Melodi Tiga Dara

Aduh aku bikin tulisan aneh. Sebenarnya idenya adalah menunjukkan bahwa di dalam diri perempuan itu bisa banyak kepribadian yang berbeda dan bertentangan, tapi eksekusiku lemah…. Aku lemah hari ini…. Jadinya tulisan yang tidak jelas seperti ini. Ah ya sudahlah. Tidak masalah. Ini adalah eksperimen dalam mengeksekusi konsep kuat tapi jadinya seadanya saja. Tidak apa. Mungkin lain kali.

Pada cerita ini, dipakai ending terbuka. Karena aku nyontek salah satu kawan menulis. Boleh donk? Kubilang sih boleh. Tapi mungkin ending terbuka itu bukan sesuatu yang berkhas aku. Karena aku sendiri merasa begitu OCD untuk memberikan konklusi. Itu mengganggu.

Tapi kali ini kubiarkan gatal itu menang. Sekali-kali. Biar otak tertantang.

Selamat membaca dan selamat berpusing-pusing. Aku tidak heran kalau ada yang bilang, “nggak ngerti”. Ada kemungkinan aku sendiri pun nggak ngerti-ngerti amat, jadi kalian yang sempat membaca harus mengerti. Demi pengetahuan! Demi kewarasan!

-nyaw, off tune-

***

Melodi Tiga Dara

Hot

Berbicara tentang perempuan tidak ada habisnya. Keindahan dalam perempuan begitu banyaknya sehingga seseorang yang bekerja sebagai notulen tidak akan habis kerjanya dalam mencatat bagian mana saja yang patut membuat diri berdecak kagum. Bola matanya saja sudah dijadikan lagu yang tidak berhenti-henti didendangkan oleh pengamen yang sedikit berjiwa lawas. Lalu beralih kepada bibir. Wah ini sih asyiknya tidak untuk dijadikan bagian karya. Mungkin untuk imajinasi pribadi. Tak jarang pula ada tulisan-tulisan yang memuat mengenai kemolekan lekuk ayu perempuan. Biasanya tulisan yang seperti ini nyastra dan nyeni. Karena lekuk perempuan itu indah dan penuh proporsi. Tapi bagaimana dengan penggambaran perempuan-perempuan yang benar, sebenar-benarnya. Apa itu tidak bisa nyastra dan nyeni?

Karena perempuan yang sebenar-benarnya beragam dan tidak hanya satu tipe. Kalau mau menyebut, yang satu lebih cantik dari yang lain, tidak semua akan bersepakat sama. Karena perbedaan palig detail dan hanya setitik pada perempuan akan mengubah selera. Misalkan satu perempuan itu memiliki pantat besar, tapi yang lainnya memiliki dada besar. Yang dipilih sebagai yang lebih menarik tentu akan menjadi debat. Seru tapi sebenarnya agak membosankan. Padahal ujung-ujungnya selera. Tiap perempuan itu berbeda. Mau pilih yang mana? Kompromi dengan yang bagaimana?

Tapi pasti lelaki itu merasa sulit bila harus memilih satu saja. Karena perempuan itu begitu beragamnya dan begitu macam-macam. Keserakahan meskipun satu, sayangnya tidak memiliki batas. Kalau memiliki kesempatan untuk memilih semua jenis perempuan, mungkin lelaki akan pilih semua. Meskipun pastinya dia akan menjadi limbung sendiri. Karena bayangkan berada dalam ruangan dengan perempuan yang berbeda-beda pribadi. Mungkin akan terjadi cekcok dan saling adu mulut tajam. Mungkin ruangan itu pun akan roboh dengan sendirinya saking tidak kuat menahan energi perempuan. Jadi tidak terbayang lelaki yang tidak dapat memilih satu perempuan. Apa dia tidak ingin pingsan? Salut untuk lelaki itu.

Selera lelaki yang plin-plan itu satu hal, tapi bagaimana dengan perasaan perempuan? Itu satu hal lain tentu. Dan merupakan sesuatu yang penting! Apalagi perempuan umumnya tidak senang dibandingkan. Ah jangankan perempuan, lelaki pun tidak suka. Itu adalah sesuatu yang manusiawi. Jadi untuk dijadikan pilihan yang kesekian dari kesekian adalah hal yang menyakitkan. Meskipun begitu, perempuan itu senang berebut lelaki. Membuat diri berpikir bahwa ia adalah pemangsa. Padahal dia jadi seperti hyena. Mengais-ngais sisa pemangsa sesungguhnya. Tapi perempuan belum sadar juga dengan rendahnya berebut mangsa. Jadi mereka akan saling berdebat dan beradu mulut. Seperti tiga orang dara yang sedang duduk berhadapan itu.

“Dia suka senyumku.”

Begitu kata perempuan yang pertama. Dia memakai sanggul chignon yang rapat. Blazernya berwarna gelap dan memeluk tubuhnya di tempat-tempat yang tepat. Roknya sedikit di atas lutut, tapi tidak vulgar ketika kakinya disilang. Terlihat sebuah intip di antara silang itu. Tidak vulgar, tapi cukup untuk membuat otak yang paling polos sekalipun bertanya ada apa di antaranya. Jadi bisa dibilang perempuan ini terlihat keren dan hebat. Selayaknya pekerja kerah putih umumnya. Rapi dan necis. Persis pupur dan eyeliner kucingnya yang tidak bercela. Semuanya dirumuskan oleh kuncup merah bibirnya yang sesekali dikulum. Agar pipinya tidak terlihat gembul. Karena pekerja kerah putih tidak gemuk. Kalau gemuk mana bisa dipromosi. Mana bisa aksi depan klien. Mana disukai lelaki? Perempuan semacam perempuan pertama ini paham betul mengenai performa. Ia rapi dan teliti. Itu khas keperempuanannya. Kekuatan yang terletak di dalam terampil tangan yang lentik dan otak yang bergerak cermat. Hal-hal yang dikagumi kaum lelaki.

“Huff! Jangan bikin aku geli. Senyum dari orang sedingin kamu? Ya senyum es abadi! Mungkin sebenarnya dia bukan memuji tapi berharap kamu bisa tutup mulut tajam itu dan lebih banyak kesejukan batin!”

Perempuan kedua berseloroh sambil melipat tangan. Kedua tangannya tersembunyi di balik gundukan dadanya yang gempal. Montok dan empuk seperti bantal. Tapi bukan bagian itu saja dari dirinya yang tampak dapat membal. Lengan, paha dan pinggulnya sama seperti itu. Perutnya tentu tidak kalah ingin bisa bikin mental. Keseluruhan perempuan itu pasti membuat siapapun yang gila proporsi sebal. Tapi tubuh perempuan itu tidak peduli akan semua cela kental. Baginya perempuan adalah yang seperti bantal. Karena di dalam perempuan yang seperti bantal, terdapat sisi perempuan yang lembut. Sisi perempuan yang manut dan hanya manggut-manggut mendengar keluh lelaki yang bebal. Juga terdapat sisi perempuan pengayom dan pengasih. Membuat hati lelaki sejuk. Membuat lelaki lupa pada kebodohannya dan ingat kekuatannya. Biasanya begitu kekuatan perempuan yang berbentuk bantal. Mereka bisa membuat lelaki santai. Dan semua ini biasanya dilakukan dengan melayani bagian paling penting dari lelaki. Perut. Jadi tidak aneh kalau perempuan yang lihai melayani perut berbentuk seperti bantal. Karena ia sendiri perlu menjadi pelayan perut pribadi sebelum dapat melayani perut lelaki.

“Kesejukan batin? Memangnya kamu ini ibunya? Jijik amat. Harusnya lelaki itu gak usah dipikirkan batinnya. Biar saja dia susah sendiri. Mikir sendiri. Kan dia bukan bayi!”

Kali ini yang bersuara adalah perempuan ketiga. Rambutnya acak adut. Entah lurus apa keriting papan. Terlalu tidak jelas. Karena semua gumpalan hitam kusut itu disatukan dalam ikatan yang tidak patut. Ia memakai baju serb gombrong sehingga tidak terlihat apa dia kurus apa gendut. Dan dia tidak memiliki ambisi untuk menunjukkan eksistensi dirinya melalui penilaian bentuk tubuh. Bahkan ia tidak ingin menunjukkan eksistensi diri sama sekali. Ia hanya ingin hidup apa adanya. Mengalir dan mengikuti arus. Tidak banyak berpikir. Tidak perlu banyak bertanya. Cukup ikuti apapun irama hidup dan berharap bisa bertahan. Tidak perlu menunjuk diri atau mengikuti aturan pasti. Toh semua itu tidak akan berarti. Semuanya akan menjadi tiada di akhir hidup ini. Jadi bagi perempuan berambut kusut ini, tidak perlu seseorang bekerja terlalu keras. Karena pada akhirnya semua orang akan menjadi debu. Makanya baginya lelaki itu tidak perlu banyak dilayani. Tidak perlu banyak didengar. Cukup disapa. Syukur-syukur kalau memang lelaki yang sejodoh dan seirama, maka pasti mereka akan berjalan bersama. Tapi kalau bukan, ya sudah. Ia tidak akan berusaha. Ia tidak mau susah. Untuk apa? Perempuan sejenis ini menarik lelaki yang tidak ingin banyak pikir. Termasuk berpikir mengenai keinginan pasangan sendiri.

Kedua perempuan itu mengernyit mendengar kata-kata perempuan yang ketiga. Kontan keduanya menghujat dan menerkam dengan menggunakan kata-kata yang tajam. Perempuan ketiga yang konon katanya serba santai dan serba tidak peduli ternyata cukup bisa memberikan kalimat-kalimat sergahan. Di antara ketiganya tidak ada yang mengalah. Tidak ada yang merendahkan suara. Pita suara mereka pasti bengkak-bengkak sehabis adu omong sehebat itu. Mungkin mereka akan membuat Mariah Carey menunduk malu karena kalah oktaf. Tapi begitulah jadinya kalau perempuan berebut satu lelaki. Tidak bisa rukun. Tidak bisa kalah. Karena semuanya memiliki pribadi yang khas. Semuanya diperhatikan secara seksama oleh seorang lelaki. Jadi sungguh celaka kalau perempuan-perempuan berebut satu lelaki. Terutama tiga yang berwatak sangat berbeda semacam ini. Jadinya perang. Jadinya payah. Mengerikan sekali.

Ketiganya terus saja menghujat dan berperang. Tiada lelah di antara mereka. Mereka adu pamer perhatian si lelaki pujaan. Dikatakan bahwa lelaki itu memuji masakan si anu, lalu dikatakan oleh yang lain bahwa si lelaki memuji program diet yang satu lagi. Ada yang bilang bahwa si lelaki menyenangi suaranya, ada yang menyanggah dengan bilang si lelaki menyukai perempuan yang banyak diam. Begitu banyak topik yang mereka gunakan untuk saling membuktikan diri bahwa hanya salah satu di antara mereka yang berhasil mendapatkan perhatian si lelaki, dan tentunya itu bukan kedua saingan di hadapannya.

“Aku yang dia sukai!”

“Aku yang dia cintai!”

“Aku yang dia sayangi!”

Mereka terus saja berdebat. Hingga mereka lupa bahwa mereka hanya opsi-opsi berderet. Pilihan kesatu, kedua dan ketiga. Perempuan yang mana? Perempuan yang mana yang dipilih oleh si lelaki untuk berkompromi selama sisa hidupnya? Apakah si perempuan pertama? Dengan kekuatannya untuk serba rapi dan teliti? Pasti ia akan cermat mengurusi keuangan rumah tangga. Apakah si perempuan kedua? Yang mengetahui cara melayani perut lelaki? Pasti ia akan membuat rumah selalu hangat. Apakah perempuan ketiga? Serba membebaskan dan tidak peduli? Pasti ia akan membuat lelaki tidak berpikir ribet. Yang mana? Perempuan yang mana yang akan dipilih oleh si lelaki?

Mereka terus saja berdebat. Berkutat pada kekuatan masing-masing dalam memesona si lelaki. Mereka begitu sibuk hingga tidak memerhatikan bahwa kursi kosong di hadapan mereka telah terisi. Oleh lelaki yang mereka ributkan sedari tadi. Lelaki yang tampak tenang dan diam. Kokoh dan terpercaya. Senyumnya yang tulus membuat tiga perempuan itu diam dan menunduk malu. Lupa akan semua tanya dan sengit. Hanya ada senyum si lelaki. Hangat hingga meresap ke dalam hati. Dan dari bibir yang tersenyum keluar kata-kata. Bariton dan berat. Menggetarkan diri tetapi menenangkan.

“Sudah lama menunggu Melodi?”

Begitu tanyanya. Pendek. Klasik dan Klise. Dan Melodi suka. Melodi cinta. Melodi sayang. Melodi merasa kesemua itu pada satu lelaki tersenyum yang di hadapnya. Tiga rasa. Tiga keperempuanan dalam jiwanya memiliki rasa yang senada pada lelaki hangat di depannya.

Tetapi kalau rasa itu senada? Lalu mengapa jiwa Melodi tidak bernyanyi sesuai irama? Hanya terdengar lagu dari tiga perempuan yang saling berdebat hingga pita-pita suara membengkak. Tiga perempuan dalam dirinya yang tidak bisa berdamai mengenai keberadaan dan perasaan mereka pada lelaki yang sama.

Harusnya ketika bertemu lelaki yang benar dan setepat ini, ketiga perempuan ini bernyanyi secara selaras dan harmonis. Bukan seperti ini. Di luar melodi dan merusak telinga jiwa. Melodi tidak paham. Mengapa tiga perempuan ini tidak bisa mengikuti melodi?

Advertisements

Lenggok Gemulai Ekor

Kemarin aku mencoba mencuri-curi gaya bercerita Ahmad Tohari. Ya namanya coba-coba, jadi wajar-wajar saja kalau gagal! Bahkan harusnya memang gagal! Karena Ahmad Tohari ya satu saja, Danilah juga satu saja. Dunia gak butuh dua Tohari atau dua Danilah. Satu-satu juga sudah cukup.

Tapi aku menyukai cerita yang kubikin dengan mencuri-curi spirit Tohari, jadi aku akan membaginya. Untuk senang-senang saja. Untuk menyatakan rasa senang terhadap salah satu karya Tohari yang menghadirkan goyang pinggul Srintil sebagai metafora keperempuanan.

Aneh memang, sebagai sebuah tribute pada Ronggeng Dukuh Paruk Tohari, aku malah membuat cerita tentang “kucing”. Karena kupikir kalau Tohari terlahir di kota besar, tentunya ia akan membuat deskripsi panjang lebar tentang kucing! 😀

Selamat membaca… Enjoy (?)(!)

-nyaw, melenggokkan ekor kucing seperti Srintil-

***

Lenggok Gemulai Ekor

sleeping cat

 Seekor kupu-kupu bersayap jingga terbang melintas. Ia membentangkan sayap-sayap rapuhnya menantang matahari yang bersinar malu-malu di balik awan-awan yang mulai mengumpul. Hanya beberapa spot yang berbagi kehangatan matahari yang sedang setengah bersemedi. Salah satunya adalah di atas pagar semen di depan sebuah rumah sederhana beratap seng. Pada spot hangat inilah seekor kucing abu-abu belang hitam memejamkan mata dan tidur tengkurap dengan kaki-kaki bersilang. Bermanja-manja memang sudah menjadi sifat alami kucing, tidak terkecuali untuk si kucing abu-abu belang hitam. Mungkin kucing jantan itu sekarang sedang mengejar betina. Toh dia memang sudah kumincir. Tapi tidak, kucing itu malah mendengkur di atas pagar semen. Jiwa manja felisnya menuntut untuk dibelai-belai oleh sinar matahari yang pemalu. Tak apa. Menikmati sinar matahari pun memiliki seninya sendiri bagi si kucing jantan.

Kupu-kupu bersayap jingga itu kemudian hinggap di atas hidung si kucing jantan. Tergelitiklah hidung lembab hewan malas itu. Telinganya kemudian menegak. Secara spontan, ia berusaha menepuk si kupu-kupu dengan cakar manisnya. Tapi terlambat, kupu-kupu itu malah keburu terbang dengan gaya berputar-putar yang sedikit mengejek. Si kucing jantan pun merasa jengkel karena dibangunkan dari ritual bermalas-malasannya. Matanya nyalang, bersinar kekuning-kuningan. Pupilnya menyempit segaris saking terganggunya oleh kepakan sayap si kupu-kupu bersayap jingga. Hidungnya bergerak-gerak imut karena masih geli akibat digelitik oleh keenam kaki serangga kecil jahil itu.

Si kucing jantan mengeong. Kalau ia adalah seekor harimau, mungkin akan lebih tepat kalau ia disebut mengaum. Kumis-kumisnya meremang tegang akibat getaran pita suaranya. Cakar-cakar kecil dan tajamnya keluar dari sela-sela tapaknya.

“Ah! Kurang ajar kamu kupu-kupu bodoh! Hanya karena keberuntungan sematalah kamu tidak lumat di bawah tapakku ini!”

Kira-kira begitulah arti eongan si kucing jantan. Tentu saja kemarahan itu tidak berarti apa-apa bagi si kupu-kupu jingga yang telah lama terbang kembali ke langit dan bahkan mungkin sudah hinggap di tempat lain yang menawarkan nektar. Si kucing jantan semakin dan semakin saja jengkel karena tidak ada seekor makhluk pun yang menggubrisnya. Ekornya digerakkannya naik turun, naik dan turun. Gelisah yang syahdu. Harga dirinya merasa dipermainkan oleh kepak-kepak lemah seekor kupu-kupu bersayap jingga. Ia kesulitan mengakui pada dirinya sendiri bahwa ia telah dikalahkan oleh seekor serangga yang dianggapnya lemah. Meskipun si kucing jantan berusaha memejamkan mata dan kembali kepada tidur malasnya, jiwanya tetap resah. Alisnya menekuk dan mendatar secara bergantian. Ekornya masih saja naik turun, naik dan turun.

“Andaikan aku bisa menepuk serangga bersayap lemah itu!”

Begitulah pikir si kucing jantan sambil terus gelisah di dalam tidur malas pura-puranya. Matanya memang terpejam tapi pupilnya masih juga nyalang. Ah gelisah, resah, tidak dapat menerima kekalahan karena telah dibodohi oleh seekor serangga lemah. Andaikata ada saudara dari si kupu-kupu jingga, tentulah itu akan sedikit memuaskan rasa kesal dari si kucing jantan. Akan dilumatkannya semua kupu-kupu di dunia ini. Berani-beraninya mereka yang lemah menggelitik hidung mulia si kucing jantan. Tak tahukah bahwa ia adalah binatang kesayangan nabi? Tak tahukah pada zaman firaun ia adalah turunan dewi?

“Kupu-kupu, kupu-kupu.”

Si kucing jantan mengigau di dalam tidur malasnya. Terbayang-bayang dalam benaknya bahwa ia adalah seekor harimau. Ya harimau yang jantan dan gagah. Otot-otot menyembul. Punggung melengkung. Siap memangsa. Memangsa si kupu-kupu jingga. Dengan mata terfokus, ia memasang mata pada kupu-kupu yang hinggap pada rumput ilalang. Ilalang itu sedikit bergoyang. Lembut dan melambai lambat oleh angin yang sebenarnya ingin memberikan sebuah pertanda. Tapi kupu-kupu jingga itu acuh. Ia memang serangga bodoh. Tak tahu dia bahwa seekor harimau sedang bersiap memangsanya. Kupu-kupu jingga itu terus menghisap nektar dari bunga ilalang. Lambat lumat. Lidah kupu-kupu yang panjang bergerak naik turun perlahan. Dan harimau itu. Harimau itu tetap memasang mata.

Tiba-tiba, angin bosan memberikan pertanda pada si kupu-kupu jingga. Diam. Segalanya menjadi diam. Waktu berhenti sesaat hanya agar si harimau itu mendapatkan detik kemenangannya. Harimau itu menerjang. Otot berkontraksi dan moncong membuka penuh. Luarbiasa. Keren. Cakar-cakarnya terentang. Sinar matahari memantul pada bilah-bilah tajam cakar yang mengancam itu. Dan sinar itu memantul. Memantul ke dalam mata faset si kupu-kupu jingga.

Kupu-kupu jingga itu kemudian membuka sayap-sayap rapuhnya dan terbang meliuk. Panik dan sedikit linglung. Tapi entah bagaimana, entah karena inginnya alam, kupu-kupu jingga itu berhasil menghindari terkaman si harimau. Dengan liukan yang dianggap mengejek, ia terbang ke langit. Kini kupu-kupu jingga itulah yang menerjang matahari. Ialah si pemangsa yang menang. Sedangkan harimau malang itu adalah seorang pecundang. Ia duduk dengan pantat lemas dan ekor yang tidak bergairah. Matahari pun ikut-ikut mengejek harimau itu. Ditekannya sebuah sinar pada mata harimau itu. Silau. Panas. Nyeri.

“Eh, kamu ternyata tidur di sini Belang?”

Sebuah suara lembut membangunkan si kucing jantan dari khayalannya menjadi seekor harimau. Ia hendak mencakar dan menggigit pemilik suara lembut itu. Tapi si pemilik suara tidak menggubris mood buruk si kucing jantan. Dibelailah si kucing jantan dengan sayang dan dipindahkannya tubuh si kucing jantan yang uring-uringan. Tak lama kemudian si kucing jantan telah berada di atas paha hangat si pemilik suara. Empuk dan hangat. Lupalah ia pada kupu-kupu jingga kurang ajar itu. Hanya ada dia dan belaian-belaian kasih. Serta sesekali kata-kata penuh kasih sayang yang lembut. Kumis si kucing jantan bergerak-gerak senang. Ia memperdengarkan dengkur dan si pemilik suara menyunggingkan sebuah senyum kecil. Ekor si kucing jantan kembali bergerak naik turun, naik dan turun. Kini dalam sebuah irama melodis lenggok gemulai yang puas.

Menjadi alpa pun memiliki seninya sendiri.

Almost 30 (Ce-Mas)

Seorang teman pernah berkata padaku, “Puas banget ya rasanya ngeliat musuh kita ngelakuin hal yang memalukan.” Pada saat dia mengucapkan kalimat ini, salah seorang senior yang jutek membenarkan celana dalam yang masuk ke dalam belahan pantatnya di lorong sekolah. Sepertinya dia tidak sadar junior-junior yang membencinya sedang menertawakan dirinya.

Sialnya, aku pernah mengalami hal memalukan yang sama. Membuatku berpikir bahwa di luar sana mungkin ada seseorang yang sangat membenci diriku hingga menginginkanku melakukan hal-hal yang memalukan. Padahal kalau terlalu banyak melakukan hal memalukan, lama-lama urat malu bisa putus juga loh.

 

Cemas

-nyaw, tidak perlu mencemaskan ce-mas-

Almost 30 (Kentut)

Salah satu teman laki-lakiku pernah berkata padaku, “Padahal kan gampang tuh kalau mau lupain kecengan atau pacar. Bayangin aja dia lagi poop atau kentut. Pasti il-feel.”

Sangat bertentangan dengan guyon-guyonan yang pernah aku tonton di TV di mana si laki-laki yang mabuk kepayang oleh seorang cewek bilang, “Ya ampun… kentutnya juga cantik dan harum….”

Nah loh?

Kesimpulan akhir: Kentut adalah hak setiap manusia, termasuk buat para lady!

Kentut-nyaw, kentutlah agar lega!-

Almost 30 (Jangan Lakukan!)

Ini adalah tema yang setua dinosaurus yang sekarang telah menjadi minyak bumi. Yaitu tema: “Kenapa tanya-tanya hal personal sembarangan sih?” Menulis sebuah rant mengenai pertanyaan-pertanyaan personal sudah pernah dituliskan berkali-kali sepertinya, dan ini adalah salah satu tulisanku.

Lalu mengapa masih membuat comic stripnya?

Aku membuat comic strip ini untuk mengungkapkan rasa kesal dalam bentuk yang konyol dengan memberikan penyelesaian yang “cukup bisa diterima”. Kalau kekesalan digambarkan dalam bentuk komik, sepertinya masalah itu cetek sekali.

Jadi daripada memikirkannya atau memikirkan apakah itu pantas dipikirkan, mendingan juga dibuat jadi lucu-lucuan!

Jangan Tanya-Jawab-nyaw, apapun!-

Almost 30 (Nostalgia Menstruasi Pembalut)

Setelah melakukan suatu usaha sia-sia mengerahkan kekuatan gelombang otak untuk membuat suatu comic strip tiba-tiba muncul dari udara dan jatuh ke atas meja, aku akhirnya menyerah pada cara manual. Cara manual: Memikirkan dengan otak tapi tetap menggambar dengan tangan.

Ternyata… saya bukan Neo….

Jadi, sepertinya sudah beberapa kali aku membuat topik tentang menstruasi (atau setidaknya aku senang membicarakannya dengan teman-teman). Menstruasi adalah hal yang temanya disukai oleh perempuan-perempuan karena meskipun para laki-laki dapat mempelajarinya lewat buku atau mbah google, laki-laki tetap tidak akan dapat menjawab pertanyaan, “Pembalut yang paling nyaman yang mana ya?”

Kadang aku suka membayangkan, apakah bagian R&D pabrik pembalut harus mencoba produknya meskipun sekalipun dia adalah laki-laki.

Aku jadi penasaran.

BTW, di dalam strip aku memunculkan lagi teman baik SMU yang sering terkena kemalangan akibat keegoisan temannya ini. Maafkan ya…

Menstruasi Pembalut-nyaw, hati-hati memakai kompres ya, suka bocor!-

Kencan Buta (Untuk Usia Tertentu)

“Kenapa sih lu selalu melakukan hal-hal yang paling randomn?”

Itu adalah pertanyaan dari Mey-chan saat aku menceritakan bahwa aku mengikuti sebuah ajang “Speed Dating”. Aku cuman bisa menjawab dengan “Entahlah, aku tidak terlalu memikirkan sesuatu. Kurasa itu juga sebuah langkah klasik buat cewek single.”

Perasaan “tidak terlalu memikirkannya” itulah yang melandaku saat aku mendaftar untuk mengikuti acara  “Speed Dating” itu. Perasaan itu juga yang melandaku saat mengajak teman baikku Rie-chan untuk mengikuti acara tersebut. Perasaan itu juga yang aku sesalkan saat on the spot dan mengetahui bahwa itu adalah sebuah acara temu lajang usia tidak siap menikah (18-22 thn) untuk mengangkat sebuah cause “Say No to Free Sex”.

Aku dan Rie-chan hanya bisa membuat sebuah mimik muka mesem-mesem.

Pada saat itu aku merasa tidak menjalani hidup aku sendiri, tapi lebih seperti tiba-tiba terjerumus dalam film komedi sarkastis tentang kehidupan wanita lajang seperti “The Bridgitte Jones Diaries”. Lalu meskipun cause yang diangkat itu cukup baik yaitu “Say No to Free Sex”, aku saat ini berada dalam usia yang tidak bisa relate dengan keinginan untuk celibate hingga “waktu yang tepat”.

Karena logisnya ini adalah “waktu yang tepat” untuk mengambil sebuah langkah drastis.

Lalu aku merasakan sedikit rasa bersalah saat pembicara acara itu di penutupan membuat sebuah pidato pendek bahwa “… saat akan melakukan hal itu, coba pikirin anak lu. Melihara binatan peliharaan aja gak becus, apalagi bayi.”

Aku merasa bersalah karena aku merasa bosan. Aku merasa bosan mendengar laki-laki yang bilang “Bayi itu gak gampang diurusnya”, “Bayi itu tanggung jawab besar”, “Bayi itu butuh biaya besar”.

Di akhir acara, aku (dengan mimik muka mesem-mesem) memutuskan bahwa aku sudah tidak mengerti dengan ketakutan seorang usia 20-awal. Aku sudah di usia 20-akhir (26 kalau mau tahu) dan aku memutuskan tidak bisa lagi terlibat dengan ketakutan untuk menikah, atau ketakutan untuk mempunyai bayi, atau ketakutan tidak memiliki kemapanan finansial (meskipun aku sendiripun tidak mapan secara finansial).

Aku juga memutuskan untuk lebih memikirkan apakah sebuah acara blind date itu pantas atau tidak diikuti. Terutama oleh seorang wanita 20-akhir dan wanita 30-awal.

We have no more time for fears.

Jadi kalau seseorang punya info tentang temu lajang untuk wanita-wanita fun and fearless kabar-kabarin saja 🙂

-nyaw, menjadi lebih pemilih dalam artian yang bagus-