Kegilaan

Penulis, seniman, dan semacam itu, konon katanya mereka semua sebenarnya adalah orang-orang yang gila. Sama seperti semua orang lainnya. Gila. Tapi dalam level yang berbeda. Mungkin karena kebenaran terletak di daerah otak yang dalam sekali. Atau mungkin kebenaran letaknya setelah entah berapa banyak syaraf terkoneksi.

Jadi mencari kebenaran adalah hal yang sangat sulit dilakukan.

Kamu melakukannya sendiri. Karena jalan setiap orang berbeda.

Karena kamu sendirian, kamu jadi gila.

Setidaknya begitulah yang dikatakan di dalam buku Veronika Decides To Die-Paulo Coelho.

Terdengar seperti pekerjaan yang berbahaya untuk mental ya? Memang. Makanya biasanya seniman-seniman itu adrenaline junkie. Karena itulah mereka suka hal yang nyentrik dan unik. Karena itu memompa adrenalin dan merenggang rasa keterbatasan. Berbahaya. Semakin berbahaya semakin mengasyikkan. Begitulah kulihat-lihat.

Berbahaya. Asyik. Menantang. Merenggang.

Yang saya gambarkan perilaku seniman ataukah kucing garong?

Saya mulai kehilangan track. Atau mungkin itu hal yang sama.

Bagi saya pribadi, saya tidak tahu apa itu hakikat menulis. Nyastra. Nyeni. Apapun itu. Saya tidak terlalu memikirkannya. Urusan saya hanya sedikit banyak menggali sebanyak-banyaknya dan berusaha menyentuh bagian terdalam dari pikiran manusia.

Anehnya itu menjadikan saya seorang copywriter.

Loh kok kenapa bisa? Padahal saya pikir saya temannya Paulo Coelho. Inginnya saya begitu. Tapi mungkin saya emang gak nyastra dan nyeni. Saya hanya suka menyentuh pemikiran orang-orang. Membuat orang bergerak adalah sebuah hobi. Buat saya itu lewat gambar, lewat kata-kata, kalimat-kalimat, dan akhir-akhir ini saya berpikir itu dilakukan lewat dongeng. Lewat nada-nada yang enak di telinga.

Saya punya rencana berlatih membaca keras-keras. Tapi saya suka merasa malu sendiri. Terutama kalau ada demit bule di pojokan yang mendengarkan sambil membuat komentar-komentar sarkastis.

Sering kali saya tidak memikirkan apa hal-hal yang saya inginkan akan mendatangkan uang. Saya pikir kalau Tuhan ridha dengan apa yang saya lakukan, seharusnya saya tidak kelaparan. Begitu logika aneh dalam otak saya berputar.

Jadinya suatu hari seseorang berkata bahwa dia bingung bagaimana mulai mendapatkan uang dari menulis.

Jujur saya juga tidak tahu dan tidak memikirkannya. Mungkin karena saya masih mengejar mimpi untuk memiliki karya yang diterbitkan. Dan mimpi itu rasa-rasanya akan membuat saya gila.

Apalagi saya membaca ulang tulisan-tulisan sendiri dan ada beberapa yang pasti akan saya rombak habis-habisan. Dan saya belum melakukannya karena masih belum dapat copywriting yang sangat pas seperti yang saya bayangkan.

Jadi bisa saja di masa depan saya akan menjadi orang yang gila banget.

Sekarang saja sudah agak gila banget.

Dan liburan lebaran ini tidak membantu. Hanya membuat stress karena orang-orang yang sedang berlibur sangat menyebalkan. Kegemarannya parkir sembarangan, buang sampah sembarangan dan menyela antrian. Mungkin orang-orang berlibur bersikap begitu karena merasa tidak akan kembali ke kota ini. Mungkin juga mereka terlalu banyak mengikuti aturan kantor korporat atau semacam itu sehingga menjadikan lebaran saatnya menjadi bebas. Toh sudah minal aidin.

Nah kan saya terlihat gila kan dengan omelan itu. Tindakan-tindakan kecil itu sangat mengganggu bagi saya. Kadang lebih ganggu dari perang dan kelaparan. Karena saya percaya semua hal besar itu asalnya dari hal-hal kecil itu. Seperti dari seorang buang sampah sembarangan akan menjadikan buang sampah sembarangan itu sebuah budaya dan semua sungai akan mampat oleh sampah dan kotoran,

Padahal manusia adalah kontributor terbesar dari debu di dalam atmosfir. Kenapa manusia senang banget berbuat seenaknya. Suka nggak sih dengan kebersihan? Apa suka dengan hal-hal yang kotor dan tidak rapi? Seperti si demit di dalam kamar mess yang senang hidup dalam aliran air. Apapun jenis air itu?

Bodoh banget.

Nah kan saya gila banget kan.

Makanya yang rapi bersih. Bantu saya yang kerjanya menulis ini untuk fokus. Kalau tidak kan saya jadi pengen bersih-bersih atau melakukan relokasi manusia. Padahal harusnya kan saya lagi nulis. Writing and copywriting. Both lah. Serempak tapi fokus. Dua arah tapi searah.

Oke?

Oke!

Sip ya. Stop jorok ok. Kalau tidak saya akan memperlakukan anda seperti demit-demit. Dan terkadang saya memperlakukan mereka seperti anjing-anjing di dalam acara Dog Whisperer-Caeser Millan. Saya yakin anda tidak ingin diperlakukan seperti anjing kan? Makanya jangan aneh dan merasa bisa buang sampah sembarangan. parkir seenaknya dan menyela antrian.

Yang gila itu Anda yang meremehkan sopan santun dasar semacam itu.

Sayangnya orang gila itu tidak pernah merasa gila! Jadi percuma kalau saya memberikan quote dari seorang kawan lama saya:

“JANGAN GILA DONK”

Ah percum-ceu

-nyaw, kentutin orang-orang yang seenaknya-

Advertisements

Visualisasi Peradaban Manusia

Pada suatu hari yang beruntung, saya pernah melihat visualisasi dari perkembangan peradaban manusia. Saya tahu, ini kedengaran aneh, tapi saya sungguh-sungguh melihatnya. Mungkin lebih tepatnya saya melihat sebuah visualisasi intepretasi saya terhadap peradaban. Visualisasi ini sudah saya tuliskan dalam sebuah novel-yang-telah-ditolak-beberapa-kali-tapi-tidak-kunjung-saya-revisi-karena-saking-randomnya-cerita-itu-jadi-dibiarkan-saja. Tiba-tiba saya merasa perlu menceritakan kembali visualisasi itu, karena saya bosan dengan perkembangan peradaban yang begitu-begitu saja. Alasan terlalu simpel ya? Ya biarlah seperti itu. Lagian visualisasinya cukup menarik, dan melibatkan salah satu tokoh yang muncul di buku seorang pengarang terkenal (tapi tidak akan saya sebutkan nama novel maupun tokohnya karena tokoh itu muncul jauh sebelum novel itu terbit jadi saya cukup curiga itu bukan sekadar tokoh tapi mungkin sesuatu yang “lain”). Jadi kurasa, ini akan jadi tulisan aneh yang biasanya.

Awal dari visualisasi itu adalah saya sedang menaiki sebuah kendaraan yang berbentuk kereta. Relnya seakan melayang tapi sebenarny terpancang pada sebuah struktur yang menyerupai jembatan. Kereta itu memasuki kota-kota yang dibentuk dari kotak-kotak yang membentuk berbagai gedung pucat. Semua kotak berwarna putih. Sepanjang saya memandang hanya terlihat tumpukan balok-balok putih dengan bayang-bayang abu-abu. Bahkan ketika saya memandang penumpang-penumpang kereta, semuanya sama pucat. Semua orang tidak punya warna. Hanya warna putih kanvas kosong dan berwarna abu-abu.

Sesekali isi gedung-gedung kotak itu terlihat karena terdapat jendela yang berbentuk persegi atau persegi panjang. Terlihat dari dalamnya lift dan eskalator yang membawa orang-orang berwarna pucat. Naik ke atas atau ke bawah dengan bunyi “ding” pintu terbuka atau tertutup.

Begitu sibuk. Semuanya sibuk. Semua bergerak dengan pasti menyusur kotak-kotak menuju suatu arah yang entah apa. Tidak satu pun orang berhenti untuk melihat kiri dan kanan. Semuanya berjalan dengan suatu keyakinan menuju suatu tempat yang tidak saya ketahui. Semuanya saya lihat dari kereta yang berjalan begitu cepat. Bahkan saya pun tidak tahu kemana kereta itu hendak pergi. Hanya saya saja yang tidak punya rasa pasti akan arah dan tujuan. Saya bingung tapi berusaha terlihat tahu tujuan. Saya berusaha terlihat seperti semua penumpang kereta yang pucat-pucat itu.

Kereta kemudia berhenti pada sebuah halte. Para penumpang berhamburan keluar cepat-cepat. Serombongan calon-calon penumpang hendak masuk. Penumpang-penumpang yang mau masuk dan keluar berbenturan seperti air bah berbeda arah. Karena tidak tahu harus berbuat apa, saya ikut aliran dan turut menghambur keluar kereta dan mengikuti langkah-langkah para penumpang yang tadi bersama-sama ikut kereta.

Saya mengikut langkah-langkah mereka yang cepat dan begitu pasti. Menyusur kotak-kotak putih pucat. Naik turun lift dan eskalator. Tak lama saya sadari bahwa hanya saya yang tidak memakai sepatu. Dan hanya saya yang memakai baju dengan bahan melayang-layang ringan dan tidak kaku seperti yang lainnya. Saya merasa malu dan berbeda, tapi saya berpura-pura bahwa saya sama dengan mereka-mereka. Pucat dan penuh percaya diri. Yakin akan arah perjalanan mereka. Entah kemana. Entah kemana.

Tapi selama saya berpura-pura. Menyusur kotak-kotak, naik turun lift dan eskalator, berpura-pura tidak melirik kiri dan kanan, semakin saya tampak berbeda. Lama-lama saya tidak lagi pucat. Saya semakin berwarna meskipun masih tanpa alas kaki dan masih memakai baju dengan bahan ringan dan melayang. Dan tiba-tiba sebuah hembusan angin menerpa saya. Saya menahan hembusan angin itu dengan sekuat tenaga. Saya melihat kiri dan kanan, hanya saya yang dihembuskan angin. Tapi sekuat apapun saya menahan, angin itu begitu kuat. Saya memejamkan mata dan bergerak mengikuti aliran angin itu.

Saya terhempas angin yang membuat saya keluar jalur dari semua orang pucat.

Dan itu sangat menakutkan.

Saya ingin kembali tapi tidak bisa, karena tubuh saya malah bergerak mengikuti hembusan angin.

Saya tidak lagi mengikuti jalanan dan jalur-jalur di antara kotak-kotak. Kadang saya melompati kotak-kotak seakan-akan mereka hanya batu pijakan. Kadang saya menyusur jalur-jalur di dalam angin. Seperti ada pijakan-pijakan di sana. Lalu sambil saya bergerak, tanpa mengindahkan aturan, jalur, jalanan, logika, saya melihat semua orang-orang yang bergerak dengan kepastian yang membuatku tidak paham. Kemana mereka? Kemana mereka pergi? Kenapa mereka mengikuti jalur-jalur pucat tanpa memandang tujuan akhir?

Saya bingung. Tapi saya sendiri pun terus bergerak menyusur angin dengan arah yang tidak saya ketahui tapi membuat saya ringan. Kali ini saya tidak gamang meskipun tidak mengikuti jalanan yang telah dibangun di antara kotak-kotak putih.

Tapi tiba-tiba gerakan saya yang begitu bebas terhenti. Saya tidak lagi dapat melompat atau menyusur dengan ringan. Di hadapan saya tidak ada sesuatu pun yang dapat dijadikan pijakan. Hanya ada padang tandus kering yang kosong dengan tanah retak-retak kering. Di ujung padang terlihat sebuah cahaya yang terang. Angin yang menghembus kembali mengarahkanku. Tapi kali ini aku tidak serta merta mengikuti hembusan. Karena angin menyuruhku untuk memasuki padang yang tandus itu. Sedangkan kotak-kotak putih pucat itu tidak dibangun menuju terang cahaya itu, tapi dibangun menjauhi cahaya. Ke arah yang berbeda.

Saya terdiam. Saya merasa tidak bisa melewati padang itu. Tidak ada kotak putih. Tidak ada jalur dan orang-orang pucat yang dapat disusuri dari pandangan yang jauh. Tidak ada apapun di padang itu selain kekeringan, tanah tandus dan kesendirian.

Tapi angin terus berhembus dan menyuruhku ke padang yang tandus itu di mana tak ada sebuah kotak putih pun di sana.

Saya masih terdiam. Malah saya takut dan tercekat. Saya tidak akan bisa bergerak ke sana tanpa sebuah kotak putih pun di sana. Sedangkan saya bukan seseorang yang tahu cara membuat kotak putih itu. Saya mengutuk diri sendiri. Seharusnya saya belajar membuat kotak putih.

Saya takut dan terus diam. Angin mempermainkan ujung baju dan rambut. Menyuruh saya mengikuti hembusan. Menyuruh saya berani untuk menuju cahaya. Tapi saya masih takut dan masih terus takut.

Lalu sebuah sosok berdiri di belakang saya. Dia memakai jubah hitam yang sangat lebar dan menutup muka. Tapi saya masih dapat melihat bahwa ia membawa sebuah tombak yang panjang. Punggungnya memiliki sepasang sayap hitam. Panjang dan besar, menyapu belakang tubuhnya. Sosok itu bersuara. Suaranya dalam, sebuah bariton yang tidak manusiawi. Katanya dengan garang,

“Jalanmu ke sana. Menuju cahaya.”

Saya bilang,

“Tidak ada jalan ke sana.”

Dia menjawab garang,

“Kalau begitu kamu harus membuatnya.”

Saya terdiam. Saya masih takut. Saya memandang cahaya itu. Saya tahu saya harus menuju tempat itu. Tapi jalan ke sana begitu kering, tandus, dan sepi. Terutama sepi. Tidak ada ukuran jarak tanpa kotak-kotak putih. Tidak lagi dapat berpura-pura tidak sendiri dengan memandang orang-orang berjalan dengan pasti. Kali ini hanya akan ada saya dan sebuah keyakinan bahwa saya benar-benar menuju cahaya.

Saya memandang cahaya itu. Bayangan itu terus di belakang saya. Dia garang tapi sabar.

Lalu saya tersadar dari visualisasi itu. Saya sadar bahwa kotak-kotak putih itu adalah hal-hal yang dibangun manusia. Sebuah bangunan peradaban pelik yang secara tidak langsung telah mengarahkan arah generasi-generasi penerus manusia. Begitu sibuknya kotak-kotak putih itu dibuat, sampai-sampai manusia lupa ke arah mana kotak-kotak itu dibangun dan diletakkan. Secara tidak sadar, kotak-kotak peradaban mulai menjauh dari cahaya. Padahal sosok hitam yang garang itu akan selalu mengikuti. Sosok yang sabar itu akan selalu mengikuti.

Karena sosok hitam itu kematian.

Kematian akan selalu membuntuti setiap langkah.

Pertanyaannya adalah, ke arah manakah kamu melangkah? Apakah menuju cahaya? Menjauhi cahaya? Ataukah hanya mengikuti jalur-jalur di antara kotak-kotak putih. Mengikuti logika yang ditata peradaban tanpa mempertanyakan,

“Ke mana semua kotak-kotak ini mengarahkanku?”

Ingatlah, kotak-kotak putih itu akan selalu ada. Tapi semua manusia memiliki daya untuk membuat kotak-kotak itu bersama-sama. Karena semua itu dimungkinkan oleh logika. Tapi logika tidak memiliki ukuran arah. Arah ditentukan oleh rasa. Arah ditentukan oleh hati yang dikuasai oleh kekuatan yang melebihi logika dan emosi.

Sesekali berhenti dan melihat kiri dan kanan bukanlah ide yang buruk. Karena sesekali seseorang perlu melihat arah perjalanannya.

Apalagi dengan sosok hitam yang membuntuti setiap saat.

-nyaw, kisah kotak-kotak peradaban-

Naga dan Peliharaan-peliharaan Lain yang Lebih Menarik

Mungkin saya sedikit terlalu beruntung. Memasuki bulan ke-4 bekerja kembali di Jakarta, angka trombosit darah saya turun di bawah 100.ooo dan saya harus diopname. Sebelum semua peristiwa opname itu pun, sehari-hari saya sudah bermasalah dengan demit-demit yang menyebabkan saya tidak bisa tidur, aura menjadi bocor dan saya menjadi sangat uring-uringan. Saya begitu uring-uringan sampai saya merasa bahwa pekerjaan saya saat ini tidak lebih pekerjaan pecicilan. Oleh karenanya saya melampiaskan kesebalan saya dengan mencemooh laki-laki pecicilan. Tapi saya kemudian sadar bahwa itu adalah hal yang terlalu berlebihan dan sebenarnya tidak berhubungan. Karena persepsi buruk sendiri terhadap pekerjaan sendiri, kenapa yang kena malah lelaki pecicilan? Benar-benar tidak nyambung. Padahal intinya saya sedang memiliki banyak masalah eksternal, internal, internal menyerong, internal ke atas, eksternal meluas, eksternal di belakang, mikro, makro, dsb, dsb, dsb.

Sambil menuliskan ini pun saya merasa pusing dan lelah sendiri.

Oleh karenanya, saya menggunakan keberuntungan saya untuk opname dan mengalami sakit medis dan nonmedis ini untuk berhibernasi dan menenangkan diri. Ya! Berkontemplasi dalam demam dan nyeri. Menghimpun inner peace ketika deg-degan melihat darah muncrat dari infus. Fokus ketika menyuruh demit untuk pulang kembali ke Jakarta (yang tidak mau dia lakukan karena dia pun cukup lelah setelah mengejar dan mengancam membunuh, lagipula Bandung adalah tempat yang menyenangkan untuknya, jadi dia akan pulang menumpang pulang nanti saat saya menyetir ke Jakarta – saya bingung, dia yang mengancam membunuh, kok saya yang antar pulang? Ya sudah, manusia itu harus ridha dan lapang dada).

Lumayan. Alhamdulillah. Kini saya membaik. Berkat ridha Allah dan doa-doa teman-teman yang sangat baik…. Jadi siapa bilang sakit itu sial? Terkadang itu menandakan keberuntungan.

Tapi setelah keluar opname, saya masih bedrest di rumah. Masih ada pusing dan nyeri. Tapi masih bisa dimanage. Saya menggunakan waktu bedrest ini tidak hanya untuk tidur, tapi untuk mengejar buku-buku yang tidak sempat saya baca. Padahal membaca adalah hal yang sangat penting, tapi aku tidak pernah memiliki cukup fokus melakukannya beberapa bulan belakangan. Aku beruntung bahwa aku sempat curi membaca sambil bedrest.

Buku yang telah saya baca kali ini adalah “Cala Ibi” karya Nukila Amal.

Katanya Cala Ibi adalah seekor burung khas Sulawesi. Kalau dalam buku itu, Cala Ibi adalah naga bersisik emas dan bermata hitam. Itu membuatku teringat bahwa aku pun memiliki seekor naga. Namanya Greyling, karena ia adalah reptil abu-abu yang bergerak cepat seperti bayangan. Kadang dipanggil Moonstone, karena ia muncul di beberapa fase bulan tertentu. Dan belakangan ia memiliki alias Bloodstone, karena ia adalah prajurit yang ahli membunuh sehingga matanya hitam seperti darah kering pekat. Ya, aku pun memiliki seekor naga, dan dia hidup di dalam cerita “Putri Standar”.

Saya tidak tahu urusan naga, Nukila Amal dan saya sendiri itu apa, tapi saya hanya perhatikan satu benang merah. Saya perhatikan bahwa “Cala Ibi” adalah cerita tentang kesendirian dan pencarian makna, sedangkan “Putri Standar” adalah tentang kesendirian dan pencarian kemandirian. Keduanya memiliki tokoh naga di dalamnya. Saya jadi merasa bahwa naga adalah peliharaannya perempuan-perempuan yang merasa sendiri. Ternyata kesendirian perempuan itu dapat dimanifestasikan dalam bentuk sebuah hewan raksasa berdarah dingin dengan sisik keras dan mata kelam. Ternyata kesendirian perempuan itu juga arogan, sok tahu dan sok bijaksana.

Padahal kesendirian itu dingin dan keras. Juga dapat berkhianat.

Tapi kesendirian juga mitos. Dan hanya terwujud dalam khayalan atau diwujudkan demit.

Setelah membaca Cala Ibi, yang mengingatkan pada Putri Standar, saya jadi sadar bahwa kesendirian, kontemplasi, hal-hal yang berperang dalam hati, dan hal-hal lainnya, mungkin tidak sepelik itu. Kalau Nukila Amal mungkin akan bilang kalau semuanya itu hanya “…”. Iya betul. Semuanya tidak sepelik itu, yang pelik adalah perasaan tidak sabar dan kekurangan pemahamannya. Dan menurut Nukila Amal, semua pemahaman itu ada pada hal-hal sekitar kita. Kita perlu jeli.

J-e-l-i dalam arti teliti, bukan j-e-l-l-y dalam arti makanan.

Meskipun sedikit jelly manis tidak akan menyakiti siapapun.

Jadi kupikir, untuk saat ini lebih baik jalani saja apapun. Jangan pikirkan apakah pekerjaan yang saat ini terasa pecicilan atau tidak. Mungkin itu penilaian atas dasar kekesalan diri sendiri saja, mungkin karena saya kecewa tidak sempat menulis hal-hal yang benar-benar membuat saya bahagia, seperti cerita fiksi. Atau mungkin saya hanya terlalu memikirkan apakah sesuatu bermakna atau tidak, padahal itu di luar penilaian saya sebagai manusia.

Jadi selain itu. Saya memutuskan. Saya memutuskan bahwa saya sudah tidak ingin memelihara naga. Saya memilih memelihara anjing. Mungkin husky. Anjing itu hangat, bereaksi baik pada energi, dan terutama sekali, mereka bukanlah makhluk mitos.

Lagipula itu adalah keputusan yang spontan setelah membaca setengah jalan Cala Ibi dan didatangi naga ungu dengan kepala perempuan.

Saya memberikan jawaban, “NOPE!”

Sudah cukup naga yang saya kenal dalam 1 waktu kehidupan!

-nyaw, memilih memelihara husky-

Makan Siang dan Teman-temannya dan juga Teman-teman Makan Siang

Kalau belum tahu, mungkin saya perlu beri tahu, bahwa saat ini saya berdomisili di Jakarta. Udaranya panas dan berdebu, juga sedikit berbau knalpot. Masih Jakarta yang dulu. Tapi untungnya aku tinggal di daerah yang tidak berbau industri atau pencakar langit, lebih seperti kampung yang diupgrade habis-habisan. Jadi masih ada pohon dan nasi bungkus di bawah Rp. 10.000,-, juga siomay dan bakso seharga gocengan yang masih bisa mengganjal untuk 2-3 jam.

Tebak coba di mana?

20150316_145413

Kalau yang ini saya tidak mau memberi tahu. Coba deh mereka sendiri kalau memang penasaran sekali.

Karena saya sedang di Jakarta dan bekerja di sebuah perusahaan, sudah barang tentu tahu kalau makan siang itu biasanya dari jam 12.00-13.00. Jam makan siang itu selalu seputar itu. Berbeda dengan mereka yang bekerja di daerah Kuningan atau Simutapang, di sini biasanya semuanya makan sendiri-sendiri di mejanya sendiri. Karena kalau makan di warung nasi itu panas sekali, jadinya makan di warungnya itu sesekali saja kalau lagi ingin. Kalau makan bersama, paling muat 2-3 orang. Oleh karenanya, lumrahnya semuanya makan sendiri-sendiri di mejanya sendiri. Termasuk saya. Saya juga makan di meja kerja saya. Sambil melirik keluar jendela, atau mengobrol dengan teman meja sebelah. Tapi kebetulan teman meja sebelah saya hari ini sedang meeting keluar kantor, jadi saya mengetik saja dan berkisah.

Sebelumnya saya pernah menuliskan mengenai keanehan fenomena makan sendiri di restoran. Itu adalah suatu hal yang membanggakan bagi saya. Teman-teman perempuan saya lumayan tergerak untuk melakukan hal yang sama, kalau teman-teman lelaki berkomentar bahwa saya berlebihan. Mereka bilang apa hebatnya makan sendirian di restoran, itu kan biasa saja. Lelaki itu kadang aneh. Mereka berkomentar itu biasa, tapi sendirinya jarang-jarang makan di restoran sendiri. Begitu berbau akan makan sendiri di restoran, pasti buru-buru ajak teman. Lebih parah akan cepat-cepat cari pacar atau teman makan permanen (istri, lebih versatile).

Padahal kalau makan sendiri itu bisa memikirkan banyak hal. Saat saya makan sendiri, pertama yang saya pikirkan adalah rasa makanan yang sedang saya kunyah. Saya pikirkan tingkat asin-manis-asam-dsb. Lalu saya berpikir tentang minyak. Lalu saya akan bertanya-tanya apakah makanan yang sedang kumakan ini terlalu berminyak atau tidak. Kalau sudah begitu saya senewen. Kenapa semua makanan itu harus berminyak! Tapi saya lalu berhenti senewen dan berkata sendiri, “memangnya saya mau repot memasak sendiri?” Jadi saya kunyah lagi makanan saya sambil memberikan pembenaran pada diri sendiri, “Kalau saya masak sendiri, nanti tukang warung nasi kasihan, nggak ada yang beli.”

Jadi saya kunyah kunyah kunyah sambil membenarkan perasaan malas berbelanja dan memasak sendiri. Sesuatu yang sangat lajang. Mungkin saya akan menyurati Ayu Utami tentang ini. Tentang kemalasan parasit lajang umur 30 untuk berbelanja dan memasak. Padahal pinterest dan instagram penuh dengan resep makanan. Tapi sekali lagi saya bilang, kalau bukan saya atau lajang-lajang lain yang beli nasi, nanti tukang warung nasinya harus dagang apa lagi?

Setengah jalan menuju porsi setengah habis sudah hampir dicapai. Kalau sudah setengah, akan muncul pikiran lain lagi. Akan muncul pikiran mengenai kelajangan dan kesepian dan hal-hal berat lainnya. Kelajangan dalam arti apakah aku akan selamanya makan dari bungkusan kertas coklat seperti ini? Kapan saya akan makan dari tupperware? Saya menyebut tupperwar karena itu adalah tanda seseorang memiliki panci dan ricecooker sendiri. Kalau repot-repot memiliki panci dan ricecooker sendiri, kemungkinan besar orang itu punya dapur sendiri atau menuju ke arah itu. Kalau punya dapur, akan memiliki rumah sendiri atau menuju hal semacam itu. Jadi bagi saya, tupperware adalah tanda kemapanan. Oleh karena itu, sebagai seorang lajang, saya mulai berpikir untuk memuaskan diri dengan memiliki tupperware. Karena itu tupperware berarti mapan.

Tapi itu pikiran yang aneh.

Jadi saya mengenyahkan pikiran itu dan mengunyah-ngunyah lagi dan berpikir tentang makanan penutup manis-manis dan kesepian. Ya kesepian. Mungkin karena tidak ada teman mengobrol. Mungkin karena saya adalah junior dengan usia senior di kantor. Atau mungkin karena otak saya tidak bisa berhenti bertanya-tanya. Saya jadi memikirkan kesepian dan saya mengamati sekeliling saya. Kantor saya penuh dengan anak-anak muda dengan gaya yang nge-hip. Saya pakai kata “hip” seperti seseorang yang sudah tua. Saya hanya mau menekankan bahwa mereka lebih fresh secara usia dan penampilan. Saya sendiri sudah seperti barang vintage. Mau bilang barang museum, sudah barang tentu tidak tega karena takut jadi bulukan. Ya jadi seperti saya bilang, sekitar saya muda-muda, fresh dan memiliki banyak teman dan sudah tentu berada dalam usia mendekati pernikahan. Rata-rata semuanya sudah punya pacar. Suatu hari mereka akan menikah dan mereka akan punya pasangan dan anak. Mungkin mereka akan makan tupperware dan memakai barang-barang orang mapan lainnya.

Saya memikirkan itu sambil meningkatkan rasa kesepian saya sendiri.

Saya juga memikirkan, fase hidup seperti saya ini lumrah?

Sembari memikirkan hal seperti itu, kunyahan saya melambat dan makanan mulai menghambar. Saya jadi teringat dengan kawan saya yang baru menikah dan katanya sudah saatnya saya menjalani semuanya sendiri. Saya jadi memikirkan kawan saya yang satunya lagi, yang jadi dosen di seberang pulau. Setidaknya keluarga dia di sana, syukurlah untuk itu. Saya jadi memikirkan kawan-kawan menulis saya dan semua kawan-kawan lama saya. Juga keluarga saya. Mereka semua di Bandung. Dan saya di Jakarta, duduk di menghadap meja, makan siang sendiri di atas kertas bungkus coklat.

Terdengar menyedihkan.

Tapi saya tidak tahu apa ini fakor umur atau faktor kebiasaan, tapi kesepian saya sudah tidak terasa menusuk, tapi rasanya bergelombang seperti denyut nadi yang tenang. Saya pikir kalau saya memikirkan semuanya terlalu dalam, rasa makanan yang saya kunyah akan semakin berkurang. Padahal saya mengeluarkan Rp. 10.000 untuk sebungkus nasi ini. Satu hal yang barang tentu bisa saya lakukan adalah menikmatinya.

Jadi saya tidak memikirkan kesepian. Dia boleh ada, menghantui saya yang lajang dan tidak mapan. Dia boleh melakukan apapun yang dia mau. Tapi terlepas dari lajang dan tidak mapan, saya adalah seorang manusia. Tugas saya bukanlah merasakan bahagia ataupun sedih, tapi bergerak ke arah yang baik berdasarkan perasaan-perasaan itu. Dari gerakan itu, yang penting adalah berkarya, dan kalau kata Paulo Coelho, “menjalani legenda pribadi”.

Tak terasa sebungkus nasi saya habis, dan saya menggunakan sedikit waktu kerja untuk tulisan pribadi. Mungkin sesekali tidak masalah, karena proyek hari ini sudah saya selesaikan, jadi saya akan melakukan brainstorming sambil-sambilan. Dan saya sudah menebak bahwa saya akan menjadi sangat sibuk dengan pikiran-pikiran ide-ide dalam otak saya. Lalu saya akan pulang ketika matahari berwarna sedikit jingga.

Biasanya di saat seperti itu, saya akan kembali bertanya-tanya dan memikirkan hal-hal serius.

Saat saya 20 awal, saya bertanya, “Apa saya bahagia. Apa yang saya lakukan membuat saya bahagia?’

Tapi saya sekarang 20 akhir, hampir 30, pertanyaan saya beda. Sekarang saya bertanya, “Apa yang saya lakukan disenangi Tuhan? Apa saya sudah cukup menggali diri saya?”

Karena pada awal kerja, saya merasakan gesekan yang lumayan. Karena saya junior berusia senior, sedangkan yang lain senior berusia junior. Jadi sudah barang tentu ada hal yang tidak ideal. Sempat saya berpikir bahwa bekerja di Jakarta ini adalah ide yang buruk. Fisik saya melemah, dan saya sadari bahwa fisik saya sebenarnya lebih sesuai dengan cuaca Subang atau Bandung. Jadi untuk 1 bulan saya sakit-sakitan dan tidak bisa tidur. Dan saya berpikir betapa tidak bahagianya hidup serba tidak pas.

Tapi saya sadari bahwa, tidak ada hal yang benar-benar pas. Semuanya pasti sedikit nyenggol atau menggesek. Karena itu rasa marah, tidak puas, cemas, sedih, sepi, tidak akan pernah bisa dihindari. Perasaan-perasaan itu akan selalu ada meskipun menghindar ataupun berpindah tempat. Karena itu adalah hal-hal yang biasa saja dan wajar, juga sangat normal. Karena saya pernah baca bahwa sebenarnya kita ini bukan penghuni dunia, tapi penghuni surga. Sebenarnya kita semua adalah alien. Wajar saja kalau tidak pernah sepenuhnya nyaman. Malah mungkin ada hal yang baik dari itu. Beberapa orang menyebutnya pahala. Ada juga yang menyebutnya perkembangan kepribadian. Saya sendiri tidak terlalu memedulikan labelnya. Saya hanya berpikir realistis.

Hal yang real bagi saya adalah ternyata perasaan bahagia atau sedih sebenarnya tidak sepenting itu. Sebenarnya yang penting adalah gerakan saya berdasarkan perasaan-perasaan itu. Akankah saya menuju jalan yang terang atau jalan yang gelap. Hanya itu saja yang penting. Saya juga tidak tahu. Saya hanya berharap bahwa saya menuju jalan yang baik.

Oleh karenanya, mungkin di akhir hari ini, sambil berjalan kembali ke kamar mess, mungkin saya akan mengajukan pertanyaan itu lagi,

“Sudahkah apa yang saya lakukan disukai oleh Tuhan?”

Kadang saya takut memikirkan jawabannya.

-nyaw, menulis di waktu seputar makan siang-

Jari Tengah

Sebenarnya hari ini saya sedang dalam mood yang super cuek dan slengean. Sangat. Saking slengean, dengan cueknya saya memutuskan untuk tidak menulis hari ini. Karena saya bisa melakukan itu. Saya merasa senang. Saya merayakan slengean.

Lalu saya berpikir mengenai kalimat-kalimat pembuka penggugah perasaan. Yang terpikir hanya suasana hati saya yang slengean. Saya menikmati sekali menjadi slengean. Mungkin karena saya orangnya senang taat aturan dan senang mempertimbangkan perasaan orang. Itu kesenangan.

Tapi di sisi lain, sebenarnya saya slengean. Dan kadang saya tidak peduli dalam menyenangkan aturan dan orang. Benar-benar perempuan yang slengean. Bahkan mengenai kepentingan sendiri, saya bisa slengean sesekali.

Dan dalam mood slengean ini, saya melakukan hal-hal yang aneh. Saya mengedit cerpen dan mengirimkannya ke Kompas. Karena saya bisa melakukan hal itu. Lalu saya mengirim sebuah novlet ke Bentang. Meskipun saya sudah ditolak 3 kali. Karena saya bisa melakukan itu.

Dan sebagai puncak perayaan slengean. Saya menulis sebuah racauan yang tidak beralur dan tidak bertujuan. Hanya karena saya bisa. Temanya tentang mengacungkan jari tengah. Karena saya bisa. Tapi aku sedikit teringat Doraemon lalu merasa iba. Karena Doraemon tidak bisa. Dia kan tidak punya jari tengah!

Tapi ada yang tidak saya bisa ternyata. Saya tidak bisa berhenti membuat sebuah karya. Manusiawi sekali.

-nyaw, manusia-

***

Jari Tengah

 palm line resize

Perempun itu berjongkok. Kedua tangannya tertangkup dengan jari-jari menyilang dan saling menggamit. Rambutnya sebahu dan kusut. Matanya berbinar dan berkilat. Lalu senyumnya mengembang membentuk huruf “U” yang menyenangkan. Lalu bibirnya itu membuka, menunjukkan sederetan gigi yang tidak sepenuhnya rapi dan dipenuhi gingsul. Matanya menyipit ketika melakukan semua ini. Dan bersamaan dengan itulah, diangkatlah tangan kanannya. Lalu ia mengacung satu jari. Jari tengah. Dan ia berkata,

“Persetan dengan Anda.”

Kalimat yang tulus. Pendek, kasar dan tepat sasar. Kalimat yang berarti benar. Karena begitulah perasaan perempuan itu. Bukan kasar dan membuat senewen. Ia hanya berkata, “Persetan dengan Anda.” Dan itu serius. Perempuan itu secara serius merasa bahwa apa yang Anda inginkan darinya hanya sesuatu yang tidak penting. Seperti seseorang yang hendak berdoa, dan setan mengompori untuk mengurungkan niat, seseorang itu berkata,

“Persetan dengan Anda.”

Ya Anda dan setan itu sama. Diusir dan dienyahkan dengan kalimat 3 kata. Apa itu menyinggung? Apa itu menyakitkan? Haruskah kau menangis? Tapi perempuan itu tidak mengatakannya dengan nada yang keras atau jengah. Malah dengan senyum. Dengan memperlihatkan gingsul. Bahkan matanya menyipit senang. Tapi kebetulan saja yang keluar adalah kalimat 3 kata,

“Persetan dengan Anda.”

Karena memang benar. Persetan dengan pendapat Anda. Persetan dengan kebutuhan Anda. Persetan dengan keinginan Anda. Persetan dengan ide Anda. Persetan dengan pemikiran Anda. Persetan dengan ukuran kesopanan Anda. Persetan dengan bentuk fisik Anda. Persetan dengan sifat Anda. Persetan dengan sikap Anda. Persetan dengan perasaan Anda. Persetan dengan harapan Anda. Intinya,

“Persetan dengan Anda.”

Dan perempuan berambut kusut itu jujur. Dia tidak bohong. Malah itu adalah pendapatnya yang jujur. Mengenai apa yang berada di dalam hatinya pada detik ini. Bahwa semua yang dipikirkan oleh lawan bicaranya bukanlah urusannya. Otak orang itu kan tidak terpasang pada badannya. Sehingga wajar saja kalau ia berkata,

“Persetan dengan Anda.”

Dengan senyum mengembang bebas. Dengan gingsul manis menonjol. Dengan mata menyipit riang. Kenapa lelaki-lelaki itu perlu senewen? Kenapa perlu mengatur hal-hal yang dianggap tidak sopan? Kenapa perlu membenarkan sikap dan sifat? Kenapa menetapkan aturan? Kenapa menganggapnya tidak lembut? Kenapa menganggapnya sedikit tidak waras? Kenapa menganggapnya tidak senonoh? Kenapa dia perlu berlaku sesuai ukuran tertentu? Bukankah para lelaki itu dapat menjawab kembali,

“Persetan dengan Anda.”

Karena sebenarnya bukankah semua orang harusnya sibuk sendiri? Mengurus perut buncit sendiri? Menggali upil dalam hidung sendiri? Mencebok kotoran sendiri? Menggosok daki sendiri? Mencabuti kutil sendiri? Memenceti jerawati sendiri? Dan begitu sibuknya sendiri hingga hanya sempat mengeluarkan seloroh,

“Persetan dengan Anda.”

Lalu lengan akan terentang. Tangan terangkat dalam posisi menantang. Dan dikeluarkanlah sebuah jari. Jari yang agak kaku. Jari yang paling panjang. Jari yang menjadi penengah antara komitmen dan petunjuk. Jari tengah. Jari tengah teracung dengan gaya yang menantang dan jujur menantang. Isyarat itu mengatakan,

“Persetan dengan Anda.

Persetan dengan Anda.

Persetan dengan Anda.”

Bukan Purbaleunyi

Setengah harian kemarin aku menjadi pela-cur. Peladen Curhat. Siangnya aku meladeni girl talk. Sorenya aku meladeni boy talk. Aku sadar bahwa aku lumayan tidak becus dalam melacur (meladeni curhat), tapi dari ketidakbecusan itu muncul suatu kesadaran.Kesadaran mengenai jurangnya perempuan dan lelaki.

20140418_155244(Nomor boleh sama, tapi persepsi warna berbeda. Padahal pabriknya sama! Agak seperti perspektif perempuan dan lelaki! Aneh!)

Jurang perbedaan perempuan dan lelaki itu dalam sekali. Dan komunikasi adalah jembatannya. Tapi seperti semua jembatan tentunya tiang pancang pertama itu harus terpasung kuat. Bisa jadi kita memasang tiang dengan sedikit asal. Tidak telaten. Tapi pada saat-saat yang sangat istimewa, Benar-benar istimewa. Sangat spesial dan mungkin disebutkan sebagai “takdir”, kita akan menyadari goyahnya esensi diri sendiri dari tiang pancang yang entah mengapa selalu goyang. Jembatan antara “aku” dan si “dia” bergerak kiri kanan. Goyah. Padahal sudah yakin memasang tiang itu kuat-kuat.

Lalu kenapa jembatan itu goyah dan goyang?

Mungkin dan bisa jadi itu karena tanah tempat tiang itu dipancangkan goyang, gembur atau patah. Agak seperti jalan tol purbaleunyi, yang terus-terusan amblas. Ada yang mengatakan jalan tol itu dibangun di atas tanah tidak stabil, bahkan tepat di atas sebuah retakan. Harusnya jalan tol itu diakali dan didesain ulang. Tapi orang-orang bersikeras membangun jalan tol itu dengan rancangan yang familiar dan telah diketahui berhasil di mana-mana. Masalahnya daerah Purbaleunyi itu istimewa. Dia butuh desain tersendiri. Yang spesial. Yang hanya untuk dirinya.

Purbaleunyi sayangnya tidak bisa ngomong ya. Kalau dia bisa ngomong tentu dia akan mengatakan,

“Saya butuh sesuatu yang tidak biasa.”

“Saya butuh sesuatu yang kuat sekaligus cerdik.”

“Saya tidak sama dengan tanah-tanah yang lain.”

Tapi Purbaleunyi tidak bisa ngomong. Jadi dia pun dibolak-balik oleh orang-orang yang berusaha atau tidak sepenuhnya memahami dirinya. Andaikan Purbaleunyi bisa ngomong, tentu dia akan mendapatkan perlakuan yang semestinya. Yang selayaknya dia dapatkan. Karena dia pantas mendapatkan hal-hal yang dia inginkan.

Jadi kupikir, sedikit banyak kita perlu bersyukur karena kita ini bukan Purbaleunyi. Kita dapat menyatakan diri sendiri dengan sebebas-bebasnya. Kita dapat mengukur diri dari jembatan hubungan kita dengan manusia lain. Kita dapat meminta bantuan pada orang lain di saat diri sendiri bingung dengan esensi diri. Dan lebih asyik lagi, kita dapat membantu membantu orang lain dengan memberikan koneksi tertentu.

Itu semua keren. Itu semua keberuntungan. Itu semua “takdir”.

Suatu hubungan dapat mengeluarkan hal terbaik dan terburuk dalam diri. Yang manapun yang keluar tidak masalah. Asal pada saat salah satu darinya keluar, kita hadir menyambut perasaan itu. Perasaan itu disambut untuk menghindari korupsi hati. Seperti getir, tidak bisa bersyukur, ingin terburu-buru, dan lain sebagainya yang semacam itu.

Jadi berhubunganlah dengan orang yang akan membantumu hadir. Mungkin akan keluar yang terbaik. Mungkin akan keluar terburuk. Tapi rangkullah diri yang keluar itu. Rangkul dia dan berkomunikasilah dengannya. Berbicaralah panjang lebar, Lalu bertransformasilah. Terus menerus. Terus menerus. Hubungan yang baik itu dinamis dan mengajakmu untuk berkembang dan menemukan diri sendiri berkali-kali.

Itu yang kupercaya. Meskipun saat ini saya masih sendiri. Tapi itu yang kurasakan juga pada semua hubunganku, sekalipun hanya sebuah sapaan sederhana saat menolak memberi uang pada pengamen.

Terus menerus. Dinamis tidak pernah statis. Sebuah doa. Atau mungkin yang dikatakan orang lain sebagai “semesta yang bertasbih”.

Hadir adalah mengenali diri sebagai hamba Tuhan. Karena itu, apapun yang dilakukan akan bertolak pada kesadaran itu. Di dalamnya ada pahala, ada tobat, dan ada pertaruhan surga-neraka. Hadir adalah salah satu hal yang paling sulit dilakukan di dunia ini.

Itu yang kupercaya juga.

Tapi semua pergumulan aneh dalam menghadirkan diri layak dan pantas untuk dijalani. Dan merupakan suatu keberuntungan tersendiri. Di dalamnya tercermin hal yang disebut kasih Tuhan. Di dalam gulat sengit itu malah ada hal yang lembut! Aneh. Bipolar. Tapi benar.

Dan itu makanya pula Paulo Coelho bilang, “pilih perangmu”. Dalam kata lain pilihlah perang yang akan menghadirkan dirimu seutuhnya.

Lalu bertransformasilah. Terus menerus. Dinamis dan jangan pernah statis. Manusiawi tidak terobotisasi.

Jadi kukatakan selamat pada kalian yang bingung! Selamat pada kalian yang tidak harus berbuat apa! Selamat pada kalian yang sedang bergumul!

Bersiap-siaplah menghadapi hal-hal yang jauh lebih seru lagi. Dan ingatlah untuk menghadiri hari ini! Selalu hadiri hari ini, jam ini, menit ini, detik ini. Kalau tidak kau akan merugi. Dan juga ingat. Anda bukan Purbaleunyi yang diberi aturan dan rasionalisasi. Semua itu buatan manusia sendiri. Jadi buatlah aturan khas pribadi.

Biar keren. Biar asyik. Biar mantap.

-nyaw, bukan Purbaleunyi-