Free School

Salah satu buku kesukaanku adalah Totto-chan. Bercerita tentang seorang anak yang tidak cocok dengan sistem pendidikan pada era itu, lalu terpaksa terus-menerus berpindah sekolah sampai pada akhirnya dia menemukan sekolah impiannya yang gedungnya terbuat dari bekas gerbong kereta. Selain Totto-chan, aku juga sangat menyukai komik “Cat Street” dan “The Wandering Class”. Ketiga bacaan kesukaanku itu punya kesamaan, semuanya bercerita tentang free school.

Free school tidak mengikuti sistem pendidikan yang lumrah. Terdapat banyak sekali waktu bebas untuk si anak mengeksplorasi bakatnya sendiri, dan tentu saja dengan bantuan guru. Free school tampaknya adalah konsep yang sangat menarik bagiku yang sering kebingungan. Kalau dulu sekolah di free school, tentu ada banyak waktu bagiku untuk mencoba berbagai hal dan menetapkan hal yang paling kusukai (bukannya alih-alih menetapkan hal yang paling aku kuasai).

Setelah ngopi-ngopi bareng temen-temen lama menyadarkanku bahwa sebenarnya aku telah mengikuti “free school ala labkal”. Labkal (Lab Kalibrasi) adalah salah satu lab di jurusan FT ITB yang secara sepihak dijadikan sekretariat situs rileks.comlabs.itb.ac.id *intranet aja*. Lab itu adalah tempat kerjanya Riechan, icon rileks. Semua orang sangat lengket pada Riechan. Kurasa itu adalah bakat terbesarnya, dia membuat orang lain merasa nyaman dengan sendirinya. Karena sangat nyaman, tidak ada yang pernah merasa malu melakukan hal-hal yang akan dianggap idiot di tempat lain *atau itu hanya aku saja?*.

Tapi seperti lirik dalam salah satu lagu Nelly Furtado, “All good things come to an end”, free school yang merupakan pelarianku pun secara berkala memudar seperti warna baju yang terlalu sering dijemur. Bos-bos jurusan FT mengetahui tentang labkal yang dijadikan tempat mangkal anak-anak yang hilang dan ditetapkan kalau hal itu sangat mengangganggu, kemudian Riechan ditarik ke bagian administrasi dan labkal pun ditinggalkan. Tentu saja mahasiswa-mahasiswa yang suka mengakses situs tersebut masih mengadakan kopdar-kopdar, tapi pertemuan-pertemuan semacam itu tidak bisa menggantikan kenyamanan sebuah free school. Karena terkadang, kau merasa tidak cocok dengan tempatmu berada sekarang, kau pun berdoa pada Tuhan, “Tuhan, aku merasa hilang dan bingung, tapi aku tidak mau memakai narkoba atau alkohol. Apa yang harus kulakukan?” Lalu ternyata seseorang mengenalkan atau secara tidak sengaja kau melihat sebuah free school yang menerimamu begitu saja tanpa banyak tanya…. Bukankah tempat seperti itu menyenangkan?

Tempat seperti ini, yang tidak mengikuti sistem dunia, apa akan ada lagi?

6 thoughts on “Free School

  1. akan ada lagi kok danz… energi kan tidak bisa dimusnahkan, dia akan muncul dalam bentuk yang lain…cuma mungkin waktu munculnya itu yang belum bisa kita prediksi😉

  2. kalo ndak ada ndak butuh sih ya. Tapi awak pikir gmn klo riechan bikin free school, soalnya berbakat bgt😉. Tapi itu hanya ide gw aja😆

  3. @tongki: begitulah tonk, awak diundang jadi dateng gt aja tanpa bnyk mikir :p

    @laila: betul jg, jgn-jgn riechan itu harus jadi EO? Waktu bubar yg diurusin riechan jg sukses besar dan blm bs disaingi kesuksesannya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s