Ngotot Cap Kuda Liar

Beberapa hari ini, gwa merasa ngotot. Ngotot dengan rasa haus menginginkan fakta. Itulah sebabnya gwa nggak bisa tidur. Otak gwa berputar-putar antara MM, akademis, diri sendiri, dan fakta. Iya, fakta. Gwa merasa ada yang tidak alami. Bahwa gwa minta putus itu mungkin benar, tapi dz dan MM tidak menjadi pasangan adalah tidak alami. TIDAK ALAMI, itulah kata petunjuk pertamanya.

Dengan petunjuk itu gwa menyalakan TV. Ok, itu terdengar stupid, tapi gwa benar-benar menyalakan TV. Di TV tersiar sebuah sitkom tentang seorang ibu rumah tangga, lalu terjadi pertengkaran besar dengan suaminya.

Gwa memincingkan mata dan berteriak dalam hati “ITU!!!”

‘Itu’ yang sangat tidak alami. ‘Itu’ adalah ‘pertengkaran’. Harusnya dz dan MM itu bertengkar saking susahnya berkomunikasi. Tapi tidak! Saking susahnya, kita berdamai. BERDAMAI…. Ada sebuah hubungan yang ditinggalkan karena kita BERDAMAI. Lu gak bisa melakukan itu! Berdamai itu buat orang lain, kita berperang setiap hari. Terutama gwa, gwa sangat pro jihad gini-gini juga. I think we should work it out!

Lalu gwa menelpon MM. Lu tau, untuk memulai pertengkaran, tapi tidak, GWA SUCKS DALAM MELAKUKAN HAL ITU. Gwa hebat dalam cuek, tapi gwa sucks dalam memulai pertengkaran. Jadi usaha pertama gwa gagal total. Lalu gwa memulai lagi, besoknya, gwa memulai pertengkaran. Dan kita sedikit bertengkar. Gwa sangat bangga kita bisa bertengkar!!! >_< kya kya!!!
Dan ternyata ditemukan bahwa fakta itu tidak selalu fakta kalau menangkapnya salah. Gila… ~.~

-Lalu dz dan MM kembali menjadi pasangan. Karena itu yang pasangan lakukan. Mereka berusaha.

2 thoughts on “Ngotot Cap Kuda Liar

  1. bu, lain kali kalo mau bertengkar…biar gak susah mulainya, bikin plang yang gede terus bawa ke depan MM. tulisannya : woi, gw mau bertengkar!

    ck ck ck… senangnya kalian kembali menjadi pasangan… dan banyak belajar hal-hal baru ^^

  2. Hohoho…, justru mengawali pertengkaran itu yang paling susah!!! >_<

    Begitulah boi, jadi bersyukur karena hal-hal yang buat orang lain biasa. Buat yang sakit asma, dia jadi bersyukur karena bisa bernapas. Buat yang stroke terus lumpuh, jadi bersyukur karena pernah sehat dan lari-lari. Sedangkan buat gwa, jadi bersyukur karena bisa bertengkar. Orang lain melakukan itu dengan alami tapi merasa itu biasa atau malah buruk. Mereka gak tau bahwa ada juga orang yang susah melakukan hal-hal yang buat orang lain dah alami.

    Jadi yang ada harus disyukuri. Lalu terus berjalan sambil menambal lubang di jalan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s