Niat (mencari) Emas

Beberapa hal belakangan ini membuatku nostalgic. Jadi ingat pertama kali berkata pada diri sendiri,

“Manusia itu memang tidak bisa diharapkan sama sekali” – dz, umur 6 1/2tahun tahun-

Lalu bagaimana seorang gadis kecil bisa kehilangan harapan seperti itu? Nah ceritanya begini;

Saat umur segitu, seperti yang sudah ditulis dalam post sebelum-sebelumnya, aku tinggal di negri Paman Sam. Kebiasaan orang sana adalah membesarkan hati anak-anak dengan berkata, “Saya tahu bahwa kamu orang yang hebat dan punya banyak potensi.” Tapi terkadang, ucapannya tidak persis seperti itu, kadang-kadang oleh orang yang tidak sadar, ucapan itu menjadi, “Saya membantu kamu karena saya yakin kamu orang hebat penuh potensi.”

Lalu karena ucapan yang seperti itu, aku menjadi tidak percaya dengan kebaikan hati orang lain. Aku berpikirs karena diembeli-embeli dengan “hebat” dan “penuh potensi” dia menjadi orang yang baik. Bagaimana dengan berbuat baik karena tidak ada alasan hanya karena merasa perlu melakukannya? Kurasa itu sudah barang basi. Lalu bagaimana dengan anak-anak yang apapun yang kita lakukan tidak ketemu juga kehebatannya? Apa semua kebaikan itu berubah menjadi penyesalan?

Pada orang yang mengucapkan kalimat itu, aku hanya melotot.

Sekarang setelah hampir 23 tahun, aku berpikir bahwa yang seperti itu memang sudah fitrah. Niat emas sebenarnya Niat (mencari) emas. Apalagi pada Pak Yo yang bilang, “Lintang cuman 1, tapi di Papua saya ketemu 10 Lintang” tiba-tiba aku menjadi sangat tidak respek.

Apa kalau anak itu bukan Lintang, kita akan memalingkan muka?

Apa kalau tidak punya harapan dia adalah Lintang, kita akan memalingkan muka?

Apa karena mungkin di luar sana ada Lintang, kita harus membangun daerah terpencil?

Apa karena sebuah standar, kita musti baik?

Sejak umur 6 1/2 tahun, ketakutan bahwa suatu hari akan dibuang masyarakat karena tidak “hebat” atau “potensif” menghantuiku. Pada waktu ke waktu, ketika aku merasa ketakutan, aku akan ingat ajaran tua, “Jangan harap pada makhluk, harap hanya pada Tuhan.”

Tuhan memang sangat mengerti kita semua.

Allahuakbar.

Tapi apakah ajaran niat (mencari) emas akan selalu diteruskan dari generasi ke generasi? Kalau seperti itu bisa-bisa spesies kita habis hanya karena sebuah ‘ide’.

Tidak pernah terpikir olehku, bahwa membunuh seseorang karena sebuah ‘ide’ itu halal.

Apalagi ide-nya bengkok! :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s