Jiwa yang Tua Bangsat Keparat

Saya butuh menulis ini. Untuk melampiaskan rasa yang tidak berhubungan dengan novel yang sedang saya tulis. Benar-benar tulisan yang emosional. Mungkin membingungkan. Biarlah. Sekali-kali saya membuat karya yang tidak berjarak. Sekalipun dibuat dari POV orang ketiga. Boleh saja lah.

Seperti biasa. Jangan pikirkan teknis. Jangan pikirkan EYD. Jangan pikirkan hal-hal yang logis. Ikuti saja. Kemungkinan besar kalian akan macet membaca tulisan yang kali ini. Wajar. Karena ini bukan tulisan yang smooth. Bukan karena saat menulisnya tersendat, tapi karena perasaan yang menjadi dasar tulisan ini semacam geram. Jadi wajar kalau sedikit mengganggu.

Selamat menikmati rasa terganggu!

-nyaw, melepas gangguan agar dirinya sendiri tidak terganggu-

***

Jiwa yang Tua Bangsat Keparat

Mother earth

Jiwa Nira sudah tua. Tua bangsat dan keparat. Dia turun dari langit dengan cedera pada kepala. Dia lupa nama Tuhan. Jadi dia berkelana. Mencari tanda. Mencari petunjuk. Mencari ceceran-ceceran nama Tuhan. Dengan kepala. Dengan tangan. Dengan raga. Dengan hati. Lalu ketika ia tidak menemukan kata. Kata yang merupakan asal dari Tuhan. Ia mendumel dan mengomel. Juga menjadi sarkastis dan skeptis. Memandang dan menghakimi siapa-siapa yang memberinya keterangan yang palsu dan sampah. Katanya pada mereka,

“Buat apa kalian diturunkan Tuhan, kalau kerja kalian membuat kebohongan dan tidak mencari nama Tuhan? Lebih baik kalian enyah. Lebih baik kalian minggat. Lebih baik kalian kembali ke neraka.”

Begitu kata jiwa Nira yang sudah tua bangsat dan keparat. Dia sudah keriput. Dia sudah kisut. Dia sudah penuh kerut-kerut. Jiwa yang tua bangka berasal dari hari-hari ketika dunia masih tua. Ketika hutan masih rapat dan gunung-gunung masih menjulang ke langit. Ketika angin masih bersiul dan bernyanyi. Membisik kabar-kabar kepada makhluk bumi. Hari ketika asap berbicara. Membicarakan kabar-kabar setengah bohon dari bara.

Dari sanalah jiwa Nira yang tua bangka bangsat keparat. Jiwa yang anehnya tidak kenal lelah. Mencari nama Sang Perkasa. Di dalam angin. Di dalam hembusan di antara jemari dedaunan. Masih saja penasaran. Mencari dan mencari. Dan berkali-kali luput atau tidak ditemukan kalam itu. Tapi ia terus menyelisik mencari. Dan ketika bertemu kalam itu, ia merasa belum usai.

“Masih banyak tanda itu. Masih banyak kata itu. Masih banyak nama Tuhan.”

Jiwa Nira yang tua bangka tetap mencari. Tak kenal lelah. Tak kenal susah. Tak kenal jaman. Padahal jaman sudah berubah. Jaman sekarang nama Tuhan sudah diketemukan di semua tempat. Bertebaran dan berkeliaran. Bahkan hampir seperti obral. Orang-orang yang mencari untung pun menggunakan kalam Tuhan. Seperti tukang obat pinggir jalan.

Tapi bagaimanapun nama Tuhan sudah ditemukan. Dan harusnya jiwa Nira beristirahat dengan tenang. Beradaptasi dan berubah. Mengikuti jaman. Meskipun baginya semuanya keliatan agak-agak edan. Dengan semua standar dan penyeragaman. Tapi bagaimana pun jiwa Nira masih saja tergelitik. Dia berkata,

“Dengan semua kesamaan itu, apa kalian masih mencari nama Tuhan?”

Jiwa Nira sedikit menyebalkan seperti itu. Andaikan dia bisa bungkam. Andai dia bisa mati. Atau setidaknya andaikan dia bisa mengerti. Kalau dia tidak baik merasa benar sendiri. Kebenaran jaman sekarang adalah kesepakatan. Tidak penting apakah itu dari langit atau berasal dari kalam Tuhan sekalipun. Berkonformasilah maka kau akan selamat. Maka kau akan menjadi satu dengan masyrakat.

Tapi tidak. Jiwa Nira yang tua masih perlu bangsat keparat. Ia teguh pada pendirian. Dia selalu mempertanyakan hal-hal di sekitarnya. Dia selalu mencari kebenaran yang benar-benar merupakan kebenaran. Dan dalam proses itu ia bersikap bangsat dan keparat. Ia tidak peduli adat dan kesopanan. Ia tidak mau berkompromi dengan penyeragaman sikap.

Dan jadilah Nira seorang musuh masyarakat. Akibat jiwanya yang tua bangsat dan keparat. Untunglah ia masih memiliki karya. Jadi orang segan membunuh dirinya di tempat. Tapi selebihnya ia hanya dibiarkan. Dengan perasaan enggan. Dan selebihnya ia dibiarkan kelaparan. Agar binasa dan mati.

Tapi Tuhan menyayangi semua makhluknya. Yang tua dan bangsat keparat sekalipun. Jadi Nira tidak pernah kelaparan. Sekalipun seluruh dunia menginginkan dirinya begitu. Karena ia adalah sebuah gangguan. Enyahkan enyahkan enyahkan. Orang yang berbeda perlu dienyahkan. Atau setidaknya perlu dirusak. Perbedaan perlu dirusak dan dipatahkan.

Jadi suatu hari. Ketika Nira merasa sedikit ringan. Sedikit bahagia melihat karyanya lumayan berkembang. Keluarganya menghubunginya. Katanya pada Nira,

“Atasanmu memberitahu kau gila. Apa yang terjadi?”

Nira terdiam. Matanya mengosong. Ia hanya dapat tercenung. Jiwa tua bangkanya pun tak berkutik. Terkejut dan tertohok. Sebegitunyakah orang perlu keseragaman? Tidak adakah ruang untuk satu pun perbedaan. Satu pun?

Nira tersentak dan sedikit mengomel. Lebih baik begitu. Lebih baik dia mengomel dan bersumpah serapah. Ketimbang dia memendam rasa dan menikami hatinya sendiri. Ia memilih mengeluarkan senjata. Mengarahkannya pada seluruh dunia. Hanya ada Nira, melawan seluruh dunia. Melawan mereka. Mereka yang sedarah sekalipun.

Nira sadar ia tidak diterima. Ia tidak akan pernah diterima. Sekali gila, ia akan seterusnya dicap sakit jiwa. Maka ia melarikan diri. Minggat. Menjauh. Pergi dari semuanya. Karena kalau tidak, ia pasti akan bunuh diri. Bukan raga, tapi jiwa yang mati. Jadi Nira minggat, melarikan diri. Mengungsi di dalam gua. Hanya ada dia dan pikirnya yang mengelana. Mencari Tuhan. Mencari makna.

Lalu Nira menulis. Mengulang cerita dari semesta. Mengenai kebenaran dalam dirinya. Mengenai keyakinan di dalam hatinya. Mengenai pandangannya pada seluruh dunia. Sebagian kelam. Sebagian terang. Seperti Nira. Seperti kehidupan. Sebuah koin dengan bidang saling bersisian.

Nira yakin semua karyanya akan ke surga. Terbang melintas dimensi. Terbang melintas tanpa perlu berpegang pada hukum-hukum fisika. Terbang dan bertengger pada rak. Perpustakaan Cordoba yang terbakar habis. Perpustakaan megah yang kini hanya dapat ditemukan pada akhirat, akhir jaman. Karya-karya Nira akan bertengger dan memenuhi satu rak tersendiri. Letaknya di dekat jendela yang terang. Dan sebagian akan berada pada sisi yang membelakangi terang jendela. Mungkin bersebelahan dengan karya-karya dystophia semacam 1984. Karena itu seperti Nira. Sebagian terang. Sebagian gelap.

Jadi Nira berkarya. Seakan-akan ia gila. Ralat. Memang benar sekarang ia gila. Karena ia bekerja tidak kenal raga. Tidak kenal perut. Tidak kenal malu. Ikut pada uang keluarga. Harga yang tidak pantas pada seorang gila seperti Nira.

Tapi ia perlu lakukan semua itu. Nira perlu gila. Nira perlu terus berkarya. Tidak kenal adat. Tidak kenal aturan. Tidak kenal seragam. Telanjang telanjang telanjang. Berikan rasa. Berikan rasa. Katakan lantang pada dunia. Tidak perlu sabetkan senjata. Hanya perlu katakan makna yang tersembunyi dalam kata. Katakan dengan nyata semua rasa.

Karena dunia perlu tahu apa yang dicari Nira. Kata Tuhan. Kata yang hanya dapat ditemukan dengan rasa. Kata yang hanya dapat dimengerti dan dipahami dengan hati yang hidup dan tidak seragam. Kata yang hanya dapat ditemukan dengan cara yang khas.

Karena itu Nira perlu menulis. Apa yang jiwa tua bangkanya cari dan telisik. Dan semua orang tahu perlu tahu bahayanya menjadi tidak diri sendiri. Karena kata itu mungkin tidak akan pernah sampai pada orang yang tidak tahu namanya sendiri.

Jadi Nira terus menulis. Dari gua yang gelap. Hanya seorang diri. Meskipun ia dikatai seperti Kartini. Ia tidak peduli. Semuanya perlu tahu apa yang perlu dicari. Dan itu bukan harta. Itu bukan hal-hal yang dapat dilihat dan digenggam. Hal yang dicari hanya dapat ditemukan dengan hati. Sebuah makna dalam mengenai Tuhan.

Dan ketika Nira asyik menulis. Mengenai semua hal. Membangun rasa. Membangkitkan minat jiwa yang hampir padam. Mereka yang mengatakan Nira gila, mengajaknya untuk kembali. Mengajaknya berkarya dalam dunia mereka lagi. Karena mereka bilang bahwa mereka sudah berubah. Karena mereka bilang mereka mengerti keindahan di dalam ragam.

Jadi Nira pun setuju. Karena jiwanya yang tua bangsat keparat memiliki sisi yang baik. Ia pemaaf dan melihat keindahan di dalam masa depan. Yang sudah lalu ya sudah. Bila kesemuanya berniat baik maka kemungkinan terjadi yang baik.

Tapi lalu mereka yang mengajak Nira untuk kembali pada dunia mereka bertanya,

“Coba ceritakan apa yang sudah berubah? Perubahan apa yang ada pada dirimu hingga kami dapat menerima kamu kembali?”

Nira terdiam. Jiwa tuanya kembali menjadi bangsat dan keparat. Ia berkata dengan lidah tajam tanpa sedikit pun sumpah serapah,

“Kalian bilang sudah berubah. Kalian bilang kalian paham. Tapi kalian ingin saya berubah.”

Nira bingung. Mengapa ia harus kembali kalau mereka terus saja ingin ia berubah? Bukankah ia sudah melakukan itu berkali-kali? Bukankah mereka yang masih sama?

Jiwa tua bangsat keparat Nira mendengus. Badannya yang bungkuk terlihat tirus. Rambutnya yang abu hingga ke pinggang terlihat kusam di dalam remang-remang. Sebuah tangan diletakkannya pada pinggang. Sebelah lagi memegang tongkat tua dari kayu hutan. Kalungnya tergantung panjang. Terbuat dari biji-bijian dan belulang. Jiwanya yang tua bangsat keparat hanya mengomel dan mengomel. Berbicara pada asap yang membumbung tinggi. Katanya pada asap,

“Sudah kubilang. Sudah kubilang. Sudah kubilang. Dunia enggan berubah. Lalu mengapa kita harus berbuat hal yang sama?”

Asap yang seharusnya bergerak menuju langit, sepenuhnya diam. Seperti udara yang tiba-tiba membeku. Angin yang enggan bergerak. Marah dan kesal pada hukum-hukum fisika. Asap itu tidak mau bergerak. Geram pada dunia yang seperti itu-itu saja. Semenjak dari hutan masih rapat hingga menjadi renggang.

Maka ia menjadi angin yang tidak alami. Diam dan enggan bergerak. Ketika angin seharusnya berlari, ia memendam diri.

Diam hingga waktunya butuh berlari. Dari semuanya. Dari dunia ini. Dunia bangsat keparat yang dibuat oleh manusia lupa diri. Lupa diri dan lupa misi. Misi mencari nama Tuhan.

2 thoughts on “Jiwa yang Tua Bangsat Keparat

  1. Gw ikut merasa tua dan keparat, dan kalau saja bisa seperti si asap. Diam, enggan berlari, menunggu semuanya berhenti, kalau bisa malah meracuni

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s