Lubang Hati

Ternyata aku memiliki rasa sakit hati yang besar. Katanya hati itu tidak bisa patah tapi ternyata hati itu memang tidak akan patah, mereka hanya membentuk lubang-lubang. Seperti lubang gigi ^^.

Nah lubang hatiku punya nama. Namanya adalah “Diremehkan”.

Orang-orang yang sangat dekat denganku akan tahu bahwa orangtuaku memberikan pendidikan yang agak berbeda dengan orang tua-orang tua lain (terlihat sebagian di post-post sebelum ini). Bahkan sangat berbeda hingga dapat membuat kening-kening berkerut, tapi aku tidak akan membahas tentang kening berkerut di sini. Aku akan membahas tentang aku yang ingin dewasa tapi tidak seperti orang lain yang langsung dipercaya bisa dewasa pada umur … (silakan isi), aku harus membuktikannya. Pembuktian ini seringkali merupakan perjalanan yang berat. Karena harus memakai otak, kesabaran dan tenaga. Aku sering kali tidak ingin mengeluarkan ketiganya.

Tapi pada akhirnya tiga hal itu dikeluarkan juga!

Lalu setelah dikeluarkan, aku menemukan bahwa orang-orang di sekitarmu kebanyakan akan berpikir bahwa mereka lebih tahu caranya menjalani hidupmu. Mereka akan merongrong dan memberikan penilaian-penilaian yang seringkali menyerang tapi mereka sebut ‘peduli’. Kedengarannya berisik sekali. Mereka sering tidak tahu bahwa mereka berisik, jadi satu-satunya cara adalah dengan mengacuhkannya tapi itu juga tidak mudah karena lama-lama bisa tuli juga😦. Akhirnya hati berlubang karena sering merasa diremehkan dan banyak hal kecil yang bisa menyakiti lubang itu. Kadang-kadang sudah ditambal, tapi akan datang kejadian lain untuk melubanginya di tempat lain. Seperti tidak ada habisnya😦.

Tapi harus diketahui bahwa,

Hidupmu bukan punya mereka, juga bukan punyamu, tapi hidup yang dimiliki saat ini adalah pinjaman yang mahal kepada dirimu. Harus dihargai oleh si pemilik sementara maupun orang lain.

BTW, kamu yang terlahir dengan pinjaman itu. Kamu yang seharusnya mencari tahu tentang hidupmu dan seharusnya kamu sangat sibuk mencari tahu sampai orang-orang pencemooh tidak terdengar dan kamu pun tidak sempat mencemooh hidup orang lain.

Jadi aku mengajak, “mari sibukkan diri dengan hidup kita masing-masing”. Kalo kata orang bule, “Get a life!” dan mari kita mulai menghargai perjalanan hidup orang-orang di sekitar kita okeh mulai dengan tidak mengacuhkan hidup kita sendiri.

*Selama ini aku menghindari terlalu banyak menggunakan kata negatif. Tapi kalau ternyata hanya yang negatif yang bisa jujur, apa boleh buat :(*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s