Si Piripip

Tidak ada hewan peliharaan di rumah, tapi ada satu burung istimewa yang suka bertengger di pohon-pohon yang tumbuh di halaman. Aku memberinya nama “Si Piripip” karena nyanyiannya terdengar sebagai “PIP! PIP! PIP piripiiiiiippppp….”. Belakangan aku tahu kalau dia burung “suit cingcuing” dan habitat aslinya adalah hutan-hutan lebat yang sudah makin tipis. Sayangnya aku belum melihat burung ini secara langsung ataupun tidak langsung.

Si Piripip adalah burung yang sangat dibenci oleh masyarakat. Konon dia mengabarkan kematian, perselingkuhan, dan berbagai hal lainnya yang membawa kesedihan ke dalam keluarga. Kalau burung ini betengger di halaman orang lain, dengan segera dia akan diusir karena takut membawa malapetaka. Tapi tentu saja aku merasa hal itu konyol sekali, karena bukan burung itu kan yang menentukan seseorang akan meninggal atau tidak. Bukan burung itu juga yang menyuruh seseorang untuk berselingkuh atau hal-hal aib lainnya.

Oleh karena itu, burung itu tidak diusir kalau sedang nongkrong di rumah. Kadang-kadang saja dia diusir oleh Bi Emi, tapi lama-kelamaan dia dibiarkan saja bernyanyi. Karena itulah, Si Piripip menjadi betah sekali dan dia memang istimewa sekali. Nyanyian dia terdengar seperti dzikir atau shalat, selalu dia lakukan setelah subuh, yaitu setelah mesjid-mesjid selesai mendengungkan bacaan Al Qur’an. Barulah setelah itu dia akan bernyanyi dan tiap dia bernyanyi aku mengingat kematian.

Bukankah dia burung yang baik? Karena aku benci diingatkan kematian oleh orang lain, tapi kalau diingatkan oleh burung itu, aku merasa bahwa dia menceritakan kematian dengan kata-kata lembut.

Tapi aku mengerti kenapa orang-orang sangat membenci Si Piripip. Entah dengan alasan apa, dia suka bernyanyi lebih cepat saat ada orang yang meninggal (aku mendengarnya beberapa kali). Dia juga kadang-kadang seperti tahu kalau aku lagi mengalami kesulitan seperti kecopetan atau pertengkaran dengan orang tua. Pada saat seperti itu, dia bernyanyi cepat tepat di pohon yang paling dekat dengan kamarku.

Orang-orang menyebutnya mencemooh atau mengejek. Tapi aku merasa bahwa dia seperti sedang mengingatkan bahwa “Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.”

Kepunyaan-Nya memang akan kembali kepada-Nya.

Kesedihan dan kesulitan memang akan terjadi agar kau ingat untuk kembali pada yang menciptakanmu.

One thought on “Si Piripip

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s