Side Dish

Waktu aku kecil, orang tuaku selalu panik dengan ke-rigid-anku berinteraksi dengan orang lain. Aku tidak suka bermain lari-larian bersama anak-anak lain dan aku akan menangis kalau disuruh menyapa orang lain. Karena sosok kepribadianku lemah, aku selalu menjadi “side dish”. Aku adalah barnacle boy-nya mermaid man, tapi versi yang tidak banyak berbicara dan suka tiba-tiba mengkhayal sendiri.

Beranjak dari anak yang lemah itu, yang selalu menjadi “temannya si A” dan tidak pernah diingat namanya, aku menjadi anak SMP yang merupakan “temannya si B” lalu anak SMU yang disapa di jalanan karena dia dapat mengenalkan orang itu kepada si C karena tentu saja aku adalah “temannya si C”.

Laila bertanya padaku, bagaimana mungkin aku bisa tahan berteman dengan orang-orang yang terlalu mentereng?

Lalu kurasa aku memang tidak terlalu memikirkannya (saat itu). Temanku baik, kita nyambung dan bisa ketawa bareng dan aku masih hidup. Ada kalanya aku benci sekali dengan keadaan itu, tapi lalu aku tidak menangis. Aku hanya menggambar menggambar dan menggambar dan aku tidak tidur. Ada juga kalanya aku ingin bunuh diri, tapi kurasa itu terlalu idiotik jadi itu hanya ide setan sepertinya. Yang sebenarnya adalah ada kalanya aku hanya ingin semua ini berakhir dan aku bersyukur ada kiamat.

Laila bilang itu hebat karena itu kuat.

Tapi kurasa ada beberapa kekuatan di dunia yang tidak ingin kau miliki. Di antaranya adalah kekuatan menjadi bayangan orang lain, kekuatan merasa kesepian,Β  dan kekuatan ditinggalkan orang lain.

Tapi ada kalanya kita tidak membentuk kekuatan kita, tapi itu adalah anugerah dan tidak bisa ditolak.

Dan ada kalanya kekuatan yang kita miliki itu palsu. Kekuatan yang ada hanya sebuah alibi untuk bertahan hidup.

Tapi aku tidak terlalu peduli. Main course atau side dish tidak mengubah kebenaran apapun. Semuanya hanya persepsi.

-nyaw-

One thought on “Side Dish

  1. setelah gw pikir-pikir iya danz, ada kekuatan-kekuatan yang nggak diminta tapi tetep datang sendiri *jelangkung aja musti diminta datang dulu, klo yg ini nggak ada ujan nggak ada angin, dia dateng*. Ada juga kekuatan yg sangat ingin dihilangkan tapi tidak bisa. Berarti, semua tergantung dari cara menyikapi *which is very hard*

    bagian yg gw gak ngerti : “Tapi aku tidak terlalu peduli. Main course atau side dish tidak mengubah kebenaran apapun. Semuanya hanya persepsi.”

    maksudnya gimana danz?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s