Bayang dalam Mata Ibu

Aduh aku kok kesulitan membuat karya frontal tentang perasaan terluka ya? Padahal sehari-hari aku cukup asertif hingga terkadang terlalu vulgar. Sepertinya aku menjalani perasaan terbalik. Vulgar di dunia nyata tetapi mengawang di dunia bawah sadar.

Error.

Tapi bagaimanapun, kalau boleh sempatkan untuk baca tulisan ini. Aku tidak mau menerangkan isinya. Ya pikir saja sendiri yang satu ini! Aku ingin lihat apa ada seseorang yang empati karena memiliki pengalaman yang sedikit mirip. Kalau aku sih menduganya harusnya banyak yang mirip.

Kalau tidak ada, mungkin karena tulisanku benar-benar tidak jelas.

Ya tidak apa-apa.

Asal seru kita!

-nyaw, sedikit tidak puas pada karya sendiri tapi tetap dipost karena dia boleh melakukan apapun yang dia mau-

***

Bayang dalam Mata Ibu

bayang dalam mata ibu

Embun masih menempel sebelum jam menunjuk angka 6 pagi tadi, tapi kini ia mulai digantikan oleh debu dan uap carbon. Udara yang tadinya tipis dan jernih kini menjadi berat dan mengabu kehitaman. Motor dan mobil bernapas tanpa mengindahkan para pengendaranya. Kalaupun matahari saat itu sedang bersinar maupun redup, siapa peduli. Yang penting adalah tak seorang pun terlambat untuk memasukkan kartu absen. Telat lebih dari 15 menit, kena potong gaji satu jam. Sibuk, sibuk, sibuk. Tegang, tegang, tegang. Kalau tidak ikut aturan kerja industri, bagaimana aku akan makan hari ini? Bagaimana keluargaku akan bertahan di masa depan nanti?

Nira, seorang lulusan farmasi tentu saja ambil bagian dalam kesibukan hari yang seperti itu. Turut hingar bingar bersama kegiatan normal perkotaan yang sebagian besar adalah pegawai kantoran dan industri. Kadang dia lupa seperti apa warna langit. Apa itu biru. Apa itu daun. Apa itu napas. Nira lebih dekat dengan knalpot, asap pabrik dan warna kelabu.

Ya kelabu. Jelaga dan semua yang dimuntahkan dan dikentutkan dari cerobong-cerobong pendek pabrik. Seperti rentetan abu yang tidak berkesudahan. Tapi abu-abu itulah yang menandakan keproduktifan manusia. Angka-angka managerial itu menunjukkannya. Keuntungan, profit, duit, bertambah seiring dengan pekatnya jelaga. Uang tidak berwarna hijau. Uang itu berwarna kelabu. Dan Nira menyadari realita pahit itu. Ia tahu semuanya. Jadi meskipun ia membenci kelabunya pabrik, Nira berusaha bertahan.

“Perempuan harus kerja Nira. Harus berduit. Nanti kamu kawin, kamu dijadikan lap pel seperti ibumu ini. Diampaskan karena tidak mendapat duit. Kamu pintar. Kamu cekatan. Kamu harus cari duit. Dan jangan kawin seperti ibumu ini. Jangan biarkan lelaki mengampasimu kayak begini.”

Kata-kata ibu Nira terngiang-ngiang di telinganya. Bising dan menekan. Agak seperti sebuah mantra pengikat. Nira takut sekali seandainya ia tidak mendapatkan duit. Karena menurut ibunya, perempuan yang tidak mendapatkan duitnya sendiri akan diperlakukan buruk oleh lelaki. Kawin maupun tidak. Lelaki hanya mengerti bahasa kekuasaan. Duit adalah kekuasaan. Untuk berbicara dengan lelaki, Nira butuh duit. Banyak sekali. Karena lelaki menakutkan. Mereka akan mengampasi dan tidak mengampuni hal-hal yang tidak berguna bagi mereka. Kalau Nira tidak berduit, lelaki akan menjahatinya. Karena ia tidak cantik ataupun imut. Tidak sedikitpun ia bisa menimbulkan belas kasihan.

Karena itu Nira perlu mencari duit. Di dunia kelabu. Di dunia gelimpang duit. Agar ia tidak dijahati. Agar ia tidak menjadi ibunya yang terjebak dalam pernikahan yang dijembatani duit. Nira ingin bebas dan tidak seperti ibunya. Takut pada lelaki, terkurung oleh aturan-aturan yang dibuat oleh kelabu duit. Tapi ironis, untuk keluar dari lingkaran serupa ibunya, ia perlu terjun dalam kelabunya duit, dalam aturan kuasa lelaki.

Ironis, tapi Nira tahu itu semua perlu ia jalani. Oleh karenanya, kendati hatinya remuk redam setiap melihat warna kelabu, ia bekerja mengikuti aturan-aturan farmasi. Pakai pakaian yang rapi. Pakai sepatu yang tertutup itu. Mengawali e-mail dengan “Dear” dan mengakhiri dengan “Regards”. Berbahasa seruntun mungkin agar terlihat terpercaya dan terpelajar. Nira akan menjadi semua itu. Nira harus menjadi semua itu. Nira semestinya semua itu.

Nira pun menjalani hari-hari di dunia farmasi itu. Meracik formula kosmetik. Membuat dempul untuk jerawat. Membentuk gelembung sabun mandi. Dan kadang yang asyik adalah menambah warna bagi perempuan-perempuan yang senang hal-hal indah. Warna-warna itu menghibur hati Nira. Menutupi pusingnya akibat kebanyakan melihat kelabu. Dan terkadang di hari-hari yang sangat menyenangkan, ia bermain dengan harum wangi kenanga, mawar dan vanili. Itu agak membuatnya lupa pada sesaknya pembakaran carbon di luar ruang raciknya.

Ya agak saja lupanya.

Begitu bel tanda jam kantor berakhir, dan Nira diperbolehkan untuk pulang setelah menjetrok kartu absen, ia akan kembali disumpeki oleh jelaga dan kelabu. Tak hanya berat napas dan kepala mumet, hati Nira pun menyesak. Meskipun mayoritas yang sekantornya adalah orang-orang yang baik dan pekerja keras serta selalu mengembalikan usaha-usahanya pada Tuhan, Nira tetap merasa sesak oleh jelaga abu. Dan meskipun ia terus-menerus merapalkan mantranya agar ia berubah dan melebur dengan normalitas di luar dirinya, berkali-kali ia gagal.

Selalu saja begitu. Selalu saja gagal. Nira sudah mengikuti aturan-aturan farmasi itu. Karena duit ada pada jalur aturan. Dan Nira mengikuti dan mengendus duit. Karena ia adalah perempuan yang takut dijahati lelaki dan butuh duit. Karena ia tidak mau berkawin sebelum ia sekuat lelaki. Dan Nira ikuti bau kelabu duit itu dengan mengikuti semua aturan duniawi yang membingungkan itu. Tapi entah mengapa ia berkali-kali dan selalu gagal.

“Nira stress, butuh ke psikiater.”

“Nira cerdas tapi dia tidak bisa bersikap berbeda dari kami.”

“Nira baik tapi dia tidak boleh seperti ini.”

Begitu pendapat orang-orang mengenai Nira. Nira tahu semua itu dan berkali-kali ia terkena masalah karenanya. Acakali ia memang menyalahkan dirinya sendiri. Ia menyalahkan susunan genetik dan darah di dalam dirinya. Seringkali ia meyalahkan jiwanya sendiri. Kenapa jiwa itu tidak bisa beradaptasi dan menjadi seragam dengan orang lain. Kenapa dia tidak bisa memenuhi kriteria waras dan layak kerja psikotes-psikotes itu. Kenapa dia dilahirkan berbeda bila yang bertahan hanya yang sama?

Nira sering mengumpat pada dirinya sendiri. Tapi ia meneguhkan hati dan mengikat logikanya. Untuk bertahan ia perlu menjadi seperti mereka semua. Kalau ia berubah, tentu kesalahan dengan menjadi diri sendiri akan dimaafkan dan dianggap angin lalu. Nira pasti dan mesti menjadi seperti semua orang. Normal dan tidak mengindahkan sesaknya jelaga kelabu. Yang penting dapat duit. Yang penting dapat menjalani hidup. Tidak ada ruang untuk mimpi dan hal-hal romantis. Hanya butuh duit dan semuanya akan terpenuhi dengan sendirinya. Ah duit Tuhan kami!

Tiap malam di kamar messnya, Nira menitikkan air mata. Sering ia menangis hingga pagi hari. Kalau ia tidak bisa berhenti sesegukan, jin yang di dalam lemari baju akan mengetuk pintunya.

“Eh manusia tidak bersyukur. Berisik! Berisik!”

Begitu kata si jin. Meskipun malu, Nira masih saja menitikkan air mata tanpa henti. Ia tahu bahwa pekerjaan di dunia farmasi yang ia jalankan adalah sebuah berkah. Tidak banyak orang yang dapat menjalani hidup yang seperti dirinya. Meskipun tidak sepenuhnya mewah, tapi tabungannya tidak pernah kosong dan perutnya tidak pernah keroncong. Malah perut itu membuncit karena kebanyakan dikasih makan duit.

Tapi Nira tetap menangis dan menangis. Ia sesak oleh jelaga abu. Ia kesal pada duit yang terus mengatur hidupnya. Dan terutama sekali ia tidak terima hidup terpenjara dalam ngeri. Ngeri pada kuasa lelaki yang menghabisi perempuan-perempuan tidak berduit. Ah kenapa juga dunia itu begitu peliknya. Kenapa dunia itu tidak semudah quote Mario Teguh, “Follow your passion and money will follow you.” Ah itu dusta. Tidak ada ruang untuk mimpi dan romantisme ekspresi diri. Hanya ada realita. Jadilah “layak dipekerjakan” maka kamu akan dikasih duit. Kalau tidak sesuai standar kami silakan keluar dari pintu exit.

Pada akhir minggu, Nira akan pulang ke rumahnya di kota tetangga. Kota yang dianggap sedikit lebih hijau dan tidak terlalu abu. Udaranya lebih sejuk dan masih ada burung yang bertengger di pohon-pohon sambil berkicau. Nira biasanya pulang sabtu malam, dan sampai pada saat malam mulai memekat hitam dan bintang-bintang terlihat seperti berlian. Sayangnya ia jarang menghargai keindahan kota lahirnya itu. Hanya sesaknya jelaga abu saja yang ia ingat. Seandainya ia tidak sibuk pada kepusingannya sendiri, mungkin ia akan dapat mensyukuri hal-hal yang dimilikinya. Adiknya. Bapaknya. Dan ibunya. Terutama ibunya.

Tapi Nira terlalu banyak dan sering diliputi jelaga kelabu. Pandangannya kabur dan pikirannya nanar. Matanya merah dan berkantong hitam seperti zombie. Dan di dalam kepala ia merekam sebuah kaset tiada akhir. Sebuah rapalan mantra menguatkan diri. Bahwa hidup adalah seperti itu. Bahwa manusia memang diciptakan agar bersabar menghadapi jelaga abu. Karena perut tidak boleh keroncong. Dan tabungan tidak boleh kosong.

“Jangan jadi dirimu. Jangan jadi dirimu. Jangan jadi dirimu.”

Begitu kata kaset di dalam diri Nira. Dan ia mulai terbuai. Ia mulai terbiasa menjadi orang yang bukan dirinya itu. Diri yang memiliki duit dan professional dan memenuhi kaidah standar hidup normal. Nira hampir-hampir terbiasa! Tinggal selangkah saja agar kebahagiaannya sempurna. Tinggal ia menikah dan memiliki keluarganya sendiri. Dan sekarang ia tidak perlu takut untuk hidup serumah dengan lelaki. Karena ia sekarang berduit dan tidak berhak seorang lelaki mengampasi perempuan yang memiliki kuasanya sendiri.

Ya tinggal satu langkah sederhana itu! Nira akan bahagia. Seperti orang lain. Seperti normalnya dan seharusnya terjadi.

Sesampainya di rumah Nira tidak mengindahkan kicauan bintang ataupun kejaran dedemit iseng satu dengan yang lain. Ia hanya memikirkan kenormalan dirinya sendiri dan cara-cara menggenapkannya dengan cara yang normal pula. Karena dunia punya aturan dan punya standar. Nira akan ikuti semua itu dan Nira akan menjadi semua itu. Dengan duit duit dan duit.

Jadi ibu Nira pun menyapanya. Hari sudah malam tapi Ibu Nira masih terjaga menunggu anak yang dibanggakannya. Anaknya yang sukses dan berhasil menjalani hidup yang normal sesuai aturan dunia. Untuk anak seperti itu, ibu Nira bersedia terjaga semalam suntuk. Tidak percuma ibu Nira mengandungnya selama 9 bulan. Akhirnya berbalik modallah ibu Nira.

“Jadi bagaimana pekerjaanmu?”

Begitu kata ibu Nira. Matanya hitam pekat seperti uban yang jarang muncul di sela-sela rambutnya. Ia sudah berumur 50 tahun tapi masih terlihat hampir seperti seorang yang baru menginjak 30. Nira mengangkat muka untuk menjawab tanya itu. Pandangannya langsung beradu dengan perempuan yang telah melahirkannya. Ia hendak menceritakan dengan sedikit berlebihan mengenai kesuksesannya dalam menjalani pekerjaan normal di pabrik farmasi itu. Ia ingin membuat perempuan itu bangga. Tapi hal pertama yang terlihat dalam pekat mata ibunya menghentikannya.

Sebuah bayang.

Bayang itu adalah seorang perempuan. Dengan kerudung yang dijepit rapi. Kemeja berwarna necis. Celana hampir kelimis. Sepatu pantofel datar seperti dokter artis. Perempuan yang kelihatan hebat, berwibawa dan terpercaya. Seandainya waduk Jatiluhur bocor dan terjadi banjir bandang, mungkin kau akan memercayakan penyelesaian masalah itu padanya. Ya keren. Apik. Mantap.

Tapi alis perempuan itu tajam dan berkerut di tengah. Bibirnya kecil tapi cemberut dan bahkan sedikit kerucut. Matanya tak hanya merah sembab dan berkantong hitam. Ah itu bukanlah suatu soal. Tapi yang menjadi soal adalah sorotnya. Sorot mata dalam bayang itu.

Kosong.

Nira terhenti dan terhenyak. Bayang di dalam mata ibunya bukanlah dirinya. Ia sudah mati. Ia pasti sudah mati. Karena matanya sendiri sudah seperti zombie. Bagaimana bisa? Padahal Nira mencari duit untuk hidup. Untuk bahagia. Agar tidak merasa ngeri pada kekuatan lelaki.

Tapi bayang dalam mata ibunya begitu jujur dan jernih hingga Nira melemas.

Dan ia menangis. Tangis yang membingungkan ibunya. Tangis yang tidak diketahui oleh sang ibu menjadi cikal bakal kekecewaan besar yang akan segera menimpanya. Tangis yang mengawali kematian Nira normal dan lahirnya Nira yang dikatakan aneh dan sedikit alien. Perempuan yang mungkin diampasi lelaki karena tidak memiliki duit. Bahkan berpotensi untuk mengalami siklus hidup yang sama dengan ibunya.

Ya. Akhirnya Nira meninggalkan dunia jelaga kelabu. Dan duit pun ngambek dan berhenti meninggalkan jejak baunya hingga Nira pun terkadang sedikit bingung dan sedih mengecewakan ibunya dengan hidup dalam sempit. Tapi sebagai gantinya, nista di dalam hati Nira itu lamat-lamat luruh dan menghilang. Kendati kadang sulit sendiri, ia menjadi perempuan yang sering tersenyum geli. Dan matanya bercahaya dan berseri. Sayangnya kini, cahaya di dalam sang ibulah yang meredup.

Meredup hingga kadang tak dapat mengembalikan bayang.

Kecewa oleh anaknya yang sekarang sudah tidak mati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s