Kalian Ada Di Mana?

Post kali ini tidak ada gambar lucunya, malah mungkin saja membuat jengah. Saya sedikit menduga kalian akan berpura-pura tidak membacanya atau malah lebih memungkinkan tidak membacanya. Tidak apa-apa, karena kalau kalian memang harus membacanya, pasti akan terbaca juga tulisan yang sedikit abstrak ini, dan seperti keahlian kekhususanku untuk mengacaukan pikiran orang lain, mari berharap kekacauan itu mengarah pada meningkatnya daya pikir dan kreativitas.

*asik, saya sedikit mencontek gaya Multatuli di sini, harap maklum ya, saya sedang suka dengan buku Max Havelaar!*

Baiklah, mari kembali ke topik serius kita, yaitu tentang “kekacauan pikiran”.

Kalau berbicara tentang “kekacauan pikiran”, kita (ya saya dan kalian yang membaca post ini) tidak dapat terlepas dari perasaan bahwa itu salah, buruk dan telah salah tempat. Ada perasaan cukup kentara yang mengharuskan pikiran dalam keadaan tertata rapi seperti mozaik-mozaik berjajar rapi. Tapi tentu saja itu tidak dapat terjadi bukan! Karena banyak peristiwa yang telah terjadi dalam kehidupan dan itu akan mengacak-ngacak mozaik yang sudah ada.

Tetapi, seandainya kita melihat bahwa mozaik itu memang seharusnya tampak tercecer-cecer seperti itu, mungkin kita akan berhenti meresahkan hal-hal yang tidak penting. Bahwa mungkin saja mozaik pikiran dan usaha yang telah dilabeli sebagai kegagalan sebenarnya adalah bagian dari mozaik besar yang lebih berarti. Dengan begitu mungkin kita tidak akan gelisah, malah mungkin akan semakin terpicu untuk mencari tahu seperti apa rupa mozaik raksasa yang telah luput perhatian!

Menyadari bahwa mozaik tercecer bukanlah sesuatu yang mudah bukan? Refleks saja, kecemasan dan keraguan mentransportasi manusia melalui ruang dimensi tempat dan waktunya berada pada saat ini. Bisa saja kecemasan itu berkaitan dengan kepastian finansial, sehingga seseorang akan selalu hidup di masa depan dan terlihat lebih tua dari semestinya. Kadang juga seseorang begitu meragukan peristiwa-peristiwa di masa lalunya, sehingga membuatnya sedih berkepanjangan atau malah pula melarikan diri dari kenyataan pribadinya.

Lalu apa salahnya dengan semua itu?

Masalahnya adalah mozaik raksasa yang megah itu berada pada saat ini. Ia berada pada harta (lahiriah dan batiniah) yang saat ini dimiliki. Ia terbentuk dari doa-doa yang merentang jauh sampai dunia akan binasa sepenuhnya. Mozaik itu suatu saat akan dipajang dan dipertontonkan. Lalu pada saat itu datang, saat mozaik itu dipertontonkan untuk dinilai, akankah ceceran kita berarti? Mungkin saja tidak! Tapi apakah ceceran itu berpengaruh? Tentu! Tentu karena ia adalah bagian kemegahan.

Saat ini, kalian tidak bisa melihat mozaik itu dan kalian akan berkata: “Ya ampun Danilah gila sekali, berikan dia sebuah pekerjaan yang sungguhan!” atau “Apa tidak seharusnya dia menjalani suatu keprofesian yang jelas daripada dia menulis mengawang-awang dengan memalukan seperti itu?” Tapi ketahuilah, mozaik itu nyata dan suatu saat semuanya akan menonton ceceran-ceceran kita!

Kalau terlupa pada kenyataan mengenai mozaik. Ingat-ingatlah di mana kalian berada di mana saat ini. Resapi saat ini dan lihatlah tanda-tanda di sekitarmu. Angin sepoi-sepoikah? Matahari yang bersinar terik? Ataukah bau selokan yang busuk! Bukankah keberadaan kalian nyata saat ini? Dan itu hebat! Dengan pengetahuan mengenai kekuatan menjadi “tersedia” dan “hadir” pada saat ini, bukankah tiba-tiba timbul keberanian dan kekuatan? Pasti begitu!

Kekuatan dan keberanian ini tentu pasang surut, Wajar saja, karena siapakah yang memiliki kekuatan sebesar itu? Tidak ada manusia yang sekuat itu. Dan saat kekuatan dan keberanian langka itu surut, ingat-ingat saja tidak penting mengetahui “saya saat ini di mana”, yang lebih penting adalah memahami “Tuhan di mana”. Jawabannya sederhana. Tuhan berada dekat, melihat kita membentuk mozaik itu sambil memberikan inspirasi seperti apakah mozaik itu akan terbentuk tetapi masih memberikan ruang ekspresi.

Di manakah Tuhan?

Di dekat hamba-hambanya.

Setiap kali kau bertanya, “Saya siapa?” Jawabnya sederhana:

“Saya hamba Tuhan.”

Jalan hidupmu boleh berubah-ubah seperti cuaca pancaroba. Tapi kau akan selalu menjadi hamba Tuhan.

Setiap hendak menjalani sesuatu, bertanyalah pada hatimu, “Akankah ini menjadikanku hamba Tuhan yang terbaik?” dan kau akan tahu apa yang harus dilakukan.

Ada kalanya Tuhan membelokkan jalanmu dengan paksa, tapi janganlah risau karena Tuhan lebih tahu bagaimana mozaik itu harusnya terbentuk.

Boleh jadi kau begitu kerdil dan tidak berarti, tapi entah bagaimana kau merasa cukup berarti.

Pada kehidupan yang dapat membuat bingung ini, saya telah kehilangan banyak teman, saya bahkan kehilangan diri berkali-kali. Teman-teman saya itu ada secara fisik. Saya dapat melihat, mendengar bahkan menoel tubuh mereka! Tapi mereka sering kali hilang ke dalam pusaran waktu. Mereka di masa depan atau di masa lalu. Mereka membicarakan hal-hal yang tidak akan peduli pada mereka. Mereka tidak dapat diajak menikmati nyanyian lirih serupa bisikan yang terbawa angin. Dan saat seperti itu saya merasa sepi. Kalian boleh jadi berada di sebelah saya, tapi saya tetap merasa sepi dan itu mematahkan hati saya karena kalian tidak berada di sini.

Berkali-kali saya mendapatkan diri saya bertanya, “kalian di mana?” Karena kalian tidak di sini. Kalian berada di masa depan mengkhawatirkan rejeki anak-anak yang sudah pasti, mengkhawatirkan pekerjaan yang pasti akan selesai suatu hari, atau mungkin sibuk mengomentari trend-trend yang pasti akan surut dan pergi.

“Tapi bukannya kamu sendiri mengkhawatirkan jodoh seperti pelacur tidak tahu malu?” tanya kalian.

Ah iya baiklah. Saya akan berterus terang mengenai satu itu. Ada kalanya saya memang khawatir beneran. Tapi akhir-akhir ini saya berbohong mengenai kekhawatiran itu. Habisnya kalian tampak khawatir akan sesuatu, jadi saya pun memutuskan ingin khawatir juga. Sebenarnya saya tahu bahwa rejeki dan jodoh saya akan digenapkan selama malaikat-malaikat mengenal diri saya yang sejati! Jadi maafkanlah saya yang telah menjadi penipu. Saya telah memaksakan diri untuk menjadi satu dengan masyarakat yang hidup di masa depan. Karena pada saat ini, semuanya sangat sepi dan mozaik itu terbentuk menjadi bentuk-bentuk yang entah layak dipajang atau tidak!

Hati saya telah terbagi antara menjadi satu dengan kalian, ataukah turut mengisi mozaik tapi dengan kesadaran penuh. Saya memilih mozaik. Karena suatu hari kita akan menonton mozaik itu bersama. Saat itu kalian akan berada benar-benar berada pada saat ini. Saya yakin sekali kita akan terkagum-kagum dengan hasilnya!

Mudah-mudahan kagum yang bagus bukan kagum yang jelek.

-nyaw, ditulis sebagai setoran untuk supervisor Muthe yang memastikan saya berlatih menulis setiap hari!-

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s