Tantangan 30 Pensil+Kertas (#16)

Topik hari ini adalah tentang turning point.

Masalahnya karena hidup itu berkelok-kelok, jadi banyak sekali turning point, dan tidak ada peristiwa yang tidak penting di dalam hidup. Mungkin salah satu turning point dalam hidupku adalah:

“Hari ketika mata Bapak buta sebelah”

Jadi ini adalah cerita ketika aku masih bekerja di Tangerang. Hari Jumat yang padat aku pulang seperti biasanya dan sampai di rumah sekitar jam 10 malam. Biasanya pada jam segitu, rumahku masih ramai karena semuanya punya kebiasaan tidur seperti kelelawar. Nah saat aku sampai di dapur, untuk makan, aku perhatikan bahwa mata Bapakku diperban (aku lupa yang kiri apa kanan, karena sekarang sih secara teratur diperban bergantian setiap bulan jadi lupa awalnya mata yang mana). Kata Bapak karena suatu hari ketika mengerjakan suatu laporan di tengah malam, sebelah matanya menjadi buta dan seperti ada tetesan darah yang seperti jatuh tepat di mata. Ternyata karena Bapak adalah penderita diabetes, sudah ada tahap lanjutannya ke retina, jadi seperti ada gumpalan darah di retinanya, dan secara teratur harus diberi suntikan untuk menghilangkan gumpalan itu. Jadi kadang-kadang kalau terlalu lelah, mata Bapak akan “berdarah” dan tiba-tiba harus ke dokter mata untuk disuntik.

Karena peristiwa ini, aku memikirkan banyak hal. Terpikir olehku bahwa pada saat peristiwa itu terjadi, aku tidak ada di sana, tidak tahu apa-apa. Terpikir juga olehku bahwa mungkin saja Bapakku menjadi buta 100%, apa sih yang harus kulakukan? Apa harus cari uang dengan lebih membabi buta, apa uang yang sekarang akan cukup? Siapa yang mengurus adik kalau misal Ibu sakit? Terpikir juga olehku bahwa mungkin Bapakku tidak akan pernah bisa melihatku menjadi pengantin. Mungkin juga tidak akan bisa melihat cucunya.

Jadi,

Karena banyak berpikir, tidak lama kemudian aku mengambil keputusan-keputusan yang lebih mendukung keinginanku untuk dekat dengan keluarga. Aku resign meskipun belum ada pekerjaan pengganti atau rencana yang matang. Aku mendesak mantan untuk menikah (yang akhirnya menyebabkan putus tus tus…). Aku belajar lagi untuk menikmati hidup dan tidak terlalu stress dengan hal-hal kecil (tapi masih dalam proses belajar lagi).

Jadi bisa dibilang, saat ini aku sedang menikung lagi.

Kalau tikungannya sangat lebar, rasanya seperti lurus loh.

-nyaw, menikung tidak terlalu tajam-

4 thoughts on “Tantangan 30 Pensil+Kertas (#16)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s