Keroncong Perut

Meskipun tugas sudah menumpuk, aku masih juga menghabiskan waktu dengan mengunduh scanlation manga dan membacanya. Karena aku sudah bosan dengan genre remaja, aku mencoba membaca genre yang lebih dewasa.

Lalu aku pun mengetahuinya.

Aku tahu bahwa aku tidak bisa menerima seks bebas, pelacuran, petting, dsb. Aku merasa bahwa ketika sebuah manga menceritakan bahwa seorang perempuan itu senang dipegang di daerah vitalnya secara acak, aku merasa bahwa itu mengerikan. Atau cerita tentang perempuan yang pekerjaannya terangsang secara seksual dan tidak punya kerjaan lain itu juga mengerikan. Bahkan cerita romantis tentang perempuan yang melacur sampai terkena AIDS agar dapat membiayai operasi laki-laki yang dia sukai benar-benar membulatkan tekadku untuk menghapus secara permanen semua manga “dewasa” itu.

Ya ya, itu fiksi. Tapi fiksi berawal dari nonfiksi. Di luar sana, seseorang mempunyai ide seperti itu. Bahwa wanita itu adalah makhluk pengguna tubuh. Bahwa wanita hanya mempunyai tubuhnya. Bahwa wanita akan mati kelaparan kalau suatu saat menolak menjual tubuhnya.

Kira-kira sampai selapar apa sampai-sampai mendorong seorang perempuan untuk menggunakan tubuhnya?

Gila.

Orang-orang seperti apa sih kita sampai mengangguk dan berkata, “Iya, pelacuran itu mau tidak mau ada terus, hidup ini keras, makan itu susah.” Rasanya itu alibi kan. Karena hidup itu sulit, pencurian menjadi biasa, pelacuran juga, dsb. Aku memang tidak terjun langsung dalam realita-realita ini tapi aku tahu bahwa tidak sopan membiarkan seseorang harus bekerja di bawah tekanan ketakutan AIDS, siphilis, gonorhae, kanker serviks, atau mati mengenaskan di jalanan.

Apa yang harus kita lakukan saudara-saudara?

Aku mau mulaidari kecil sekali, dengan cara membicarakan seks sebagai kegiatan yang terhormat. Aku belum melakukan seks, tapi aku yakin pasti enak sekali, sampai-sampai dia bisa menjual apapun. Karena itu adalah kegiatan yang hebat sekali, ayo kita bicarakan dia dengan posisi yang terhormat. Seperti seks itu dilakukan karena ada hal-hal yang tidak cukup dibicarakan antara suami dan istri. Dan juga seks dilakukan karena ingin bertemu anak-anak kita.

Hal-hal yang terhormat tidak bisa dilabeli harga oleh manusia. Begitu kupikir -_-.

Lalu juga kupikir bahwa,

kebodohan memang akan membunuh kita suatu saat. (tapi ini adalah cerita lain yang sangat panjang)

Gimana ya tindakan yang lain? -_-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s