Berpasang-pasangan

Semuanya berpasang-pasangan. Laki-perempuan. Siang-malam. Senang-susah. Hidup-mati.

Ngomong-ngomong tentang hidup-mati, baru-baru ini memikirkan tentang mati setelah melihat serombongan orang mengantarkan seseorang ke kuburannya. Humm…, aku gak ngerti tentang tradisi yang sudah lama di bumi Pertiwi ini, tapi aku merasa bahwa tradisinya harus berubah karena kesannya ‘ria’.

Jadi rombongan itu memblok separuh jalanan dan mengharuskan orang meminggirkan mobilnya agar mereka bisa lewat. Mobil yang tidak minggir, diketuk dan dicibir *mobilku salah satu tentu*. Ndak terpikir mungkin ya sama mereka kalau jalan itu sangat terjal dan menukik, dan tidak mudah memberhentikan mobil dalam posisi itu. Kalau ndak ahli, mobilnya jatuh mundur dan nabrak orang lain.

Pasti ndak mikir gitu kan ya?

Kalau gak mikirin orang yang hidup pasti juga ndak mikirin orang yang mati juga kan? Gak mungkin soalnya hanya mikirin mati aja, tapi ndak mikirin hidupnya. Jadi aku sih mikirnya, pasti juga ndak mikir bahwa mungkin yang meninggal itu malah sedih, kematiannya dirayakan macam begitu. Dalam keramba yang dihias-hias, mayatnya diasung-asung dan tidak segera dikembalikan ke asalnya.

Aku mengerti, keluarga dan kerabatnya pasti sedih. Aku juga pernah berada di dalam rombongan itu. Aku juga pernah mencibiri orang yang tidak ikut bersedih. Tapi sekarang aku mengerti keduanya dan menjadi menyesal dengan hal-hal yang aku lakukan,

Bahwa pada saat seseorang yang meninggal, bukan kenangan yang menjadi sebuah angin sejuk untuk orang itu. Orang yang sudah menyebrang ke sana baru bisa lega kalau saat meninggal, peninggalan dia, hidup dia, bahkan mati dia menjadikan manusia-manusia yang masih hidup ini menjadi lebih dekat dengan Sang Pencipta. Kalau tidak begitu, tidak ada artinya, tidak ada artinya sama sekali hidup dia.

Bahwa pada saat seseorang meninggal, itu memberi kesempatan pada para kerabat untuk berbuat baik pada yang ditinggal. Memberikan dukungan, memastikan bahwa yang ditinggal masih sanggup menjaga kesehatan. Membiarkan mereka bersedih dengan tenang agar bisa mendekat pada Sang Pencipta.

Itulah hidup-mati. Tidak bisa memikirkan makhluk tanpa Tuhan.

Itulah alasannya kupikir tradisi ini harus berakhir. Mengarak yang meninggal, memajang berlama-lama.

Cepat mandikan! Cepat shalatkan! Cepat kembalikan ke tanah! Segera mendekat kepada Allah sesedih apapun! Dukung yang berduka dengan perbuatan yang menyegarkan!

Itulah kenapa kita mengucap “Innalillahi wa inna ilaihi rajiun” pada saat malang, sedih dan sulit.

Punya-Nya memang akan kembali pada-Nya.

Perhatikan, imbuhan “-Nya” ada 2. Perlu 2 telinga, 2 mata untuk benar-benar mengucap dengan sungguh-sungguh dan paham.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s