Telanjang Hari Ini

Saya membaca sebuah quote dari Tohari. Katanya seorang penulis harus memiliki sesuatu yang tidak dia setujui dan hal itu dijadikan konflik yang dia pelajari lewat tulisan. Meskipun saya penulis yang masih abal-abal, saya sepakat dengan konsep ini. Dan satu hal yang tidak bisa saya terima sampai saat ini adalah konsep mengenai penyamaan pengungkapan perasaan dengan kevulgaran. Bukankah itu bertentangan dengan hasil-hasil tes yang menyatakan bahwa banyaknya orang Indonesia ekstrovert? Tapi begitu diajak mengungkap hal-hal dengan jujur kok malah merasa tersinggung dan terganggu? Percuma saja menjadi ekstrovert kalau yang diungkap hanyalah kebohangan sampah.

Dan jujur saja itu adalah konflik dalam hati saya.

Dan konflik itu melanjut kepada kekesalan saya dalam restriksi mengungkap diri.

Saya adalah seseorang yang senang sekali tulisan. Kata. Itu adalah sesuatu yang “saya”. Dulu saking saya sukanya dengan kata, saya mencatat kata-kata asing yang terdengar indah. Hanya karena itu menarik. Jadi saya sebenarnya sangat mencintai kata. Dan bersyukur serta kagum pada kekuatan di dalam merangkai kata. Karena emosi-emosi yang tadinya tidak bernama jadi bertuan begitu dikasih kata dan dirangkai kalimat. Tapi saya kecewa pada budaya negara Indonesia. Di mana mengungkap diri dengan jujur terbuka itu terkesan vulgar dan aib. Berkali-kali saya ditegur oleh orang-orang terdekat karena saya mengungkap diri terlalu apa adanya. Saya tahu mereka baik. Mereka tidak ingin saya diremehkan dan terluka. Tapi saya tidak dapat menerima kenyataan bahwa mengungkap perasaan itu benar-benar direstriksi sampai ke bentuk tulisan. Padahal kalau menjadi sebuah karya, kupikir semuanya indah. Ya mengganggu adalah kalau itu memaksakan kepercayaan. Nah itu sih agak ganggu.

Tapi saya kan gak maksa? Saya hanya menyatakan saja. Kadang saya tanya malah, kok saya merasa gitu. Kadang saya memberi saran. Kenapa saya dianggap vulgar dan berdosa?

Saya pikir ini adalah konflik batin hati saya. Hingga saya tidak dapat berhenti menulis dan merangkai kata. Dan mungkin itu akan mengganggu. Tapi semakin orang terganggu oleh tulisan saya, makin besar konflik dalam hati saya. dan semaki deras mengucur kata dan rangkaian kalimat.

Jadi saya masih miris dengan budaya tertutup negara ini.

Dan di luar dugaan, itu malah menjadikan saya tidak bisa berhenti menulis.

Di luar ekspektasi orang-orang yang berpendapat saya terlalu terbuka dan vulgar.

Jadi saya membuat cerita. Mengenai pergulatan saya dengan keterbukaan dan kevulgaran. Seperti apa rasanya menjadi saya yang telanjang dan memandang orang-orang yang menutup kelambunya dengan rapat dan tertutup. Alias di dalam cerita ini aku mengungkapan diri dengan telanjang. Dan maafkan teknik dan EYD. Seperti biasa, abaikan dan biarkan semua mengalir.

Seperti angin semilir.

-nyaw, telanjang tanpa kelambu-

***

Telanjang Hari ini

Sand Gods LM 08

Kota Kelambu Tertutup hari ini dibuat geger. Seorang laki-laki berjalan-jalan telanjang mengelilingi kota setiap hari. Sangat vulgar! Sangat tidak senonoh! Sangat tidak tahu adat! Padahal laki-laki itu adalah anak Pak Walikota Kelambu Tertutup. Apa laki-laki itu tidak tahu adat istiadat kota itu? Seorang warga baik diharuskan untuk selalu menutup tubuh dengan kelambu. Menutupi segala-galanya agar tidak ada yang dapat terlihat.

Awalnya memang kelambu itu hanya untuk menutupi dada hingga sedikit di atas lutut. Tapi dirasakan lutut adalah semacam hal vulgar. Orang-orang yang sering bersimpuh merasa malu pada memar pada bagian ini. Jadi kelambu itu memanjang hingga semata kaki. Tapi masa sih kaki yang kapalan karena mencari pengalaman keliling dunia ditutupi? Ya sudah kelambu itu memanjang sedikit lagi hingga melewati kaki. Lalu masalah panjang kelambu tidak hanya mencakup lutut dan kaki, bahu dan kawan-kawan pun menjadi masalah. Tadinya bahu masih boleh terlihat. Itu sah saja. Tapi kemudian seorang menunjuk bekas panggul beban pada bahu seseorang. Diejek-ejek hingga orang itu hingga tertunduk malu. Jadi lagi-lagi memanjanglah kelambu. Untuk menutupi malu karena memanggul pada bahu. Dan satu per satu orang-orang Kelambu Tertutup mengikuti semuanya itu. Dan kelambu kemudian dipanjangkan hingga ke ujung jari. Karena melihat otot-otot pada para pekerja terasa begitu vulgar dan dipenuhi aib. Jadi dipanjangkanlah kelambu. Agar tak seorang pun melihat bekas-bekas usaha kerja keras para pekerja. Tapi kelambu tidak hanya ingin memanjang sampai situ. Kelambu memanjang hingga menutupi seluruh kepala. Karena kemolekan para pemuda dan pemudi membuat iri orang-orang yang telah renta. Jadi dikatakanlah bahwa usia adalah vulgar dan lagi-lagi aib. Jadi semuanya menutupi kelambu hingga ke kepala. Agar tidak seorang pun melihat indahnya garis wajah seseorang. Terutama yang muda.

Jadi begitulah Kota Kelambu Tertutup. Kota yang dipenuhi oleh orang-orang yang berjalan-jalan dengan kain panjang dari ujung kepala hingga ujung kaki. Hingga sering mereka sendiri sulit melihat dan sulit melangkah. Karena terseok belitan kain. Tidak jarang seorang warga celaka sendiri karena terperosok lubang tidak terlihat. Rumah sakit pun telah menetapkan terperosok ke dalam sebagai epidemi. Dan mereka tidak bisa melakukan apapun. Karena dokter-dokter mereka sendiri tertutup kelambu. Mereka tidak dapat melihat luka-luka orang yang terperosok lubang itu. Jadi pada umumnya mereka yang terperosok lubang karena matanya tertutup kelambu akan mati. Ya sudah saja seperti itu. Mau apa lagi? Lukanya sendiri tidak terlihat. Dan tidak semua luka menutup sendiri. Jadi ya sudah saja mati. Karena terperosok ke dalam lubang sendiri. Syukur bila ada yang melarikan ke rumah sakit. Ini sih kadang masuk saja ke dalam lubang dan tidak keluar lagi. Ya sudah. Sekalian lubang perosok menjadi liang kubur. Kebetulan mereka telah memakai kelambu. Sudah sedikit mirip mayat.

Dan bukan saja terperosok ke dalam lubang yang menjadi masalah. Masalah pendengaran pun tidak jarang terjadi. Karena kelambu itu sampai menutup gendang telinga. Karena kau tahu? Telinga dianggap bagian tubuh yang sangat duper vulgar dan aib. Karena bentuknya yang melingkar dan melekuk-lekuk dan juga berlubang. Ikh. Itu kan terlalu berlebihan. Bentuk yang terlalu vulgar. Mengingatkan pada yang lain. Jadi biasanya telinga ditutupi dengan kelambu lebih. Agar tidak mencuat dari belakang kelambu. Atau kadang lubang telinga itu disumpal. Kalau sudah disumpal kelamaan, suka timbul infeksi. Jadilah telinga itu sedikit congek, dan banyak kehilangan dengar. Jadi jangan heran kalau melihat warga Kota Kelambu Tertutup saling berteriak. Karena mereka sebenarnya kesulitan saling mendengar. Dan ini menjadi masalah. Karena terkadang terjadi miskomunikasi. Seperti seharusnya seseorang ingin membeli tempe, malah diberi mete. Kalau sudah begitu mereka akan saling meneriaki sengit. Dan tempe maupun mete tidak jadi dibeli. Karena sudah kadung kesal sendiri. Tapi itu sih sebenarnya bukan masalah yang hebat akibat kurang dengar. Pernah sekali waktu seorang bawahan walikota harusnya menutup katup bendungan. Tapi bawahan itu salah dengar “Tutup katup bendungan” sebagai “Turut keruk gundukan”. Jadi bawahan itu malah menyetujui proyek penghancuran gunung hutan sebelah timur kota dan lupa menutup katup bendungan kota. Akhirnya kota sempat kena banjir besar dari kebocoran bendungan. Dan itu semua diperparah dengan hujan yang tidak tertahan karena hilangnya gunung hutan sebelah barat.

Sebenarnya sungguh kacau masalah-masalah yang ditimbulkan oleh kelambu yang tertutup. Tapi orang-orang Kelambu Tertutup sudah keburu buta dan tuli. Mereka belagak tidak ada masalah. Malah mereka sering pamer panjang dan tebal kelambu. Semakin panjang semakin kaya raya orang itu. Semakin tebal kelambu, semakin suci hati orang itu. Pokoknya pekara menutup kelambu menjadi lebih penting ketimbang masalah-masalah yang dapat menghilangkan nyawa. Orang lebih khawatir kalau kelambu mereka kurang rapat atau ketat. Karena mereka tidak ingin vulgar. Dan terutama mereka tidak ingin aib mereka terlihat. Wajah yang menarik. Bahu yang bidang. Otot yang menonjol. Lutut yang banyak bersimpuh. Kaki yang kapalan. Itu semua vulgar. Itu semua aib. Jangan seorang pun melihat. Jangan seorang pun membicarakan. Tutup kelambu itu rapat-rapat. Karena orang-orang Kota Kelambu Tertutup tahu adat. Tahu aturan. Tahu malu.

Jadi betapa mengejutkannya ketika seorang laki-laki berjalan-jalan keliling kota dengan telanjang tanpa kelambu. Tidak tahu aturan! Sudah edan laki-laki itu pasti! Mana lagi dia adalah anak Pak Walikota yang terhormat. Ah betapa malunya bapak itu memiliki anak seperti itu. Maka dipanggilkan berbagai orang untuk menasehati anak edannya itu. Pemuka agama, guru, konselor, tukang totok, dokter, herbalist. Semua dipanggil oleh Pak Walikota untuk mencari salah dalam anaknya yang tiba-tiba memutuskan telanjang. Dan semuanya gagal dalam menyembuhkan edan dalam anak laki-laki itu. Saat laki-laki itu ditanya mengapa ia memutuskan telanjang dan membuka kelambu, ia menjawab dengan santai,

“Saya ingin jatuh cinta. Kalau buta dan tuli, saya tidak akan bertemu dengan cinta. Kalau saya tidak memperlihatkan borok, tak seorang pun akan tulus mencinta. Jadi saya membuka kelambu. Saya perlihatkan segalanya yang ada pada diri saya. Saya juga melihat dan mendengar semua yang berada di sekitar saya. Dan itu hebat sekali. Karena saya yakin saya akan jatuh cinta. Saya pasti jatuh cinta. Karena saya terbuka. Meskipun kalian sekalian tertutup, saya terbuka. Dan kalian akan mencintai saya.”

Para pemuka agama, guru, konselor, tukang totok, dokter, dan herbalis semua mendengus mendengar jawaban si laki-laki anak Pak Walikota. Dalam hati mereka sudah tidak berurusan dengan seorang edan semacam ini. Mana mungkin ada orang yang akan jatuh cinta pada seseorang karena melihat borok? Itu kan vulgar. Itu kan aib. Itu kan menjijikkkan. Ya ampun harusnya laki-laki itu tahu donk gunanya kelambu. Kelambu itu justru digunakan untuk menutupi kenyataan yang menempel pada tubuh. Bodohnya laki-laki yang memutuskan untuk membuka kelambu. Kan jadi terlihat semua borok dan luka pada tubuhnya. Memalukan sekali. Pasti perasaan Pak Walikot tidak karuan. Malu dan tidak terima anaknya yang edan. Tapi itu bukan urusan mereka-mereka yang ahli. Untungnya begitu. Dan kalaupun itu urusan mereka, untung saja Pak Walikota menutup kelambu dengan paling rapat. Jadi perasaannya tidak terpancar pada wajahnya. Bagus sekali bukan. Tidak mengetahui perasaan Pak Walikota. Betapa tidak nyamannya seandainya perasaan itu diketahui. Perasaan kan aib. Perasaan kan vulgar. Jangan sampai terlihat. Jangan sampai ada yang tahu. Tutup kelambu itu rapat-rapat. Hingga seorang pun tahu. Siapa yang di balik kelambu.

Tapi laki-laki itu malah membuka kelambu. Agar ia terlihat. Agar ia terdengar. Tapi yang lebih ngeri lagi, laki-laki itu ingin melihat. Dan ia juga mendengar. Sedangkan mereka semua buta dan tuli. Akan sungguh gawat seandainya si telanjang melihat dan mendengar kevulgaran diri mereka yang tersembul lewat kelambu. Jadi para warga Kota Tertutup menutup kelambu mereka dengan lebih rapat. Karena mereka tidak ingin melihat si laki-laki berjalan telanjang. Dan terutama lagi karena mereka takut pada si laki-laki telanjang. Takut terlihat dan terdengar kevulgaran mereka di belakang kelambu tertutup. Takut laki-laki itu keburu jeli melihat siapa-siapa yang berada di balik kelambu.

Dan laki-laki itu sadar dengan perubahan kerapatan, panjang dan tebal kelambu. Ia bertanya-tanya mengapa di saat ia telanjang, orang-orang malah melakukan hal sebaliknya. Ia tidak mengira itu karena mereka takut padanya. Dipikirnya itu adalah suatu trend yang dipopulerkan seorang artis entah mana lagi. Jadi ia berjalan dengan tidak acuh. Telanjang tanpa kelambu. Dan tanpa gentar. Bergeming pada yakin. Bahwa suatu saat ia yang telanjang akan jatuh cinta. Dan seseorang pun akan jatuh cinta padanya. Karena ia telanjang. Ia terbuka. Ia apa adanya. Dan ia tidak menganggap hal-hal yang menempel pada dirinya adalah vulgar. Diperlihatkannya pada dunia semua borok dan semua luka pada tubuhnya. Dan kalau seseorang tidak mau melihat borok dan luka itu, didendangkannya lagu mengenai semua hal yang ada pada dirinya. Dengan cuek bebek. Dengan tidak peduli. Dengan sangat berani.

Hingga saat ini laki-laki itu masih telanjang. Ia berjalan di tengah kota yang penuh dengan orang berkelambu semakin hari semakin panjang. Tapi ia bergeming pada yakinnya. Bahwa suatu hari ia akan jatuh cinta. Karena borok dan luka tubuhnya kini malah bertambah. Akibat sering dilempari batu dan kaca dan diusir keluar kota. Tapi ia bergeming pada yakinnya. Tidak masalah orang tidak menyukai borok dan lukanya. Karena itu adalah punyanya. Dan suatu hari kesemuanya akan membuat seseorang jatuh cinta. Meskipun pundaknya semakin bidang karena merasa beban tidak kunjung bertemu si orang yang dicinta, kerut wajahnya bertambah dengan indah. Kerut senyum pada mata dan ujung bibir. Dan ia yakin suatu hari seseorang akan kagum pada kerut-kerut itu juga. Karena itu bukan vulgar maupun aib. Dan meskipun kakinya lelah karena kapalan mencari si orang yang dicinta, ia masih bergeming pada yakinnya. Bahwa dirinya yang telanjang akan dicinta.

Karena ia sendiripun mencinta. Meskipun semua orang berada di balik kelambu. Ia mencinta mereka. Karena ia melihat geliat kecil di balik kelambu yang rapat. Juga ia dengar getar suara rapuh mereka dari kelambu yang tertutup. Dan laki-laki telanjang itu merasa terpesona dan kagum. Pada keindahan hampir senyap yang sesekali muncul dari kelambu. Andaikan mereka semua dapat melihat dan mendengar keindahan yang muncul di depan kejeliannya. Pasti mereka akan memutuskan membuka kelambu!

2 thoughts on “Telanjang Hari Ini

  1. Gw suka sekali dengan cerpen yang ini danz. Apalagi bagian alasan si anak pak walikota untuk telanjang. Gaya penceritaannya jg gw suka sekali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s