My Red

Ladang jagung tidak mengingatkanku pada apapun. Itu menyedihkan. Sebaliknya, rambutmu berwarna emas. Jadi bayangkan betapa menyenangkannya jika kau telah menjinakkanku. Jagung yang keemasan akan mengingatkanku kepadamu. -rubah pada Pangeran kecil-

 Jadi sekali lagi, berpisah dengan MM. Tapi kali ini berbeda, rasanya benar-benar berpisah. Hal yang bisa saya tawarkan pada dia, gak lagi menarik. Meskipun gitu, jauh di dalam hati masih sayang sekali. Bukan karena hubungannya hampir 3 tahun, atau ada masa-masa yang indah bersama. Masih sayang karena memang benar-benar sayang dengan MM yang begitu. Tidak ada alasan.

Tapi memang perpisahan itu terjadi. Meskipun di dalam hati masih bisa digoyang seandainya diminta balik, MM gak akan melakukannya karena prinsipnya. Jadi saatnya bergerak (mudah-mudahan ke depan).

Kalau kata semua orang, harus segera memberesi barang-barang yang ngingetin sama mantan biar gak keinget-inget terus. Aku merasa ini sebuah masalah, karena barang-barang yang ngingetin banyak dan fundamental. Salah satunya adalah: “HP dan no khusus MM”, “Bul bul si mobil”, dan yang paling paling paling mengerikan adalah warna merah.

Benar. Warna merah. Karena MM artinya Membal Merah.

No HP bisa dikembaliin, HP bisa dijual, mobil bisa dinamain ulang, tapi warna merah? Aku gak bisa tiba-tiba jadi buta warna kan?

Oh damn it, dan sekarang aku merasa sakit tiap liat warna merah. Kita pernah punya waktu sangat sangat bahagia bersama (seperti yang ditulis di post-post sebelum ini), tapi tiap melihat warna merah cuman mengingatkan bahwa “saat itu kita punya waktu indah, di masa depan tidak ada”.

Mengerikan. Perasaan yang mengerikan.

Dan bayangkan. Warna merah ada di mana-mana.

Entahlah. Aku gak ngerti maksud Allah SWT, Maha Kuasa Maha Pembolak-balik hati. Mungkin untuk menundukkanku. Untuk mengingatkanku setiap hari, melalui warna merah, bahwa aku sudah pernah dijinakkan seperti si rubah dalam cerita “Pangeran Kecil”.

Now my red is not the same and I feel like crying

-nyaw, lost-

4 thoughts on “My Red

  1. kalau jatuh, bangkit. jangan malah merangkak lalu tiarap. jangan juga sampe menggali tanah membuat liang kubur sendiri.

    enjoy the “healing” process, dear. *though I assure you, you will not be healed 100%*

    :hugs:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s