Tatapan Jeli

Selagi eling dan sebelum terbit edan-nya, aku mau menulis lagi.

Catatan: Jeli bukan Jelly. Jelly itu donat.

Noni berambut kiwil itu bertanya-tanya tentang kebosanan. Dia sedikit memaksa. Padahal aku kan sudah membuat tulisan setoran ya untuk hari ini. Ya noni itu ingin sebuah jawaban mengenai “bosan”. Karena ia cepat sekali bosan dan itu membuatnya tidak fokus dan ingin mengerjakan banyak hal sekaligus. Ia pikir kalau ada suatu alasan besar untuk menjalani hidup ini, maka sepertinya ia akan berkompromi dengan kebosanan itu.

Ah klasik.

Kebosanan ya. Kadang aku sendiri pun sangat iri dengan orang-orang yang memiliki kehidupan yang sudah stuck di dalam kebosanan. Bagiku itu seperti pencapaian. Karena pada saat bosan, mentok, manusia disuruh untuk mengambil keputusan yang berat. Mau berpindah fokuskah? Mencoba menggali potensi-potensi yang terdalam? Atau bagaimana dengan sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak lumrah. Sesuatu yang disebut dengan melatih “tatapan jeli”.

Sekali lagi aku ingin menekankan bahwa “jeli” bukan “jelly”.

Tatapan jeli adalah inovasi luar biasa. Itu adalah tahap selanjutnya bagi manusia yang telah melaksanakan segalanya pada piramida hingga keluarlah klise: lahir, sekolah, kerja, nikah, mati masuk surga. Ah kau pikir apa semudah itu? Apa saat menjalani semua itu niatmu terentang panjang sampai akhirat? Ah hebat lah kalau memang begitu. Tapi rasanya tidak mungkin seperti itu. Makanya pada saat memiliki suatu stagnansi, itu artinya saatnya “tatapan jeli” dipekerjakan. Tatapan jeli adalah alat untuk bersyukur lebih dalam dari sebelumnya. Pahalanya besar.

Itu menjelaskan bukan.

Mengapa segala hal yang berbau agama itu berbentuk rutinitas.

Ya karena itu melatih tatapan jeli-mu. Untuk menyadari bahwa setiap tindakan yang dilakukan meskipun dari luar terlihat sama, sebenarnya tidak pernah sama. Karena manusia berevolusi dan berubah sehingga doa-doa yang disalurkannya dalam karya-karya tak pernah terlihat sama. Seorang jeli tentu tidak akan luput pada perbedaan semacam ini! Apalagi Tuhan yang menciptakan “kejelian”.

Makanya kukatakan pada si noni kiwil,

“Noni, kalau kamu tidak bersabar pada sesuatu, ya apapun itu tidak akan terlihat berubah. Waktu kan tidak lari sana kemari seperti kamu. Jadi bersyukurlah bahwa kamu sedang mendapatkan ujian ‘kebosanan’ artinya ‘tatapan jeli’mu sedang dilatih.”

Si noni kiwil menundukkan kepala sambil menggoyang-goyangkan sebelah kaki dengan kolokan. Ia pun berkata,

“Lalu bagaimana dengan donat jelly itu? Kamu nggak bagi aku?”

Rasanya aku ingin menjedotkan kepala ke tembok. Bagaimana sih si noni ini! Kurasa aku telah menjelaskan panjang lebar dengan percuma. Pada akhirnya aku hanya dapat menghela napas panjang dan menjelaskan bahwa tidak pernah ada donat jelly dari awal pun. Si noni pun pergi dengan sedikit mencibir dan cepat-cepat kabur. Rambut kiwil terikatnya bergoyang melambai-lambai.

Sungguh tidak sopan!

-nyaw, berlatih tatapan jeli-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s