Sampai berjumpa lagi

Orangtuaku saat ini berada dalam keadaan yang tidak bersemangat. Untuk seminggu, tiap hari mereka menangis. Alasannya adalah karena salah satu sahabat keluarga kita baru saja meninggalkan kita. Tepat seminggu yang lalu, Mang Sail meninggal dunia. Kematiannya cukup mendadak dan semuanya cukup syok. Mang Sail tidak sempat berpamitan dengan siapapun.

Selama seminggu ini istri Mang Sail, Bi Emi jadi sibuk sekali harus menyiapkan berbagai makanan untuk 7 harian. Kadang kupikir bahkan tidak sempat untuk merasa sedih, tapi mungkin itu lebih baik. Telepon di rumah terus-terusan berbunyi tapi suka terputus duluan atau tidak ada yang menjawab. Ibuku merasa itu adalah Mang Sail yang mau berpamitan, tapi aku tidak tahu apakah arwah masih punya urusan keduniawian, jadi kupikir akan lebih baik kalau kita berpikir bahwa saat ini Mang Sail sudah ada yang pastinya mengurusnya dengan baik. Allah SWT tentu saja.

Sedihnya adalah tahun ini saat lebaran tidak akan ada Mang Sail lagi datang untuk salaman. Tapi kurasa ketupat di “tempat tunggu” lebih baik. Mungkin saking harumnya, udah gak sabar untuk kiamat.

Karena semua hal yang begitu mendadak dan mengerikan, meninggalkan syok, ibuku berpesan untuk tidak mencari gara-gara dengan orang lain. Cuekin, tinggalin, gak usah disakitin. Karena kita tidak akan pernah tahu kapan orang itu meninggal.

-nyaw, nyanyian piripip sebulan kemarin memang sangat lirih. Ternyata majikannya lagi nangkring-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s