Sekonyong-konyong

Dari dulu aku merasa kata “sekonyong-konyong” itu kata yang lucu dan menggelikan. Maksudku, tiap mendengar kata itu, aku membayangkan suatu bentuk spiral seperti yang sering muncul di gambar komik jepang untuk menyatakan suatu lensa kacamata itu tebal seperti tutup botol. Lagipula, saat mengucapkan “sekonyong-konyong”, setiap bibir harus dimoncongkan sedemikian rupa sehingga sangat seksi.

Aku ingin melihat seseorang mengucapkan “sekonyong-konyong” dan tetap terlihat seksi!

😆

Ngomong-ngomong tentang sekonyong-konyong, aku heran dengan orang-orang yang berpikir bahwa laki-laki itu “sekonyong-konyong” menjadi siap untuk menikah dan dewasa. Kurasa, aku pernah menuliskan tentang topik yang sama seperti ini, tapi aku tetap tidak terlalu mengerti apa-apa yang sedang terjadi. Mereka pikir karena umurku hampir 23, jadi sekonyong-konyong aku jadi mengerti berbagai hal. Tidak, tidak. Dan salah-satunya adalah aku tidak mengerti dengan pernyataan, “Karena laki-laki itu sudah lulus, sudah punya pekerjaan, punya gaji tetap. Sekonyong-konyong dia menjadi siap beristri dan berkeluarga.”

Well tahu pendapatku?

Sekonyong-konyong aku berpikir itu salah.

Ya betul, ampek lu monyong-monyong meyakinkan bahwa sekonyong-konyong pernyataan itu betul, aku tetap berpikir itu salah dan tidak berkolerasi.

Percayalah, aku berusaha sepakat dengan pernyataan itu. Tapi lalu aku melihat ke samping, dan di sana ada kenalanku yang akan menikah. Dia tidak tampak antusias dengan pernikahannya yang akan datang, tapi mungkin itu perkiraanku saja. Tapi lalu dia mengatakan malam pertama sebagai “nasty” dan merencanakan memfoto-foto cewek-cewek cantik beberapa minggu ke depan, aku langsung bahwa pernyataan itu sekonyong-konyong tidak betul.

Kau tahu, dia itu orang yang finansialnya mapan. Tapi ternyata dia tidak menjadi sekonyong-konyong siap untuk menjadi double kan?

Jadi, kurasa semua orang menyalahartikan “sederhana” dengan “mudah”.

Kita harus berpikir “sederhana”. Sederhana itu tidak selalu mudah malah lebih sering susah.

Sebagai contoh:

Seorang laki-laki. Tiba-tiba dia merasa tidak bersemangat dalam hidup. Semuanya menjadi kacau. Garam pun jadi tidak berasa. Sekonyong-konyong dia merasa bahwa kemungkinan besar semuanya akan lebih baik kalau bisa berbagi dengan seorang perempuan yang bisa bilang, “garam itu asin” kalau-kalau dia lupa. Lalu dia berusaha keras agar dapat menemukan, menghidupi dan menjaga si perempuan “entah itu”. Tapi meskipun demikian, dia belum mendapatkan hasil yang maksimal karena dari saat ke saat dia lupa kalau “garam itu asin”. Meskipun demikian, dia bukan orang yang mudah menyerah, sekonyong-konyong dia terus berusaha untuk menyatakan dirinya “siap”.

Nah loh percaya atau tidak, ada juga cerita seperti itu. Aku sering mendengarnya, dan mereka bukanlah orang yang “sekonyong-konyong” bisa melakukan pekerjaan suami tradisional. Percaya atau tidak, mungkin maharnya bisa disebut sebagai “keringat dan usaha”. Apa boleh buat, hal sederhana seperti “ingin mengingat kalau garam itu asin” manjadi hal yang susah.

Tapi memang akan sangat menyenangkan kalau semuanya mengikuti skenario yang seperti ini:

Seorang laki-laki. Mapan, tampan, dan lulus semua psikotes perusahaan, memutuskan ingin bekerja untuk memiliki dompet yang gendut. Alasan dia memerlukan dompet yang gendut, bahkan dia sendiri tidak tahu. Yang pasti, dia tahu dia ingin dompet yang gendut. Lalu dia bekerja siang dan malam, tanpa lelah. Dompet dia menggendut dengan sangat, bahkan sudah obesitas, tapi dia mempunyai penyakit BDD (body dysmorphic disorder) dan selalu merasa si dompet tidak gendut-gendut, jadi dia bekerja lagi lagi dan lagi. Lalu, sekonyong-konyong, dia merasa rasa kekurangan di dompetnya adalah karena dia harusnya membaginya dengan seseorang sehingga dengan begitu dia bisa merasakan kapan dompet itu mengurus dan harus dikembungkan lagi. Dia tidak sadar bahwa dompet dia sudah obesitas karena dia sudah terlalu sibuk.

dan apa boleh buat, yang seperti itulah yang sekonyong-konyong laki-laki yang siap menikah.

Ternyata kalau terlalu banyak makanan instan, pikiran kita pun akan dipenuhi oleh ide-ide instan.

-_-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s