Denting Dahsyat Gemuruh Hati

Nah gini nih. Kalau nulis satu cerpen, suka jadi terpikir tentang sudut-sudut pandang tokoh lainnya. Terus pikiran itu jadi memborbardir tiada henti minta ditulis. Ah ya sudah, dituliskan saja. Ya akhirnya kutuliskan saja sedikit sejarah tentang tokoh putri mujair yang disebutkan di dalam cerpen Nang Ning Nung. Kupikir judul cerita kali ini sangat menarik. “Denting Dahsyat Gemuruh Hati”. Bukannya mengasyikkan kalau ini menjadi jargon pantat truk? Keren! kalau menemukannya, tolong fotokan ya!

Seperti biasa. Jangan terganggun dengan typo, EYD dan hal-hal teknis semacam itu. Ini adalah blog tempat bersenang-senang yang tidak dapat menyenangkan logika.

Jadi… Mari mari mari simak kisah putri mujair. Ikuti egolnya. Ikuti giteuknya!

-nyaw, giteuk geol dahsyat-

***

Denting Dahsyat Gemuruh Hati

 putri mujair

Prajurit-prajurit awan kelabu baris-berbaris memenuhi mendesak langit. Dari sela-sela kaki tangguh mereka, berkejar-kejaran kilat dan petir. Acuh, riang, belia. Tentu saja kilat yang memenangkan adu cepat sampai tanah. Semua tahu cahaya selalu lebih cepat dari gemuruh suara petir. Tapi petir? Dia hebat. Saat melompat ke tanah, dia memercik. Menggapai ilalang terdekat hingga keluar serupa suara kerupuk getas. Lalu ia bergulir dan mengabu. Asapnya mengepul. Sedikit saja. Ia menggulingkan sari terbakarnya ke dalam riak air gelap di dekatnya dengan suara menceracas. Dan ia tenggelam. Turun ke dalam kegelapan air waduk itu. Waduk Cirata yang ramai di permukaan tetapi begitu syahdu di bawah permukaan. Hanya terasa suasana gentar yang mengganggu. Dan petir yang telah menjadi upik abu itu pun mendarat ke dekat seekor ikan mujair raksasa yang terbuka sedikit. Ia terjatuh tepat di dekat sela mulut di mana terdapat sepasang mata ketakutan mengintip. Mata ketakutan milik si putri mujair yang meringkuk dalam rahang kuat ibunya, sang ratu mujair.

Ratu itu membeku di tempat. Seakan-akan namanya tidak memberikan daya sedikit pun baginya. Ia membeku menghadapi gejolak amarah suaminya yang senantiasa mengeluarkan gelembung-gelembung yang bernada mendesis baginya. Hatinya terluka dan tersayat mendengarkan gelembung-gelembung kasar itu. Gelembung-gelembung yang kendati terlihat begitu rapuh dan tidak berbahaya tetapi mengetus ketika meletus. Dan letusan itu, isinya kata-kata yang menyakiti sang ratu. Tentang usianya yang sudah tidak muda, tentang kematian putra-putrinya, tentang kebosanan sang raja yang ingin melanglang buana ke laut tapi terperangkap di dalam sebuah waduk yang semakin menyempit. Karena ia adalah ikan mujair yang sangat besar. Ukurannya hampir setengah waduk Cirata. Sungguh sial ia harus terjebak di sana. Tapi bukan berarti raja itu berhak menumpahkan frustasi pada sang ratu. Sang ratu pun pasti bosan harus tetap menikah pada mujair gendut itu. Tapi ia diam. Karena ia ratu. Dan ratu-ratu selalu anggun. Lagipula ia adalah ikan timur. Ikan timur selalu santun dan mengalah pada pria-pria mereka.

Tapi tetap. Hati sang ratu mujair terguncang. Hampir-hampir ia tidak tahan pada gelembung-gelembung menyakitkan hati yang keluar dari mulut suaminya. Tapi ia akan tetap diam. Ia akan tetap anggun. Karena itu tugas seorang ratu. Lagipula tidak semua putra-putri sang ratu meninggal, masih ada seorang putri mujair kecil yang selalu dibawa-bawa di dalam mulut raksasanya. Ia masih begitu kecil, muda dan rapuh. Sang ratu perlu menjaganya dengan ekstra hati-hati. Apalagi dengan seringnya sang suami yang meradang dan mengamuk hingga membahayakan seluruh makhluk yang tinggal di dalam waduk. Sang Ratu memilih untuk mengemong putri semata wayangnya dalam mulutnya dengan sangat hati-hati. Karena itulah yang dilakukan para ikan timur. Mereka menggendong anak mereka tiada henti hingga usia yang tidak lagi dini.

Putri mujair yang tinggal di dalam mulut ibunya tentu heran mendengar gelembung-gelembung menyakitkan hati yang keluar dari mulut ayahnya. Ia heran mengapa ibunya bertahan dan diam menghadapi gelembung-gelembung itu. Mengapa ibunya tidak membalas dengan gelembung lain? Mengapa ibunya tidak menuntut perlakuan yang lebih baik pada ayahnya? Begitu banyak mengapa lain yang memenuhi pikirannya. Ia pun menanyakan semuanya pada ibunya, sang ratu mujair. Ratu itu menjawab anggun,

“Kita ini ikan timur Nak. Kita para perempuan diam dan pasrah di depan pria-pria kita. Kamu pun akan sepertiku kelak.”

Kedua mata hitam sang putri mujair membelalak terkejut dan tidak terima. Ia berenang-renang bingung sebentar keluar dari mulut ibunya. Sisik-sisiknya mengembang dan meremang, memantulkan seberkas cahaya matahari yang berhasil mengintip dari sela-sela prajurit awan kelabu. Warnanya memantul-mantul indah warna warni hingga membias ke permukaan riak air Cirata. Hujan badai sedikit malu melihat bias-bias warna itu hingga diputuskannya untuk mereda. Masa iya, badai mengamuk di tengah kehadiran indah seorang putri mujair?

Putri mujair belum mengerti perihal perasaan hujan badai yang demikian. Hanya rasa tidak terima saja yang ia rasakan setelah mendengar penjelasan ibunya, sang ratu mujair. Sang ratu membiarkan putrinya mondar-mandir kebingungan. Diperhatikannya bahwa bias warna indah sisik-sisik anaknya telah berhasil menghalau amukan badai. Ia pun sadar bahwa anaknya mungkin akan memecah tradisi para ikan timur. Mungkin putrinya tidak akan bernasib seperti dirinya. Karena putri mujair dapat menghalau rasa amarah dan frustasi. Pasti ia berbeda. Tapi bagaimana dan apa yang perlu dilakukan oleh putrinya? Sang ratu kendati menerima nasibnya sebagai ikan timur, tetap saja diam-diam menginginkan nasib yang berbeda untuk putri mujair cantiknya. Seandainya ada suatu jalan keluar agar putrinya tidak perlu menghadapi gelembung-gelembung kasar suatu ikan jantan kelak, tentu hal itu terdengar baik sekali.

Dan sisik-sisik putri mujair terus saja membias. Dengan indahnya. Dengan megahnya. Dengan gemerlapnya. Dan badai. Ia pun malu dan hendak menuju suatu tempat yang lain dengan membawa angin, petir, kilat dan prajurit-prajurit awan kelabu gempalnya. Sebelum badai pergi, sang ratu mujair buru-buru memasukkan sang putri ke dalam mulutnya lalu berenang ke permukaan Cirata. Ia pun memanggil badai agar tidak segera berlalu. Badai terdiam, terkejut karena seorang ratu mengajaknya bicara.

“Pak Badai, Pak Badai! Jangan pergi berlalu dulu! Tolong ceritakan mengapa kau terburu-buru!”

Begitu seru sang ratu mujair dengan bahasa yang pendek tetapi terdengar halus. Badai pun segan dan memutuskan untuk duduk sebentar di pinggiran waduk Cirata. Ia pun menjawab,

“Saya malu Ratu, putri ibu begitu segar dan indah. Masa iya saya ribut-ribut? Jadi saya pergi ke tempat lain saja. Jangan khawatir, akan kubawa semua anak-anak dan prajurit nakalku!”

Sang ratu merenung lalu lanjut bertanya, “Apa putriku seindah itu Pak Badai?”

“Lebih dari yang terlihat mata Ratu!”

“Apa dia akan dapat meredam amarah pria?”

Badai kini benar-benar senyap. Ia mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh sang ratu mujair. Ia sudah sering mendengar mengenai raja mujair yang gendut pemarah dan bergelembung-gelembung kasar pada istrinya. Pastilah sang ratu menginginkan nasib yang berbeda untuk putri semata wayangnya yang indah. Ah jangankan sang ratu, Badai pun ingin nasib yang berbeda untuk putri mujair cantik itu. Ia tidak rela memikirkan bahwa suatu hari putri air rupawan itu akan dimiliki oleh mujair jantan gendut yang kerjanya mengeluarkan gelembung-gelembung tidak sopan kasar, seolah-olah tidak mengerti kemujuran dirinya karena telah dipilih untuk bersanding dengan mujair dengan sisik pelangi paling indah. Ah tidak bisa begitu! Nasib para mujair tentu perlu berubah!

Jadi badai pun menjawab serius, “Bisa Ratu. Asalkan putri air dapat berdenting.”

“Seperti apa?”

“Denting yang lebih dahsyat dari anak-anak petirku. Bahkan lebih dari kakak-kakak mereka, guntur!”

Sang ratu bergeming. Itu terdengar seperti suatu hal yang mustahil untuk dilakukan. Bagaimana sebuah denting dapat mengalahkan suara gemuruh anak-anak badai? Tentu saja itu tidak masuk akal! Dan bagaimana pula seekor ikan dapat berdenting? Mereka tidak diciptakan untuk bernyanyi seperti burung kutilang atau jalak sekali pun. Para ikan hanya bergelembung-gelembung dan mengomel. Mana mungkin bisa berdenting? Denting yang dahsyat pula!

Tapi putri mujair yang sedari tadi bersembunyi di dalam rahang keras ibunya mendengar semua pembicaraan itu. Ia memikirkan segala omongan tentang denting itu. Ia tidak terlalu mengerti. Tapi ia cukup mengerti bahwa perihal denting itu dapat menjauhkannya dari jantan-jantan serupa ayahnya yang menjijikkan. Putri mujair pun membulatkan tekad. Ia tidak akan bernasib seperti ibunya. Ia tidak sudi dan tidak akan menjadi seperti sang ratu. Maka putri air itu memekik dari dalam mulut ibunya. Pekikan kecil tapi cukup terdengar oleh badai,

“Ajari aku! Ajari aku berdenting! Aku akan melebihi adik petir! Aku melebihi kakak guntur! Aku akan berdenting dengan dahsyat!”

Sang Ratu dan badai pun berpandangan. Sang putri sendiri telah menentukan nasibnya. Dan putri itu ingin berdenting. Denting yang lebih hebat dari suara lari petir yang gemercik. Lebih kerasa dan suara guntur yang gemuruh. Sang putri mujair telah memutuskan bahwa dirinya akan berdenting dengan dahsyat. Tentu ia tidak akan bernasib seperti sang ratu. Dan tentu ia tidak akan mendapat suami bergelembung seperti sang raja. Masa iya ikan yang dapat berdenting dahsyat mendapatkan suami sepayah itu. Tidak cocok! Tidak cocok untuk para biduan yang berdenting dahsyat.

Badai pun meminta sang ratu untuk membuka mulutnya agar ia dapat memandang sang putri mujair secara langsung. Sang ratu membuka mulut dan berenanglah keluar sang putri dengan bersemangat. Sisik-sisiknya semakin gemerlap dan berpelangi warna-warni memancarkan perasaan dan harapan hatinya. Badai terpesona melihat ikan mujair kecil itu. Ia pun berkata,

“Tapi untuk menjadi biduan yang berdenting dahsyat, kau perlu memisahkan diri dari ibumu.”

Putri mujair terdiam sebentar. Ia beradu pandang dengan ibunya, sang ratu yang anggun. Tanpa berkata apa-apa terdengar mereka bersepakat untuk satu hal. Bahwa tradisi diam para ikan timur akan berakhir dengan munculnya seorang mujair yang dapat berdenting dahsyat. Dan mujair itu adalah sang putri yang bersisik indah itu. Putri mujair kemudian kembali memandang badai dan katanya dengan tegas,

“Aku siap. Sang Ratu adalah ibuku meskipun aku tidak tinggal lagi di dalam mulutnya.”

Badai pun mengangguk penuh arti. Mata Sang Ratu tetap legam dan dingin, padahal sebenarnya ada sedikit perih di dalam hatinya. Tapi ia menabahkan dirinya. Karena ini dilakukannya demi masa depan putrinya. Agar ia dapat berbahagia. Agar ia tidak menggantungkan diri pada pejantan yang bergelembung macam suaminya. Biarlah putrinya meninggalkan barang sebentar. Mungkin suaminya akan bergelembung dan mengomel lagi. Itu tidak masalah. Sang ratu telah terbiasa dengan perlakuan kolokan suaminya. Yang penting adalah nasib masa depan putrinya. Itu. Itu yang paling penting.

Maka dengan sebuah sapuan sirip yang lembut, sang Ratu mendekatkan putri mujair pada badai. Putri mujair tampak penuh tekad tapi sekaligus takut dan waswas. Baru kali ini dipandanginya wajah badai secara langsung. Badai bukanlah hewan, bukanlah manusia, bukanlah jin. Tapi ia adalah entitasnya tersendiri. Dan ia megah dan hebat. Wajahnya pun tenang meskipun terlihat sebuah gejolak energi yang tidak dapat dipahami oleh makhluk serupa mujair sepertinya.

Dan badai. Ia memandanginya kembali. Seandainya badai dapat tersenyum, ia sudah tersenyum lebar sekali. Anak-anak petir, kilat merasakan kegembiraan tetuanya. Mereka bergulingan dengan antusias. Saat itulah putri mujair diangkat badai dari dalam waduk Cirata. Diangkatnya ikan itu dalam sebuah gelembung. Terbang tinggi ke atas. Terbang ke dalam rengkuhan sang badai dan antusiasme anak-anak ributnya. Dan Sang Ratu. Ia terpekur penuh harap. Harapan bahwa suatu hari putrinya akan kembali ke Cirata dengan membawa denting yang lebih dahsyat dari anak-anak badai. Denting yang dapat melunakkan kekakuan jantan-jantan timur. Denting yang dapat mengayomi perempuan di dalam diri putri itu sendiri. Tanpa bantuan lelaki. Hanya sang putri mujair dan denting dahsyatnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s