Setia, Banyak Cinta

Darimana kamu belajar kesetiaan? Dari orangtua? Dari orang-orang di sekitarmu? Apa ada yang pernah belajar dari buku? Kalau aku selain mempelajarinya dari orantuaku, aku juga mempelajarinya dari sebuah buku anak-anak yang tipis sekali. Bukunya berwarna ungu muda dan kalau tidak salah judulnya, “The Velvet Bunny”.

Ceritanya adalah tentang boneka kelinci beludru yang sangat sayang dengan majikannya. Iya selalu menemani majikannya, bahkan saat majikannya sakit cacar air. Tapi malang, setelah majikannya sembuh, dokternya berkata kalau semua benda yang pernah kontak dengan si majikan harus dibakar (termasuk si kelinci beludru). Saat si kelinci beludru mau dibakar, iya tidak sengaja tercecer di tengah jalan. Dingin, kesepian, cemas dan rindu pada majikannya terus-terusan melandanya. Tidak sadar kelinci beludru menangis. Air matanya menjadi sebuah bunga yang ditempati seorang peri. Peri itu menghapus air mata si kelinci beludru kemudian menyihirnya menjadi kelinci betulan agar ia punya teman-teman. Meskipun begitu, si kelinci beludru masih suka ngumpet-ngumpet menengok majikannya yang sekarang sudah punya kelinci beludru lain yang lebih bagus.

Buku anak-anak sederhana seperti itu menimbulkan pertanyaan, “Punyakah kita kesetiaan seperti si kelinci beludru?” dan “Pernahkah kita berusaha mencintai seperti kelinci beludru?” Yah, itu hanya dongeng, dunia nyata itu kejam dan akan mengenyahkanmu kalau perlu. Setiap hari, saat menyalakan TV, pasti ada berita tentang suami yang tidak setia, istri yang ditinggalkan, istri yang ingin membalas sakit hati, dan anak-anak yang ditelantarkan. Lalu dengan bangga kita berkata, “Dunia nyata itu kejam.”

Dunia nyata yang kejam, atau hati manusia yang menjadi kejam?

2 thoughts on “Setia, Banyak Cinta

  1. dunianya emang kejam, tapi hati manusia lah yang lama-lama jadi kejam danz

    dan dongeng2 selalu berusaha menanamkan hal-hal baik pada anak-anak

    sedini mungkin mereka diajar kesetiaan, mungkin lupa setelah dewasa

    paling nggak bakalan tersimpan di sudut memori lah

    gw salut sama para pembuat dongeng dengan segala makna tersiratnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s