Setia, Banyak Cinta

Darimana kamu belajar kesetiaan? Dari orangtua? Dari orang-orang di sekitarmu? Apa ada yang pernah belajar dari buku? Kalau aku selain mempelajarinya dari orantuaku, aku juga mempelajarinya dari sebuah buku anak-anak yang tipis sekali. Bukunya berwarna ungu muda dan kalau tidak salah judulnya, “The Velvet Bunny”.

Ceritanya adalah tentang boneka kelinci beludru yang sangat sayang dengan majikannya. Iya selalu menemani majikannya, bahkan saat majikannya sakit cacar air. Tapi malang, setelah majikannya sembuh, dokternya berkata kalau semua benda yang pernah kontak dengan si majikan harus dibakar (termasuk si kelinci beludru). Saat si kelinci beludru mau dibakar, iya tidak sengaja tercecer di tengah jalan. Dingin, kesepian, cemas dan rindu pada majikannya terus-terusan melandanya. Tidak sadar kelinci beludru menangis. Air matanya menjadi sebuah bunga yang ditempati seorang peri. Peri itu menghapus air mata si kelinci beludru kemudian menyihirnya menjadi kelinci betulan agar ia punya teman-teman. Meskipun begitu, si kelinci beludru masih suka ngumpet-ngumpet menengok majikannya yang sekarang sudah punya kelinci beludru lain yang lebih bagus.

Buku anak-anak sederhana seperti itu menimbulkan pertanyaan, “Punyakah kita kesetiaan seperti si kelinci beludru?” dan “Pernahkah kita berusaha mencintai seperti kelinci beludru?” Yah, itu hanya dongeng, dunia nyata itu kejam dan akan mengenyahkanmu kalau perlu. Setiap hari, saat menyalakan TV, pasti ada berita tentang suami yang tidak setia, istri yang ditinggalkan, istri yang ingin membalas sakit hati, dan anak-anak yang ditelantarkan. Lalu dengan bangga kita berkata, “Dunia nyata itu kejam.”

Dunia nyata yang kejam, atau hati manusia yang menjadi kejam?

Testosteron

Testosteron adalah hormon yang sangat agresif. Belakangan ini baru aku merasakannya. Semuanya berawal dari memperhatikan candaan-candaan antar lelaki. Aku sangat terganggu dengan kalimat yang kurang lebih seperti ini, “Wah cakep nih cewek, dah digarap belon?” Terus temannya menjawab, “Ya lu liat sendiri lah.” Terus teman yang lain menimpali, “Emang ada apa tuh kalok diintip?”

dst

Candaan yang ringan seperti itu bisa menimbulkan bayangan sangat jelek di dalam otakku. Aku langsung membayangkan perempuan itu (yang dikomentari) mengangkangkan kaki, dengan dikelilingi semua laki-laki yang sedang mengobrol itu, menunjuk, menertawakan organ genitalnya.

Maaf yak kalau itu penjelasan yang terlalu frontal, tapi sejujurnya itulah yang muncul di dalam otakku. Aku tahu itu adalah bayangan bodoh dan hiperbola tapi sepertinya sudah bagian dari refleks. Celakanya, candaan yang kasar seperti itu makin sering muncul akhir-akhir ini.

Apa karena cuacanya? Karena panas sekali, hormon testosteronnya jadi tambah agresif? Emang ada hubungannya?

Jadi begini rasanya jadi laki-laki yang memaklumi perempuan yang marah-marah karena mau menstruasi. Cukup sulit juga berdamai dengan siklus-siklus hormon lawan jenis -_-.

Tiga Belas

Angka 13 adalah angka yang dianggap sial oleh orang-orang bule. Kalau aku tidak salah, kesialannya disebabkan angka itu tidak stabil karena melebihi angka 12 yang paling harmonis. Mungkin sial, mungkin tidak tapi yang jelas pada 1 tahun kemarin tepat pada hari ini, aku dan MM sepakat menjadi pasangan.

Kalau mengingat tanggal ini pada 1 tahun kemarin, kurasa itu adalah hari yang paling melelahkan secara emosional. Dua malam sebelumnya aku ditanya “mau ndaknya” di mobil *ketawa ngakak* lalu aku bilang akan memikirkannya. Sebenarnya aku tidak terlalu memikirkannya tapi aku meminta persetujuan ibu yang berkali-kali menyatakan tidak setuju. Aku mengangkat bahu. “Terlalu banyak negasi,” pikirku lalu membuat keputusan atas dasar perasaan dan pengetahuan *tentang pengetahuan apa itu adalah rahasia :p*.

Jadi begitulah. Pada 1 tahun yang lalu jam segini, aku sedang mengurusi tikus-tikusku. Aku membawakan makanan tikus, mematikan lampu ruang tikus, mengobrol dengan tikus-tikus, merecoki teman lain yang sedang TA, lalu mengambil oleh-oleh keripik pisang untuk MM dari teman kami berdua (janji bertemu MM itu jam 4 sore). Saat bertemu temanku yang membawa keripik pisang, hujan lumayan deras. Orang-orang berlalu-lalang dengan payung dan aku mengobrol dengan temanku yang menanyakan MM. Tepat pada saat itu aku menunjuk sebuah payung biru muda. Di bawahnya ada MM dan mantannya-yang-sangat-cantik-berambut-sunsilk-dan-berbadan-bohay-sengaja-ke-Bandung-untuk-minta-balikan. Kurasa saat itu semuanya menjadi gelap, aku berkenalan dengan mantannya-yang-sangat-cantik-berambut-sunsilk-dan-berbadan-bohay-sengaja-ke-Bandung-untuk-minta-balikan sambil ingin melemparkan box keripik pisang.

Temanku meneriaki MM untuk jangan lupa memakai “modnok” dan mengajakku pergi makan sambil menyanyikan lagu-lagu Bon Jovi dan ketakutan jangan sampai aku tiba-tiba menangis. Saat itu aku tidak mau menangis, tapi aku menjadi ketakutan. Kalau kau melihat orang yang bertanya “mau ndak” di dalam mobil, dan tiba-tiba 2 hari kemudian melihatnya bersama mantannya-yang-sangat-cantik-berambut-sunsilk-dan-berbadan-bohay-sengaja-ke-Bandung-untuk-minta-balikan, kau pasti bertanya-tanya “Apakah malam itu dia waras? Apakah dia mengkonsumsi alkohol atau narkoba sebelum bertanya?” dan bagaimana kalau dia bilang, “Sori Danz, malam itu awak khilaf, awak gila sesaat dan tentu saja awak pengen bersama cewek-yang-sangat-cantik-berambut-sunsilk-dan-berbadan-bohay-sengaja-ke-Bandung-untuk-minta-balikan.”

Hahahahahaha…. *ketawa depresi*

Jadi dengan otak yang gelap, aku melihat jam dan memutuskan untuk menghidupkan lampu ruang tikus. Aku juga bingung, kenapa aku malah memikirkan tikus-tikus pada saat mengerikan seperti itu? Tapi itu ternyata karena aku sangat beruntung. Saat mau menaiki lift, aku bertemu Riechan dan langsung menceritakan segalanya dengan berapi-api, sampai-sampai seorang laki-laki yang bersama kami di dalam lift menepi ke sudut dengan ketakutan. Riechan mendengarkan cerita-ceritaku dengan sabar (yang aku belakangan ketahui, ternyata juga dengan sangat ketakutan, aku tampak cukup kesal sampai bisa melempar seseorang dari lt 8 gedung PAU). Lalu sambil menontonku mengurusi tikus-tikus, Riechan menenangkan diriku dan tiba-tiba saja kami sudah berada di Labkal (saat itu Labkal masih terbuka untuk kunjungan).

Jam 4, aku bertemu MM dan bertanya secara basa-basi mengenai mantannya-yang-sangat-cantik-berambut-sunsilk-dan-berbadan-bohay-sengaja-ke-Bandung-untuk-minta-balikan. Lalu kami menuju ke jurusanku (karena Riechan terus-menerus mengintip) dan aku menyatakan persetujuan lalu kami berdua memutuskan untuk makan keripik pisang bersama Riechan lalu tak lama kemudian bergabung seorang teman kami dari jurusan mesin yang ikut menghabiskan keripik pisang.

Dan terhitung sejak hari itu, aku dan MM adalah pasangan. Karena jarang terlihat bersama, banyak orang yang tidak mengetahuinya. Mengenai orang-orang yang terlibat pada hari yang setahun kemarin…, yang kutahu mereka semua baik-baik saja. Riechan (seperti yang ditulis pada post sebelumnya) bekerja di bagian administrasi FT. Teman yang membawa keripik pisang sekarang bekerja di perusahaan IT di Bali. Si mantan-yang-sangat-cantik-berambut-sunsilk-dan-berbadan-bohay-sengaja-ke-Bandung-untuk-minta-balikan, aku berasumsi dia pasti masih bohay dan cantik. Teman yang dari jurusan mesin masih di jurusan mesin dan sedang sibuk mengejar TA.

Ada hal yang tetap, ada yang berubah tentu. Memang selalu begitu ya ^^.

Free School

Salah satu buku kesukaanku adalah Totto-chan. Bercerita tentang seorang anak yang tidak cocok dengan sistem pendidikan pada era itu, lalu terpaksa terus-menerus berpindah sekolah sampai pada akhirnya dia menemukan sekolah impiannya yang gedungnya terbuat dari bekas gerbong kereta. Selain Totto-chan, aku juga sangat menyukai komik “Cat Street” dan “The Wandering Class”. Ketiga bacaan kesukaanku itu punya kesamaan, semuanya bercerita tentang free school.

Free school tidak mengikuti sistem pendidikan yang lumrah. Terdapat banyak sekali waktu bebas untuk si anak mengeksplorasi bakatnya sendiri, dan tentu saja dengan bantuan guru. Free school tampaknya adalah konsep yang sangat menarik bagiku yang sering kebingungan. Kalau dulu sekolah di free school, tentu ada banyak waktu bagiku untuk mencoba berbagai hal dan menetapkan hal yang paling kusukai (bukannya alih-alih menetapkan hal yang paling aku kuasai).

Setelah ngopi-ngopi bareng temen-temen lama menyadarkanku bahwa sebenarnya aku telah mengikuti “free school ala labkal”. Labkal (Lab Kalibrasi) adalah salah satu lab di jurusan FT ITB yang secara sepihak dijadikan sekretariat situs rileks.comlabs.itb.ac.id *intranet aja*. Lab itu adalah tempat kerjanya Riechan, icon rileks. Semua orang sangat lengket pada Riechan. Kurasa itu adalah bakat terbesarnya, dia membuat orang lain merasa nyaman dengan sendirinya. Karena sangat nyaman, tidak ada yang pernah merasa malu melakukan hal-hal yang akan dianggap idiot di tempat lain *atau itu hanya aku saja?*.

Tapi seperti lirik dalam salah satu lagu Nelly Furtado, “All good things come to an end”, free school yang merupakan pelarianku pun secara berkala memudar seperti warna baju yang terlalu sering dijemur. Bos-bos jurusan FT mengetahui tentang labkal yang dijadikan tempat mangkal anak-anak yang hilang dan ditetapkan kalau hal itu sangat mengangganggu, kemudian Riechan ditarik ke bagian administrasi dan labkal pun ditinggalkan. Tentu saja mahasiswa-mahasiswa yang suka mengakses situs tersebut masih mengadakan kopdar-kopdar, tapi pertemuan-pertemuan semacam itu tidak bisa menggantikan kenyamanan sebuah free school. Karena terkadang, kau merasa tidak cocok dengan tempatmu berada sekarang, kau pun berdoa pada Tuhan, “Tuhan, aku merasa hilang dan bingung, tapi aku tidak mau memakai narkoba atau alkohol. Apa yang harus kulakukan?” Lalu ternyata seseorang mengenalkan atau secara tidak sengaja kau melihat sebuah free school yang menerimamu begitu saja tanpa banyak tanya…. Bukankah tempat seperti itu menyenangkan?

Tempat seperti ini, yang tidak mengikuti sistem dunia, apa akan ada lagi?

Tahi Lalat

“Aya masjid di masigit, meuni caang katingalna. Aya istri jangkung alit, karangan dina pipina. ” (Lirik lagu Sunda, Tokecang)

Aku tidak pernah bersekolah di satu tempat melebihi 3 tahun. Hanya belakangan ini saja, aku berkuliah di tempat yang sama selama hampir 5 tahun, selebihnya di tempat lain, semuanya 3 tahun. Bahkan di SD aku sudah pindah sekolah 2 kali. Karena berpindah-pindah seperti itu, aku jadi bertemu banyak anak-anak. Kau akan bertemu si pemimpin suku, yang menjadi komando permainan-permainan dan selalu menang. Ada juga si anak jahil yang selalu berusaha mencari perhatian. Lalu tentu saja ada prajurit-prajurit kecil, yang tidak berani melawan kata komandan. Tentu saja jangan lupakan si tertindas. Apa gunanya ada pemimpin bila tidak ada yang diinjak? Ya, itu si tertindas. Seorang anak yang dipilih untuk berada di luar kotak.

Saat baru kembali dari Amerika, anak yang mengajakku bermain balon-balonan untuk pertama kali adalah si anak di luar kotak. Dia cantik, tinggi, putih dan ada sebuah tahi lalat di pipinya. Tepat seperti gambaran perempuan cantik di lagu Tokecang. Pada saat itu aku takut dengannya, dan tidak berbicara karena aku tidak mengerti bahasanya pada saat itu. Lalu pada akhirnya, kami tidak pernah benar-benar bermain, tapi dia selalu tersenyum cantik dan bisa mengucapkan namaku lebih fasih dari guru-guruku waktu masih bersekolah di Amerika.

Pada saat itu aku tidak tahu bahwa dia adalah anak di luar kotak. Keesokan harinya baru aku mengetahuinya. Sebuah cekcok besar antara dua kubu para anak perempuan baru saja usai. Mereka berbaikan lalu memutuskan untuk berteman kembali sambil secara tidak sadar memilih anak lain yang dimusuhi. Ternyata yang dipilih adalah si anak tahi lalat dan teman sebangkunya, karena tampaknya mereka berdua memilih “netral” saat masa cekcok, hal itu malah membuat mereka terlempar dari lingkaran pergaulan. Aku sendiri tiba-tiba mendapatkan diri berteman erat dengan komandan yang terang-terangan sangat bermusuhan dengan anak tahi lalat. Meskipun demikian, aku masih bertukar senyum dari si anak tahi lalat. Diam-diam aku mengagumi kebaikan hatinya. Dia selalu tersenyum, dan saat teman sebangkunya mendapat aib (pup di celana karena kelamaan menahan), ia tetap baik hati dan tidak menertawakan temannya itu pada saat seluruh kelas ribut merongrong mengejek.

Terakhir kali aku melihatnya secara langsung adalah saat dia sedang dibonceng ayahnya (saat itu aku hampir SMU). Padahal kecepatan motornya cukup tinggi, tapi dia memanggil namaku sefasih saat baru bertemu. Sayang aku begitu kaget dan tidak dapat membalas panggilannya. Aku hanya memandang punggungnya dari kejauhan.

Kurasa keadaan si anak tahi lalat sekarang baik sekali. Entahlah dia masih berada di luar kotak atau tidak, yang jelas aku melihatnya di dalam sebuah kotak. Kotak TV, saluran lokal, sedang diwawancara pendapatnya tentang suatu hal yang bersifat “Bandung”. Ternyata dia menjadi gadis yang sangat cantik. Roman mukanya pun ceria dan bersih, tanpa ketinggalan tahi lalat khasnya.

Betul-betul seperti lagu Tokecang.

Kata-kata Bijak Nona Gagal

Aku sedang kecewa dan ketakutan. Hari Jumat kemarin, aku mengikuti open recruitment PT Dexa Medica dan dari 50 orang pun, aku bahkan tidak lolos psikotestnya. Setelah itu aku menjadi sedikit ciut dan ngeri apa jadinya masa depanku yang akan dipenuhi psikotes-psikotes lainnya saat melamar ke perusahaan-perusahaan besar. Aku sudah beberapa kali mengikuti psikotes, dan salah satu hasilnya yang aku ingat adalah hasil yang dikeluarkan saat SMU (ada juga test minat dan bakatnya). Hasilnya adalah otakku terlalu lemah untuk mengikuti pendidikan S1, ambil D3 saja. Tapi aku tidak mengambil D3, seperti semua orang ketahui. Orangtuaku cukup ngotot bahwa aku anak yang pintar tapi malasnya ndak ketulungan, mereka mendorongku untuk tetap berada di jalur menjadi sarjana. Dan ternyata aku bisa menjadi S1, tidak seperti yang dikatakan hasil test itu. Tapi setiap kali melihat atau mendengar “psikotes”, aku merasa idiot. Mungkin sebenarnya saat ini aku harusnya masuk SLB karena toh tidak pernah benar-benar cocok dengan institusi macam apapun. Saat SD di Amerika pun, pada jam-jam tertentu, aku ditempatkan di kelas khusus. Ibuku juga dipanggil oleh kepala sekolah saat SD di negara ini, karena aku terlalu pendiam. Mungkin sebenarnya aku cacat di daerah otak, tapi tidak ada yang pernah menemukan obatnya, seperti kasus Bapak Parkinson yang pernah aku ceritakan.

Banyak sekali kemungkinan yang hanya bisa dirangkum menjadi: “Jangan-jangan aku tidak normal?”

dan,

“Kalau aku tidak normal, bagaimana dengan uang? Uang itu untuk orang normal!”

lalu,

“Aku bahkan tidak normal dalam arti brillian, aku hanya tidak normal. Bagaimana nasib Bapak Parkinson? Siapa yang akan menemukan obat bapak itu?”

Pertanyaan-pertanyaan itu menghantuiku bahkan saat aku makan, minum, dan tidur. Ternyata aku ingin sekali menjadi normal. Diakui bisa bekerja untuk seseorang, atau mungkin menjadi pemimpin beberapa orang. Mendapat slip gaji pertama dan memberinya pada ibu. Pulang, masak dan makan bersama keluarga. Marah karena anakku malas belajar. Memijat pundak suami yang lelah. Membaca sebelum tidur.

Tapi dengan hasil psikotest dan kenyataan yang berbeda, apa yang ingin dia katakan? Dia ingin katakan aku tidak bisa dikelaskan oleh psikotest itu. Bahwa aku terlalu minoritas untuk dikelaskan. Bahwa aku tidak berada dalam range “normal”. Apakah akan ada psikotest dari suatu perusahaan yang mencari orang yang tidak normal? Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak bisa melakukan apapun kecuali menjadi diri sendiri.

Tadi aku bercerita pada MM dan dia bilang, “Emang mental bos kek gitu?” (Sebelumnya aku bercanda, “Mungkin mental gwa terlalu bos.”). Dan dia benar, emang sangat tidak leader, tapi lebih follower. Tapi follower siapa? I have no leader, sama seperti halnya aku memilih golput. Temanku pernah berkata padaku, “be a leader” tapi lalu aku menjadi amonajaku dan menanggapi, “jika perlu”.

Kupikir, pasti enak sekali menjadi normal. Orang normal itu bekerja pada perusahaan yang sudah ada, dan mereka mendapat uang. Lalu bagaimana dengan orang-orang seperti aku? Pilihan kami hanya sedikit, menjadi sangat berbeda dan sukses atau  menjadi dilupakan dan bunuh diri. Kalau kau dianggap brillian, karya-karyamu dikenang, tapi kalau kau hanya “aneh”, kau akan cukup beruntung kalau jasadmu dimakamkan seseorang.

Mungkin itu tidak terlalu buruk bagi orang yang mendapatkan normal itu membosankan.

Yang aku perlukan hanya keberanian. Bahwa doa-doaku dijawab, dan aku tidak akan ditinggalkan kelaparan di bawah kolong jembatan karena tidak mendapat uang.

Pertanyaannya tetap, apa yang seharusnya aku lakukan?

Nona V dan B

Sambil minum sari asam jawa, aku menuliskan post ini. Sebuah basa-basi tentang tamu bulanan perempuan. Aku sebetulnya tidak sering bermasalah dengan menstruasi, hanya saat aku baru dapat menstruasi saja yang agak mengagetkan *itu loh, yang bocor sampai ada genangan darah* lalu selebihnya biasa saja. Pegal sedikit, stretch mark sedikit, jerawat cukup banyak, yah… hanya hal-hal yang biasa. Untuk waktu yang lama aku tidak membutuhkan minuman-minuman pelancar menstruasi hingga usiaku 20an. Seperti yang aku ceritakan di awal, aku sedang meminum asam jawa yang lumayan memperlancar menstruasi. Sedang mempertimbangkan untuk mencoba K*r*nt*, tapi bimbang karena tidak suka ide kunyit sebagai minuman @_@.

Hari ini, rasa sakit karena si tamu bulanan benar-benar menggila. Aku sampai berjalan dengan terbungkuk-bungkuk. Mengherankan betapa aku bisa merasa badanku terlalu sempit ketika aku sangat besar. Pinggul rasanya akan meledak, dan memakai bra adalah siksaan berat. Yang paling gawat adalah aku sudah berjanji untuk mengantarkan titipan temanku tadi siang, dan sialnya temanku tidak segera datang. Saat menunggu, rasanya aku sudah mau blackout, tapi berusaha mengalihkan perhatian dengan memandang kaki panjang SPG Coca Cola. Aku bertanya-tanya apa mereka juga sakit sekali kalau menstruasi, dan kalau ternyata sama-sama sakit, kenapa aku tidak punya kaki panjang, soalnya keliatannya bagus sekali seperti jerapah. Anggun.

Ternyata mengalihkan perhatian ke kaki-kaki SPG itu tidak terlalu membantu, dan aku masih merasa sakit luar biasa, dan mulai agak demam. Udara tadi panas sekali, dan rasanya cukup sesak memakai jeans dan bra di saat menstruasi, tapi punggung menjadi dingin sekali karena keringat dingin. Aku cukup beruntung karena tiba-tiba aku diajak ngobrol oleh bapak-bapak yang membawa sekantong besar gorengan dan Coca Cola gratisan. Dia berbasa-basi, dan aku mulai tidak terlalu sakit lagi. Tak lama kemudian temanku datang, dan aku bisa pulang segera. Saat keluar dari mobil sesampai di rumah, rasanya ingin menggelinding saja, dan aku mulai terbungkuk-bungkuk lagi.

Akhirnya aku menyerah dan minum obat penghilang sakit 😦 . Agak kecewa dengan diri sendiri karena tidak bisa menahan sakit segitu aja, padahal kalau melahirkan ribuan kali lebih sakit dari cerita di atas. Aku harus lebih kuat dan fit lagi biar bisa jadi perempuan betulan. Yosh! *semangat membara @_@*