Terpapar

Menjadikan diri sendiri terpapar terhadap keadaan di luar sendiri adalah hal yang menyakitkan. Emosi tidak diperkenankan melonjak dan wajah harus senantiasa santun. Tingkah laku yang sekecil mana pun tentunya akan menuai komentar dan penghakiman.

Sulit.

Tapi menurutku itu bukanlah masalah terbesar. Tentu ada waktu-waktu untuk menjadi cuek. Sesekali. Toh Ahok pun sering mendumel dan tetap didewakan, mengapa rakyat biasa tidak boleh melakukan itu sesekali? Tentu saja boleh. Dihakimi pun resiko.

Tapi.

Selalu ada tapi.

Hal paling sulit dicegah adalah menjadi diri sendiri yang tukang menghakimi. Saat perasaan mengambang dan meluap keluar permukaan. Radang seluruh tubuh muncul. Pikiran-pikiran buruk mulai mengambil alih. Pikiran dan perasaan busuk itu begitu kuatnya. Paling sulit adalah tidak berpikir, “Coba ada yang ke sana dan menyentil orang itu sampai demam.” atau “Coba deh orang itu dijewer sampai panas kuping.”

Oh itu yang paling dan sangat sulit!

Karena bisa jadi ada yang benar-benar mengerjakan itu. Bisa dan pernah jadi. Padahal pikiran dan perasaan yang terpendam saja. Padahal hanya ingin disimpan untuk diri sendiri saja. Tapi bisa jadi ada yang mendengarnya. Karena banyak orang yang memedulikan diriku ini. Terkadang yang paling iseng sekalipun.

Oleh karenanya. Lebih baik diriku saja yang memaki dengan kasar dan tak karuan. Biarlah orang-orang menghakimi diri ini. Daripada aku sendiri yang menjadi hakim. Karena aku adalah hakim yang buruk. Buruk sekali.

Saking buruknya, tak baiklah aku memendam perasaan dan pikiran sendiri. Karena bukan hanya seorang diri sendiri saja yang mendengarnya. Bisa dan pernah jadi ada yang mendengarnya. Bahkan melaksanakannya.

Sulit. Sulit sulit sulit.

Menjadi terpapar itu adalah bersiap menjadi rapuh. Bersedia untuk dikritik. Adakah orang tahu maksud seseorang membiarkan perasaan dan pikirannya terpapar? Apakah itu selalu hanya karena perhatian? Bagaimana dengan orang yang cukup perhatian dan malah berlebih? Apakah masih karena itu seseorang memaparkan diri?

Tentu ada alasan yang lebih gawat dan mendesak.

Daripada nanti ada yang pergi ke sana. Daripada ada yang menyambangi alam pikiran bawah sadar yang ada di sana. Mending kupaparkan yang ada pada diri ini. Karena yang di sana tentu berpura-pura tuli dan tidak peduli. Maka biarkan kubunyikan pada semesta. Redamlah perasaan itu seperti setitik embun di dalam samudera.

Tentu anda-anda yang memerhatikan embun sangatlah jeli. Jadi bersyukurlah. Aku pun bersyukur pada kejelian anda yang memerhatikan perasaan dan pikiranku yang seperti titik embun kecil itu. Terlebih lagi aku bersyukur pada anda yang datang dan menyambangiku. Bukan karena aku memang meminta perhatian. Tidak. Perhatian yang tersorot pada diriku ini sudah jelas berlebih dalam kadar yang luarbiasa. Tidak. Ada bagusnya menyambangiku. Agar aku tidak berpikir buruk. Agar aku tidak merasa buruk. Agar aku dapat memberikan perspektif pada kedua keburukan itu. Agar yang turut mendengarkan pikiran dan perasaanku mengerti bahwa sesuatu tak selalu perlu didengarkan dan dilaksanakan.

Beberapa perasaan dan pikiran biarkanlah terpendam. Kalau kata seorang teman baik, “Nikmati perasaan buruk sekalipun.” Iya. Benar sekali teman. Aku pun ingin menikmatinya sendiri seperti seorang ayu yang sendiri.

Tapi,

Selalu ada tapi!

Tapi tak bisakah mereka bersikap cuek? Dan tentunya baik sekali bila yang turut mendengarkan mengabaikan beberapa seruan.

Karena apakah itu baik untuk diri mereka? Bukankah melaksanakan yang buruk meskipun dengan niatan baik akan dihitung? Kalian-kalian pun akan bertemu akhirat! Kalian disebutkan dalam buku besar itu!

Maka janganlah pergi ke sana. Meskipun pikiran dan perasaanku meronta. Mungkin bahkan merintih. Karena itu adalah pribadiku sendiri. Tidak semua dapat diredam oleh kata. Tidak semua siap dilayukan oleh doa. Ini tentu adalah pergumulanku pribadiku sendiri. Maka biarkanlah aku berperang. Abaikan saja ronta dan rintih itu. Meskipun berisik tentunya bagi keberadaanmu yang peka.

Ya lebih baik dirimu itu membiarkan diriku terpapar. Biarkan aku belajar. Dan dirimu. Mungkin lebih baik terpapar juga. Pada teman-temanmu sendiri. Biar kalian bisa mengobrol dalam bahasa yang sama.

Dan jangan. Jangan pergi ke sana.

Meskipun secara selintas aku memintanya.

Wah jangan lakukan. Jangan.

Karena tentunya aku pun tak menginginkan keburukan. Bahkan bagi kalian yang mendengarkan perasaan dan pikiran ini.

Biarkan perasaan dan pikiran ini berendam dalam semesta. Hingga luruhlah dan menghilanglah dia. Dan dirimu. Hiduplah layaknya dirimu yang seperti angin. Bersama teman-teman anginmu. Aku pun akan hidup seperti layak adanya. Bersama dengan teman-teman yang seperti diriku. Yang terkadang bertanya mengapa aku terkadang pengecut dan tidak santun.

Karena aku begini adanya. Berteman kata. Beriang kalimat.

Tidak semua indah. Tidak semua baik. Tidak selalu senyum. Tidak melulu tawa.

Tapi itu tidak mengapa bukan? Karena kita adalah teman. Kalau teman tentulah kamu tahu apa yang kumaksud. Dan tentulah kamu tahu betapa sulitnya untuk tidak mengendalikan pikiran dan perasaan yang dapat didengar oleh mereka yang seperti angin.

Mereka bisa terbang. Bisa dan pernah mereka terbang.

Tentulah mudah bagiku agar mereka tidak pergi. Cukuplah aku menjadi tidak terpapar. Cukuplah aku diam di kamar sendiri dan bermunajat setiap detik. Tapi aku cukup nekad. Ralat. Aku sangat nekad. Aku ingin terpapar. Aku pun ingin hidup.

Bukankah begitu keinginan jiwaku ketika diturunkan ke bumi?

Maka kupikir cobaan yang paling berat itu adalah dengan menjadi manusia yang terpapar.

Sulit bukan untuk tidak merasa takut pada hal-hal yang ada di luar diri? Ah sulit!

Tapi untuk apa hidup kalau terus takut? Hanya karena beberapa orang tidak mengerti dan paham, lalu haruskan aku bersembunyi? Tidak akan ada yang aku dapatkan di dalam persembunyian!

Sulit cukup sulit.

Tapi biarlah. Manusia memang dirangkai untuk mengalami kesulitan dunia. Yang mudah-mudah tentu ada di akhirat.

Bagi yang percaya maupun tidak.

Bagi anda yang terlihat maupun tidak.

2 thoughts on “Terpapar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s