Hal Yang Disukai Saat Ini

Dulu, lari itu hal yang gak asyik banget untuk dilakukan. Aku benci berkeringat. Tapi saat ini aku bersahabat erat dengan Mr. Threadmill. Dia membuatku merasa segar dan membuatku tetap mendorong diri sendiri. Aku berharap dengan menaiki Mr. Threadmill aku akan lebih pantas memakai baju yang terinspirasi menwear. Aku juga berharap kesegaran berolahraga bisa membantuku untuk meningkatkan daya ingat (terutama kosa kata tes GRE yang entah kenapa tidak dihapuskan saja dari kamus).

Right Now

Dan satu lagi harapan,
Aku berharap dengan lelahnya berolahraga akan berhenti membuatku mengomel tentang hal-hal menyebalkan yang terjadi saat ini yaitu: gonjang-ganjing nilai tukar dollar, gonjang-ganjing Suriah, penembakan di Kenya, pengadaan mobil “murah”, dsb. Juga diharapkan lelahnya berolahraga bisa membersihkan pikiran dari kekesalan-kekesalan harian lainnya.

-nyaw, terlihat berlari di atas threadmill padahal sebenarnya dalam otak sedang mengacungkan jari tengah terhadap kekacauan dunia-

Advertisements

Seputar tentang Pembakaran

Sedang memanjakan diri dengan leyeh-leyeh hari ini sambil iseng-iseng buka twitter. Kebetulan salah satu teman saat kuliah S1*) mengangkat topik mengenai “burn out”.

Karena teman aku itu sedang berada di Belanda, dia menyatakan betapa menariknya bahwa seorang karyawan di negara tersebut dapat mendapatkan surat sakit untuk “burn out” dan akan dapat izin untuk cuit. Burn out adalah kondisi di mana seseorang sangat lelah karena bekerja sehingga mempengaruhi sikapnya secara sosial.

Merasa familiar dengan topik burnout, aku dan teman aku pun menanggapi tweet-tweet tentang burn out dengan antusias **)

Kalau aku boleh mengaku dengan penuh rasa malu, aku adalah orang yang mudah kena “burn out”. Buat aku itu adalah hal yang sangat memalukan karena itu menandakan bahwa aku bukan pekerja keras. Tapi percayalah, aku pernah berbagai hal untuk menambah kerentanan terhadap burn out. Saking pengennya tidak cepat burn out, aku pernah mencoba untuk berolahraga secara regular karena katanya orang yang atletis tidak mudah merasa lelah.

Tapi tetap saja, kalau capek ya capek aja.

Hakakakaka 😆

Lalu kurasa sih begini. Karena otakku sangat berisik, aku benci sekali ada yang mengganggu saat-saat otak berputar. Memang aku mengakui dengan penuh perasaan bersalah, bahwa aku tidak selalu memikirkan hal yang berhubungan dengan pekerjaan, tapi itu bisa dihitung refreshing lah ya….

Nah mari kembali ke “otak yang berputar”

Jadi aku ini adalah orang yang sangat benci hal-hal yang mengganggu otak yang berputar, dan tidak bisa dipungkiri hal-hal itu adalah hal-hal “managerial”. Apapun yang berhubungan dengan aturan, itu mencekik leher buatku. Saking parahnya, aku bahkan bisa terganggu dengan “seragam perusahaan” atau “bel kerja” atau “jam loyalitas”. Aku sangat membenci aturan dan hal-hal “managerial”. Jadi kalau aku bertemu dengan hal-hal menyebalkan tersebut, aku akan memendam perasaan kesal dan berusaha untuk cuek. Aku berusaha untuk lebih fokus lagi pada ide-ide yang ingin kuterapkan melalui pekerjaanku.

Tapi…

Ada saatnya badan itu memang lelah secara fisik, sehingga ketahanan terhadapa hal-hal yang tidak disukai itu berubah menjadi bom yang meledak.

Pada pekerjaan yang pertamaku, bom itu berubah menjadi penyakit tiphus yang sepertinya menyuruhku bunuh diri. Aku tidak masuk kerja selama 1 bulan. Lalu setelah aku masuk kerja kembali setelah sakit berat tersebut, aku mulai menyadari tanda-tanda aku akan burn out, tapi aku berusaha menahannya. Akhir-akhirnya tetap keluar karena bom kedua meledak akibat merasa karier dihambat oleh kewajiban yang sebenarnya masih dapat dijalankan orang lain (apalagi orang lain itu lulusan S2).

Pada pekerjaan kedua (yang sekarang dijalani), aku sedang saat ini banget burn out. Pada pekerjaan ini, aku dipercayakan dengan posisi yang lebih tinggi, yaitu menjadi penanggung jawab teknis pabrik. Tapi aku merasa bahwa pekerjaan itu menghambat pekerjaan yang sudah seperti menyatu dengan badan dan jiwaku (bahasa lebaynya mulai…). Aku pun memendam perasaan kesal itu sampai suatu hari wakil direktur meneleponku untuk “memperbaiki sistem komunikasi antara purchasing dan PPIC”. Karena aku merasa tidak adil hal seperti itu hanya dibebankan pada 1 orang, aku menendang meja sampai patah dan memutuskan untuk mengistirahatkan diri.

Sampai saat ini, aku juga menyimpan tanda tanya antara apakah itu burn out atau memang aku adalah orang dengan temperamen buruk.

Yang pasti, aku tahu hal yang aku sukai, ingin lakukan setiap hari, dan langsung ingin kerjakan di pagi hari. Hal apapun yang menghalangiku dari mengerjakan hal tersebut akan membuatku kesal.

Seperti orang yang sedang tidur, bukankah menjengkelkan ketika seseorang menyuruhmu terbangun sebentar-sebentar padahal sudah mencapai kondisi REM?

Itulah hal managerial bagiku sering kali.

–> BTW, hal yang menjadi obsesiku dan tidak bisa berhenti kulakukan adalah memformulasi kosmetika. Itu adalah hal yang sangat kucintai. Aku mungkin bahkan tidak akan pernah punya pabrik kosmetika sendiri saking tidak mau terganggunya dengan hal lain selain memformulasi :p

-nyaw, hanya sangat mencintai pekerjaannya-

*) twitter teman aku itu @RiezaApr, ikuti tweetnya untuk info yang aneh-menarik

**) twitter aku @danzenyaw, twitter teman aku @kalmanwijaya

Perlu Penjelasan

Ada beberapa hal yang dapat dibiarkan begitu saja dan ada hal yang memerlukan penjelasan. Salah satu hal yang memerlukan penjelasan adalah mengenai “Pernyataan kepada Ketua KM ITB”.

Jujur, tidak mengerti kenapa pemberian celana dalam dan pembalut kepada Presiden KM ITB dianggap sebagai pernyataan bahwa mahasiswa ITB itu banci. Gesture tersebut seolah-olah menyatakan bahwa menjadi perempuan/ingin menjadi perempuan itu hina. Gesture tersebut seolah-olah menyatakan perempuan itu pengecut dan tidak punya nyali. Padahal yang namanya perempuan itu, yang mereka simbolkan sebagai lambang “pengecut”, tanpa berpikir, tanpa banyak timbang, membawa seorang nyawa dalam rahimnya dan mempertaruhkan nyawa sendiri saat melahirkannya.

Apa mempertaruhkan nyawa dianggap masih kurang berani?

Kalau Sdr Sondang yang melakukan aksi bakar diri dianggap sebagai pahlawan, kenapa tidak menganggap perempuan-perempuan yang mempertaruhkan nyawanya tersebut sebagai pahlawan juga?

Apa yang begitu berbeda?

Sebenarnya apa penjelasan di balik gesture “celana dalam dan pembalut”?

Mungkin saya yang salah tangkap. Mungkin sebagai perempuan saya terlalu sensitif. Tapi apakah ini adalah gesture yang akan dibenarkan untuk dipakai seterusnya kepada generasi selanjutnya?

Saya rasa itu adalah hal yang tidak pantas.

Cukup banyak perbuatan yang dapat dijadikan sindiran kepada orang lain, tanpa harus merendahkan orang lain.

-nyaw-

PS:

Emang apa salahnya dengan banci?

–> Tidak habis pikir dengan merendahkan orang lain secara konstan dan kontinyu.

Cryptonite Word

Akhir-akhir ini suka nonton The Glee Project. Gak suka-suka banget dengan konsepnya, karena keknya gak konsisten buat perkembangan individual pesertanya. Tapi ada satu episode yang menarik, yaitu para peserta harus menunjukkan “kerapuhan dirinya” dan disuruh mengeksresikannya dengan berjalan-jalan melewati pertokoan super ramai dengan memakai plang kata yang paling menyakitkan untuk si peserta tersebut.

Ada yang pilih GAY *tentu saja*

Ada yang pilih FAT *juga tentu saja*

Ada juga yang pilih ANOREXIC *ya ya*

Tapi menurutku yang paling aneh adalah, salah satu peserta favoritku, Cameron, memilih MISUNDERSTOOD yang menurut gwa adalah pilihan yang, “Ayolah dude… lu kan sempurna”. Dan memang, para juri bahkan Cameron sendiri merasa terlalu sempurna :lol:. Karena terlalu sempurna malah jadi kekurangan karena jadi tidak bisa menunjukkan kerapuhan apapun.

Itu benar sekali. Menurut penerawangan nyaw-ku… (yak mulai gw akan nyerocos kek nenek-nenek) orang yang sempurna itu awalnya disukai, tapi lama kelamaan malah jd dibenci. Soalnya semua orang punya sisi narsistik, dan kadang-kadang inginnya punya “kesamaan” dengan siapapun itu yang di hadapannya. Jadi, kalau tidak punya kekurangan, merasa puas sekali dengan hidup sendiri, malah jadi sial.

Hidup memang serba salah.

Jadi pada akhirnya kurasa harusnya Cameron memilih kata COLD. Karena orang yang tidak punya kesamaan dengan orang awam, terlalu unik, terlalu keren, terlalu puas, terasa dingin dan tidak menarik.

Sedangkan untuk gwa sendiri, gwa merasa gwa akan memilih kata yang mirip dengan kata yang dipilih oleh Samuel. Kata yang dimaksud adalah REJECTED. Tapi gwa lebih sreg dengan TMS (Tidak Memenuhi Syarat). Karena syarat itu menyebalkan dan subyektif. Juga karena kadang gwa sendiri suka ngasih syarat, jadi bisa disebut kata itu super menyakitkan karena datangnya dari berbagai arah. Dan juga karena kata itu seperti berasal dari dongeng, yaitu semua orang ingin dicintai “tanpa syarat” padahal yang seperti itu tidak ada.

-nyaw, TMS-

Mistake

Ibu: kesalahan Danilah dulu tuh sama si MM

*dz pokerface mode on*

Looks like my mother have bigger regrets than myself.

Maybe she is ashame of giving birth to a girl who make stupid mistakes like picking on men that don’t love her back and can’t appeal sexually resulting to be unmarried.

Let that be her problem.

-I am privileged to do any mistake I want. I know consequences exists.-

How that came up?

“Makanya jangan galak-galak, gak ada yang nengok.”

Hah? How that came up again. You didn’t show up and you blame me.

Am I suppose to receive feedback now Oh mighty God (????)

My heart is very very small 😦 …

-nyaw, dan anehnya tensi tetap sama. I get too much mockery these days >.< argh make it stop stop stop! I’m sick literally!-

Letter to Remember

Dear Nyaw,

Remember to not let anyone that need an invitation/introduction to do greatness to enter your heart.

Let them have the only greatest love that they could only think of.

Themselves.

May all you scumbags and soulmate scumbags do your scum else where.

May God protect us from the untrue.

Regards

-nyaw, very mad and furious, but not at all fast :p-