Punyaku, Punyamu, Punya-Nya

Pada kuliah Ilmu Komunikasi hari Rabu lalu, kami disuruh membuat kritik dan saran kepada teman. Aku sendiri mendapat kritik dan saran yang bagus sekali, katanya aku sering terlalu sensitif dan posesif  sehingga sulit melepaskan diri.

Aku mengangguk pada diri sendiri dan berkata, “Betul, betul, itu adalah hobiku.” Ada sedikit kebanggaan dalam hati ketika mengetahui bahwa apa yang orang pikirkan tentang diriku persis dengan apa yang diriku sendiri pikirkan. Berarti di sebuah level, aku bisa mensinkronasi hati, jiwa dan pikiran.

Lalu bagaimana dengan sensitif? Bagaimana dengan posesif?

Tidak dapat dipungkiri bahwa aku sudah dilahirkan dengan  2 sifat itu. Keduanya sangat dominan sehingga beberapa orang bisa menerimanya dan beberapa tidak. Wajar, tidak semua orang bisa mempunyai arti untuk yang lainnya. Tapi yang tidak diketahui orang banyak, aku menghabiskan sebagian besar hidupku untuk menutupi 2 sifat itu. Oleh karena itu aku sangat sangat sangat pendiam saat anak-anak.

Aku merasa bahwa meredam sensitifitas itu hal yang wajib kita lakukan. Jangan membicarakannya, jangan memikirkannya, dan terutama sekali JANGAN MERASAKANNYA!!! Tapi dude…, perasaan mengenai berbagai hal itu (misal: tergila-gila teknologi atau ingin selalu bertemu seseorang, dsb) menunjukkan bahwa kita punya ikatan dengan hal tersebut. Dan yang kita miliki, hanya ikatan itu. Sedangkan hal itu, ya punya-Nya.

Mempunyai banyak rasa memiliki menunjukkan betapa kayanya dirimu. Betapa terbukanya hatimu dalam menerima anugrah. Lalu marah, kesal, kecewa dan sedih saat ikatan itu selesai memberikan kesemapatan padamu untuk percaya bahwa, “Bro, don’t worry…. Hal yang kamu cintai banget sekarang sudah diurus oleh yang paling bisa melakukannya. Sekarang lakukan hal lain.”

Begitulah. Sejak memutuskan bahwa, “Yak begitu!” Aku tetap suka terlalu sensitif atau terlalu posesif dan terlalu menunjukkan perasaan. Tidak masalah asal aku masih beruntung dan orang-orang yang memutuskan untuk tetap tinggal bilang, “Danz, itu tidak salah tapi pikirkan lagi apa keinginanmu besok!”

Itulah mengapa, pada orang-orang yang mengatakan aku terlalu sensitif, aku bilang: kalau begitu kita berteman donk!

^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s