Tahi Lalat

“Aya masjid di masigit, meuni caang katingalna. Aya istri jangkung alit, karangan dina pipina. ” (Lirik lagu Sunda, Tokecang)

Aku tidak pernah bersekolah di satu tempat melebihi 3 tahun. Hanya belakangan ini saja, aku berkuliah di tempat yang sama selama hampir 5 tahun, selebihnya di tempat lain, semuanya 3 tahun. Bahkan di SD aku sudah pindah sekolah 2 kali. Karena berpindah-pindah seperti itu, aku jadi bertemu banyak anak-anak. Kau akan bertemu si pemimpin suku, yang menjadi komando permainan-permainan dan selalu menang. Ada juga si anak jahil yang selalu berusaha mencari perhatian. Lalu tentu saja ada prajurit-prajurit kecil, yang tidak berani melawan kata komandan. Tentu saja jangan lupakan si tertindas. Apa gunanya ada pemimpin bila tidak ada yang diinjak? Ya, itu si tertindas. Seorang anak yang dipilih untuk berada di luar kotak.

Saat baru kembali dari Amerika, anak yang mengajakku bermain balon-balonan untuk pertama kali adalah si anak di luar kotak. Dia cantik, tinggi, putih dan ada sebuah tahi lalat di pipinya. Tepat seperti gambaran perempuan cantik di lagu Tokecang. Pada saat itu aku takut dengannya, dan tidak berbicara karena aku tidak mengerti bahasanya pada saat itu. Lalu pada akhirnya, kami tidak pernah benar-benar bermain, tapi dia selalu tersenyum cantik dan bisa mengucapkan namaku lebih fasih dari guru-guruku waktu masih bersekolah di Amerika.

Pada saat itu aku tidak tahu bahwa dia adalah anak di luar kotak. Keesokan harinya baru aku mengetahuinya. Sebuah cekcok besar antara dua kubu para anak perempuan baru saja usai. Mereka berbaikan lalu memutuskan untuk berteman kembali sambil secara tidak sadar memilih anak lain yang dimusuhi. Ternyata yang dipilih adalah si anak tahi lalat dan teman sebangkunya, karena tampaknya mereka berdua memilih “netral” saat masa cekcok, hal itu malah membuat mereka terlempar dari lingkaran pergaulan. Aku sendiri tiba-tiba mendapatkan diri berteman erat dengan komandan yang terang-terangan sangat bermusuhan dengan anak tahi lalat. Meskipun demikian, aku masih bertukar senyum dari si anak tahi lalat. Diam-diam aku mengagumi kebaikan hatinya. Dia selalu tersenyum, dan saat teman sebangkunya mendapat aib (pup di celana karena kelamaan menahan), ia tetap baik hati dan tidak menertawakan temannya itu pada saat seluruh kelas ribut merongrong mengejek.

Terakhir kali aku melihatnya secara langsung adalah saat dia sedang dibonceng ayahnya (saat itu aku hampir SMU). Padahal kecepatan motornya cukup tinggi, tapi dia memanggil namaku sefasih saat baru bertemu. Sayang aku begitu kaget dan tidak dapat membalas panggilannya. Aku hanya memandang punggungnya dari kejauhan.

Kurasa keadaan si anak tahi lalat sekarang baik sekali. Entahlah dia masih berada di luar kotak atau tidak, yang jelas aku melihatnya di dalam sebuah kotak. Kotak TV, saluran lokal, sedang diwawancara pendapatnya tentang suatu hal yang bersifat “Bandung”. Ternyata dia menjadi gadis yang sangat cantik. Roman mukanya pun ceria dan bersih, tanpa ketinggalan tahi lalat khasnya.

Betul-betul seperti lagu Tokecang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s