Kafir dalam Pink

Kupikir mood semesta sedang pink saat ini. Soalnya rasanya semua orang berbicara mengenai romansa dan budaya romansa mereka. Aku bertemu dan mengobrol dengan beberapa teman, dan sepertinya nuansa pinknya itu kentara sekali. Apalagi salah satu di antara mereka akan menikah. Wah, sepertinya seluruh ruangan itu menjadi pink rosa saking kentaranya perasaan cintanya pada calon suaminya.

Tapi di lain pihak, aku merasa budaya romansa yang kukenali secara pribadi menjadi semakin payah saja. Apalagi secara tidak sengaja aku berhadapan kembali dengan perasaan tidak nyaman pada satu titik dalam bidang pink itu. Dan karena perasaan tidak nyaman itu cukup kuat. ia bergulir dan pergi mengajak teman-teman canggungnya hingga membuatku jengkel. Getir pun kembali ke dalam hati.

Padahal sebelumnya aku sudah cukup damai tanpa warna pink, lalu kenapa warna pink itu malah melambai-lambai dari berbagai arah? Ada banyak warna di dunia ini, kenapa pink begitu egois dan ingin ikut sedikit-sedikit mewarnai duniaku?

Sungguh mengesalkan. Pink yang mengesalkan.

Jadi aku merengut. Bersamaan dengan merengutnya wajahku, temanku yang memiliki pengalaman-pengalaman pink yang lebih menyebalkan dan mengesalkan bercerita mengenai nuansa pink di tempat kerjanya. Ia bercerita tentang perselingkuhan dan perempuan yang mengalah untuk memenuhi rasa sepi si laki-laki. Makin-makin saja wajahku merengut. Karena meskipun usiaku hendak menginjak 28 tahun, aku tetaplah seorang gadis kecil di dalam bidang pink. Aku tidak senang pada pengkhianatan karena alasan sesepele “ranjang yang dingin”.

Ya lalu kalau tidak mau “ranjang dingin”, ya bukankah laki-laki perlu berinvestasi dalam menghangatkannya? Menikah aja daripada berperilaku memalukan seperti itu!

Tapi penyelesaiannya tidak semudah itu rupanya bagi dunia fana ini. Ada ekonomi, ada kecocokan keluarga, ada komitmen, dan kawan-kawan lain dengan nama-nama yang rumit. Astaga, begitu membingungkan hal-hal yang terlibat dalam warna pink yang manis itu. Ya untunglah warna pink itu begitu imut sehingga orang-orang bersedia terlibat dengan sukarela. Coba romansa itu diwarnai hitam atau merah. Sepertinya itu adalah warna yang agak tidak komprimistis.

Jadi aku yang merengut mulai merasa semakin tidak suka pada si nuansa pink dalam semesta. Dia seperti anak kucing unyu yang menunggu-nunggu untuk mencakarmu dan mencuri ikan asin dari piringmu. Ditambah pelaku-pelaku di dalam bidang ini benar-benar orang yang lepas dan ringan seakan-akan beromansa pink adalah pekara yang tidak serius.

Iya memang begitu. Pink itu ringan dan tidak serius, tapi kamulah yang harusnya mengambil alih komando ketegasan pada si pink!

Ah jengkel, jengkel, dan jengkel.

Malamnya aku berangkat tidur dalam jengkel. Herannya aku tertidur cukup pulas. Cukup pulas hingga rasanya ada yang meneriakiku agar cepat-cepat bangun. Kupikir sudah subuh. Tapi ternyata itu jam 02.30. Astaga aneh sekali.

Ya sudah saja aku bangun akibat teriakan itu. Lagian teriakan itu bersikeras agar melihat footnote 1042 di buku SOP. Kubuka SOP untuk melihat apa sih yang begitu pentingnya dilihat malam-malam buta seperti itu.

Saat melihat footnote 1042, membekulah diriku yang sebelumnya setengah linglung. Ini yang kubaca:

20141105_064423Hah? Pembicaraan tentang kafir? Di tengah-tengah nuansa semesta yang pink? Apa pula!

Merengut-rengut, aku shalat malam saja sekalian dengan tidak khusyuk. Kembali tidur pun aku masih bertanya-tanya apa hubungannya bidang pink dengan kafir? Bukankah saat seseorang berbicara tentang “kafir”, hal itu akan berhubungan dengan “iman”. Ya lalu apa hubungannya? Adakah manusia yang “kafir” ketika berurusan dengan bidang pink?

Aku mencari-cari image seorang kafir dalam otakku. Dia adalah seseorang yang tidak/belum memiliki kepercayaan pada Tuhan. Itu membuat dirinya bingung, kadang malah getir dan sedikit terlalu keras pada dirinya sendiri. Orang yang melukai dan menghukum dirinya sendiri karena merasa bahwa dirinya berjalan di atas bumi dengan kekuatan sendiri. Itu tidak menguatkan. Itu melemahkan. Karena manusia mengetahui ia lemah, jadi bayangkan berjalan dengan lemah. Oh mengerikan. Kubayangkan hati seorang getir. Tidak percaya akan penyelamatan dan bantuan. Perih sekali!

Lalu kuingat-ingat. Ah benar. Banyak sekali kafir dalam pink! Mereka yang hatinya menjadi keras karena pengkhianatan. Mereka yang takut pada tanggapan manusia lain. Mereka yang memasang muka masam karena tidak paham pada keriangan warna pink. Mereka yang menahan diri dengan dalih-dalih norma dan agama padahal sesungguhnya tidak dapat mengungkapkan perasaan dengan kreatif. Ah kafir! Kafir dalam pink!

Dan aku salah satunya!

Maka aku memanggil si orang beriman di dalam hatiku. Ia pemberani dan jenaka. Ia tidak takut pada hal lain selain Tuhan. Ia percaya pada kekuatan Tuhan dan berpasrah dalam kekuasaan-Nya. Cita-citanya adalah menjadi pion Tuhan dan bersekutu dalam perwujudan rencana-Nya. Biarlah itu menjadi apapun juga. Mungkin itu adalah pelaku semua warna-warna pelangi. Ya mungkin saja pink sekalipun!

Si orang beriman dan kafir dalam pink. Mereka berdiskusi dan berdebat secara periodik. Aku bersorak dan menjagokan si orang beriman tentunya!

Aku pun bertanya-tanya,

kalau orang lain menyoraki siapa ya?

Saranku sih, soraki pihak yang telah berkali-kali menang!

-nyaw in pink-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s