Highest Chakra

Kemarin lusa iseng-iseng menonton siaran ulang “Aang, The Legend of The Last Avatar” (betul tak nih judulnya btw). Episodenya adalah tetang Aang yang membuka semua chakra-nya agar bisa membuka kekuatan avatarnya. Tapi Aang gagal karena tidak bisa membuka chakra tertingginya. Chakra-nya adalah sesuatu tentang energi kosmis dan cara membukanya adalah dengan melepaskan diri dari masa lalunya dan kehidupan duniawinya. Saat itu Aang hampir melakukannya tapi dia memilih untuk tidak membuka chakra itu.

lalu

Bak!

Episode itu seakan-akan menjadi sebuah pukulan bagiku. Aku juga, seperti Aang, akan gagal membuka chakra tertinggi itu. Padahal bo, kalau chakra-nya terbuka, akan menerima energi kosmis loh! Gila, rugi kan kalok gak bisa melepaskan diri.

Tapi begitulah, itu pekerjaan yang sulit banget.

Meskipun di “Buku SOP” kita udah jelas-jelas tertulis, “yang dimiliki saat ini bisa jadi semacam pengalih perhatian dari hal yang lebih penting”, aku tetap merasa sulit membuka ke tempat yang paling tinggi itu. Aku berkali-kali membaca ayat itu, tapi sepertinya mata tuh buta, otak goblok, dan hati tuh terkunci rapat.

Karena sedang seperti itu, aku merasa kesal dan tidak bisa tidur. Aku merasa lemah dan tidak tenang.

Lalu pada saat yang berdekatan, seorang kenalan menikah. Dia sangat cantik, dan sudah berhubungan lama dengan seseorang tapi berakhir menikah dengan orang lain. Logika aku mengetahui bahwa kejadian seperti itu biasa terjadi. Bahwa bisa saja kita menikah dengan orang lain tidak lama setelah berhubungan dengan orang lain. Tapi hati aku berteriak-teriak karena tidak bisa menerima hal seperti itu.

Dan itu salah kan.

Maksudnya, perempuan itu dicintai bukan mencintai, jadi harusnya bersikap lebih ringan hati.

Tapi mungkin aku punya terlalu banyak testosteron, jadi aku merasa kesulitan menerima kejadian sehari-hari seperti itu. Di dalam hati aku tidak punya kekuasaan menyakiti hati diri sendiri, orang lain lalu mengatakan dengan seenaknya, “Tuhan, nih urus kerjaan kotornya. Pokonya aku ibadah aja.” Aku belum bisa menerima melakukan hal seperti itu.

Mungkin kedengerannya terlalu negatif, mungkin tidak selebay itu.

Tapi itulah artinya kejadian kenalanku menikah itu.

Bagiku seperti itu.

Dan aku menjadi merasa crappy karena harusnya bisa membuka chakra paling tinggi dan lebih ringan hati dan bisa menerima kejadian apapun dengan hati terbuka.

Tapi tidak. Aku kaku seperti beton jembatan Suramadu.

Aku tidak pernah bisa benar-benar menerima kejadian itu sampai pada akhirnya aku tidak datang ke pernikahan itu karena tidak bisa mendoakan kebahagiaan kenalanku dengan tulus. Di dalam hati, aku merasa berbagai macam perasaan bercampur aduk. Perasaan-perasaan yang kotor. Marah, sedih, iri, frustasi, takut. Aku jadi bingung hingga aku memutuskan bahwa aku tidak bisa mendoakan kebahagiaan pasangan suami istri baru itu.

Di dalam hati, aku tidak tahu apa aku ingin mereka bahagia. Kenapa mereka harus bahagia kalau memulai dengan cara seperti itu?

Bukankah itu menyedihkan.

Tidak bisa berdoa dengan tulus.

Aku merasa perlu melepaskan diri dari keheranan-keheranan kecil dan mulai menerima hal-hal lebih besar.

Tapi di lain sisi aku merasa akan gagal melakukannya. Aku sangat jahat sampai tidak bisa mendoakan kebahagiaan orang lain. Bagaimana mungkin orang jahat kayak aku bisa membaca “Buku SOP” dengan baik?

“Ohhhh…. Jangan menyerah baby, jangan menyerah….”

-Bismillahirahmanirahim, dengan nama Tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s