STOP!

Sampai sekarang gwa belum pernah menemukan kalimat yang lebih gwa benci dari kalimat di bawah ini:

Kamu membuat saya kecewa.

GWA BENAR-BENAR BENCI KALIMAT INI. Ini adalah kalimat yang manipulatif, tidak mendidik, tidak solutif, dan entah atas alasan gila apa, lu akan menemukan kalimat itu diucapkan dari generasi ke generasi oleh orang-orang yang aktif di organisasi-organisasi. Terakhir kali seseorang mengatakan kalimat itu padaku, aku harus men-tidak-manusia-kan diriku. Aku harus bilang, “Lu ini yang kecewa.”

Gwa gak suka menyakiti dan mengacuhkan orang lain. LALU KENAPA KALIAN TETAP MEMAKAI KALIMAT DESTRUKTIF ITU!!!! DO YOU HAVE NO HEART?????

WHAT THE FUCK. WHERE DID YOUR HEART GONE MISSING? WHY DO YOU PUSH HEART ON SOMEBODY ELSE? WHO GIVES A DAMN ABOUT YOU? WHY DO I HAVE TO THINK OF YOU? WHAT IMPORTANCY SO YOU CAN SAY I DON’T HAVE A HEART? WHO ARE YOU JUDGING MY DO’S?

DO YOUR FUCKING SOME WHERE ELSE. Lu pikir gwa bego apa, bahwa gwa gak tau bahwa itu adalah sebuah kalimat pengendali? Gwa sudah berkomunikasi jauh lebih lama karena selama kalian berbicara dengan 1 mulut, aku mendengar dengan 2 telinga.

*I feel pissed and hateful*

*Gwa mohon jangan pernah gunakan kalimat itu pada siapapun. Bahkan pada orang gila yang tidak mengerti ucapan lu. Dengarkan gwa, dan lu akan menemukan bahwa bahkan Tuhan dan rasul-Nya tidak menggunakan kalimat itu. Kenapa menggunakannya? Kenapa mengatakan orang lain tidak memuaskan? Keperluan semendesak apa sampai mengharuskan kalimat itu keluar?*

*Be careful, kata-kata itu seperti pisau bermata dua. Seseorang harus tersayat.*

Kita akhiri kebencian ini dengan sebuah lagu yang antik:

“Stop, under the name of love… Before you break my heart….” -The Supremes-

Advertisements

Powerbaby

“Si danz mah aneh!”

Itu adalah sebuah pendapat yang dilontarkan oleh kenalanku di SMU. Sekarang laki-laki yang memberikan pendapatnya tentangku, sejurusan dengan MM. Bukankah dunia cukup gila! Ironisnya, aku selalu mengira dirinya lah yang aneh. Talking of irony… :lol:. Bagaimanapun, terimakasih atas pendapatnya, good job bro!

Saking good job-nya, atas dasar pendapat itu, aku mendapat sebuah ceramah panjang tentang ‘cewek-cewek doyan nge-net yang saking bukan powerbaby-nya  jadi mencari eksistensi di dunia maya’ oleh seorang teman yang gemar beranalisa. Memang sebuah percakapan yang terjadi lebih dari 1 tahun lalu, tapi boi, tidak ada yang bisa melupakan dengan mudah seseorang mengatakan bahwa kamu adalah seorang non-powerbaby. Karena itu membuatmu bertanya, berapa banyak orang yang diperlukan untuk membuatmu merasa tidak ok. Dalam kasusku, aku akan bilang tidak sedikit. Membuatku bertanya lagi, hello… kenapa banyak ya? Apakah aku begitu sulit berubah atau sebenarnya aku powerbaby tanpa menyadari. Kalau aku adalah seorang powerbaby, powerbaby macam apa dan apa yang harus aku lakukan.

Terlalu banyak pertanyaan dan aku memutuskan untuk tidak memikirkannya, atas dasar kasih sayang. Aku sayang otakku, oleh karena itu dia tidak perlu banyak berpikir. Nyahahahaha… 😆

Tapi sekarang aku tahu, aku jelas-jelas bukan powerbaby. Aku bukan Shana Fatina, sosok terkuat perempuan pertama KM-ITB. Aku bukan Asih Nurul Said Jenie, cumlaude-dobel kuliah-supel. Aku juga bukan Ratu Tisha, bersemangat dan tahu apa yang dia inginkan dan selalu mendapatkannya. Aku juga berharap kalian jangan pernah berpikir bahwa aku adalah laila hanya karena aku berteman akrab dengannya.

Aku akan menegaskan bahwa aku adalah danz. Lalu siapa dia? Dia adalah cewek yang suka menyahut di kuliahan tapi mendapat nilai yang tidak terlalu bagus di akhir semester. Dia suka makanan yang menggemukkan, dan mudah sekali tertidur, bahkan suka ngiler saking seneng tidurnya. Dia tidak pandai berorasi, jadi jangan terlalu memaksa dia untuk berbicara. Dia adalah orang yang akan berpikir “Wow akan hebat melukis itu, atau mencoba melakukan ini.” lalu tidak melakukannya karena bisa ‘dilakukan lain kali’. Dia suka menunda beberapa hal, tapi tidak sabaran soal keluarga, teman, dan orang-orang yang dikasihi. Dia juga suka bernyaw-nyaw, yaitu melakukan hal-hal biasa dan mendapatkan arti hebat darinya.

Tapi selalu ada konsekuensi dari bernyaw-nyaw. Kau harus membiarkan orang lain mengatakan APAPUN tentang dirimu. HARUS. Meskipun itu tidak benar, dan mungkin orang di hadapanmu bukan membuat penilaian tentang dirimu tapi tentang dirinya (percayalah, ada saja hal seperti ini), kau harus membiarkan orang itu berbicara. Kenapa tidak? Dia punya beberapa ide yang bagus, seperti temanku yang punya ide bahwa seorang powerbaby itu pasti eksis di dunia nyata.

Ironis,

karena semua perkataanmu akan berbalik padamu. Seperti pada kenalanku itu. Aku benar-benar berpikir dialah si aneh. Ternyata kita saling menuding keanehan masing-masing. Lalu aku berpikir, itu memang tidak penting ya. Tapi lalu ternyata menjadi penting karena berentet pada tudingan-tudingan lain.

Ini namanya butterfly effect bukan ya?