Lingkaran

Sembari membuat mie pakai telur, aku jadi teringat suatu hari aku dan Membal Merah berjalan berdua menuju himpi-nya. Hari itu aku berkata sesuatu tentang teman kita berdua dan Membal Merah membuat komentar, “Ada beberapa macam kebodohan, salah satunya tidak mau ditolong.” Dan aku bertanya, “Yang lain apa?” Membal Merah berpikir-pikir lalu menjawab, “Lupa, tapi melakukan kesalahan sama ulang-ulang juga kebodohan.”

Lalu tercetus di dalam otakku (sambil memecahkan telur) bahwa, AKU SUDAH MELAKUKAN KEBODOHAN.

Yang disebut dengan berulang-ulang oleh Membal Merah itu adalah “siklus”. Katanya kalau kau melakukan kebodohan yang sama terus-menerus, kau berada dalam sebuah siklus. Siklus itu hanya bisa diakhiri kalau kita tahu bahwa kita terseret di dalam siklus dengan begitu bisa mengubah sebuah titik.

Sekarang aku tahu. Hobi nistaku itu adalah dampak sebuah siklus bodoh buatanku sendiri. Sekarang aku benar-benar tahu apa penyebabnya. Ternyata itu adalah tentang hal yang sangat sederhana. Benar-benar sederhana. Titik itu, titik yang selalu membuatku berputa-putar itu adalah “keengganan mengatakan hal yang aku inginkan”. Aku memang selalu malas mengatakannya. Aku tahu itu penting karenanya aku menjadi pelit. Aku tidak membiarkan seorang pun menyenangkanku, seolah-olah merendahkan dan berkata, “Kamu pasti tidak bisa memenuhinya.”

Padahal yang aku inginkan itu terkadang yang sederhana seperti, “Dengarin gwa.”, “Jangan cerita setengah-setengah.”, “Gwa mau jadi temen lu.”, “Gwa pengen ditemenin.” Hal-hal seperti itu saja aku tidak mengatakannya, kenapa orang-orang harus bersusah payah memikirkan apa yang sopan atau tidak?

Padahal aku sudah sering mendengarnya, tentang kebiasaan super jelek ini.

Ibu: Gitu terus gak pernah bilang! Ibu gak bisa nebak-nebak terus.

Muthe: Bilang, tanya donk.

Membal Merah: Ceritalah kalo ada apa-apa

Ada beberapa hal yang bisa begitu lambat dipelajari. Di umur 22 aku belajar bahwa mengatakan apa yang diinginkan luar biasa penting. Meskipun penting harus tetap rendah hati dan mengatakannya karena itu tidak memalukan, tidak juga perlu mewujudkannya sendiri, terkadang hanya bisa diwujudkan lewat tangan orang lain, dan kalau bisa diwujudkan bersama-sama itu akan sangat indah.

*Terimakasih untuk orangtuaku yang selalu menjadi orangtuaku :hug:. Terima kasih untuk orang-orang yang tetap berteman denganku :hug:. Terimakasih untuk Ghif yang menjadi Membal Merah :hug:.* 

One thought on “Lingkaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s