Her Name is Fear

Di saat stress aku menghabiskan berlembar-lembar kertas menggambar berupa-rupa wanita cantik bermata bulat dan berambut panjang. Kalau sangat-sangat stress, aku bisa menggambar berulang-ulang, perlahan-lahan semakin detail, seperti warna bibir, rambut dan bentuk pinggul serta ukuran payudara.

Kupikir awalnya bahwa asal rasa stress itu hilang, tidak masalah cara yang kulakukan. Tapi ternyata ketakutan itu mulai mengambil wujudnya. Aku baru menyadarinya ketika aku hendak menulis dongeng anak, dan tokoh utama dongeng itu adalah perempuan cantik yang berambut panjang. Tanganku bergetar tanpa kontrol dan aku merasakan ketakutan yang tidak berujung ketika memaksakan diri menulis dongeng itu sampai pada akhirnya aku tidak pernah bisa menyelesaikan satu halaman pun.

Lalu kuingat bahwa yang namanya masalah bentuknya seperti perempuan-perempuan itu dan kuperhatikan bahwa,

“Hei, perempuan ini mirip seseorang.”

Dan ternyata peristiwa-peristiwa di masa lalu tidak duduk diam di sana, tapi harus mengambil andil pada masa sekarang.

Dulu, aku pernah sangat bergantung pada seseorang, tapi ternyata aku bergantung yang tidak akan berada di dekatku selamanya. Ia berakhir dengan salah satu teman baikku tanpa satu orang pun di antara mereka memberitahuku. Lama sekali aku bisa memaafkan kenangan buruk itu. Sering kali aku berpikir kalau aku tidak seperti diriku, apa ia akan selalu berada di dekatku? Berulang-ulang pertanyaan itu bergema sampai aku percaya bahwa tidak ada rasa cinta yang nyata. Kalau kau cukup cantik, kau bersikap baik, kau cerdas dan pandai, seseorang akan mencintaimu.

Gurat-gurat itu meninggalkan bekasnya yang menjijikkan pada hatiku.

Lalu waktu dan hidup terus berjalan hingga pada suatu hari aku bertemu dengan membal merah yang sekarang. Awalnya kupikir bahwa aku tidak terlalu peduli apa yang dia lakukan, dia boleh melakukan apapun (apalagi pada saat itu, kita baru berteman), termasuk bertemu mantannya yang “mencari bahan TA”. Tapi sebelum mantannya yang “mencari bahan TA” itu datang, dia mengajakku ‘jadian’. Aku berpikir bahwa “hei, aku akan memikirkannya dulu” padahal aku memang akan menjawab ‘iya’ tapi harus bertanya pada ibu dulu. Lalu keesokan harinya secara tidak sengaja, membal merah dan mantannya berpapasan denganku dan seorang teman lainnya. Pada saat itu aku merasa bengong dan ketakutan luar biasa. Mantan membal merah persis seperti yang aku gambarkan ketika stress. Seakan-akan ketakutanku mengambil rupa ke dalam seorang gadis yang seumur denganku.

Itu adalah detik-detik yang mengerikan bagiku. Aku merasa takut, sedih, marah, ngeri dan bermacam-macam perasaan pada saat yang sama.

“Kamu cemburu Danz,” kata temanku.

Aku mengangguk karena tidak mau banyak berpikir. Pada saat itu aku berpikir bahwa ‘tidak mungkin aku dipilih, dulu juga aku tidak dipilih’. Aku bahkan berpikir bahwa aku pun tidak akan memilih diriku sendiri. Dan ketika memikirkannya, aku merasa kesadaranku semakin menghilang berganti menjadi rasa marah dan pedih karena tidak berhak menyakiti orang lain padahal aku merasa hatiku sedang dijadikan lotek.

Pada akhirnya, aku mengatasi ketakutanku untuk sejenak dan memberikan jawaban yang memang sudah tersimpan dari awal. Tapi ketakutan itu terus mengambil rupanya dalam tokoh-tokoh sinetron yang menampilkan perempuan-perempuan penggoda, seolah-olah mendidik para penonton untuk menjadi seperti dirinya. Ketakutan itu bahkan mengambil rupanya pada kasus perceraian Maia-Ahmad Dhani, di mana cinta yang sungguhan semakin langka atau bahkan fiktif.

Lalu aku pun menjadi stress dan terus menggambar perempuan-perempuan cantik dengan mata besar bulat yang sayu serta rambut yang panjang yang tampak lemah tapi menggoda. Ternyata bagiku, seorang pengkhianat berbentuk seperti itu. Dengan ‘keluguan’, dia akan membujuk orang yang kusayangi meninggalkanku. Dengan ‘kerapuhan’ dia meminta pertolongan pada orang yang kusayangi pada saat aku tidak kuasa mengeluarkan suara. dengan ‘kecantikan’ dia membuat orang yang kusayangi tidak akan melupakannya. Dengan wujud wanita-nya, dia berpura-pura menjadi temanku.

Aku berpikir ulang dan merasa malu aku ketakutanku ini. Tidak seharusnya aku merasa begitu ketakutan ketika Tuhan masih selalu menyayangiku. Cinta yang sejati memang kepunyaan-Nya saja. Kalaupun pernah ada di dunia, itu hanyalah pinjaman.

-_-

Kurasa, aku benar-benar harus menyelesaikan dongeng itu, setakut apapun karena sebenarnya aku tidak perlu takut.

@_@

Aku pun menyadari bahwa sampai berapa kali pun kau pernah terluka, pernah terjatuh, kau tidak akan pernah benar-benar terbiasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s