Saya Pikir

Kemarin para kawan lelaki mendongeng di rumahku. Ah seru. Kupikir dibanding mereka ini, aku memang lebih cocok disebut penulis, karena mereka yang pendongeng benar-benar terlibat di dalam dongeng-dongengnya. Jadi aku ini semacam notulen saja!

Tapi itu ok saja. Karena para kawan pendongeng kadang malas menulis, jadi biar aku ini yang mencatatkan. Tapi mungkin tidak sekarang, atau tepatnya dalam post ini.

Kali ini aku memasang post keisengan. Beberapa hari ini aku sedang berusaha menyelesaikan buku Amba dan berhasil dengan sedikit kesuksesan. Agak berbeda dengan orang lain, aku tidak merasakan kekuatan seorang perempuan di dalam buku itu. Tapi seorang perempuan sih aku memang rasakan. Tapi lagi, karena aku seorang perempuan juga, membaca kedalaman hati perempuan itu meresahkan dan menyusahkanku. Kadang aku jengkel mengikuti logika Amba di sana.

Tapi diksinya! Wow diksinya! Aku menikmatinya. Kadang perlu juga buka kamus. Karena pembendaharaan kataku agak terbatas.

Nah karena aku begitu senang dengan diksi-diksi itu, aku jadi ingin iseng. Ya bagaimana kalau sesekali membuat tulisan dengan diksi acak adut? Atau dengan diksi yang iramanya agak dimainkan? Agak bebas tanpa memperhitungan alur dan kedalaman cerita sepertinya asyik.

Jadi aku menuliskan prosa/cerita pendek/racauan/rap alay panjang berjudul “Saya pikir”. Aku membacanya lagi, dan tulisan ini sedikit mengingatkan pada kawan perempuan baik yang membuat tulisan tidak berjudul mengenai “rasa”. Kupikir dia membuat sebuah karya yang lebih masuk akal. Tapi kalau yang akan dipost di sini, dia tidak masuk akal. Dan dia alay.

Tapi aku senang bermain diksi. Tapi Laksmi Pamuntjak dalam Amba memainkannya dengan jauh lebih piawai. Karena sepanjang Amba kau akan membayangkan warna merah. Aneh kan? Aneh loh! Tapi aneh itu bagus tentu!

Nah kalau prosa ini tidak ada warnanya. Tapi dia punya theme song. Theme songnya “My Heart is Open” yang dibawakan Maroon 5 ditemani Gwen Stefani.

Yah iseng saja baca. Di pagi sabtu yang cerah ini (kalau tinggal di Bandung).

-nyaw, main kata-

***

Saya Pikir

Archy 2 edit resize

Sempat saya pikir, saya masih cinta kamu. Karena itu masuk akal. Karena itu adalah rasa yang seharusnya tidak akan padam. Sempat saya pikir, saya ada cinta pada kamu. Karena kamu ada seperti itu. Karena kamu akan selalu seperti itu. Karena apa adanya dirimu. Karena kamu masih dan ada seperti waktu itu. Jadi sempat saya pikir pasti saya masih cinta kamu.

Jadi saya menunggumu. Menunggumu. Karena katanya cinta itu seperti bis. Perempuan berdesak-desakan memasuki bis yang akan membawanya ke tempat yang paling indah. Tempat yang paling jauh. Jadi kutunggu kamu. Kutunggu kamu di halte pemberhentianmu. Menunggu lowong. Menunggu kosong. Jadi kamu akan bawa saya. Jadi kamu akan bawa diriku. Ke tempat semua perempuanmu itu.

Jadi kutunggu gilir itu. Karena saya pikir bahwa saya masih cinta kamu. Karena rasa itu sudah lama dan mengendap. Karena rasa itu sudah dan telah lama mengerak. Hingga kupikir dia mendekam terlalu lama. Hingga kupikir aku tidak membedakan apa dia ada atau tidak.

Tapi semakin saya pikir saya cinta kamu, kok makin jarang dan makin renggang rasa itu. Apa karena rapatnya dia? Apa karena tidak dibiarkannya napas dia? Atau karena kamu memang selalu ada. Di sana. Di sini. Setiap saat itu. Jadi kupikir dan sepertinya saya seharusnya cinta kamu.

Seharusnya.

Bukankah itu kata yang mengganggu? Banyak pula beban dalam kata itu. Seharusnya memang saya cinta kamu. Karena rasa itu sudah lama. Karena rasa itu sudah tua. Karena rasa itu sudah satu seperti napas. Karena rasa itu sudah kukenal. Karena aku sudah menunggumu. Di terminalmu. Untuk menjemputku. Untuk membawaku. Untuk menjadikanku salah satu perempuanku.

Tapi kamu tidak kunjung berhenti. Kamu bawa perempuan-perempuanmu yang lain tentu. Tak satu pun di antaranya adalahh saya. Kucari wajahku dan tidak ada diri ini di sana. Tapi kamu tahu aku menunggumu. Tapi kamu tidak berhenti. Tapi kamu tidak mengindahkan. Kamu perlu mengacu. Bersama perempuan-perempuanmu.

Dan tidak ada wajah saya di sana. Tidak sedikit pun ada bersit.

Bukankah seharusnya ada saya di sana? Ya sesekali. Mungkin tidak perlu sampai ke tempat jauh itu. Mungkin sekedar menggelantung seperti kenek. Mungkin perlu bayar dua kali lipat. Tapi tidak seperti itu. Kamu tidak berhenti. Kamu selalu bawa perempuan lain. Dan aku menunggu. Di haltemu. Seperti ini. Seperti bodoh. Seperti tak tahu diri.

Hingga rasa ini terus merapat. Hingga rasa ini terus menghimpit. Hingga rasa ini menyesak. Lalu dia mendesak. Lalu dia membuncah. Lalu dia menuju langit.

Dia mengadu. Dia menanya. Dia tidak terima. Dan di langit rasa itu pun pecah. Dia indah. Dia menari cerah. Bayangkan itu. Semua indah itu rasa dalam hatiku. Dan dia memenuhi langit. Dalam pasrah. Dalam damai. Dalam keinginan yang pecah.

Pecah. Berderak.

Lalu seharusnya saya pikir saya cinta kamu berubah menjadi saya memang cinta kamu tapi hal itu tidak sepenting yang saya pikirkan seperti titik yang tidak kunjung datang dalam paragraf yang melelahkan dan menghabiskan napas dan melelahkan pembaca yang penasaran tentang apakah tulisan yang tidak berujung ini.

Saya pikir saya cinta kamu. Sudah bukan begitu. Sekarang saya tahu bahwa saya memang rasa cinta kamu. Sudah sedari dulu. Sudah sedari waktu masih buntu.

Tapi apa itu penting? Saya yang memang cinta kamu?

Ah tidak. Karena saya memiliki ria. Dalam rasa yang terbang. Dalam rasa yang mengambang. Dalam rasa yang tidak dapat ditimbang.

Dan itu tidak penting. Ketika suatu rasa itu perlu berdenting. Ketika rasa itu berasa memiting. Ketika rasa itu berubah genting.

Karena kutunggu dirimu. Selama beberapa jam. Selama beberapa menit. Selama beberapa detik. Tapi kamu tak kunjung berhenti. Kamu tak memilihku sebagai perempuanmu. Tidak dan tidak akan.

Dan aku tentu sudah bosan. Bukan bosan menunggu. Bukan bosan ditolak. Bukan bosan diacuhkan. Bukan bosan merasakan hal-hal sesak.

Bukan. Itu indah. Itu asyik. Itu mantap.

Tapi bosan. Bosan tetap ada. Karena seseorang yang lain butuh rasa indah yang kumiliki.

Dan dia akan berhenti. Dia mungkin bahkan berkali-kali telah berhenti.

Tapi aku tidak menunggu di halte dia. Aku tidak mencari dia. Aku tidak bertanya di mana dia. Aku tidak mengenali wajahnya. Aku tidak bahwa dia ada. Dan mungkin sekali dia bertanya. Di mana saya. Seperti apa saya. Dan terutama dan mungkin dia bertanya,

“Adakah dia menunggu saya?”

Dan dia mungkin pikir,

“Saya tahu saya cinta dia. Adakah dia tahu bahwa dia pasti akan mencintai saya?”

Jadi saya pikir saya memang cinta kamu. Tapi hanya seperti itu. Hanya sampai situ. Karena saya perlu ada di sana. Memberikan rasa saya. Pada dia yang mencari saya. Dititipi menjaga saya. Dan dia tidak asa. Menanyakan saya. Menanyakan dimana diri saya. Adakah bahagia diri saya. Adakah menunggu diri saya. Menunggu di halte dia. Dengan setia.

2 thoughts on “Saya Pikir

  1. Suka bagian yang ini : “Karena kutunggu dirimu. Selama beberapa jam. Selama beberapa menit. Selama beberapa detik. Tapi kamu tak kunjung berhenti. Kamu tak memilihku sebagai perempuanmu. Tidak dan tidak akan.”

    Tapi, suka semuanya, Danz. I see new part of you in this writing. Peurih euy kdi bagian akhir wkwkkw

    • Hakakakaka iya ya perih. Ini agak seperti gaya nulis gwa waktu SMU (apeu! anak kecil udah merih!) Makanya gwa pasang juga ilustrasinya yang jadul banget…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s