Secangkir Kopi Bersama Mas Setan

Sebenarnya aku tidak ingin menulis cerita ini. Aku tidak suka menulis cerita yang tidak kuketahui akhir baiknya, Karena aku merasa tulisan itu seperti doa. Karena aku menuliskan hal-hal yang kalau tidak informatif, membuat berpikir, harus bisa memiliki suatu harap untuk masa depan.

Jadi tadinya kuputuskan untuk tidak menuliskannya meskipun orang yang bersangkutan mengiyakan. Ah tapi tiba-tiba muncul ending yang penting. Sesuatu yang dapat disuguhkan dengan berselubung kenyaatan dan ketidaknyataan (nah aku mulai mengarang diksi). Jadi akhirnya cerita ini dituliskan.

Bagi teman-teman yang cemas. Tenang! Aku benar-benar sudah meminta izin orang yang menginspirasi cerita ini. Dia bilang “ok”. Jadi kalian ok juga ya. Karena kita semua ok dan semua yang lalu sudah lalu. Ok? Ok!

-nyaw, menikmati kopi-

***

Secangkir Kopi Bersama Mas Setan

10603603_10152610019807515_4729019175804646538_n

Aneh. Setanku adalah seorang mas-mas. Iya. Dia kudu dan mesti Jawa. Tentu saja. Karena aku punya sejarah kikuk dengan beberapa lelaki Jawa. Juga benar kata pepatah, “the devil is in the details”. Jadi tepat dan kudu dia mesti Jawa. Dan tentu saja dia perlu banyak berkeliaran dengan celana ngatung anak mesjid. Ah tentu dia harus punya jenggot. Ah bagaimana dengan wanita? Ah mesti dan kudu dia punya beberapa biji. Akan kurang lengkap kalau seandainya dia mendiamkan wanita-wanitanya. Kudu dan mesti dia melakukan rayuan kecil sana-sini sesekali. Ya tentu dia tidak malu pada celana ngatungnya itu. Ah kurang, kurang! Tentu saja dia perlu juga dan mesti memiliki suatu wawasan dan ide mendalam tentang topik yang menarik hatinya. Sesuatu yang bisa membuatnya berbicara berjam-jam tentu. Sesuatu yang agak norak. Seperti JKT48 dan Lumina Scarlet. Ah masih, masih kurang detail! Dan tentu saja dia mesti dan kudu memiliki semua sifat buruk lelaki yang pernah kujumpai. Perlu dan mesti!

Jadi Mas Setan menyuruput secangkir kopi di depannya. Aku memandangi dan memelototinya. Beberapa hari yang lalu aku begitu geram dan marah padanya. Dia telah melakukan kebodohan yang tidak dapat kupercaya dapat terulang lagi di usia 28 tahun. Ia jadikanku perempuan penengah antara dia dan seorang perempuan yang dia akui bukan pacarnya. Perempuan yang diakuinya bukan pacar memakai baju pink yang serasi, bedak, celak, tas dan sepatu yang senada. Bukankah itu adalah pakaian berkencan? Aku menjadi malu. Sudah aku menjadi penengah, aku pun berpakaian selayaknya seorang “bro”. Kapuchon, kets dan baju kumel bolong-bolong.

“Astaga naga. Kebodohan macam apapula ini?” batinku saat itu.

Kuberondong teman-temanku dengan kegelisahanku karena dijadikan penengah oleh setan itu. Teman-temanku mendorongku untuk meninggalkan tempat. Pada awalnya aku masih bergeming tapi kemudian aku melihat mereka memiliki dunia sendiri yang tentu saja entah berada bima sakti galaksi yang bahkan jauh dari film Interstellar yang rencanya akan kami (secara absurd) bertiga.

“Ah aku terlalu tua untuk mengikuti permainan ini,” batinku.

Jadi dengan canggung, seenaknya, dengan punggung melengkung ke belakang dalam sebuah bentuk siaga lari, kupanggil Mas Setan dengan gerakan tangan dan jari gemuk-gemuk. Ia mendekat. Dengan senyum yang aku merasa sedikit anti. Senyum aneh yang selalu terpasang di muka anak-anak mesjid. Senyum tidak tulus dan menyembunyikan agenda tertentu. Ikh aku semakin ngeri saja.

Kubilang padanya, “Aku ganggu ya? Aku pulang ya. Kalian nonton ya!”

Dia berkelit dan mengatakan hal-hal yang tidak kudengar dengan jelas. Tekadku tentu bulat. Aku adalah perempuan berusia 28 tahun. Aku tidak punya waktu untuk permainan anak-anak. Aku juga bukan pengasuh. Aku juga tidak bersedia disamakan dengan setan. Jadi aku lari. Benar-benar berlari. Untung aku memakai pakaian yang memudahkan gerak.

Dia mengirimkan SMS kelitan tentu. Ah aku malas menanggapi. Aku memutuskan untuk segera pulang saja dan menyalakan kunci kontak mobil dengan kecepatan melesat. Aneh sekali ada orang yang memperlakukan temannya seperti ini. Saat aku sudah setengah jalan menuju rumah, baru kusadari bahwa setan itu belum mengganti uang tiket. Astaga. Aku bahkan mengantrekan tiket pacaran mereka!

“Cerdas! Perempuan usia 28 tahun yang cerdas,” batinku.

Jadi tentu saja beberapa hari yang lalu itu aku geram dan marah. Dan tentu saja aku perlu membuat prosa mencaci maki dengan bahasa yang tidak perempuan-I dan anggun-I dan halus-i. Tentu saja tulisan itu kotroversial dan membuat cemas kawan-kawan baikku. Tapi perlu mereka ketahui bahwa aku telah bertemu dengan penampakan semua trauma pada lelakiku dalam satu setan itu.

Dalam fisik. Dalam laku. Seandainya semua lelaki yang mengecewakanku dilumatkan dan dijadikan satu, pastilah lumatan itu akan membentuk Mas Setan yang satu ini. Tampangnya, bau badannya, tinggi badannya. Tapi terutama, tindakan bodohnya, ketidakpekaannya, kerahasiaannya dan keacuhannya. Dan sekarang, pengecutnya. Ya pengecutnya. Butuh waktu seminggu lebih hingga kami dapat berjanjian di sebuah kafe agar dapat kutagih uang tiket itu.

Jadi barang tentu dan sudah mesti aku merasa geram pada Mas Setan ini beberapa hari yang lalu. Tapi entahlah. Suasana hatiku riang saat itu. Aku merasa jenaka. Dalam hati aku terpingkal. Bagaimana bisa ada mas-mas yang bisa dengan tepat menjadi setan representasi trauma-trauma masa laluku? Ini menarik. Lebih tepatnya lagi ini artinya aku beruntung. Tak banyak yang berkesempatan untuk mengenal setan mereka dan meminum secangkir kopi bersamanya.

Jadi setelah ia memberikan uang ganti tiket, kukatakan padanya,

“Kamu ini…. Kamu ini seperti semua jeleknya laki-laki yang pernah kukenal disatukan semuanya dalam dirimu. Kamu berhasil mengeluarkan sisi terburukku!”

Mas Setan tampak tertarik dan matanya membulat ketika bertanya, “Bagaimana?”

Aku menyilangkan tangan dan berkata dengan malu, “Kamu membuatku kabur. Aku selalu kabur dari situasi-situasi yang tidak nyaman.”

Dia tertawa. Mungkin dia merasa menang. Aku mencibir kesal dan dalam derai tawanya kulihat bahwa dia bukan satu orang saja. Tiba-tiba dia menjadi banyak. Berbagai sosok laki-laki yang meresahkan dan menggelisahkanku. Mereka berhimpun dan berhimpit di dalam tubuh laki-laki itu. Mereka berebutan untuk menghirup esensi gelap secangkir kopi itu. Aku bergidik. Kusadari bahwa aku telah berkelana ke masa lalu. Cepat-cepat aku memejamkan mata dan menghadirkan diriku di tempat dan waktu saat itu. Separah-parahnya setan itu, ia tidak boleh merenggut kehadiranku pada saat itu. Karena kehadiran adalah modal komunikasiku dengan pemilik semesta.

Mas Setan, dia berbicara tentang berbagai hal. Aku mengangguk-ngangguk. Matanya redup sesekali seperti menghilang ke dalam dimensinya sendiri. Aku membangunkannya beberapa kali. Karena kutakut apa yang mungkin terjadi kalau kesadarannya tidak selalu menetap. Berbagai makhluk mengintip dengan tertarik pada dia yang meredup sesekali itu. Dari atas balkon. Dari belakang kaca. Dari tepi meja. Oh mereka suka setan ini. Atau setidaknya mereka ingin tahu apa mereka bisa ikut dalam diskusi hari itu. Salah satu dari mereka sangat ceriwis. Ia adalah bule yang sedikit terlalu protektif. Dia sedikit sok tahu bersikap seolah-olah dapat melindungiku dari Mas Setan. Padahal lebih banyaknya pun ia tidak akan dapat melakukan apapun selain membuat gelisah.

Jadi aku tenang. Kendati kepalaku sedikit migren. Makhluk-makhluk yang membuat sumpek. Tapi terutama perjalanan pandangan yang bertarung untuk memaksaku untuk memasuki masa lalu. Agar aku panik dan takut. Agar aku kabur lagi. Tapi terutama agar aku membenci. Karena setan senang sekali mengkorupsi hati. Tapi aku sendiri, tidak senang dikorupsi. Waktuku dan kehadiranku tentu adalah pemberian bagiku sendiri bukan? Penggunaannya adalah persembahan pada pemilik alam semesta. Jadi aku kudu dan mesti hadir di saat itu. Menghirup dan menginderai. Sekalipun itu seorang setan berbentuk mas-mas. Sekalipun kopinya hitam pekat seperti sayap gagak.

Menuju penghujung pertemuan, kumarahi dan kuingatkan dia sekali lagi mengenai kebodohannya. Ah mungkin dia pura-pura alpa dan tidak bersalah. Kebohongannya adalah urusan pribadinya. Urusanku adalah tetap menjadi jujur dan jenaka. Kukatakan padanya bahwa dia perlu lebih memikirkan perasaan orang lain dan jangan menekan keburukan dari orang lain. Batas orang itu berbeda-beda. Dan tentu aku pun merasa malu karena kabur minggat. Kuharap tidak perlu ada kejadian semacam itu lagi.

Mas Setan tertawa lagi dan dia berkata, “Ya sudah. Jadikan bahan untuk ceritamu ya.”

Aku memandanginya dan dia pun hadir saat mengatakan itu. Aku tertawa tapi lalu memikirkannya sejenak. Apa mesti kudu dan butuhkah aku menulis tentang Mas Setan ini? Ah sepertinya tidak.

Lalu secangkir kopi itu menguap habis sudah. Sebagian diminum, sebagian dihirup. Habis dan kami pun berpisah dengan kesadaran dalam hati bahwa kemungkinan besar kami tidak akan bertemu muka lagi. Ah wajar bukan? Terlalu canggung.

Tapi hari ini aku membuka file Murakami pertamaku. Sweetheart Sputnik. Lalu aku membatin sebuah tanya,

“Siapa sih yang ingin menjadi tokoh khayalan semacam Sumire ini? Sepertinya itu sangat merugikan.”

Lalu kusadari bahwa Mas Setan itu yang ingin. Dia ingin dijadikan cerita. Seperti Sumire. Seperti dedemit-dedemit narsis yang ingin berpose dalam kata. Astaga. Tidak tahukah betapa kayanya dia karena memiliki hal yang tidak dimiliki tokoh-tokoh khayalan itu? Dia memiliki kehadiran! Dan kehadiran saja kekayaan yang perlu dimiliki seseorang!

Ah ingin kukatakan hal itu pada Mas Setan secara langsung. Tapi biarlah kutulis cerita ini. Agar akal bertemu dalam negeri imajinasi. Karena Mas Setan ingin jadi Sumire. Padahal dia bukan Sumire! Dia adalah manusia (mungkin hampir jadi)!

Ah biar toh. Mungkin Sumire cocok juga untuk dia. Lagipula kopi yang mengencer di kafe itu pun sudah habis. Jadi sari pati tubuh. Juga bersatu dalam uap sendu langit Bandung. Juga mungkin menjadi bola-bola mainan makhluk-makhluk yang menyukai redupnya manusia sesekali. Karena itu celah yang sangat asyik untuk mengkorupsi hati!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s