Haru Biru

Sebelum ada Putri Mujair dan Ujang, ada Asep. Sepupu Ujang yang ugal-ugalan dan senang merokok samsoe. Dia adalah tokoh yang diciptakan karena aku senang dengan Ajo Kawirnya Eka Kurniawan. Dia juga muncul karena ibuku menunjukkan foto seorang lelaki penuh haru setelah kemenangan Persib 5-3 pada ISL 2014. Aku mengkhayalkan seandainya foto Asep dimuat di koran. Apakah itu akan tentang Persib? Atau mungkinkah karena hal lain?

Oleh karenanya tercipta Haru Biru. Aku menunda-nunda menuliskan cerita ini karena asyik menuliskan novel pribadi. Tapi kemudian di halaman 75, aku kehilangan greget berkata-kata. Muncul gamang mengenai kemampuan sendiri. Sedikit tersentak oleh kritik dan kejadian yang tidak mengenakkan. Bisa dibilang saya impoten berkata-kata. Selama 1 minggu.

Tapi hari ini aku memaksakan diri untuk mengeluarkan kata, merangkai kalimat. Aku mulai saja dari hal yang paling kusukai. Tentang lelaki legam yang merokok samsoe. Aku senang tokoh seperti ini. Boleh saja kan?

Untungnya impoten itu tidak lama-lama. Seminggu saja. Impotennya mungkin terlihat di awal cerita yang ragu dan tersendat. Juga mungkin terlihat dari perspektif yang melompat seenak jidat. Seperti biasa, yang semacam itu jangan dipikirkan. Ikuti saja alur. Nikmati romansa dari lelaki bernama Asep ini. Juga Euis yang kontradiktif.

Selamat menikmati!

-nyaw, bangkit dari impotensi-

***

Haru Biru Sorakan Gempita

siapa ya resize crop

Di antara sela-sela rambut puncak kepala lelaki itu muncul butiran-butiran cairan yang bersinar-sinar seperti embun. Tapi sebenarnya itu adalah keringat, dan sedikit sebum. Ada sedikit anyir dan lengket. Campuran oksidasi dan hormon testosteron. Mungkin juga hormon lainnya. Tapi hormon lain yang berbau lelaki. Bau menyengat tapi menyentak. Bau lelaki patah hati dan hanya dapat duduk di bawah sinar matahari. Menyender tanpa daya pada mobil Carry hitam. Lesu dan memandang masa depan yang tampak bolong. Nestapa. Asep, seorang pria malang.

Panas matahari boleh menyentak dan menghentak, membuatnya berkeringat dan dehidrasi. Tapi apa peduli dia. Dengan sedikit keberuntungan dia akan mati hari itu. Mati di tengah bolong terang. Di samping Carry kesayangan yang dibelinya dengan susah payah penuh perjuangan. Mungkin dengan sebatang samsoe yang masih menyala. Dan mungkin mayatnya cukup cantik dan membuat kebat-kebit beberapa perawan Sunda. Dan mereka akan merona, padahal sebelumnya mereka tidak memberi perhatian. Setidaknya itu akan menjadi prestasi bagi Asep, pria malang yang nestapa patah hati.

Tapi selama apapun Asep dijemur di samping Carry yang mulai berbau amis ikan pengangkutan bercampur busuk dari air waduk Cirata, ia tak kunjung merenggang nyawa ataupun pingsan. Ia hanya ada dan bertambah legam. Sementara sebatang samsoe yang sedari tadi dihisapnya bertambah pendek. Sulutnya mulai mendekati ujung bibirnya yang kehitam-hitaman. Asep tidak memedulikan sulut pendek itu. Biar saja bibirnya terbakar. Mungkin itu akan terasa enak. Mungkin rasanya akan hangat tajam. Seperti sebuah ciuman.

Mengingat ciuman membuat emosi Asep tersulut kembali. Ia mengaduh mengerang dan mendecak kesal. Lalu kembali dihisapnya samsoe yang memendek itu, menyebabkan terjadinya asap yang beraroma tembakau, cengkih dan keringat. Juga amis dan manis. Amis ikan dan manis Sunda Cirata. Manis yang membikin Asep kembali senewen. Karena ia adalah lelaki malang. Patah hati dan nestapa oleh seorang perempuan manis. Manis dengan dua cara itu. Sunda dan Cirata. Jadi Asep sebal dan setengah ingin menyudahi nasib bujang bapuknya. Tapi ia tidak ingin melakukannya sendiri. Karena tangannya sendiri sudah cukup amis oleh ikan. Tidak perlu bantuan darah untuk menambah amis. Cukup saja ikan. Dan pada saatnya, Tuhan.

“Astaga. Apa orang patah hati itu menjadi alim? Aku memikirkan Tuhan. Tapi sambil mikirin amis ikan. Astaga. Mungkin orang patah hati masuk neraka.”

Begitu batin Asep. Tapi kemudian ia tidak peduli sendiri. Karena baginya sendiri, patah hati ini sudah neraka. Sekalian saja bakar tubuhnya yang kerempeng hitam legam. Mungkin itu akan berguna bagi para penghuni surga. Sebagai pemanas saat di sana musim dingin. Dan mungkin perempuan Sunda Ciratanya tidak akan pernah menjadi dingin di surga sana. Karena dia bidadari. Sedangkan Asep setan. Setan keparat pembakar neraka. Biarlah dia menghangatkan surga dari neraka. Mungkin perempuan itu akan mengingatnya. Seperti ia yang tidak akan pernah lupa rima nama perempuan itu di telinganya. Euis.

“Euis, Euis, teganya kamu sama Akang,”

Begitu batin hati Asep dengan sedikit terlalu manis yang segera berganti pahit. Hilang dalam asap samsoe yang hampir mencium ujung bibir. Dan Asep biarkan saja. Antipati pada sakit. Juga acuh pada apapun di sekelilingnya. Termasuk acuh pada sosok yang berlari tergopoh-gopoh menuju dirinya sambil membawa koran terlipat di tangan.

“Asep! Asep! Tingali ieu!”

Asep! Asep! Lihat ini! Kata sosok itu dengan bersemangat dan nada riang. Pada saat mengatakannya pipinya bergoyang, seperti dada dan perut gemuk wanitanya dari balik daster goyor kembang-kembang. Sebuah sosok yang begitu penuh dengan kewanitaan berumur. Cocok bagi ibu seorang Asep yang nestapa patah hati.

Menyambut keceriaan ibunya, Asep hanya mengangkat alis dengan enggan. Ibunya menyodorkan koran itu ke depan mukanya dan Asep melihat sebuah foto raksasa terpampang. Seorang lelaki dalam pakaian biru tua. Lelaki itu berkaca-kaca dan bibirnya tampak menampakkan sebuah manyun yang bergoyang. Pipinya basah oleh uraian air mata. Tajuk di bawah foto itu berbunyi, “Persib Juara”.

Sebelah mata Asep berkedut. Sebal, kesal. Ada rasa ingin membanting barang. Tapi Asep adalah lelaki sabar. Jadi dia hanya melakukan satu hal. Tidak brutal maupun frontal, tapi cukup untuk membuat ibunya yang tambun melompat terkejut dan melompat. Asep melakukan satu hal kecil itu. Ia menyundut foto itu pas di tengah muka. Seperti sebuah peluru yang melewati kepala. Padahal lelaki di dalam foto itu adalah dirinya.

“Kenapa disundut segala! Kan bisa dipasang di dinding ari kamu! Dasar budak koplok!”

Ibu Asep memukulkan gulungan koran yang sedikit mengeluarkan abu pada kepala Asep dan meninggalkannya sambil mengomel. Tapi Asep tidak terpengaruh. Karena saat ini Asep adalah lelaki patah hati yang nestapa. Ditinggalkan perempuan manis. Manis Sunda dan sekaligus Cirata. Dan Persib yang juara tidak akan mengerti sakitnya semua itu. Sekalipun seragam Persib itu biru. Biru lebam seperti rasa di dalam dadanya. Terpukul dan tertonjok oleh perempuan bernama Euis.

Sudah lama Asep mengejar ujung rok Euis. Semenjak ia mendapat mimpi basah pertama. Wajah perempuan dalam mimpinya adalah Euis. Tapi badannya lain. Badannya perempuan di belakang buku TTS. Tapi itu keren. Bagi Asep, bayang itu membuatnya bersemangat. Karena mungkin Euis akan menjadi sensual seperti perempuan TTS.

Jadi Asep mengejar ujung rok Euis. Dari warna merah hingga berganti biru lalu abu. Pada saat itu, Asep juga memakai seragam. Tapi ia hanya sampai warna biru. Warna celana Asep tidak pernah abu. Karena ia adalah lelaki yang memikirkan masa depan. Di masa depannya ia hanya akan tinggal dan mati di Cirata. Dan semua yang tinggal dan mati di Cirata paling melakukan hal-hal yang berhubungan dengan waduk dan tambak. Paling hebat pun menjadi kenek. Dan di usianya yang 12 ia memutuskan untuk menjadi kenek agar dapat duit. Kalau ditanya kenapa. Ia jawab dengan ringan,

“Untuk kawin. Kawin dengan Euis.”

Ini membuat ibunya berang. Mencak-mencak dan kesal. Dikiranya ia akan punya anak lelaki yang sedikit maju. Tahunya lagi-lagi nasibnya sama seperti lelaki Cirata yang lain. Pendek dan malah kelampau sederhana. Tapi ya sudah. Ibu itu pasrah. Ia biarkan anaknya menjadi kenek dan mencari duit. Meskipun dalam hati ia tahu anaknya cerdas dan teliti. Tapi semuanya tertutup oleh syahwat dan obsesi. Pada ujung rok perempuan yang kelak menjadi seseksi perempuan TTS. Perempuan bernama Euis.

Dari semenjak rok Euis berwarna merah, ia sudah banyak digemari. Kulitnya kuning langsat dan rambutnya panjang lurus. Pada saat perempuan lain belum menstruasi, ia sudah. Jadi dadanya sudah montok sebelum yang lain-lain. Dan para lelaki mengenal dada montok. Jadi mereka mengejar dan ingin menyentilnya. Euis biarkan saja asalkan ia dapat jajan. Perempuan berdada montok perlu banyak makan. Kalau tidak nanti dadanya rata. Kalau sudah begitu Euis hanya akan menjadi datar. Seperti teman-teman perempuan Ciratanya yang iri pada montoknya.

Jadi Euis memelihara montoknya. Dan ia biarkan lelaki itu menyentil, asal memberi jajan. Dan di antara lelaki itu ada Asep. Kerempeng, hitam legam. Pada usia muda sudah tahu pemantik dan rokok. Dari usia kecil dan pipis masih mencong, sudah tahu meracap. Tapi ia berbeda dengan lelaki-lelaki lain yang tengil. Ia hanya membelikan jajan dan mengajak ngomong. Dan di dalam omongan itu, Asep akan bilang,

“Euis, saya akan kawini kamu.”

Lalu Euis akan bertanya,

“Apa nanti saya dapat jajan kalau kawin dengan kamu?”

Jawab Asep pendek,

“Iya.”

Sebagai jawaban Euis akan mengangkat bahu. Berpura-pura tidak acuh. Ia tidak memikirkan banyak-banyak mengenai janji-janji semacam itu. Karena lelaki sering hanya bermulut manis, tapi niatnya pahit. Paling-paling Asep menunggu-nunggu saat yang lebih asyik agar dapat menoel atau menyentil. Mungkin saat dadanya cukup digenggam. Atau mungkin nanti kalau ia sudah berani. Dan pipisnya tidak lagi mencong.

Jadi Euis tidak ambil hati. Ia hanya memikirkan jajan dan cara mendapatkan lebih banyak untuk dari lelaki yang dikendalikan selangkangan. Jadi ia belajar berdandan dan memakai wewangian. Ia juga belajar memakai baju yang ketat. Juga sedikit menerawang. Di balik seragamnya ia selalu memakai beha yang berwarna mencrang. Jaga-jaga seandainya ada mata lelaki yang kurang keparat. Euis memberikan contekan sebelum waktunya kancing-kancing itu terbuka.

Dan benar saja, lelaki yang menjajani bertambah banyak. Sebagian karena merasa menjajani perempuan berdada montak itu keren. Sebagian lagi karena senang melihat dada itu bergoyang. Mana saja sama bagi Euis. Yang penting lelaki-lelaki itu memberi jajan. Dan di antara lelaki-lelaki itu tetap ada Asep. Masih juga ia hanya memberi jajan dan omong. Ia selalu berkata,

“Euis, saya akan kawini kamu.”

Lalu Euis akan bertanya,

“Oh ya? Mengapa? Pipismu pun pasti masih mencong.”

Asep menjawab,

“Agar kamu tidak perlu meminta jajan pada lelaki berhidung belang. Dan pipis saya sudah tidak mencong.”

Mendengar jawab Asep yang kali ini, Euis merasa terkejut. Muncul sedikit kebat-kebit dalam hatinya. Dan tiba-tiba saja otaknya tidak melulu dipenuhi pikiran ingin jajan. Ia mulai memikirkan Asep. Omongannya yang ringan sekaligus pendek. Tapi tepat dan menghunjam. Sama seperti kulitnya yang lugas legam dan keriting bibirnya yang menghitam. Tak terasa, terdapat sebuah desir teratur di dalam dada montok Euis. Ia mulai bertanya-tanya apa Asep serius mengenai mengawininya.

Niat Asep untuk mengawininya mulai membuat Euis berpikir. Selama ini ia hanya dikelilingi oleh lelaki yang menikmati goyang dadanya yang montok. Dan ia biarkan saja mereka mengejar ujung roknya. Biar saja para lelaki seperti itu. Mereka hidung belang. Dompet mereka perlu dikuras. Biar saja biar mampus. Kalau miskin, Euis akan mencari yang lain.

Tapi Asep berbeda dengan para lelaki hidung belang itu. Dia hanya memberi jajan. Dan dia mengajak ngomong. Dan dia menjanjikan kawin. Kawin pada perempuan yang tidak keberatan disentil dan ditoel oleh lelaki hidung belang. Perempuan yang hanya memikirkan jajan dan mengandalkan goyang dada montok.

Tiba-tiba saja Euis menjadi malu. Euis juga merasa takut. Terutamanya ia merasa takut. Ia takut menyambut rasa Asep yang tulus. Lalu mereka benar-benar kawin. Dan setelah kawin, Euis akan minta jajan. Jajan hingga membuat dompet Asep kurus. Kalau sudah begini mungkin Euis akan mencari jajan di tempat lain. Dan Asep akan terluka. Asep yang sabar akan terluka.

Jadi lain kali ketika Asep menyebut-nyebut mengenai mengawininya, Euis akan berdalih bahwa Asep adalah lelaki yang miskin nelangsa. Perempuan berdada montok seperti dirinya hanya mengawini lelaki dengan kantong yang tebal. Asep tidak berkutik mendengar kata-kata menyakitkan itu. Ia hanya menghilang selama beberapa bulan. Dan Euis menjadi tentram. Kemudian ia menghilangkan bayang Asep dengan jajan dari lelaki-lelaki hidung belang.

Tapi tak lama kemudian Asep muncul lagi. Kali ini ia bawa mobil Carry baru. Hitam dan mengkilat. Usianya saat itu baru 19. Tapi ia hebat. Ia punya carry sendiri. Dan mobil itu dibawanya ke hadapan Euis yang hanya bisa melongo dan tercengang. Dalam pikiran sederhana Cirata, lelaki yang bawa Carry itu sudah pasti tajir habis. Dan sudah pasti dompetnya tebal. Menjajani berkali-kali pun tidak akan pernah tipis. Jadi dengan kepercayaan diri akibat mendapatkan Carry, Asep berkata pada Euis,

“Euis, ayo kita kawin.”

Pada awal mendengar ajakan itu Euis hanya diam. Hatinya ingin menjerit dan menjawab, “Iya!” Euis pun sadar bahwa ini yang dinamakan jatuh cinta. Tapi kemudian ia ingat seperti apa dirinya. Dan seperti Asep. Ia adalah perempuan berdada montok yang bisa ditoel oleh siapapun. Sedangkan Asep adalah lelaki yang sabar dan keren. Ia punya Carry. Jadi Euis pun menjawab dengan kalut. Ia menjawab dengan sekenanya saja,

“Nanti, kalau Persib jadi juara.”

Entah bagaimana Euis tiba-tiba mengeluarkan jawaban seperti itu. Di saat-saat sepenting itu ia teringat pada celotehan salah seorang lelaki yang senang menoel dadanya. Lelaki itu selalu memakai jersey kesebelasan yang berwarna biru. Dan sembari menoel-noel ia sering menyebutkan Persib. Idolanya yang tak kunjung juara. Sudah 19 tahun seperti itu dan itu membuatnya stress. Oleh karenanya ia perlu bermain pentil dan dada. Euis tidak masalah, asal ada jajan. Dan tak diduga-duga omongan 19 tahun Persib yang tidak juara itu menjadi dalihnya untuk menolak Asep yang dicintainya.

Asep diam mendengar jawaban Euis yang seperti itu. Ia hanya mengambil sebatang samsoe, menyulutnya, membuka pintu mobil carry dan menyentir sekencang-kencangnya. Debu jalan yang tersepak oleh raungan ban Carry yang berputar cukup dahsyat. Gatal dan menusuk ujung-ujung mata Euis. Ia menggosok kedua matanya. Keduanya merah dan keluar air mata. Air mata yang entah karena pedih oleh debu atau oleh kepergian Asep. Yang pasti air mata itu mengalir di pipi Euis yang putih. Meninggalkan jejak basah yang kemudian coreng-moreng oleh debu. Euis merasa itu akan menjadi kali terakhirnya melihat legam Asep. Karena tidak mungkin Persib juara. Sudah lama seperti itu.

Tapi ternyata Asep mengambil serius jawaban Euis. Ia tahu saat itu Persib sedang mengikuti laga. Sampai saat ini sepak terjangnya lumayan menendang. Sudah menunjukkan kehidupan. Sudah mulai keluar taring dan cakar maung parahyangan. Sudah akan terdengar aum yang menggetarkan itu. Asep cukup yakin bahwa Persib bisa menjadi juara. Tapi ia perlu menyaksikan permainan kesebelasan biru itu sendiri. Menyaksikan sendiri kesebelasan yang menentukan nasib akhirnya bersama Euis.

Jadi saat Persib akhirnya masuk final dan harus tanding di Palembang, Asep bela-belain untuk menyebrang pulau. Ia yang tadinya terlalu sibuk untuk ambil peduli, hanya sesekali menonton di saat senggang, tiba-tiba menjadi fans Persib nomer wahid. Tiba-tiba ia memiliki semua atribut seorang viking. Asep yang legam kini tak hanya hitam, ia juga menjadi biru. Biru parahyangan.

Dan di Palembang berlangsung pertarungan antara Persib dan tim yang tidak ingin Asep berkawin dengan Euis. Setidaknya begitu menurut Asep. Setiap kali bola menyentuh wilayah parahyangan, Asep menjadi kebat-kebit dan ngeri. Ia membayangkan Euis melambai dan berlari menjauh. Di ujung sana ada lelaki-lelaki berhidung belang. Mereka tidak peduli pada perempuan Sunda dan Cirata itu. Mereka hanya pada tubuhnya. Apa masih menggemaskan untuk diremas.

Asep bergidik. Ia tidak konsentrasi. Ia hanya memikirkan ia dan Euis. Sementara itu semuanya berteriak dengan lantang sambil menyumpah-nyumpah wasit. Ramai. Sedikit mengembalikan Asep ke dunia nyata. Hingga ia tahu bahwa nasibnya berada di ujung tanduk. Di ujung hasil penalti. Menegangkan. Semua penonton mengepalkan tangan. Asep pun. Meskipun untuk alasan yang sedikit melenceng.

Gol demi gol silih berganti memasuki gawang Persib dan lawan. Semuanya mengaduh, frustasi saat gawang kebobolan. Tapi semuanya kemudian girang dan berjingkrak ketika Persib membobol gawang lawan. Benar-benar sebuah rollercoaster emosi yang hebat. Mengaduk perasaan Asep hingga ke ujung tanduk. Lebih rasanya dari saat ia membawa Carry nya ngebut di tol untuk pertama kali. Lebih hebat karena adu penalti itu menentukan nasibnya. Apa Asep akan berhasil memboyong Euis yang bertubuh aduhai.

Lalu adu penalti itu berakhir. Berakhir dengan sebuah tukikan bola yang menegangkan. Dan kemenangan pun dibawa oleh Persib. Bilangannya lima-tiga. Tiba-tiba stadion tenggelam dalam khidmat haru biru sorakan gempita. Banyak yang mengucap alhamdulillah. Sujud syukur pada wilayah seadanya. Sedangkan Asep mengeluarkan hape. Dan diketikkan sebuah SMS pada Euis,

Neng, besok kita kawin. Persib juara.

Dikirimkannya SMS itu dengan gemetar penuh haru dan tak sabar ingin pulang ke Cirata. Tak lama kemudian hape itu bergetar. Sebuah pesan balasan masuk. Dari Euis yang berkata,

Nggak bisa. Aku hamil. Bukan anakmu.

Asep tertegun dan terdiam. Tentu saja bukan anaknya! Ia tidak pernah menyentuh seujung rambut pun dari Euis! Dasar perempuan sundal tukang menggoyangkan dada montok. Mengapa ia biarkan dirinya tidak hanya ditoel tapi juga ditusuk! Mengapa Euis tidak menyimpan dirinya. Padahal Asep bilang berkali-kali akan mengawininya. Suatu hari ia akan menjemputnya. Tentu ia akan menjemputnya. Karena Euis adalah perempuan yang dilihatnya dalam mimpi basahnya. Dan ia sudah jatuh cinta sebelum para lelaki hidung belang itu mengejar goyang dada montoknya.

“Taik anjing goblok koplok!”

Asep berteriak. Lalu ia berdiri. Teriakannya yang berisi sumpah serapah tidak terdengar karena tenggelam dalam haru biru viking. Orang-orang hanya melihat air mata yang mengalir deras di pipinya. Punggungnya ditepuk oleh penonton lain yang juga mengalirkan air mata terharu bahwa akhirnya Persib bisa juara. Ditepuk-tepuk seperti itu, Asep hanya bergeming dalam sebuah posisi khidmat. Seakan-akan sangat haru oleh kemenangan Persib juara hingga hanya dapat menangis dengan biru.

Pose tangis haru biru Asep inilah yang kemudian ditangkap oleh lensa seorang wartawan. Wajahnya menjadi wajah depan koran nasional yang meliput habis-habisan kemenangan Persib juara. Dikatakan dalam artikel-artikel itu bahwa wajah Asep yang menangis adalah tangisan viking yang terharu akan kemenangan Persib yang tertunda selama 19 tahun. Mereka tidak tahu bahwa tangis itu bukan milik Persib, tapi milik Euis. Seorang perempuan manis. Sunda dan Cirata. Juga punya dada yang bergoyang. Tapi terutama perempuan itu begitu hebatnya karena dapat membuat Asep yang sabar patah hati, malang dan nestapa. Padahal Asep sudah punya Carry dan banyak uang jajan.

Jadi lelaki malang bernama Asep ini hanya dapat mengulirkan buliran minyak dan keringat berbau nyegrak. Bau itu bercampur dengan amis ikan dan bau tembakau cengkih. Campuran bau lelaki patah hati yang malang. Pekat dan lebam. Meninggalkan rasa yang haru dan membuat hati biru.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s