Bukan Purbaleunyi

Setengah harian kemarin aku menjadi pela-cur. Peladen Curhat. Siangnya aku meladeni girl talk. Sorenya aku meladeni boy talk. Aku sadar bahwa aku lumayan tidak becus dalam melacur (meladeni curhat), tapi dari ketidakbecusan itu muncul suatu kesadaran.Kesadaran mengenai jurangnya perempuan dan lelaki.

20140418_155244(Nomor boleh sama, tapi persepsi warna berbeda. Padahal pabriknya sama! Agak seperti perspektif perempuan dan lelaki! Aneh!)

Jurang perbedaan perempuan dan lelaki itu dalam sekali. Dan komunikasi adalah jembatannya. Tapi seperti semua jembatan tentunya tiang pancang pertama itu harus terpasung kuat. Bisa jadi kita memasang tiang dengan sedikit asal. Tidak telaten. Tapi pada saat-saat yang sangat istimewa, Benar-benar istimewa. Sangat spesial dan mungkin disebutkan sebagai “takdir”, kita akan menyadari goyahnya esensi diri sendiri dari tiang pancang yang entah mengapa selalu goyang. Jembatan antara “aku” dan si “dia” bergerak kiri kanan. Goyah. Padahal sudah yakin memasang tiang itu kuat-kuat.

Lalu kenapa jembatan itu goyah dan goyang?

Mungkin dan bisa jadi itu karena tanah tempat tiang itu dipancangkan goyang, gembur atau patah. Agak seperti jalan tol purbaleunyi, yang terus-terusan amblas. Ada yang mengatakan jalan tol itu dibangun di atas tanah tidak stabil, bahkan tepat di atas sebuah retakan. Harusnya jalan tol itu diakali dan didesain ulang. Tapi orang-orang bersikeras membangun jalan tol itu dengan rancangan yang familiar dan telah diketahui berhasil di mana-mana. Masalahnya daerah Purbaleunyi itu istimewa. Dia butuh desain tersendiri. Yang spesial. Yang hanya untuk dirinya.

Purbaleunyi sayangnya tidak bisa ngomong ya. Kalau dia bisa ngomong tentu dia akan mengatakan,

“Saya butuh sesuatu yang tidak biasa.”

“Saya butuh sesuatu yang kuat sekaligus cerdik.”

“Saya tidak sama dengan tanah-tanah yang lain.”

Tapi Purbaleunyi tidak bisa ngomong. Jadi dia pun dibolak-balik oleh orang-orang yang berusaha atau tidak sepenuhnya memahami dirinya. Andaikan Purbaleunyi bisa ngomong, tentu dia akan mendapatkan perlakuan yang semestinya. Yang selayaknya dia dapatkan. Karena dia pantas mendapatkan hal-hal yang dia inginkan.

Jadi kupikir, sedikit banyak kita perlu bersyukur karena kita ini bukan Purbaleunyi. Kita dapat menyatakan diri sendiri dengan sebebas-bebasnya. Kita dapat mengukur diri dari jembatan hubungan kita dengan manusia lain. Kita dapat meminta bantuan pada orang lain di saat diri sendiri bingung dengan esensi diri. Dan lebih asyik lagi, kita dapat membantu membantu orang lain dengan memberikan koneksi tertentu.

Itu semua keren. Itu semua keberuntungan. Itu semua “takdir”.

Suatu hubungan dapat mengeluarkan hal terbaik dan terburuk dalam diri. Yang manapun yang keluar tidak masalah. Asal pada saat salah satu darinya keluar, kita hadir menyambut perasaan itu. Perasaan itu disambut untuk menghindari korupsi hati. Seperti getir, tidak bisa bersyukur, ingin terburu-buru, dan lain sebagainya yang semacam itu.

Jadi berhubunganlah dengan orang yang akan membantumu hadir. Mungkin akan keluar yang terbaik. Mungkin akan keluar terburuk. Tapi rangkullah diri yang keluar itu. Rangkul dia dan berkomunikasilah dengannya. Berbicaralah panjang lebar, Lalu bertransformasilah. Terus menerus. Terus menerus. Hubungan yang baik itu dinamis dan mengajakmu untuk berkembang dan menemukan diri sendiri berkali-kali.

Itu yang kupercaya. Meskipun saat ini saya masih sendiri. Tapi itu yang kurasakan juga pada semua hubunganku, sekalipun hanya sebuah sapaan sederhana saat menolak memberi uang pada pengamen.

Terus menerus. Dinamis tidak pernah statis. Sebuah doa. Atau mungkin yang dikatakan orang lain sebagai “semesta yang bertasbih”.

Hadir adalah mengenali diri sebagai hamba Tuhan. Karena itu, apapun yang dilakukan akan bertolak pada kesadaran itu. Di dalamnya ada pahala, ada tobat, dan ada pertaruhan surga-neraka. Hadir adalah salah satu hal yang paling sulit dilakukan di dunia ini.

Itu yang kupercaya juga.

Tapi semua pergumulan aneh dalam menghadirkan diri layak dan pantas untuk dijalani. Dan merupakan suatu keberuntungan tersendiri. Di dalamnya tercermin hal yang disebut kasih Tuhan. Di dalam gulat sengit itu malah ada hal yang lembut! Aneh. Bipolar. Tapi benar.

Dan itu makanya pula Paulo Coelho bilang, “pilih perangmu”. Dalam kata lain pilihlah perang yang akan menghadirkan dirimu seutuhnya.

Lalu bertransformasilah. Terus menerus. Dinamis dan jangan pernah statis. Manusiawi tidak terobotisasi.

Jadi kukatakan selamat pada kalian yang bingung! Selamat pada kalian yang tidak harus berbuat apa! Selamat pada kalian yang sedang bergumul!

Bersiap-siaplah menghadapi hal-hal yang jauh lebih seru lagi. Dan ingatlah untuk menghadiri hari ini! Selalu hadiri hari ini, jam ini, menit ini, detik ini. Kalau tidak kau akan merugi. Dan juga ingat. Anda bukan Purbaleunyi yang diberi aturan dan rasionalisasi. Semua itu buatan manusia sendiri. Jadi buatlah aturan khas pribadi.

Biar keren. Biar asyik. Biar mantap.

-nyaw, bukan Purbaleunyi-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s