Kisah Ketupat

“Danzzzzz!!!!!!! Bisa-bisanya post di hari Ied!!!!!!!! Gak repot apppppaaaaaaaaa???”

Kenyataannya: Tidak. Alasannya adalah tidak ada tamu pada hari pertama. Saudara-saudara juga sudah berpencar-pencar jadi kumpulnya bisa hari ke-3 atau hari ke-5. Tapi pastinya tidak pada hari H. Kalau hari H, tamu yang datang ke rumah cuman 1, yaitu pasangan suami istri yang bantu-bantu di rumah.

Beliau berdua adalah tamu yang penting pada hari Ied. Kue-kue basah dan kering disiapkan, dan uang angpau untuk anak-anaknya disiapkan. Karena kedatangan mereka berdua, hari Ied menjadi istimewa. Yang istri (Bi Emi), pada hari-hari biasa tidak mau duduk sejajar dengan ibu atau bapak. Duduknya di bawah terus. Ibu sudah marah-marah terus karena takut Bi Emi encok (beliau lebih berumur dari Ibu) tapi masih juga duduk di bawah. Akhirnya Ibu memberikan kursi khusus untuk Bi Emi (kursi chitose) jadi Bi Emi tidak duduk di bawah tapi duduk di kursinya sendiri. Nah…. pada hari Ied, Bi Emi harus mau duduk di kursi tamu dan makan-makan kue serta minum sirop seperti tamu lainnya. Pada saat-saat singkat seperti itu, aku merasa bahwa hari Ied itu milik semua orang dan tidak ada perbedaan antara bos dan pekerja, semuanya merasa menang pada hari Ied.

Begitu juga dengan yang suami (Mang Sail). Beliau yang sudah tua bisa bersantai dan bermain-main dengan keluarga, sekarang gantian si pemilik rumah untuk benar-benar membereskan rumahnya sendiri. Pagi tadi aku merasakan bahwa pekerjaan Mang Sail cukup merepotkan karena ternyata dibutuhkan waktu 45 menit total untuk membuka tirai dan mematikan lampu-lampu rumah. Lalu setelah itu, dilanjutkan dengan mengepel seluruh rumah (atas bawah). Itu pasti jauuuuuuuuhhhhhhhh…….. lebih berat -_-. Membayangkannya saja jadi berkeringat.

Setelah kedatangan kedua tamu yang penting, biasanya dilanjutkan dengan makan-makan berat. Ada gulai ayam, sayur nangka, ketupat dan nasi kuning. Aku tahu nasi kuning itu tidak lumrah, tapi itu ada ceritanya. Jadi sejak ada adikku, jumlah ketupat yang dibuat untuk hari Ied berkurang karena ternyata adikku tidak suka dan ternyata juga setelah semuanya jujur (:p), yang benar-benar menyukai ketupat hanya Bapak saja. Karena itulah, ketupat jatah Ibu, aku dan adikku diganti oleh nasi kuning. Setelah penggantian ini, ditemukan bahwa makanan lebih cepat habis dan tidak ada kata “Ahh… ketupat lagiiiiiiiii…..” pada hari H+7

Lalu setelah makan makanan bersantan di pagi hari, semuanya akan kebingungan karena tidak biasa harus berlibur di tengah minggu, apalagi dengan tidak adanya koran! (contohnya aku yang doyan tidur tapi merasa tidak afdol tidur pada hari Ied jadi nulis blog). Pada saat jam menunjukkan pukul 12.00, aku yakin semuanya mengeluhkan hari libur di tengah minggu ini dan semuanya akan kembali ke rutinitas normal. Bapak akan melanjutkan pekerjaan aneka proyek lautnya, Ibu membersihkan dapur dan mengurusi taman, adik bermain game OL atau nonton anime, dan aku kembali menghabiskan kertas dan memandangi barang-barang bekas yang terlalu sayang dibuang tapi tidak tahu harus diapakan lalu akhirnya membuat berbagai bentuk sampah lainnya.

Begitulah hari Ied di rumahku. Bagaimana dengan rumah kalian? ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s