya, kalau dinilai tidak ok, karya kita akan diinjak dan dibakar. Ya, itu konon katanya, entah betul tidaknya. Tapi kalau betul, berarti karyaku juga “pada suatu hari” diinjak.

Tapi kita gak bisa merubah apapun kan. Karya itu sudah diinjak. Lalu setelah itu apa aku menjadi anti dengan pensil dan kertas?

Yang seperti itu tidak ada hubungannya sama sekali. Kalau yang ingin melakukan, ya akan tetap dilakukan meskipun tidak ada yang melihatnya atau bisa-bisa kelaparan karena keinginan tidak mendukung materi-materi pendukung hidup (uang, makanan).

Dan kalau dipikir-pikir, sama tidak ada hubungannya sama sekali dengan pernyataan orang yang bilang “Wah Tuhan itu ada karena Dia begitu hebat.” Tuhan itu selalu ada, dan selalu hebat mau kita nilai begitu atau tidak.

Itu hanya pekara percaya atau tidaknya.

Lalu pada suatu hari lain apa kita dapat berkata “wah” hanya kalau dia “wow”?

Manusia. Semuanya matre. Termasuk si penulis. -_-