Jejak Jemari Harum Melati

Setelah sekian lama akhirnya menulis lagi. Ini adalah lanjutan dari “Kembang Wangi”. Banyak yang tidak memahami cerita itu. Ya gak masalah juga kalau tidak paham. Biarkan sahaja semuanya mengalir, dan nikmatilah!

Ini adalah cerita yang kutulis juga untuk menyalurkan sedikit hitam dalam hati saya setelah mengalami banyak kekecewaan. Daripada saya getir, lebih baik mencari penyelesaian lewat fiksi. Ya nggak?

Seperti biasa, jangan pikirkan hal-hal teknis saat membaca dan biarkan semuanya mengalir. Selamat membaca!

-nyaw, kembali menulis fiksi-

***

Jejak Jemari Harum Melati

20150402_234931

Kembang Wangi adalah pelacur yang tinggal seorang diri. Tanpa mama germo maupun seorang pun kawan. Sebenarnya, sebelumnya, keadaannya tidak demikian. Pada awalnya Kembang Wangi tidak seorang diri. Dan rumahnya yang serupa liang, tidak hanya berisi dirinya seorang. Dan pada awalnya, rumahnya tidak pernah sepenuhnya sepi. Dan sebelum ini, tidak hanya pikir dan khayalan yang menjadi teman kesendirian Kembang Wangi. Dan dulu tidak hanya tanya, “Mengapa saya adalah pelacur perawan?” yang menjadi pengisi kekosongan dalam diri Kembang Wangi.

Ya betul. Dulu keadaannya tidak seperti ini. Dulu, Kembang Wangi bukan satu-satunya pelacur yang mengisi rumahnya yang serupa liang. Dulu ada Kembang Wangi dan seorang lagi yang bernama Harum Melati. Kembang Wangi perawan tapi Harum Melati bukan. Karena Harum Melati adalah ibu kandung dari Kembang Wangi. Dan kehormatan melahirkan selagi perawan hanya milik Maryam. Jadi sudah barang tentu Harum Melati sudah tidak perawan.

Tapi selain sudah tidak perawan dan melahirkan yang menjadi pembeda Harum Melati dan Kembang Wangi, masih ada hal-hal lain. Hal lain seperti tingkat kebijaksanaan dan cara mencerna kehidupan. Harum Melati kalah bila dibandingkan dengan Kembang Wangi dalam dua hal ini. Memang itu adalah fakta yang aneh, tapi cukup nyata. Mungkin karena menjadi seorang ibu tidak selalu menandakan bertambahnya kebijaksanaan. Kalau cukup sial, menjadi seorang ibu hanya berakhir sebagai seseorang yang telah melahirkan. Sudah cukup sampai di sana.

Sayangnya, Harum Melati terhenti sebagai sebagai seorang ibu yang melahirkan. Dan memang sangat disayangkan ia tidak mendapatkan apa-apa dari kehidupannya yang selanjutnya. Kebijaksanaannya tidak bertambah, dan ia tidak pernah sepenuhnya dapat mencerna hal-hal yang telah menimpanya. Kalau ia berhasil mencerna segalanya dan mendapatkan kebijaksanaan darinya, sudah barang tentu ia tidak akan melakukan hal yang telah dilakukannya. Dan kalau ia tidak melakukan hal yang telah dilakukannya, maka Kembang Wangi tidak akan tinggal seorang diri. Dan mungkin Kembang Wangi tidak akan menjadi pelacur yang selalu perawan. Dan mungkin saja Kembang Wangi akan mengerti keperawanan para pelacur di dalam garis keluarganya.

Tapi tidak. Harum Melati telah melakukan hal yang telah dilakukannya. Suatu hal yang telah dilakukan oleh ibunya. Juga neneknya. Dan tak luput nenek dari neneknya. Tentu saja tak ketinggalan nenek dari nenek neneknya. Hal yang telah dilakukan oleh para perempuan pendahulu Kembang Wangi telah meninggalkan sebuah luka di dalam hatinya. Ketika mengingat hal yang telah dilakukan ibunya, Kembang Wangi hanya dapat menggeleng-gelengkan kepalanya pelan sambil berdecak. Ia akan melepas napas panjang dan berkata,

“Ah Ibu. Mengapa kau mengulang sejarah? Mengapa kau melakukan hal yang telah dilakukan nenek? Padahal kau tahu laki-laki itu seperti kupu-kupu. Lalu kami perempuan….”

Biasanya Kembang Wangi tidak akan melanjutkan kata-katanya. Karena ujung dari kata-kata itu selalu berhasil membuatnya resah. Kedua matanya pun akan menjadi basah karena gelisah memikirkan nasib para neneknya. Terutama kalau memikirkan nasib ibunya sendiri. Harum Melati.

Dulu ketika Kembang Wangi hanya setinggi lutut orang dewasa dan tangannya belum mencapai telinganya yang di seberang, Harum Melati sering menuturkan sebuah kisah. Kisah yang menemani Kembang Wangi ketika ia masih sering dimandikan. Kisah yang menjadi pelantun ketika badannya dibedaki dan dipakaikan baju ringan berwarna-warni lembut. Dan kisah ini kemudian diteruskan, sambil rambut Kembang Wangi yang masih sebahu disisir sembari Harum Melati mencari telur kutu putih.Pada saat seperti ini, kisah Harum Melati memuncak dan menjadi menarik.

Kisah yang dituturkan oleh Harum Melati adalah mengenai asal-usul dirinya dan Kembang Wangi. Di dalamnya ada kisah mengenai takdir mereka. Dan paling penting, sesekali akan terselip kisah mengenai ayah kandung Kembang Melati. Meskipun hanya kisah yang berukuran sedikit, tapi terasa seperti harta bagi Kembang Melati yang tidak pernah bertemu ayahnya.

Pada suatu hari Harum Melati memulai kisahnya. Ia memulainya dengan sebuah gerakan sisiran membelah dan menjentik telur kutu putih di atas kepala Kembang Wang. Harum Melati memulai kisahnya dengan suara yang halus namun bernada riang. Kata-kata itu meluncur dengan tenang,

“Tahukah Kembang Wangi, tahukah kamu bahwa kita adalah keluarga pelacur perawan?”

Kembang Wangi yang masih kecil dan masih setinggi lutut, hanya diam dan memejamkan mata. Ia terlarut dalam buaian suara halus ibunya dan telisik jari jemari gemulai di antara rambutnya yang lurus halus. Sambil memejam, Kembang Wangi hanya memusatkan perhatian pada rasa nyaman. Karena duduk membelakangi ibunya, ia hanya dapat membayangkan seperti apa mimik muka ibunya saat ini.

Kembang Wangi membayangkan bahwa Harum Melati sedang tersenyum kecil. Bibir yang tersungging pada oval muka wajah ibunya akan menularkan warna pastel ayu yang menjalar dari pipi kiri ke kanan. Ke lesung kiri lalu ke lesung kanan. Pink dan pink. Pink dan pink di atas kulit yang sedikit sawo matang. Pada sawo matang itu tersembunyi dua mutiara hitam yang dinaungi oleh sepasang bulu mata lebat dan alis serupa garis lurus tenang yang teduh. Kesemuanya dibingkai oleh rambut lurus legam yang yang jatuh seperti benang-benang berat dan licin. Rambut yang serupa dengan rambut Kembang Wangi.

Seperti itulah Kembang Wangi membayangkan ibunya berkisah. Seperti itulah Kembang Wangi pikir Harum Melati memulai cerita. Jadi Kembang Wangi biasanya hanya tenang. Karena ia tahu kalau ia tenang, maka Harum Melati akan terus saja berkisah. Dan memang seperti itu. Karena Kembang Wangi yang hanya setinggi lutut duduk terdiam, maka Harum Melati akan melanjut dengan tenang,

“Ya Kembang Wangi, kita keluarga pelacur perawan. Nenekmu pelacur, aku pelacur, dan bahkan kelak kamu akan menjadi pelacur. Tapi kita perawan. Sialnya kita adalah pelacur perawan!”

Kembang Wangi yang masih belum mengerti sepatah kata pun tetap duduk terdiam. Ia menikmati telisik dan jentikan gemulai jari jemari ibunya. Kembang Wangi menikmati semua itu meskipun di dalam hatinya ada tanya mengenai istilah “pelacur”, “perawan”, dan apa hubungan keduanya dengan kesialan.

Tapi Kembang Wangi memilih diam. Ia merasa kalau ia hanya diam, maka Harum Melati pasti akan melanjutkan ceritanya. Dan memang benar, kata-kata kembali meluncur halus dari mulut Harum Melati. Dan dengan tenang ia melanjut, meskipun dengan sedikit nada getir,

“Karena kita pelacur yang perawan, maka lelaki merasa segan. Lalu segan menjadi tertekan. Dan rasa tertekan akan mengeluarkan rasa yag teredam. Rasa yang berasal dari hati terdalam.”

Harum Melati terhenti sedikit tersentak seakan-akan ia baru menyadari makna di dalam kata-katanya sendiri. Juga tersentak karena tidak makna yang mendalam itu memunculkan secercah ragu pada kelanjutan ceritanya. Seakan-akan ada sesuatu yang enggan ia katakan. Sesuatu itu membuat pita suaranya sempit dan lidahnya kelu. Bibirnya serasa terbelenggu. Dan mulai terdapat gemetar di dalam gemulai jari jemarinya.

Dengan gerakan yang sedikit patah dan kaku, Harum Melati kembali menyisir di antara lurus halus rambut Kembang Wangi yang serupa dirinya. Ia terus lewatkan sisir sambil mengumpulkan keberanian untuk bertutur pada anaknya yang baru setinggi lutut itu. Helaian-helaian halus anak yang telah memecah perawan rahimnya terasa menenangkan sekaligus menyakitkan. Menenangkan karena mengingatkannya pada hari-hari ketika satu-satunya masalah yang ia punya hanyalah seputar keperawanan. Menyakitkan karena Kembang Wangi mengingatkannya pada lelaki yang tidak segan untuk meniduri pelacur yang perawan.

Lelaki tanpa segan itulah ayah kandung dari Kembang Wangi. Lelaki itu selalu membuat lidah Harum Melati terkunci sekaligus tergelitik untuk berkisah. Karena pada satu titik kecil, pertemuan itu terasa indah. Meskipun hanya sebelah.

Tetapi keindahan yang hanya sebelah, jarang-jarang menenangkan. Banyaknya yang membuat gelisah. Maka Harum Melati kesulitan tenang ketika kenangan lelaki itu membayang. Air mata mulai menggenang pada sudut-sudut matanya. Dan tangan Harum Melati semakin gemetar hingga sisir yang melewati lurus halus rambut Kembang Wangi hendak lepas.

Dengan tekad kuat yang tiba-tiba muncul, Harum Melati menguatkan genggaman pada sisir itu. Seakan-akan sisi itu adalah jiwanya yang hendak lepas. Dan diteruskannya menyisir meskipun dengan sedikit gemetaran.

Perasaan yang tertahan di dalam diri Harum Melati menjadi energi yang dapat melepaskan kelu pada bibirnya. Ia pun meneruskan kisah itu. Kisah mengenai ayah kandung Kembang Wangi. Kisah mengenai lelaki yang tidak segan-segan memerawani.

“Kau harus tahu Kembang Wangi. Kau harus tahu tentang ayahmu. Dia lelaki yang tidak seperti para lelaki yang lainnya lagi. Coklat matanya sama dalamnya dengan dalamnya coklat matamu. Ah tidak hanya matany saja yang dalam, semua yang ada pada dirinya terasa dalam. Karena ia punya kesedihan yang dapat membuat tenggelam. Tenggelam jauh, jauh ke dalam. Larut dalam kalutnya yang mendalam.”

Di sini Harum Melati lagi-lagi terdiam. Hampir-hampir Kembang Wangi yang hanya setinggi lutu tidak bersabar. Ia hampir membalikkan badan. Tapi tiba-tiba Harum Melati melanjut,

“Ia lelaki yang kalut. Ia lelaki yang kalah. Ia lelaki yang membiarkan dirinya menjadi kacung kehidupan. Ia tidak pernah benar-benar ada. Ia hanya sekadar ada. Ia hanya bertahan dari menit ke menit berikutnya sambil mencoba untuk tidak menjerit.

“Ia begitu sibuk hidup hingga tidak sadar bahwa ia sedang dikerjai habis-habisan. Harusnya ia mencari inti kebenaran dalam dirinya, tapi ia malahan menemukan orang lain. Ia menemukan seorang perempuan. Dan perempuan itu menjadi segalanya. Patokan, tumpuan, alasan untuk menjadi ada. Segalanya. Hanya segalanya.

“Tapi seorang lelaki, sekalipun sangat menawan, jarang-jarang diperbolehkan memiliki segalanya. Oleh karenanya, perempuan yang merupakan segalanya itu segera pergi meninggalkan ayahmu seorang diri. Ayahmu menjadi sebuah cangkang. Sebuah cangkang dari kesedihan yang pekat.”

Setelah tutur yang begitu panjang, kata-kata Harum Melati terasa berhenti begitu mendadak pada akhirnya. Kembang Wangi tahu bahwa kisah itu belum selesai, meskipun rambutnya yang lurus halus telah rapi karena disisir berkali-kali. Maka Kembang Wangi membiarkan Harum Melati terus menyisir. Jari jemari gemulai yang menenangkan itu terdengar begitu menenangkan. Jari jemari itu mulai menjali helai-helai rambutnya menjadi kepang dan lilitan.

Sembari mengepang, Harum Melati kembali terbuai dalam kenang mengenai lelaki yang menjadi ayah kandung dari anaknya yang semata wayang. Ia teringat pada langkah lelaki itu yang begitu cepat. Seakan-akan ia hendak minggat dari semua semua kalutnya. Kalut yang ia artikan sebagai sesosok Harum Melati. Kalut yang sebenarnya tidak pernah berhubungan dengan Harum Melati, tapi berkenaan dengan perempuan lain. Tapi karena Harum Melati adalah pelacur, maka ialah yang salah, ialah biang masalah. Ialah yang seharusnya dihindari dan ditinggalkan. Sekalipun sudah tidak perawan, malahan sampai mengandung.

Anak yang dikandung selama sembilan bulan oleh Harum Melati itu kini telah besar. Ia cantik menarik meskipun baru setinggi lutut. Dan kecantikan di dalam dalam coklat matanya begitu menular seperti wangi sebuah kembang yang dapat membuat pikiran seseorang menerawang. Kembang Wangi. Begitu pantasnya nama itu.

Kembang Wangi yang sudah tidak sabar dengan kelanjutan cerita mengeluarkan semacam pekik. Sebuah bunyi yang memaksa Harum Melati kembali berkisah. Dengan tutur-tutur halus yang mengambang. Kembang Wangi bertanya, dengan sedikit memaksa,

“Lalu bagaimana kalian bertemu Bu? Bagaimana aku sampai lahir?”

Sebuah hening menjadi awal jawaban, lalu Harum Melati menjawab, “Kurasa ayahmu berhasil mengendus harumku. Mungkin karena ia butuh melepaskan diri dari cangkangnya.”

Kembang Wangi mengernyit dan bertanya, “Apakah Ibu berhasil membantu ayah?”

“Iya Nak.”

“Lalu mengapa ayah tidak pernah kembali?”

Hening kembali menjadi jawab. Tapi ini adalah hening yang berbeda. Hening kali ini memberi firasat bagi Kembang Wangi agar terdiam dan berhenti bertanya. Hening itu telah membungkam kata-kata di dalam mulut ibunya. Terdapat suatu kerut bingung yang sangat samar pada kening Harum Melati yang tiba-tiba saja kehilangan cahaya.

Oleh karena itu Kembang Wangi biarkan Harum Melati menyelesaikan kepang dan lilitan pada kepalanya. Kepang dan lilitan itu mengelilingi kepala Kembang Wangi seperti sebuah mahkota. Ketika cahaya matahari menimpa kepala kecil Kembang Wangi, ia seakan-akan mengeluarkan cahayanya lembutnya tersendiri. Cahaya halus perawan yang belum pernah dikotori. Begitu bersih. Begitu perawan.

Harum Melati kembali mengenang lelaki yang telah mengambil perawannya dan menjadikannya sekadar pelacur. Pikirannya menerawang pada pertanyaan, “Lalu mengapa ayah tidak pernah kembali?” dengan perasaan sakit yang menganga. Harum Melati tidak pernah tahu apa jawab dari pertanyaan itu. Ia sendiri sering sekali bertanya seperti itu pada dirinya sendiri,

“Mengapa ia tidak pernah kembali? Mengapa tidak pernah sekali pun?”

Padahal Harum Melati menunggu setiap malam di luar rumahnya serupa liang. Ia bilang ia sedang menjajakan badan, padahal badannya tidak pernah bersedia. Badannya hanya miliki lelaki yang pernah mengambil perawannya. Tapi lelaki itu tidak pernah kembali. Tidak pernah sekali pun.

Mungkin lelaki itu tidak akan kembali. Karena sekarang Harum Melati bukan lagi pelacur perawan, tapi sudah menjadi pelacur. Hanya pelacur. Sekalipun badannya tidak sekali pun tersentuh selain oleh lelaki yang mengambil perawannya. Lelaki yang merupakan ayah kandung Kembang Wangi.

Atau mungkin lelaki itu hanya menyadari bahwa ia menginginkan perempuan yang tidak sekadar pelacur. Perempuan yang dapat menjadi segalanya. Seperti perempuan yang telah pergi dan meninggalkannya menjadi cangkang. Ia butuh perasaan itu lagi. Perasaan bahwa ia memiliki segalanya padahal segalanya itu pergi bersama sesosok perempuan. Samar-samar Harum Melati teringat kata-kata lelaki itu,

“Aku tidak bisa berdamai dengan pelacur yang sudah tidak perawan semacam kamu. Aku tidak bisa berdamai dengan perempuan dengan kualitas kesekian. Aku adalah lelaku yang ditakdirkan untuk mendapatkan segalanya. Dan aku tidak akan pernah bisa berdiam di dalam dekapan perawan yang sudah tidak perawan.”

Mengingat kata-kata terakhir lelaki itu sebelum meninggalkan dirinya dan Kembang Wangi di dalam kamdungannya, membuat hati Harum Melati kecut. Cahaya matanya kian redam. Lama kelamaan kecut itu berubah menjadi pahit. Begitu pahitnya karena Harum Melati kini mengerti apa yang telah benar-benar menimpanya. Ia mengerti bahwa ia telah djadikan perempuan kelas kesekian, hanya karena ia adalah pelacur. Dan jabang bayi di dalam rahimnya, tidak menjadikannya mulia seperti layaknya perempuan. Malah menjadikannya rendahan.

Melihat kekosongan di dalam mata ibunya, Kembang Wangi menghambur ke dalam pelukannya. Harum Melati hanya membalas dengan pelukan kecil dan menyuruhnya bermain di luar. Awalnya Kembang Wangi enggan, ada sebuah rasa khawatir di dalam dirinya yang membuatnya mengencangkan pelukan, Tapi Harum Melati tidak menggubris kekhawatiran itu. Dengan lembut, dilepaskannya pelukan Kembang Wangi dan kembali menyuruhnya bermain di luar.

Anak perempuan yang hanya setinggi lutut itu kemudian berdiri dan beranjak pergi. Sebelum melewati pintu rumah liang yang telah berdecit itu, ia melirik. Di ujung mata ia melihat ibunya, Harum Melati, tersenyum kecil. Kembang Wangi melambaikan tangan kecil yang dibala Harum Melati dengan sebuah senyuman yang menjalar dari lesung kiri ke lesung kanan. Pink dan pink di atas kulit sawo matang. Lengkap dengan dua mutiara hitam yang bersinar.

Melihat mimik muka cantik ibunya, Kembang Wangi berkata pada dirinya sendiri, “Ah Ibu tidak apa-apa. Buktinya ibu tersenyum. Mungkin masalah kepergian ayahnya sebenarnya hal kecil.”

Sayangnya apa yang ada di dalam pikiran Kembang Wangi meleset. Ketika ia pulang, pintu depan kecil rumahnya yang serupa liang sudah menganga. Terdapat sebuah bayang panjang tidak wajar yang memenuhi ruang. Sebuah bayang tubuh yang melayang. Sebuah bayangan yang terayun-ayun dari tubuh yang menggantung dari langit-langit. Tubuh Harum Melati.

Kembang Wangi menjerit ketika menyadari bayangan yang melayang-layang itu berasal dari tubuh Harum Melati yang menggantung dari langit-langit. Di tempat yang biasanya tergantung sebuah bohlam, kini menjadi tempat tali yang menggantungkan tubuh Harum Melati. Baru kali ini Harum Melati melihat mimik muka yang begitu mengerikan terpasang pada wajah ibunya. Mata dan mulutnya menganga dan tergambar sebuah ekspresi kesedihan mendalam pada wajah yang biasanya begitu meneduhkan.

Kembang Wangi terpaku melihat mimik muka terakhir dari ibunya. Kembang Wangi masih terpaku ketika warga sekitar berhamburan memasuki rumahnya setelah mendengar jeritannya yang melolong. Semua warga yang melihat terkejut tidak kepalang melihat tubuh Harum Melati tergantung, berayun-ayun ti tengah rumah yang serupa liang. Seorang ibu cepat-cepat memalingkan mata Kembang Wangi dari pemandangan mengerikan itu. Tapi sayangnya sudah terlambut. Kenangan tubuh Harum Melati yang gantung diri telah terpatri dalam ingatan Kembang Wangi.

Harum Melati yang memilih gantung diri tak hanya meninggalkan sebuah ingatan yang mengerikan dan sebentuk rumah yang serupa liang. Ia meninggalkan kepang dan lilitan pada kepala Kembang Wangi yang tidak bersedia ia uraikan hingga beberapa tahun kemudian. Ia juga meninggalkan sebuah surat. Surat itu baru bisa dibaca Kembang Wangi yang masih berkepang hingga tiga tahun kemudian. Tubuhnya tidak lagi setinggi lutut dan ia sudah lancar baca tulis. Kepang dan lilitan yang memebentuk mahkota pada kepalanya memudar menjadi coklat. Coklat yang dalam seperti matanya dan mata ayah kandungnya.

Surat itu berisi tulisan yang tidak rapi dan beberapa sisa bercak yang terlihat seperti bekas air yang mengering. Mungkin bercak yang berasal dari tetesan air mata Harum Melati yang menulis pesan terakhir sambil menangis. Isi surat itu tidak terlalu panjang, juga tidak terlalu pendek. Tapi maknanya mengambang. Kurang lebih seperti kisah-kisah Harum Melati. Di dalam surat itu Harum Melati menulis,

“Kembang Wangi, ibumu kini telah menjadi cangkang seperti ayahmu. Tapi kini ibumu cangkang yang kosong. Karena ayahmu telah membawa segala yang ada padaku. Bahkan kesedihan dan terutama harga diri. Ayahmu telah membawa setiap segala yang ada dalam ibumu ini.

Betapa tidak adilnya. Terlahir sebagai pelacur tapi hanya bisa menjadi perawan. Begitu tidak perawan, ditinggalkan dan dihempaskan. Padahal semua perempuan seperti kita. Semua perempuan seperti ini. Lalu mengapa hanya kita yang akan menjadi terbuang?

Betapa tidak adilnya. Laki-laki adalah kupu-kupu, sedangkan perempuan hanya bisa menjadi kembang. Duduk menunggu lalu ditinggal terbang.”

Kembang Wangi yang sudah tidak lagi selutut hanya bisa terdiam. Ia terdiam cukup lama setelah membaca surat itu. Tiba-tiba ia meraih puncak kepalanya dan mulai mengurai kepang yang tak ia lepas sejak tiga tahun yang lalu. Kepang dan lilitan yang telah dijalin begitu hati-hati oleh Harum Melati, diuraikannya. Ikal-ikal dengan semburat coklat yang dalam, berjatuhan dengan lembut pada pundaknya. Ikal-ikal itu terbentuk dari jejak jalinan yang dibuat oleh jari jemari gemulai Harum Melati. Kini jalinan itu terburai dan meninggalkan sebuah kenangan sebentuk ikal.

Ikal itu kemudian tidak hilang hingga bertahun-tahun kemudian. Terus meninggalkan lekuk jejak pada rambut Kembang Wangi yang berubah kecoklatan. Melekat seakan-akan rambut Kembang Wangi memang berbentuk demikian. Begitu melekat, sama seperti kata-kata terakhir Harum Melati yang akan selalu Kembang Wangi kenang,

“Laki-laki adalah kupu-kupu dan perempuan adalah kembang.”

Advertisements

Nang Ning Nung

Seorang kawan mengenalkan lagu “Geol Mujaer” yang dipopulerkan oleh Ayu Ting Ting padaku. Entah mengapa aku merasa lagu itu jarang gagal dalam menyenangkan hati yang resah. Padahal lagu itu tidak memiliki makna kehidupan yang mendalam. Hanya berisikan bait-bait menghibur pagi seorang “Mustafa” yang patah hati. Tapi lagu itu sedikit magis. Aku suka sekali dengan lagu itu. Dan selalu terpikir olehku lagu itu untuk menyenangkan orang lain.

Lalu anehnya. Ketika aku sedang ingin menyenangkan seorang kawan yang resah, terpikir olehku lagu yang dipenuhi bait “ajeb” dan “nang ning nung”. Ternyata aku sendiri pun menjadi terinspirasi oleh lagu ini. Terbayang olehku seandainya ada seekor mujair raksasa berjoget di depanku. Astaga, pasti mengasyikkan sekali! Pasti luarbiasa! Pasti spektakuler!

Ya mengapa tidak kutuliskan pemikiranku itu!

Jadi kutuliskan khayalanku tentang si ikan mujair. Dia begitu nyata hingga kupikir mungkin saja sebenarnya dia ini dedemit. Bisa jadi. Tapi geolnya begitu hebat hingga kurasa menarik untuk dibaca!

So. Selamat bergeol! Coba baca sambil mendengarkan “Geol Mujaer”. Feelnya lebih terasa. Juga. Jangan indahkan kesalahan tidak logis dalam cerita. Ini bukan cerita yang dibuat untuk menyenangkan logika!

***

Nang Ning Nung

ikan koki hitamKe arah mana pun memandang, rasanya hanya ada air, air dan air saja. Tidak. Itu tidak sepenuhnya benar. Terdapat hijau dari rambat eceng gondok. Jangan lupakan riak dari kayuh perahu bapak yang mencari ikan nila dan mas. Udara pun menggantung-gantung dekat permukaan air. Membiaskan capung-capung yang hendak kawin. Matahari masih malas menggeliat. Waduk Cirata yang biasa dihiasi terik menjadi sedikit muram. Tapi suasananya sebenarnya ramai. Karena alam tak pernah diam. Tapi bagi Ujang yang terduduk di atas warung apung, semuanya terasa senyap dan kosong. Padahal kakinya sedari tadi menjadi arahan nyamuk-nyamuk betina yang sedikit terlalu bernafsu. Tak terasa olehnya gigitan-gigitan iseng itu. Hanya hampa saja. Seperti air datar yang tidak berkesudahan. Tenang, tidak beriak tapi memenuhi dadanya.

Ujang menunggu perasaannya meluap. Harusnya dan seyogyanya memang begitu. Ia adalah seorang perjaka hampir lapuk yang sedang berada pada puncak kesialannya. Apalagi kalau bukan pekara perempuan? Masalah seorang perjaka selalu saja seorang perempuan. Perempuan berambut panjang hitam. Perempuan berkulit putih langsat. Perempuan bermata besar jeli. Perempuan berbibir merah kuncup. Perempuang berhidung bangir. Ah perempuan! Pasti selalu saja perempuan. Dan sialnya, perempuan yang membuat Ujang resah adalah perempuan dengan semua ciri-ciri itu!

Ah keparat dan sungguh sial nasib Ujang karena telah jatuh cinta pada perempuan bernama Iteung itu. Perempuan Sunda nyaris sempurna dalam elok peluk yang sangat alami. Kecantikan Sunda yang menjadi berkah sekaligus cobaan lelaki. Membuat hati sejuk sekaligus kepala beringas. Iteung, Iteung…. Nama itu dahulu terdengar merdu di telinga Ujang, tapi kini hanya hampa yang ia rasakan. Kosong hitam yang mendalam.

Seharusnya Ujang memang sedikit tahu diri. Iteung adalah kembang sedankan orang seperti Ujang apakah layak memetik kembang sehalus Iteung? Ujang menggelengkan kepala karena nista pada dirinya sendiri. Terkadang ia memang merasa pecundang. Kerja pun belum tetap, hanya sesekali menjadi kenek. Itu pun kalau ia tidak sedang ingin mengudud dan mengopi bersama teman-temannya. Ia memang ingin mengawini Iteung, tapi ia malas mencari uang mahar. Biar saja emak yang membayarkan mahar itu. Boleh jadi emaknya perlu menjual beberapa ronce kalung emas. Biar saja. Uang orangtua adalah uang anak.

Tapi Ujang merasa nista. Dan sudah tentu Iteung pun nista. Tak perduli berapa banyak perhatian yang Ujang berikan pada kembang itu, ia terus menolaknya. Penolakan pertama dan kedua masih halus. Tapi penolakan ketiga dan keempat mulai diwarnai geram. Akhirnya pada penolakan yang kelima, Iteung tidak banyak berekspresi. Rona mukanya datar dan terkendali. Dari saku rok lebarnya, ia keluarkan sebuah kertas hias terlipat. Dengan mata yang menatap lurus pada Ujang ia berkata,

“Kang, nanti datang ya.”

Ujang menatap kertas hias terlipat tersebut. Dibacanya dengan pelan-pelan karena ia tidak terlalu mahir membaca. Pecahlah hatinya ketika ia sadar bahwa kertas terlipat itu adalah undangan nikah Iteung dengan anak Pak Haji Uwok yang kaya-raya. Ujang ingin mengerang dan menangis di tempat. Kembangnya akan dipetik oleh jejaka lain. Kembang yang selama ini memenuhi khayalnya dan memberikan kehangatan pada malam-malam Bandung yang menusuk. Ah kembang itu kini milik orang lain!

Ujang tidak memberikan tanggapan sedikit pun terhadap undangan itu. Ia tidak mencaci maupun sakit hati. Ia hanya terdiam dengan pandangan kosong sampai Iteung risih sendiri dan menyingkir ke dalam rumah. Ujang baru meninggalkan halaman rumah Iteung setelah seorang kawannya mengantarkannya pulang. Emak menyambut kepulangan anak semata wayangnya dengan cemas. Barulah ia mengerti apa yang terjadi ketika melihat undangan Iteung di dalam gamitan keras anaknya. Emak menangis. Bukan karena anaknya menjadi diam tapi karena merasa malu anaknya berani mengejar kembang.

“Nak, mengapa kamu kejar Iteung itu Nak? Malu Emak Nak….”

Emak mengaduh dan menumpahkan malu. Tapi Ujang diam. Sesuatu telah mati di dalam dirinya. Kalau kembang Iteung akan dipetik dan dipelihara oleh seorang jejaka mapan dan mupuni, Ujang sebaliknya. Ia layu dan akan membusuk. Ia akan menjelma menjadi bangkai. Mayat hidup yang menghabiskan oksigen dan sesekali membuang kotoran.

“Ujang kasambet Mak. Coba kita bawa ke orang pintar Mak.”

Salah seorang sanak saudara Ujang membari nasihat pada Emak. Maka dibawalah perjaka lapuk itu menemui seorang dukun. Dukun itu lebih sering ditanya nomor seri togel. Kadang kasus sulit pun datang, seperti pasangan yang kesulitan anak. Bapak Dukun itu pun bersedia saja memberikan benih. Kalau istri yang ingin hamil itu cantik, terkadang ia tidak memungut biaya. Ia sedikit nyeleneh seperti itu.

Tapi untuk Emak yang sudah tua, dukun itu tetap meminta bayaran sebanyak 3 gram emas. Dengan berat hati Emak memberikan salah satu cincinnya. Tak apa. Emak akan lakukan apapun asal anaknya dapat eling kembali. Dukun itu menyisir janggut dengan jemari-jemari penuh alinya. Lalu ia menyalakan dupa. Dengan sedikit berlebihan, hanya agar terlihat lebih bonafid, ia memasukkan potongan bubuk petasan. Emak melompat sedikit terkejut dari tempatnya duduk. Ujang tidak berkutik. Masih kosong pulalah dirinya itu. Dukun itu merapal mantra seakan-akan meminta sebuah petuah. Ia mengangguk-ngangguk seakan sedang dibisiki seorang makhluk tak kasat mata. Emak merinding. Kalau ia tidak menyerahkan emas dan merasa sayang telah setengah jalan, mungkin saat itu ia sudah ngacir.

Tak lama kemudian dukun itu membuka mata dan berkata, “Bawa Ujang ke Cirata. Dia perlu bergoyang mujair. Tapi ingat! Dilirik boleh. Disuka boleh. Tapi jangan diraba! Apalagi dibawa!”

Emak membelalakkan mata dalam sebuah tanya. Ia ingin bertanya macam-macam tapi dukun itu malah menggerakkan tangannya dalam sebuah tanda usir. Emak pun pasrah dan berterimakasih atas bantuan dukun nyeleneh itu dan dibawanya anaknya yang berhati kosong kembali ke rumah. Di rumah, emak hanya duduk terdiam memandangi Ujang yang berwajah kosong. Sempat muncul rasa jengkel dalam hatinya ketika diperhatikannya baik-baik anak yang telah keluar dari rahimnya sendiri. Sudah anak itu tidak tampan tampang, Ujang pun tidak tampan budi. Mungkin itu didapatkannya dari bapaknya yang memilih tinggal dengan istri keduanya yang membuka warung kopi untuk supir-supir truk berplat E. Mungkin memang Emak saja yang tidak ketulungan sial. Punya anak buruk rupa dan watak dan sekarang gila segala.

“Eling…. Eling…. Ingat dengan Gusti Pangeran….”

Emak mengusap nyeri pada dadanya. Tak apalah ia bersabar. Mungkin itu jatahnya yang hanya seorang penjual nasi kuning. Lumayan untuknya. Nanti sabarnya akan dibayar dengan surga. Begitu kata Bapak Ustadz pengajian. Tak apalah bersabar. Mungkin pula Ujang akan eling lagi. Malah ia mungkin akan menjadi anak yang lebih baik dari sebelumnya.

Harapan Emak membuncah. Optimis mulai memenuhi rongga dadanya seperti bubur lemu hangat. Ya, pasti semua beres untuk Emak yang baik hati. Ia pun segera teringat kalau ia memiliki saudara yang kebetulan sekali membuka warung apung di pinggir waduk Cirata. Ah ini pasti pertanda! Ini pasti rejeki! Ini pasti tanda Tuhan telah mengasihi Emak!

Berkat kecanggihan teknologi yang menyebabkan kemudahan komunikasi, butuh waktu tak lama bagi Emak untuk meminta tolong pada saudaranya yang tinggal di warung apung Waduk Cirata untuk menjemput anak “stress”nya. Dengan menggunakan mobil pickup carry berwarna hitam, sepupu Ujang yang bernama Asep telah menunggu di depan gang rumah Emak dan Ujang. Asep sebaya dengan Ujang. Mereka telah melakukan banyak kenakalan bersama. Mulai dari mencuri mangga-mangga dan kelapa-kelapa muda tetangga, hingga menonton pertunjukan dangdut koplo pertama. Melihat keadaan Ujang antara waras dan setengah gila, Asep menjadi prihatin. Dibantunya sepupunya itu naik ke dalam mobil pickup dan mereka pun melaju ke Cirata dengan kecepatan tidak tanggung-tanggung. Emak melambaikan tangan cemas. Hatinya mengharap besar bahwa anaknya dapat eling. Harapan itu seperti sebuah gelembung. Tapi tak lama kemudian harapan itu terasa diombang-ambing di antara duri-duri ketika melewati rumah Iteung yang mulai dihiasi janur. Terkutuklah kembang yang telah melayukan anaknya! Tapi Emak pasrah. Ia pun kalau menjadi Iteung akan menolak Ujang.

Sebenarnya Ujang mengalami perjalanan yang sedikit membahayakan jiwa menuju Cirata. Sudah tidak terhitung berapa kali Asep menyalip truk-truk dengan seloroh cabul pada pantat mereka dengan terlalu semangat. Seakan-akan dipanasi, truk-truk itu menyalipnya kembali dan menantang sebuah duel jalanan. Asep yang pening melihat sepupunya yang tanpa ekspresi pun meladeni. Terjadi aksi saling menyabet dan mendahului. Untung aksi itu tidak terlalu lama karena terlihat sebuah motor polisi terparkir di pinggir jalan. Elinglah Asep dan sopir-sopir truk. Mereka pun melajukan kendaraan masing-masing dengan tenang.

Sesampainya di warung apung milik Asep, diturunkanlah Ujang. Masih juga perjaka lapuk itu tampak tidak bernyawa. Asep merasa perih. Ia menyumpah dan membuang ludah. Sedikit gelisah ia mencari-cari rokok di dalam sakunya. Sial, anjing keparat. Hanya tersisa wadah yang kosong saja. Bensin pematik pun menghilang tanpa jejak. Asep menggaruk-garuk kepalanya seperti seorang pemadat frustasi ketika kemudian Ujang angkat bicara.

“Sep, kenapa banyak air? Kita di laut? Aku takut laut.”

Mata Asep berkaca-kaca mendengar sepupunya yang tiba-tiba bersuara. Setitik air mata melarikan diri di ujung matanya yang telah keriput lebih dini akibat keseringan terpapar asap djisamsoe. Dengan gaya sedikit terlalu digagahkan, Asep menggamit lengan sepupu dekatnya itu dan berkata dengan riang.

“Kita akan nonton geol Mujair. Mau ya Jang?”

“Kapan Sep?”

“Besok malam. Besok!”

Maka “besok” yang dijanjikan dipenuhi oleh geol Mujair itu ditunggu oleh Ujang. Tidak dengan riang ataupun tidak sabaran. Hanya dalam bahasa tubuh yang terlampau diam. Tapi setidaknya Ujang menunggu geol mujair itu datang. Orang yang peka dapat melihatnya. Karena pandangan perjaka lapuk itu jauh memandang Cirata yang seperti sebuah laut kecil. Padahal kan Ujang telah berujar ia takut pada laut. Tapi demi geol Mujair, ia rela memandangi ketakutannya.

Sialnya. Asep tidak tahu apa itu geol Mujair. Kalau tembang geol Mujair yang dipopulerkan oleh Ayu Ting Ting sih ia sangat fasih. Tapi masa iya Asep perlu menghadirkan Ayu Ting Ting? Lagipula Ayu Ting Ting sedang sibuk bingung sendiri karena kehilangan Ting Tingnya pada lelaki kurang ajar tidak bertanggung jawab. Mungkin Ayu Ting Ting perlu berganti nama menjadi Laila Canggung. Karena ia sedang bingung. Seperti Asep. Bingung karena telanjur menjanjikan geol Mujair pada sepupu kurang warasnya.

Menjelang ashar, Asep sudah menyerah. Ia mengaku mengarang-ngarang janji pada Ujang dan mengajaknya untuk bersenang-senang di diskotek yang baru buka di pinggir Purwakarta. Di luar dugaan Ujang menolak dengan sebuah gelengan kepala tegas.

“Tidak Sep. Aku mau nunggu geol Mujair. Kata ikan-ikan mas ia sedang bersolek sebelum manggung. Ia nanti akan muncul sehabis maghrib.”

Asep mengernyit dan terkejut. Apa maksud sepupunya itu? Ia memutuskan untuk tidak ambil banyak pusing. Selorohan tidak masuk akal sudah pasti akan keluar dari sepupu kurang warasnya itu. Oleh karenanya Asep pun duduk di sebelah Ujang. Dinyalakannya sebatang samsoe dan dihabiskan rokok itu lamat-lamat. Sambil merenungi nasib. Sambil membayangkan Iteung-nya sendiri yang bernama Euis. Sambil dilamunkannya tubuh Euis akan menjadi miliknya. Ah khayalan-khayalan perjaka lapuk yang tiada akhir. Sedih dibawakan nyiur banyu.

Waktu berlalu cepat bila kau asyik melamun dalam sendu. Itulah yang dirasakan oleh Asep. Tiba-tiba saja terdengar sayup suara adzan maghrib di kejauhan. Matahari pun mulai menggurat-gurat jingga lembayung yang indah. Asep sudah hendak beranjak masuk ke dalam warung karena pamali di luar rumah ketika maghrib tiba. Bisa-bisa ia berakhir tanpa akal seperti sepupunya Ujang. Tapi Ujang menggamit lengannya kuat-kuat sehingga mau tak mau Asep membeku dalam diam.

“Tunggu. Tunggu! Sebentar lagi ia akan keluar! Kurasakan itu!”

Terpaksa Asep kembali duduk. Ada suatu dingin yang membuat bulu kuduknya berdiri. Sedikit waswas ia memandang kiri dan kanan. Jangan-jangan sepupunya itu telah dibisiki oleh kunti atau tuyul. Siapa tahu! Asep merinding dan meneteskan keringat cemas. Otaknya berputar-putar hendak mencari sebuah elakan untuk masuk ke dalam warung ketika tiba-tiba terdengar suara penembang yang jernih dan merdu dari tengah-tengah waduk.

“Digeol-geol mujaer…. Nang ning nung. Nang ning nung….”

Asep membelalakkan mata. Telinganya merasa sedap mendengar suara itu. Suara itu menggetarkan hatinya yang terdalam. Seakan-akan diharuskan untuk bergoyang, ia spontan berdiri menyambut suara indah itu. Ternyata bukan hanya dirinya saja yang merasakan getaran itu, Ujang pun sama. Mata sepupunya itu berkaca-kaca penuh haru dan kagum. Dari mulutnya ia berseru,

“Datang dia Sep! Datang!”

Dan dari tengah-tengah waduk tiba-tiba terlihat pemandangan yang paling menakjubkan. Sebentuk bayang melompat dari tengah-tengah air sehingga terbentuk sebuah ombak cipratan yang hebat. Air memercik ke mana-mana. Anehnya air yang biasa anyir dan agak keruh, malah wangi dan berwarna-warni. Dengan meredanya cipratan, bentuk itu menjadi jelas. Ternyata itu adalah seekor mujair! Mujair paling mutakhir dengan ukuran sebesar manusia. Mujair-mujair biasanya berwarna abu-abu yang jemu, tapi tidak untuk mujair yang ini. Sisiknya pelangi dan warna-warna memantul dari tubuh montoknya. Hari sudah maghrib, tapi rasanya seperti matahari sudah bangun terlalu cepat dan meletakkan dirinya di dalam sisik-sisik indah itu. Di dalam sirip-sirip megah si mujair. Dan di dalam suara indah si mujair. Oh indah sekali! Tidak ada seorang biduan pun yang dapat menyamai suara itu!

“Mustafa oh Mustafa, urat syarafmu tegang, biar saya obati dengan goyang mujaer…. Ya ya ya ya….”

Bibir tebal mujair itu bergerak-gerak dengan erotik. Mata hitam besarnya memandang Ujang dan Asep berganti-ganti dengan sebuah kerling menggoda. Menyadari dirinya telah membuat kagum, ia mengepakkan tubuhnya melenggok di udara dengan ayu. Sebuah desir melewati diri kedua perjaka yang baru kali ini disuguhi pertunjukan sedemikan spektakuler. Mereka tersihir ke dalam suara merdu si ikan mujair. Mereka bahkan tidak menyadari bahwa di atas pulau eceng gondok, bermunculan sosok-sosok yang memainkan berbagai alat musik seperti calung dan rebana. Di mata mereka hanya terdapat mujair dan goyang geolnya. Habislah mereka dirayu oleh ikan cantik itu!

“Ajep ajep ajep ajep ajep ajep ajep….”

Pada bait “ajeb” yang tidak berkesudahan, si mujair mendekati kedua pemuda itu. Ia melenggok dan memamerkan sisik-sisiknya tanpa malu. Silau dan menggairahkan bagi kedua pemuda. Mujair itu mengelilingi mereka berganti-ganti seakan-akan sedang menimbang-nimbang antara kedua pemuda itu mana yang lebih ia sukai. Ia akan mengajak pemuda yang paling menarik untuk bertayub. Tapi mujair itu masih bingung, antara Ujang dan Asep, manakah yang lebih menarik bagi dirinya?

Asep menarik karena ia sedikit bengal. Lelaki sekali. Mujair itu juga mengetahui bahwa Asep senang membawakan mobilnya secara uring-uringan ketika kesal. Itu menarik hati si mujair. Lelaki yang sedikit pemarah dan mudah naik pitam selalu menggetarkan insangnya dengan riang.

Tapi mungkin Ujang lebih menarik. Karena lelaki itu tidak sepenuhnya berada di sana. Yang berada di waduk itu hanyalah sebuah tubuh yang setara dengan cangkang kosong. Jiwanya bersama seorang gadis bernama Iteung. Menarik! Mujair itu merasa tertantang karena merasa keberadaannya disaingin oleh gadis lain yang dianggap lebih molek dari dirinya. Ah ini tidak boleh! Dilarang membandingkan mujair ayu ini dengan gadis kampungan sebangsa Iteung.

Maka mujair itu mengibaskan ekornya sebagai sebuah gamitan dan ajakan agar Ujang bertayub dengannya. Melenggoklah mujair itu. Sisik-sisiknya berkilat-kilat menakjubkan. Warna-warna pelangi bermunculan. Cantik sekali. Sangat cantik. Lebih daripada kibaran rambut tebal Iteung. Lebih daripada mata bulat hitam jelinya. Lebih dari goyang pinggul gadisnya yang polos. Oh tidak polos! Geol mujair tidaklah polos! Tapi sensual dan tidak membumi. Geol itu! Geol itu membawa kedua perjaka itu melayang ke sebuah negeri antah berantah. Negeri di mana para perempuan tidak menolak mereka, malah mengagung-agungkan mereka. Negeri di mana merekalah yang tertampan dan tidak diperlukan motor ninja untuk menyatakan kekayaan. Ah geol-geol mujair! Ujang dan Asep tidak ingin berhenti. Ujang sampai menitikkan air mata haru.

Tapi hal-hal indah tentu perlu berakhir. Ikan mujair itu pun menembang penutup lagu. Sedikit lirih. Dengan sedikit terlalu menyesal. Tapi ada sedikit rayu di dalamnya. Suaranya jernih tapi gemetar dengan kadar ayu pas ketika diperdengarkannya penutup,

“Boleh dilirik. Boleh disuka. Jangan diraba. Jangan diraba.

“Boleh dilihat. Boleh dipandang. Jangan dibawa. Jangan dibawa.”

Mujair melenggok. Sosoknya memudar dan kerling warna-warna sisiknya mulai memudar. Ujang meratap dan meraung tidak terima. Asep tiba-tiba tersadar dan dirinya terkesiap melihat mujair seukuran manusia sedang melenggok-lenggok menuju tengah waduk. Ujang benar-benar tidak terima oleh kepergian ikan mujair ayu itu. Ia merengsek maju sebelum sepupunya sempat mencegah tindakan nekadnya. Ujang menggamit ekor si mujair dengan sangat tiba-tiba. Ikan mujair itu terkejut. Sangat terkejut. Ia membalikkan badan dan mata hitamnya memandang lurus ke Ujang yang sudah kasmaran setengah mati padanya. Asep membelalak. Bagaimana kalau Ujang diseret oleh ikan itu ke dasar waduk? Tubuh Asep gemetar tak karuan antara takut dan kejut. Tapi Ujang? Ujang begitu yakin tidak ingin ditinggalkan mujair itu! Mujair sensual dengan geolnya itu!

Mujair itu terdiam. Lelaki terakhir yang meraba dan memegangnya berakhir naas. Ditenggelamkannya lelaki sok itu. Lelaki itu berpikir bahwa segala yang melenggok dan bergoyang di depannya meminta dimiliki. Tidak! Itu salah besar! Mujair itu hanya senang dengan geol dan irama riang. Tapi ia bukan milik lelaki manapun! Mujair itu merdeka. Ia adalah seorang putri air. Dan sudah sepantasnya ia tidak dimiliki oleh siapapun.

Tapi ada sesuatu yang lain di dalam binar Ujang. Ada suatu kesungguhan. Suatu kepolosan. Suatu kelip yang tidak ada pada sekian lelaki yang mencari hangat di dalam geol mujair itu. Rasa itu menjalar pada tubuh dingin si mujair. Entah mengapa rasanya hangat. Mujair itu tidak pernah merasakan hangat sebelumnya. Baru kali pertama ia rasakan perasaan itu. Dan pengantar perasan itu adalah seorang perjaka lapuk bernama Ujang.

Mujair itu tertantang. Lagi-lagi tertantang.

Ia pun membalikkan badan sepenuhnya. Diulurkannya sebuah siripnya pada Ujang yang kasmaran. Rasa kasmaran itu mengalir. Seperti sengat. Seperti sentak. Sebuah perasaan ganjil tapi nyaman. Pandangan Mata si mujair terus tertempel pada kesungguhan yang terpancar dari mata Ujang. Rasa hangat itu terus mengalir. Terus mengalir. Dari telapak tangan ke sirip. Dari telapak tangan ke telapak tangan yang berasal dari sirip.

Mujair itu telah berganti rupa menjadi seorang gadis. Asep lagi-lagi terbelalak. Ia terjungkal ke belakang dan terkencing di celana ketika Ujang menarik gadis itu keluar dari waduk. Gadis mujair itu basa dari ujung kepala hingga kaki, tapi ia cantik sekali. Lebih dari Iteung. Lebih dari Euis. Dari tubuh langsatnya menetes titik-titik air yang malah menjadi akseseoris keayuannya. Rambutnya panjang hitam lebat, hampir mencapai betis. Hidungnya kecil mancung. Bibirnya rekah dalam merah yang menggoyahkan hati. Tapi ada satu kekurangan. Satu kekurangan yang menjadi penanda dirinya bukan manusia.

Insang.

Di lehernya ada insang.

Ujang membuka bajunya dan mengenakannya pada tubuh polos basa si Gadis Mujair. Dikecupnya dahi gadis itu dengan sayang dan gadis itu merona tersipu. Dengan perasaan sayang, Ujang merapikan rambut si gadis mujair. Dan mereka saling bertatapan. Lama. Penuh sayang. Bertukaran kasih. Sedangkan Asep? Asep memandangi insang pada leher gadis itu dengan ngeri.

“Tuhan. Adakah aku yang kini menjadi edan?” batin Asep dengan hati waswas kebat-kebit.

Tapi tidak. Asep tidak edan. Karena pada keesokan harinya, Ujang menjadi gunjingan tetangga-tetangganya. Mereka menggunjing mengenai Ujang yang menggandeng perempuan yang 1000 kali lebih cantik dari Iteung ketika menghadiri pernikahan perempuan yang pernah digilainya itu. Pengantin pria pun hampir turun pelaminan karena tergoda oleh kecantikan perempuan gandengan Ujang. Iteung hampir dibuatnya menangis meraung-raung kembali ke rumah karena malu. Tapi bintang gunjingan tentu saja bukan Ujang, tapi perempuan gandengan itu. Entah mengapa perempuan itu bersedia digandeng oleh Ujang yang dianggap pecundang. Sundalkah dia? Edankah dia? Entahlah, tapi kalaupun perempuan itu bersandiwara, ia melakukannya sangat baik. Karena ia merona di saat yang pas ketika Ujang mengusap rambutnya. Ia pun tersenyum di saat yang mantap ketika lengannya digamit.

Tak seorang pun sadar satu hal ganjil dari perempuan itu. Hal ganjil yang tentu akan menjadi jawaban pertanyaan-pertanyaan di dalam hati mereka. Mengenai keanehan si perempuan yang memilih pecundang. Oh andaikan saja mereka lebih jeli, tentu mereka akan melihatnya! Sepasang insang di leher si gadis yang lebih ayu dari Iteung. Oh mengerikan!

Hanya Asep saja yang melihat sepasang insang itu.

Juga Emak. Emak yang tajam indera karena telah mengandung Ujang selama 9 bulan menyadari insang itu. Berderai-derai air matanya. Anaknya telah diaku oleh dedemit!

Oh Emak yang malang! Sudah punya anak pecundang, sempat edan, kini ia berjodoh dengan ikan! Nasib oh nasib! Nasib nestapa yang dibawa sebuah goyang! Sebuah giteuk geol mujaer! Oh Gusti Pangeran apa artinya ini semua!

“Nang ning nung. Nang ning nung.”

Gadis gandengan Ujang menembangkan “Geol Mujaer” di kawinan Iteung. Bergetarlah hati para hadirin. Bergetar tanpa sadar bahwa mereka sedang benar-benar dirayu oleh seekor mujair. Dan Ujang hanya sumringah dan bangga terhadap gadis mujair ayunya. Dia lebih cantik dari Iteung. Dia lebih mencintainya dari Iteung. Ikan itu lebih segala-galanya dari Iteung.