Beruntung

Salah satu hal yang sangat aku senangi tentang menulis blog adalah mengutak-atik header. Seperti saat ini, header yang sedang kupakai sangat menggambarkan bulan Desember yang dingin dan merupakan ajang bermalas-malasan di penghujung tahun sebelum bermalas-malasan (juga) di awal tahun yang baru :p. Lalu tiba-tiba kupikir bahwa aku adalah orang yang sangat beruntung. Aku beruntung masih merasa senang saat mengutak-atik header di saat orang lain tidak mendapatkan kesenangan itu.

Keberuntungan memang seperti itu ya. Dia bersifat khusus untuk satu orang itu. Karena sifatnya yang khusus itu, orang yang mendapat keberuntungan itu pasti istimewa. Ternyata memang semua orang istimewa. Aku pun teringat dengan keinginanku untuk menjadi istimewa beberapa minggu terakhir, lalu kuputuskan (baru saja hari ini) kalau aku ini sudah istimewa *bangga*.

Aku ini istimewa karena suka membuat header sendiri dan masih merasa senang karena itu. Aku istimewa karena berteman dengan orang-orang yang aku sukai. Aku istimewa karena masih menyukai komik di usia kepala 2. Aku istimewa karena aku mengalami hal-hal yang tidak selalu orang lain alami. Aku istimewa karena masih bisa makan dengan perasaan enak. Dan masih banyak hal lainnya yang membuatku istimewa.

Masalahnya kupikir, tentang orang-orang yang selalu kedapatan mengeluh saat kau bertemu dengannya. adalah bukan karena dia apes atau tidak beruntung. Masalah sebenarnya adalah dia merasa tidak istimewa. Karena tidak mendapatkan kesenangan seperti yang orang lain dapatkan, itu menjadikan dia tidak istimewa, tidak berharga. Padahal tidak begitu. Itu tidak benar! Keberuntungan yang dimiliki adalah punya diri sendiri bukan seperti milik orang lain. Buatku mungkin itu adalah keberuntungan, mungkin bagi orang lain itu adalah kutukan. Sebuah beban. Seperti aku yang doyan makan dan merasa beruntung karena selalu makan lahap, bagi seorang model itu adalah sebuah kutukan. Tiap hari dia menjadi lapar sekali padahal harus tetap kurus.

Kurang lebih seperti itu.

Makanya kalau di agamaku, surat pertama diawali dengan Alhamdulillah. Syukurlah. Kita semua istimewa jadi selalu ada alasan untuk bilang syukurlah. Kita semua unik, oleh karena itu keberuntungannya pasti berbeda.

Sekarang aku jadi bisa mengatakannya. Kalau ada orang yang mengatakan padaku, “Kamu apes banget sih!” Aku akan menjawab, “Sugesti situ kaleeeeee….” Atau ada yang bilang, “Kamu lebih beruntung!” Jawabanku sekarang, “Lahyes…. Situ juga!” Mungkin juga ada yang bilang, “Harusnya berbuat ini (untuk mensyukuri keberuntungan).” Aku bisa menjawab, “Cara saya bersyukur pun istimewa.”

Bisa mengatakan hal-hal seperti itu dengan lega, kurasa itu juga keberuntungan.

Fufufufu….. Aku benar-benar istimewa! ^^

One thought on “Beruntung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s