Hung (hang?) up

Beberapa bulan yang lalu aku menonton film yang tidak terlalu menarik. Aku merasa alurnya agak bertele-tele dan melelahkan. Judul film itu adalah “Hung (apa hang?) Up”. Tapi meskipun tidak menarik, adegan mendekati akhirlah yang cukup menggugah.

Jadi ceritanya, si tokoh utama (Meg Ryan) selalu tampak cemas dan lelah karena harus mengurusi ayahnya yang pemabuk, sakit-sakitan dan sepertinya Alzheimer *dalam opiniku ya ehem -_-*. Tiap hari dia terus-menerus ditelepon oleh orang-orang yang terus menerus bantuannya, padahal dia tampak seperti akan pingsan di tempat. ¬†Lalu dokter bapaknya (orang India) memperkenalkannya pada ibunya. Entah ada apa ya dengan ibu-ibu India, tapi mereka tampak begitu bahagia @_@. Nah si ibu India yang bahagia ini bilang pada si Meg Ryan, “Sometimes we just have to hang up.” Dan itulah yang dilakukan Meg Ryan yang depresi. Dia mencabuti semua kabel telepon! Lalu dia tertawa karena hidupnya jadi sangat-sangat tenang.

Aku pun jadi merasa bahwa kita perlu “hang up” sekali-kali.

Lagian pasti kesel kan kalau kita nelepon terus di ping pong (Untuk menghubungi dz tekan 1. Kalau sangat penting, tekan 5. Kalau masih bisa tunggu 10 menit, tekan 3. Niiiittttt….)

Gila, gak lucu kan ūüėÜ

Jadi mari kita sekali-kali hang up biar kuat mengatakan halo! ^^

Advertisements

Head for my Head

Ganti header nih ^^. Inilah yang gwa pikirkan tentang istilah “Masih banyak ikan di laut.”

Bagi kalian yang menyetujui “ikan-ikan di laut”, you can just keep your mouths shut. Mending berhenti men-di-human-isasi manusia okeh?

And that counts for you Beyonce!  <_< *you know which song!!!*

Pantulan Hati

Sepertinya bukan pertama kalinya aku berkata bahwa aku menyukai metafora. Aku akan mengatakannya lagi, “Aku sangat suka metafora!” Lalu mengenai metafora yang baru kupikirkan baru saja sehabis ujian tadi pagi, aku memikirkan tentang hatiku sendiri. Setelah berpikir-pikir sambil berguling-guling di tempat tidurku, aku memutuskan bahwa aku ingin hatiku seperti bola basket. Dia tidak mudah pecah seperti kaca dan tidak terlalu keras seperti batu karang.

Cukup fleksibel!

Kira-kira yang lain gimana ya? ^^

Punyaku, Punyamu, Punya-Nya

Pada kuliah Ilmu Komunikasi hari Rabu lalu, kami disuruh membuat kritik dan saran kepada teman. Aku sendiri mendapat kritik dan saran yang bagus sekali, katanya aku sering terlalu sensitif dan posesif  sehingga sulit melepaskan diri.

Aku mengangguk pada diri sendiri dan berkata, “Betul, betul, itu adalah hobiku.” Ada sedikit kebanggaan dalam hati ketika mengetahui bahwa apa yang orang pikirkan tentang diriku persis dengan apa yang diriku sendiri pikirkan. Berarti di sebuah level, aku bisa mensinkronasi hati, jiwa dan pikiran.

Lalu bagaimana dengan sensitif? Bagaimana dengan posesif?

Tidak dapat dipungkiri bahwa aku sudah dilahirkan dengan  2 sifat itu. Keduanya sangat dominan sehingga beberapa orang bisa menerimanya dan beberapa tidak. Wajar, tidak semua orang bisa mempunyai arti untuk yang lainnya. Tapi yang tidak diketahui orang banyak, aku menghabiskan sebagian besar hidupku untuk menutupi 2 sifat itu. Oleh karena itu aku sangat sangat sangat pendiam saat anak-anak.

Aku merasa bahwa meredam sensitifitas itu hal yang wajib kita lakukan. Jangan membicarakannya, jangan memikirkannya, dan terutama sekali JANGAN MERASAKANNYA!!! Tapi dude…, perasaan mengenai berbagai hal itu (misal: tergila-gila teknologi atau ingin selalu bertemu seseorang, dsb) menunjukkan bahwa kita punya ikatan dengan hal tersebut. Dan yang kita miliki, hanya ikatan itu.¬†Sedangkan hal itu, ya punya-Nya.

Mempunyai banyak rasa memiliki menunjukkan betapa kayanya dirimu. Betapa terbukanya hatimu dalam menerima anugrah. Lalu marah, kesal, kecewa dan sedih saat ikatan itu selesai memberikan kesemapatan padamu untuk percaya bahwa, “Bro, don’t worry…. Hal yang kamu cintai banget sekarang sudah diurus oleh yang paling bisa melakukannya. Sekarang lakukan hal lain.”

Begitulah. Sejak memutuskan bahwa, “Yak begitu!” Aku tetap suka terlalu sensitif atau terlalu posesif dan terlalu menunjukkan perasaan. Tidak masalah asal aku masih beruntung dan orang-orang yang memutuskan untuk tetap tinggal bilang, “Danz, itu tidak salah tapi pikirkan lagi apa keinginanmu besok!”

Itulah mengapa, pada orang-orang yang mengatakan aku terlalu sensitif, aku bilang: kalau begitu kita berteman donk!

^^

Pantas

“Heu euh nya, Fenny baru sadar orang kulit item mah euweuh nu pirang. Subhanallah.”

Memang betul yang dikatakan temanku itu. Penampilan semua orang sudah yang paling serasi. Rasanya semuanya sudah serasi. Sudah pantas. Begitu juga dengan rejeki, jodoh, dan penghargaan. Pasti hal-hal misterius ini sudah diserasikan dengan penerimanya. Aku baru menyadarinya hari ini, saat melihat sebuah duka mengenai seorang senior.

Tadi pagi aku berjalan dengan santai ke arah lift. Di sana aku bertemu dengan temanku yang sedang melihat-lihat pengumuman kelulusan ujian apoteker tahap 2. Aku pun ikut melihat dan merasa syok saat melihat nama seorang seniorku dinyatakan tidak lulus. Rasanya  syok sekali karena itu adalah kedua kalinya dia mengikuti ujian tersebut, tapi belum bisa lewat juga.

Pasti yang seperti itu belum rejeki. Aku tahu kok kalau seniorku itu gak mungkin malas-malasan karena dia adalah salah satu lulusan terbaik pada tahunnya (cumlaude) sewaktu S1. Ck ck ck… sungguh menyakitkan mengetahui ternyata rejekinya belum datang juga atau bukan dalam bentuk yang diinginkan.

Harus sabar, harus ikhlas, harus melakukan hal-hal yang dilakukan orang-orang berjiwa besar.

Pekerjaan berat, Insya Allah bayarannya adalah surga. Nice… ^^

“Saat mendapat kesusahan, sesungguhnya kita diberikan kesempatan memasuki surga.”