Lenggok Gemulai Ekor

Kemarin aku mencoba mencuri-curi gaya bercerita Ahmad Tohari. Ya namanya coba-coba, jadi wajar-wajar saja kalau gagal! Bahkan harusnya memang gagal! Karena Ahmad Tohari ya satu saja, Danilah juga satu saja. Dunia gak butuh dua Tohari atau dua Danilah. Satu-satu juga sudah cukup.

Tapi aku menyukai cerita yang kubikin dengan mencuri-curi spirit Tohari, jadi aku akan membaginya. Untuk senang-senang saja. Untuk menyatakan rasa senang terhadap salah satu karya Tohari yang menghadirkan goyang pinggul Srintil sebagai metafora keperempuanan.

Aneh memang, sebagai sebuah tribute pada Ronggeng Dukuh Paruk Tohari, aku malah membuat cerita tentang “kucing”. Karena kupikir kalau Tohari terlahir di kota besar, tentunya ia akan membuat deskripsi panjang lebar tentang kucing!😀

Selamat membaca… Enjoy (?)(!)

-nyaw, melenggokkan ekor kucing seperti Srintil-

***

Lenggok Gemulai Ekor

sleeping cat

 Seekor kupu-kupu bersayap jingga terbang melintas. Ia membentangkan sayap-sayap rapuhnya menantang matahari yang bersinar malu-malu di balik awan-awan yang mulai mengumpul. Hanya beberapa spot yang berbagi kehangatan matahari yang sedang setengah bersemedi. Salah satunya adalah di atas pagar semen di depan sebuah rumah sederhana beratap seng. Pada spot hangat inilah seekor kucing abu-abu belang hitam memejamkan mata dan tidur tengkurap dengan kaki-kaki bersilang. Bermanja-manja memang sudah menjadi sifat alami kucing, tidak terkecuali untuk si kucing abu-abu belang hitam. Mungkin kucing jantan itu sekarang sedang mengejar betina. Toh dia memang sudah kumincir. Tapi tidak, kucing itu malah mendengkur di atas pagar semen. Jiwa manja felisnya menuntut untuk dibelai-belai oleh sinar matahari yang pemalu. Tak apa. Menikmati sinar matahari pun memiliki seninya sendiri bagi si kucing jantan.

Kupu-kupu bersayap jingga itu kemudian hinggap di atas hidung si kucing jantan. Tergelitiklah hidung lembab hewan malas itu. Telinganya kemudian menegak. Secara spontan, ia berusaha menepuk si kupu-kupu dengan cakar manisnya. Tapi terlambat, kupu-kupu itu malah keburu terbang dengan gaya berputar-putar yang sedikit mengejek. Si kucing jantan pun merasa jengkel karena dibangunkan dari ritual bermalas-malasannya. Matanya nyalang, bersinar kekuning-kuningan. Pupilnya menyempit segaris saking terganggunya oleh kepakan sayap si kupu-kupu bersayap jingga. Hidungnya bergerak-gerak imut karena masih geli akibat digelitik oleh keenam kaki serangga kecil jahil itu.

Si kucing jantan mengeong. Kalau ia adalah seekor harimau, mungkin akan lebih tepat kalau ia disebut mengaum. Kumis-kumisnya meremang tegang akibat getaran pita suaranya. Cakar-cakar kecil dan tajamnya keluar dari sela-sela tapaknya.

“Ah! Kurang ajar kamu kupu-kupu bodoh! Hanya karena keberuntungan sematalah kamu tidak lumat di bawah tapakku ini!”

Kira-kira begitulah arti eongan si kucing jantan. Tentu saja kemarahan itu tidak berarti apa-apa bagi si kupu-kupu jingga yang telah lama terbang kembali ke langit dan bahkan mungkin sudah hinggap di tempat lain yang menawarkan nektar. Si kucing jantan semakin dan semakin saja jengkel karena tidak ada seekor makhluk pun yang menggubrisnya. Ekornya digerakkannya naik turun, naik dan turun. Gelisah yang syahdu. Harga dirinya merasa dipermainkan oleh kepak-kepak lemah seekor kupu-kupu bersayap jingga. Ia kesulitan mengakui pada dirinya sendiri bahwa ia telah dikalahkan oleh seekor serangga yang dianggapnya lemah. Meskipun si kucing jantan berusaha memejamkan mata dan kembali kepada tidur malasnya, jiwanya tetap resah. Alisnya menekuk dan mendatar secara bergantian. Ekornya masih saja naik turun, naik dan turun.

“Andaikan aku bisa menepuk serangga bersayap lemah itu!”

Begitulah pikir si kucing jantan sambil terus gelisah di dalam tidur malas pura-puranya. Matanya memang terpejam tapi pupilnya masih juga nyalang. Ah gelisah, resah, tidak dapat menerima kekalahan karena telah dibodohi oleh seekor serangga lemah. Andaikata ada saudara dari si kupu-kupu jingga, tentulah itu akan sedikit memuaskan rasa kesal dari si kucing jantan. Akan dilumatkannya semua kupu-kupu di dunia ini. Berani-beraninya mereka yang lemah menggelitik hidung mulia si kucing jantan. Tak tahukah bahwa ia adalah binatang kesayangan nabi? Tak tahukah pada zaman firaun ia adalah turunan dewi?

“Kupu-kupu, kupu-kupu.”

Si kucing jantan mengigau di dalam tidur malasnya. Terbayang-bayang dalam benaknya bahwa ia adalah seekor harimau. Ya harimau yang jantan dan gagah. Otot-otot menyembul. Punggung melengkung. Siap memangsa. Memangsa si kupu-kupu jingga. Dengan mata terfokus, ia memasang mata pada kupu-kupu yang hinggap pada rumput ilalang. Ilalang itu sedikit bergoyang. Lembut dan melambai lambat oleh angin yang sebenarnya ingin memberikan sebuah pertanda. Tapi kupu-kupu jingga itu acuh. Ia memang serangga bodoh. Tak tahu dia bahwa seekor harimau sedang bersiap memangsanya. Kupu-kupu jingga itu terus menghisap nektar dari bunga ilalang. Lambat lumat. Lidah kupu-kupu yang panjang bergerak naik turun perlahan. Dan harimau itu. Harimau itu tetap memasang mata.

Tiba-tiba, angin bosan memberikan pertanda pada si kupu-kupu jingga. Diam. Segalanya menjadi diam. Waktu berhenti sesaat hanya agar si harimau itu mendapatkan detik kemenangannya. Harimau itu menerjang. Otot berkontraksi dan moncong membuka penuh. Luarbiasa. Keren. Cakar-cakarnya terentang. Sinar matahari memantul pada bilah-bilah tajam cakar yang mengancam itu. Dan sinar itu memantul. Memantul ke dalam mata faset si kupu-kupu jingga.

Kupu-kupu jingga itu kemudian membuka sayap-sayap rapuhnya dan terbang meliuk. Panik dan sedikit linglung. Tapi entah bagaimana, entah karena inginnya alam, kupu-kupu jingga itu berhasil menghindari terkaman si harimau. Dengan liukan yang dianggap mengejek, ia terbang ke langit. Kini kupu-kupu jingga itulah yang menerjang matahari. Ialah si pemangsa yang menang. Sedangkan harimau malang itu adalah seorang pecundang. Ia duduk dengan pantat lemas dan ekor yang tidak bergairah. Matahari pun ikut-ikut mengejek harimau itu. Ditekannya sebuah sinar pada mata harimau itu. Silau. Panas. Nyeri.

“Eh, kamu ternyata tidur di sini Belang?”

Sebuah suara lembut membangunkan si kucing jantan dari khayalannya menjadi seekor harimau. Ia hendak mencakar dan menggigit pemilik suara lembut itu. Tapi si pemilik suara tidak menggubris mood buruk si kucing jantan. Dibelailah si kucing jantan dengan sayang dan dipindahkannya tubuh si kucing jantan yang uring-uringan. Tak lama kemudian si kucing jantan telah berada di atas paha hangat si pemilik suara. Empuk dan hangat. Lupalah ia pada kupu-kupu jingga kurang ajar itu. Hanya ada dia dan belaian-belaian kasih. Serta sesekali kata-kata penuh kasih sayang yang lembut. Kumis si kucing jantan bergerak-gerak senang. Ia memperdengarkan dengkur dan si pemilik suara menyunggingkan sebuah senyum kecil. Ekor si kucing jantan kembali bergerak naik turun, naik dan turun. Kini dalam sebuah irama melodis lenggok gemulai yang puas.

Menjadi alpa pun memiliki seninya sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s