Jari Tengah

Sebenarnya hari ini saya sedang dalam mood yang super cuek dan slengean. Sangat. Saking slengean, dengan cueknya saya memutuskan untuk tidak menulis hari ini. Karena saya bisa melakukan itu. Saya merasa senang. Saya merayakan slengean.

Lalu saya berpikir mengenai kalimat-kalimat pembuka penggugah perasaan. Yang terpikir hanya suasana hati saya yang slengean. Saya menikmati sekali menjadi slengean. Mungkin karena saya orangnya senang taat aturan dan senang mempertimbangkan perasaan orang. Itu kesenangan.

Tapi di sisi lain, sebenarnya saya slengean. Dan kadang saya tidak peduli dalam menyenangkan aturan dan orang. Benar-benar perempuan yang slengean. Bahkan mengenai kepentingan sendiri, saya bisa slengean sesekali.

Dan dalam mood slengean ini, saya melakukan hal-hal yang aneh. Saya mengedit cerpen dan mengirimkannya ke Kompas. Karena saya bisa melakukan hal itu. Lalu saya mengirim sebuah novlet ke Bentang. Meskipun saya sudah ditolak 3 kali. Karena saya bisa melakukan itu.

Dan sebagai puncak perayaan slengean. Saya menulis sebuah racauan yang tidak beralur dan tidak bertujuan. Hanya karena saya bisa. Temanya tentang mengacungkan jari tengah. Karena saya bisa. Tapi aku sedikit teringat Doraemon lalu merasa iba. Karena Doraemon tidak bisa. Dia kan tidak punya jari tengah!

Tapi ada yang tidak saya bisa ternyata. Saya tidak bisa berhenti membuat sebuah karya. Manusiawi sekali.

-nyaw, manusia-

***

Jari Tengah

 palm line resize

Perempun itu berjongkok. Kedua tangannya tertangkup dengan jari-jari menyilang dan saling menggamit. Rambutnya sebahu dan kusut. Matanya berbinar dan berkilat. Lalu senyumnya mengembang membentuk huruf “U” yang menyenangkan. Lalu bibirnya itu membuka, menunjukkan sederetan gigi yang tidak sepenuhnya rapi dan dipenuhi gingsul. Matanya menyipit ketika melakukan semua ini. Dan bersamaan dengan itulah, diangkatlah tangan kanannya. Lalu ia mengacung satu jari. Jari tengah. Dan ia berkata,

“Persetan dengan Anda.”

Kalimat yang tulus. Pendek, kasar dan tepat sasar. Kalimat yang berarti benar. Karena begitulah perasaan perempuan itu. Bukan kasar dan membuat senewen. Ia hanya berkata, “Persetan dengan Anda.” Dan itu serius. Perempuan itu secara serius merasa bahwa apa yang Anda inginkan darinya hanya sesuatu yang tidak penting. Seperti seseorang yang hendak berdoa, dan setan mengompori untuk mengurungkan niat, seseorang itu berkata,

“Persetan dengan Anda.”

Ya Anda dan setan itu sama. Diusir dan dienyahkan dengan kalimat 3 kata. Apa itu menyinggung? Apa itu menyakitkan? Haruskah kau menangis? Tapi perempuan itu tidak mengatakannya dengan nada yang keras atau jengah. Malah dengan senyum. Dengan memperlihatkan gingsul. Bahkan matanya menyipit senang. Tapi kebetulan saja yang keluar adalah kalimat 3 kata,

“Persetan dengan Anda.”

Karena memang benar. Persetan dengan pendapat Anda. Persetan dengan kebutuhan Anda. Persetan dengan keinginan Anda. Persetan dengan ide Anda. Persetan dengan pemikiran Anda. Persetan dengan ukuran kesopanan Anda. Persetan dengan bentuk fisik Anda. Persetan dengan sifat Anda. Persetan dengan sikap Anda. Persetan dengan perasaan Anda. Persetan dengan harapan Anda. Intinya,

“Persetan dengan Anda.”

Dan perempuan berambut kusut itu jujur. Dia tidak bohong. Malah itu adalah pendapatnya yang jujur. Mengenai apa yang berada di dalam hatinya pada detik ini. Bahwa semua yang dipikirkan oleh lawan bicaranya bukanlah urusannya. Otak orang itu kan tidak terpasang pada badannya. Sehingga wajar saja kalau ia berkata,

“Persetan dengan Anda.”

Dengan senyum mengembang bebas. Dengan gingsul manis menonjol. Dengan mata menyipit riang. Kenapa lelaki-lelaki itu perlu senewen? Kenapa perlu mengatur hal-hal yang dianggap tidak sopan? Kenapa perlu membenarkan sikap dan sifat? Kenapa menetapkan aturan? Kenapa menganggapnya tidak lembut? Kenapa menganggapnya sedikit tidak waras? Kenapa menganggapnya tidak senonoh? Kenapa dia perlu berlaku sesuai ukuran tertentu? Bukankah para lelaki itu dapat menjawab kembali,

“Persetan dengan Anda.”

Karena sebenarnya bukankah semua orang harusnya sibuk sendiri? Mengurus perut buncit sendiri? Menggali upil dalam hidung sendiri? Mencebok kotoran sendiri? Menggosok daki sendiri? Mencabuti kutil sendiri? Memenceti jerawati sendiri? Dan begitu sibuknya sendiri hingga hanya sempat mengeluarkan seloroh,

“Persetan dengan Anda.”

Lalu lengan akan terentang. Tangan terangkat dalam posisi menantang. Dan dikeluarkanlah sebuah jari. Jari yang agak kaku. Jari yang paling panjang. Jari yang menjadi penengah antara komitmen dan petunjuk. Jari tengah. Jari tengah teracung dengan gaya yang menantang dan jujur menantang. Isyarat itu mengatakan,

“Persetan dengan Anda.

Persetan dengan Anda.

Persetan dengan Anda.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s