Manusia

Aku tidak bisa tidur semalaman. Salahku sendiri, aku menonton film horror menyebalkan di HBO sih sebelumnya. Sepertinya film itu harusnya semacam horror seksi, tapi kau tahu, selera orang itu berbeda-beda. Ngomong-ngomong, darah bercipratan dan alat kelamin dipotong lalu dimakan anjing? Itu tidak seksi ok. Jangan coba meyakinkan aku.

Lalu selama aku berguling-guling semalaman karena tidak bisa tidur, aku memikirkan orang gila macam apa yang secara serius membuat film horror ‘seksi’ itu? Apa sih yang dia pikirkan? Apa dia tidak punya rasa jijik? Trauma di kepala macam apa yang bisa membuat ide bahwa, ‘Hore, ada cewek nih, ayo kita silet-silet wajahnya’ itu terdengar normal?

Hmmm….

Kau tahu, aku rasa aku akan berhenti menghakimi. Karena aku bukan orang yang terbaik dalam melakukan hal itu. Seperti misalnya, baru saja aku menonton acara siraman rohani Islam di TV7, lalu ustadz dalam acara itu mengutip surat “Waktu”. Surat luar biasa kau tahu, bisa menghubungkan waktu, kerugian, dan hal-hal yang perlu dilakukan hanya dengan beberapa kata dan kalimat tepat. Hanya dengan sangat memahami surat itu, kurasa itu sudah bisa mengantarkanmu ke surga. Lalu itulah luarbiasanya surat itu. Ada sedikit misteri di dalamnya. Tidak ada deskripsi yang sangat mendalam seperti apa ‘sabar’ yang sebenarnya, dan apa itu ‘kebaikan’ yang benar-benar baik. Ditinggalkan cukup misteri di sana untuk kita berusaha sendiri.

Aku rasa, kalau kita tidak sepenuhnya percaya diri, kebenaran itu agak bias dan pekerjaan menghakimi, sebaiknya kita berikan pada ‘Yang Lebih Kompeten’. Seperti pada film itu, seseorang yang stress dan bingung bisa saja membenarkan apa yang ditayangkan film itu. Bisa saja dia berpikir, “Ah iya, sepertinya begitu mencintai seseorang, kita menggantung dia terbalik dan mencabik-cabik tubuhnya, ya ya ya….” karena dulu ayahnya memukuli ibunya tapi mengaku mencintai ibunya (?). Lalu kita bilang bahwa dia tidak tahu kebenara padahal persepsi dia tentang kebenaran berbeda jauh dengan kita. Lalu lagi, atas dasar ilmu pengetahuan, kita mengecek profil MRI otaknya untuk melihat bagian mana pada otaknya yang menyala saat berpikir untuk menyiksa orang. Lalu lalu lagi kita akan terkejut bahwa hasil MRI menunjukkan bahwa dia berada dalam keadaan kalem saat melakukannya sama seperti saat kita makan dan minum. Kalem aja…. dan JDER!!! Ntah siapa lagi yang mati karena persepsi bengkok itu.

Begitulah kebenaran, dia begitu lemah di dunia yang fana ini. Dia berubah-ubah tiap saat begitu yang menyampaikannya tidak mengerti apa yang dia sampaikan. Lalu persepsi yang salah akan diteruskan dari generasi ke generasi ke generasi. Lalu pada akhirnya kita bertanya,

Apa yang salah?

Apa yang benar?

Siapa yang harus disalahkan dan dibenarkan?

?

Wew. Itu adalah pertanyaan-pertanyaan sulit. Itu terdengar seperti sebuah medan perang. Should give humans some credit ei? Should be more grateful to God for lots of help.

Lumayan, lumayan…. Lumayan seru….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s