Wanitaku

Alam semesta sedang mengajari aku menjadi seorang wanita. Keluwesan di dalam gerakan daun yang menari diterbangkan angin. Siulan indah gemerisik debu terjatuh. Kehangatan intipan cahaya matahari yang jatuh dari pelupuk-pelupuk awan. Dan hujan. Sejuk dan menenangkan. Kuat dan lembut pada saat yang sama.

Alam Semesta sedang mengajari aku menjadi seorang wanita. Seorang perayu dan pencinta ulung. Perayu yang meleburkan dirinya di dalam suara harmoni alam dan lantunan sayu sedan kata-kata indah. Pencinta yang memberikan segala yang ada pada dirinya dan malah menambah kekayaan hatinya. Hingga ia bermassa dan menarik segala rupa semesta ke dekatnya.

Wanita yang sejati.

Tentunya wanita yang sejati tidak pelak jauh dari ujian. Pada saat satuan-satuan ajaran kewanitaan semesta menjangkau jauh ke dalam relung hatinya, mulailah ujian itu. Apa aku tahu bahwa aku adalah seorang wanita? Apakah aku tahu rasanya menjadi seorang wanita? Kenalkah aku pada sis-sisi wanitaku?

Ya sisi-sisi itu.

Lembut dan hangat dalam mengayomi setiap hati. Sakit dan nyeri ketika merasakan empati. Tetapi kuat dan mantap menghadapi deraan sehingga cantiklah setiap lekuk liatnya. Ia menggemakan keindahan sehingga bergetarlah sebuah gelombang tak berujung. Banggalah tiap sendi alam semesta karena ia telah bersatu sepenuhnya denganku yang menuju kewanitaan sejati.

Indah memang seorang wanita sejati, tapi ingat ia tak pelak dari ujian.

Karena keindahan tak hanya membangkitkan sisi-sisi indah semesta, sisi-sisi buruk pun ingin menjamahnya. Merenggut kemurniannya. Sebuah upaya sakit untuk menyatu dengan keindahan. Sisi lain cinta. Rasa ingin menjaga dan melindungi pun dapat membangkitkan rasa ingin mengganyang dan menghabisi.

“Aku tidak bisa menghadapi ini Semesta! Aku belum menjadi wanita yang utuh!” seruku pada inti sari alam.

“Kamu telah siap sayang! Rengkuhlah pecinta dan perayumu. Berdoalah perlindungan dari musuh-musuh yang ingin mencuri feminitasmu!” Semesta menjawab tanpa ragu.

Ditiupkanlah senandung seorang perempuan ke dalam angin. Menarilah dedaunan. Menari seperti pinggul seorang penari. Berputar dan lentik menyapu tanah. Melompat dan meloncat lincah. Akan kemanakah perempuan dalam angin itu? Apa ia sedang mengabarkan kabar pada dunia bahwa telah terbit seorang wanita di dalam diriku?

Ujian seorang wanita sejati. Sanggupkah aku melewatinya?

“Mari kita lihat. Mari kita lihat,” bisik alam semesta.

“Semesta, kalau musuhnya dalam bentuk kegamblangan maskulin, mungkin aku akan kalah,” kataku.

“Ah,” alam semesta terpekur. “Kau telah memanggil ujianmu sendiri sayang.”

Aku tidak terlalu mengerti apa maksud alam semesta pada saat itu. Tapi tak lama untuk bagi diriku untuk menyadari maksud kata-katanya. Dan tentu bukan suatu yang menherankan. Karena kewanitaan akan menarik laki-laki dalam diri orang-orang. Laki-laki itu bisa kuat, pemberani, ksatria. Mengagumkan. Atau mungkin kasar, dingin, dan penuh berahi. Seekor banteng. Banteng yang liar.

Ah benci aku. Benci pada sisi lain lelaki. Takut sekali. Bisa habislah diriku ini dicincang oleh kekuatan tanpa tedeng aling itu. Aku ini lembut dan halus karena alam semesta telah mengajariku untuk menjadi seorang wanita.

“Tapi kamu belumlah menjadi wanita sejati. Luweslah seperti angin. Ambillah kekuatan dari sapuan ombak. Jadilah perayu dan pecinta ulung yang tersembunyi di dalam kewanitaan itu.”

Meringislah aku. Kutatap medan perang di hadapanku. Terhampar ladang yang dipenuhi banteng-banteng bermata nanar. Merah dan tidak fokus. Tubuh, pikiran dan jiwa-jiwa yang tidak tersinkronisasi. Aku telah menyebutkan nama musuhku, dan mereka semua mencariku. Hendak menundukkan kekuatan feminin di dalam diriku. Hendak mencacatkannya ke dalam sudut terjauh. Sekali lagi, sekali lagi dan sekali lagi.

Mereka mabuk. Mabuk dalam fantasi liar dan buas mereka. Tempat wanita-wanita hanya tergolek ketika disentuh. Atau mengatakan kata-kata yang memutar kata tidak menjadi iya. Suatu surgawi para binatang liar yang menginginkan feminitas sesuai ingin mereka.

Adakah mereka berkaca ke dalam kewanitaanku? Mencoba mencari pemenuhan fantasi itu? Bisa jadi. Lalu akankah aku bersembunyi? Haruskah aku bersembunyi karena takut. Ataukah perlu aku maju dan berperang. Mengkomando dan melasso banteng-banteng itu.

Dengan apa?

Aku ini punya kemampuan apa?

“Kata. Aku akan menggunakan kata,” gumamku sendiri.

Jadi para banteng, bolehlah mereka berfantasi ketika aku hadir di antara mereka. Di dalam kepala mabuk nanar mereka, para perempuan bercumbu dan bercengkrama memenuhi hasrat permukaan mereka. Tapi aku menggali lebih dalam dari perempuan-perempuan dalam kepala mereka. Merengkuh dan menggenggam inti keliaran dan kebuasan yang menyebabkan rasa mabuk itu. Kuguncangkan inti hitam padat itu hingga gentarlah dia. Kuajari inti itu untuk menghormati diriku. Karena ia sedang berhadapan dengan seorang wanita sejati. Wanita sejati itu aku. Tegas-tegas kukatakan padanya untuk tersadar dan bangun ketika ia seruangan dengan seorang wanita.

Banyak dari banteng ini yang meleos. Takut pada kewanitaanku. Takut pada wajah inti diri mereka yang buruk. Malu karena maskulinitas mereka bukanlah seorang ksatria. Tapi ada juga banteng yang menyadari mabuk dalam kepalanya. Maka tersadarlah mereka. Menunduklah mereka dengan hormat hingga ksatria yang tersembunyi pun berdiri

Tersenyumlah aku pada ksatria-ksatria itu. Betapa memesonanya mereka. Indah sekali kekuatan mereka. Alam semesta pasti gembira menyambut penyatuan dengan mereka. Si perayu dan pecinta di dalam kewanitaanku pun bergetar menghadapi para ksatria.

Merona, memerah. Manusiawi. Senangnya menjadi wanita!

“Alam semesta, aku telah menjadi wanita sejati!” seruku.

“Belum sayang. Tidak sampai perayu dan pecintamu berhasil mencumbu seorang ksatria. Tidak sampai perayu dan pecintamu menjadi seorang ibu yang elok,” jawab alam semesta lembut.

“Kapankah itu?”

“Doakan saja sayang. Doakan. Untuk saat ini jadilah wanitaku. Wanita milik alam semesta.”

Aku tersenyum. Menjadi wanitaku sendiri? Menarik.

-nyaw, terbuai dalam nuansa wanita dan bertanya-tanya apa ada baiknya dia mencari nuansa maskulin yang “kering” sekarang ini (?)-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s